Sisir Antik (Bagian Kedua)

Cerita bersambung 2 bagian

Sisir Antik (Bagian Kedua)

 

Bagian kedua.

 

Di pesta dansa, aku berdebar menunggu giliranku diperkenalkan dengan Raja Henry.
“Perkenalkan ini nona Boleyn.” kata seseorang memperkenalkanku dengan Raja Henry.
Apa nona Boleyn? 
Kemarin wanita itu memanggilku En.
Apakah En bukan panggilan untuk Eni namaku?
Tapi En panggilan Anne Boleyn?, Anne Boleyn istri kedua Raja Henry ke 8?, Yang mati dipancung itu?

Rasa senangku tiba tiba berubah jadi ketakutan.
Aduh aku kepingin ketemu raja, Tapi aku nggak mau mati dipancung.
Gimana ini?

Raja henry tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Aku menjabat tangannya sambil menyembunyikan ketakutanku.
“Mana senyummu Nona?, kamu lebih cantik bila tersenyum!” kata Raja Henry.
Aduh mana bisa tersenyum kalau ketakutan begini?

Raja Henry mengajakku berdansa.
Kalau saja ini terjadi beberapa menit yang lalu, saat aku belum tahu kalau aku Anne boleyn. Pasti aku akan senang sekali. Tapi sekarang cuma bisa ketakutan.
Bagaimana caranya agar aku bisa lolos dari pancungan dan kembali jadi Eni?
“Kamu tidak seperti gadis gadis lain yang berebut ingin menarik perhatianku. Gadis lain pasti sudah kegirangan berdansa dengan saya. Tapi kok kamu cemberut terus?” tanya Raja Henry.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Apakah kamu sudah punya kekasih?” tanya Raja.
Aku mengangguk. Ah semoga Raja jadi mundur teratur kalau tahu aku sudah ada yang punya.
“Aku berani bertaruh, aku pasti bisa mengalahkan kekasih kamu. Pasti kamu nanti suka sama saya dan melupakan dia!” godanya sambil tersenyum penuh percaya diri.
Rambut merahnya, janggut merahnya,mengingatkan aku pada Jason yang juga berambut merah.
Seandainya Anne Boleyn tidak mati terpancung, mungkin aku akan senang jadi istrinya.

Keesokan harinya Raja Henry mengirimkan hadiah untukku. Sebuah kalung permata. Indah sekali. Tapi cepat cepat kukembalikan. Agar dia tidak mengira aku menyukainya.
Ketakutan akan hukuman pancung mengalahkan keinginanku untuk memiliki kalung permata itu.

Keesokan harinya Raja mengirimkan aku 5 buah perhiasan. 1 set permata dari kalung, anting, gelang, cincin dan tiara. Segera kukembalikan.

Besoknya ada 1 peti besar penuh perhiasan. Kembali kukembalikan.
Besoknya ketika aku bangun tidur, kamarku penuh tebaran bunga aneka warna kiriman dari Raja.
Aduh romantis juga Raja ini. Aku kan tidak bisa mengembalikan tebaran bunga.

Beberapa bulan lamanya Raja Henry berusaha menarik perhatianku.
Ternyata sikapku yang dingin malah membuatnya semakin penasaran. Dasar laki laki!
Sebenarnya aku sudah mulai agak suka dengan Raja Henry.
Ya aku kan manusia biasa. Berbulan bulan dirayu seorang Raja, nggak kuat juga. GR sih pasti ada.
Wajah Raja Henry tidak setampan Jason. Tapi kekuasaan dan kekayaan selalu menambah daya tarik Pria.
Dan Dia selalu memperlakukan aku seperti Ratu.
Tapi bayangan hukuman pancung selalu membuatku ingin lari dari Raja Henry.
Ah kalau dipikir aku lebih memilih Jason daripada Raja Henry.
Biarpun boke dan pelit, Paling engga aku bisa hidup panjang sampai tua bersama Jason.
Tidak dihukum  pancung.

