Siapakah Aku ?

Siapakah Aku ?
Foto dari bramardianto.com

Kebanyakan orang menjawab pertanyaan tersebut langsung menyebut sederet atribut yang menempel pada dirinya. Bisa Nama, Umur, Pekerjaan/Profesi/Karir, Alamat, Status, Agama, Kewarganegaraan, Pencapaian/Prestasi, Jumlah Penghasilan dan yang lain.

Namun apakah "Aku" itu betul-betul sesungguhnya adalah semua atribut-atribut itu? Bagaimana jika semua atribut itu ngga ada,l ? Apa itu berarti ngga ada "Aku" di dunia ini ? Apakah jika seseorang kehilangan ingatan dan betul-betul lupa atribut-atribut di atas masih ada "Aku" di dirinya?

Film "Who am I ?" (Jackie Chan, 1998) menggambarkan kondisi tersebut. Dimana seseorang yang kehilangan ingatan & betul-betul lupa atribut-atribut dirinya, ia mencari & bertanya siapa dirinya, Who am I ? 

Apakah "Aku" menjadi hilang bersama hilangnya ingatan akan atribut-atribut tersebut ? Jelas hilang, karena dalam konteks berpikir banyak orang & dalam film tersebut dijelaskan jika "Aku" adalah atribut-atribut fisik yang dimiliki seseorang. 

Padahal atribut-atribut itu adalah hasil konstruksi pikiran tentang konsep diri yang dikaitkan dengan identitas/atribut-atribut tertentu. 

Apakah ada "Aku" yang lepas dari atribut-atribut identitas tersebut ? Dengan tegas jawabannya adalah ADA !. Ada AKU yg SEJATI, yang tidak melekat dengan atribut-atribut, identitas-identitas dan penanda-penanda lainnya.

AKU SEJATI yang selalu  dilupakan. AKU SEJATI yang justru tak dikenali. AKU SEJATI yang 24 jam bersama manusia, mengiringi kemana pun pergi. 

AKU SEJATI yang selalu menjaga agar manusia ngga celaka, membisiki dengan lembuut sekali petunjuk-petunjuk untuk keselamatan dan kebaikan dalam mengarungi hidup. 

Namun justru anehnya AKU SEJATI  diingkari keberadaannya, karena manusia lebih mendengarkan & nurutin ego. Ego menjauhkan manusia dari kesejatian. Karena yang ditampilkan dan dibutuhkan ego hanya citra, atribut dan pengakuan-pengakuan yang jauh dari kesejatian. Itu berarti ego tidak mampu menjawab pertanyaan "Siapa Aku ?"