Kakakku Mary mulai cemburu. Mary adalah salah satu selir Raja Henry.
Aku bukan tipe perempuan yang suka merebut suami atau pacar orang.
Apalagi pacar kakak kandungku sendiri.
Tapi aku kan bukan Eni di sini, Aku Anne Boleyn.
Apakah aku bisa merubah sejarah dengan menghindari Raja Henry?
Bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke 2020, sebelum aku dipancung?

Tiba tiba aku mendapat ide. Sisir antik itu yang membawaku ke sini, mungkin sisir itu bisa membawaku kembali ke 2020?
Kuraih sisir itu, aku mulai menyisir rambutku sekuat tenaga, berharap kepalaku luka, lalu aku pusing dan tertidur. Dan bisa kembali ke abad 21 lagi.
Kuhentakkan sisir metal itu ke kulit kepalaku agar luka, aduh sakitnya….. Akhirnya berdarah juga. Dan aku pusing.


“En, bangun En!”
Kubuka mataku, Lisa teman se-kost  aku duduk disampingku.
Aku tinggal bersama beberapa teman untuk menghemat biaya sewa rumah.
“Dimana aku?” tanyaku.
“Di kamar kamu En, di mana lagi?’ kata Lisa. Mata birunya memandangku khawatir.
“Kamu tidak kuliah udah beberapa hari! di kamar terus, kenapa sih kamu?” tanyanya.
“Aku mungkin pingsan, kepalaku luka kena sisir ini!” kataku menunjukkan sisir antik itu.
“Sisir jelek begitu, kamu dapat dari mana?” tanyanya.
“Ini sisir antik  dari abad ke 16, aku beli di garage sale!”
“Ah dibohongin mau aja, mana mungkin sisir antik dijual di garage sale!” kata Lisa.
“Tapi Lisa, aku ketemu Raja Henry ke 8 gara-gara sisir ini!” kataku
“Ah itu kan cuma mimpi aja, kebanyakan menghayal kamu!” kata Lisa.


Beberapa bulan kemudian, aku sudah melupakan mimpiku tentang Raja Henry.
Aku bersyukur sekali karena aku bisa kembali ke abad ini.
Hubunganku dengan Jason mulai membaik.
Hari ini temanku Lisa membawa keponakannya main ke rumah kontrakan kami.
Sesekali Lisa membantu kakaknya menjaga keponakannya. Chloe yang masih berumur 5 tahun itu imut dan lucu.
Chloe masuk ke kamarku ketika aku sedang mengerjakan tugasku.
Dia bermain di meja riasku dan mengambil sisir antikku.
“Sini rambutnya Chloe sisirin!” kata Chloe sambil menyisir rambutku.
“Aduh jangan pake sisir itu Chloe, pake sisir yang lain aja!” kataku.
“Yang ini aja, Chloe suka yang ini!” katanya bersikeras.
Aku berusaha merebut sisir itu, tapi Chloe menjerit, menangis.
Kalau Chloe sudah nangis biasanya susah didiamkan.
Akhirnya aku mengalah membiarkan Chloe mengisir rambut panjangku.
Tiba tiba kepalaku terasa perih, rupanya Chloe menyisirku terlalu keras.
Sisir metal itu melukai kulit kepalaku lagi.
Kuraba kepalaku, berdarah. Kepalaku kembali pusing.
Kudengar sayup-sayup tangisan Chloe.
Tapi aku segera tak sadarkan diri.


Saat kubuka mataku, aku ada di sebuah ruangan remang remang dan kotor.
Tidak ada furniture di sini. Hanya ada tumpukan jerami. Ada jeruji besi di situ.
Sepertinya sebuah penjara.
Kulihat tanganku putih lagi, Rambutku coklat.
Gaunku panjang, tapi kali ini kotor.
Seorang wanita masuk ke ruangan itu.
“Maaf, jangan bersedih, semua kekasih anda sudah dihukum mati!” katanya.
Aku menangis meraung-raung.
Wanita itu memandangku dengan kasihan.
“Anda pasti sangat mencintai mereka.” katanya.
Bukan, aku bukan menangis karena mencintai mereka.
Tapi karena aku sadar bahwa aku sudah kembali menjadi Anne Boleyn lagi.
Kembali di saat yang paling kutakuti. Saat menjelang hukuman pancung.
Rupanya waktu berjalan berbeda di sini dan di abad 21.
Ketika pertama kali aku ke sini, beberapa bulan di abad 16, ternyata  hanya beberapa hari di abad 21.
Tapi beberapa bulan di abad 21, ternyata beberapa tahun di abad 16.
Saat aku kembali, aku sudah menjadi istri Raja Henri ke 8 yang dituduh berzinah dan akan dihukum pancung.
“Besok hari hukuman anda!” kata wanita itu.
“Berdoalah selagi bisa!” katanya, lalu pergi.
Kucari sisir antikku ditumpukan jerami dengan kalap.
Mana sisir antikku, tolong kembalikan aku ke abad 21!


Aku dibawa ke alun-alun. Banyak warga yang ingin menyaksikan hukuman pancung itu.
Mereka bersorak-sorak menginginkan kematianku. Ah barbar sekali orang di abad ini.
Anne Boleyn memang banyak dosanya. Tapi kenapa aku yang harus menanggungnya?
Sekujur tubuhku berkeringat dingin, gemetar ketakutan.
Aku berusaha berdoa dan menenangkan diri.
Seandainya aku bisa melarikan diri kembali ke 2020, sebelum dipancung….
Kulihat algojo sudah mengayunkan pedangnya.
Sekujur tubuhku lemas saat kulihat pedang itu menebas kepalaku.
Perih, Sakit yang tak terkira dileherku. Aku tak bisa bernapas lagi.

 

Terdengar tangisan Chloe.
“En, bangun En,” kata Lisa.
Aku membuka mataku.
“Maafin aku ya, gara gara aku lengah ngobrol di telpon, Chloe jadi nyelonong masuk kamar kamu.” katanya
“Chloe,  ayo minta maaf ke Tante Eni, Janji jangan nakal lagi ya, gara gara Chloe kepala Tante Eni jadi berdarah!” kata Lisa pada Chloe.
“Maafin Chloe ya Tante Eni” kata Chloe.
“Nggak apa apa Chloe, lain kali jangan main sisir itu lagi ya, bahaya!” kataku.
Ah untung aku bisa balik lagi ke abad 21.
Kuraih sisir antik itu dan kubuang ke tong sampah.
“Katanya sisir antik, kok dibuang? Apa nggak sayang kalau ternyata asli dan mahal ?” tanya Lisa.
“Ah sisir ini membawa sial!” kataku.
Tiba tiba aku merasakan sakit dileherku.
Kulihat di kaca meja riasku. ada garis merah di sekeliling leherku, tepat di tempat pedang itu mendarat saat mereka memancungku.
“Leher kamu kenapa Eni?” tanya Lisa.
“Bekas dipancung!” kata Chloe.
Ah dari mana dia tahu?

Telponku berdenting.
“Mau pergi makan siang?” pesan dari Jason.
“OK” jawabku.
Aku makin sayang sama Jason.
Apa reaksinya kalau kuceritakan bahwa ada Raja yang pernah mengejar-ngejar aku?
Tapi aku lebih memilih dia daripada Raja. Seharusnya dia bangga.
Tapi pasti dia ketawa dan tidak percaya.
Lebih baik kusimpan sendiri cerita ini. Atau kutulis jadi cerpen saja. 

Tamat.

 

Catatan; Cerita ini terinspirasi dari sebuah sisir antik yang kulihat di garage sale.
Dan kisah hidup Anne Boleyn yang dihukum mati.
Cerita ini adalah fiktif belaka