Si Kucil

Cerita Pendek Tentang Parenting

Si Kucil

 

“Menurutku, apa yang mau aku ceritain gak terlalu penting banget, beneran, " ucapku perlahan membuka percakapan. Bukan tanpa maksud aku memilih kalimat pembuka seperti itu. Harapanku mereka mengamini, dan aku bisa dapat tiket cuma-cuma untuk gak cerita di depan mereka. Kutahan kalimat berikutnya di ujung tenggorokan, sambil kucoba melihat reaksi teman-temanku. 

 

Meta masih asyik dengan gawainya, wajahnya menunduk dan matanya serius melototin layar kecil di depannya , serta  jari-jarinya bergerak cepat menulis entah apa. “Udah ceritain aja, aku dengerin kok,“ tiba-tiba suara Meta mengagetkanku , walau kulihat dia masih saja asyik dengan Iphone nya. “Iya, Nad. Setiap orang dan semua cerita di ruangan ini  selalu penting.” timpal Tia, sang tuan rumah yang datang dari arah dapur sambil membawa 4 cangkir teh hangat dengan aroma bunga Rosela yang menggoda. Tia meletakkan cangkir-cangkir teh itu di atas meja di depan kami, kemudian melihatku sambil tersenyum dan mencoba meyakinkan lagi. “Pasti asyik dengerin ceritamu sambil minum teh Rosela dan kudapan makaroni keju buatan Fio. Iya nggak, Fi ?” lanjut Tia sambil menoleh ke arah Fio. Gak nyangka bakalan ditanyain, Fio yang lagi asyik lihat video kuliner di gadgetnya cuma mengangguk pelan. “Ini memang aku buat khusus buat acara kita hari ini. Aku bahkan sampai bela-belain begadang semalaman, lho. Jadi, ayo bikin momen kali ini lebih asyik dengan ceritamu, Nad,“ ucap Fio sambil mengarahkan jari telunjukknya kepadaku.

 

Aku dan teman-temanku memang sepakat bikin acara ngobrol santai satu minggu sekali, biasanya di hari jumat pagi seperti hari ini. Betapapun punya kesibukan masing-masing, tapi kami berkomitmen untuk selalu bisa meluangkan waktu. Bagi kami berempat, ketemuan satu minggu sekali sudah menjadi ritual pembersihan semua beban mental selama seminggu. Bahkan Tia bilang kalau pertemuan kami ini bisa dikategorikan sebagai terapi kelompok. Tia bisa bilang begitu karena dia memang punya latar belakang psikologi, dan praktek konseling di sebuah klinik psikologi punya temennya yang letaknya tidak jauh dari komplek perumahan kami. Sementara bagi Fio ngumpul bareng kesempatan buat promoin produk makanan terbaru buatannya sendiri. Dia memang seneng banget bikin makanan, dan untungnya suaminya yang berprofesi sebagai akuntan di sebuah perusahaan asing sangat mendukung hobi jualan istrinya. Lain lagi buat Meta. Dia seorang penulis blog di internet. Buat dia, dengan ngumpul-ngumpul seperti ini, bisa dapet ide untuk bikin tulisan. Meta sangat produktif, hampir setiap hari muncul tulisan baru di blognya. Dan hebatnya, blog milik Meta sudah menjadi ladang duit dari banyaknya iklan yang bersliweran. Aku merasa paling berbeda dengan mereka. Hanya aku satu-satunya yang tidak punya kesibukan lain selain ibu rumah tangga. Ini salah satu yang buat aku gak begitu pede bercerita di depan mereka. Padahal salah satu sesi terpenting di pertemuan kami adalah bercerita secara bergiliran. Dan hari ini adalah giliranku. 

 

“Baiklah, karena kalian tetap maksa, aku lanjutin ceritaku ya..”ucapku lirih. “Eitt.., bentar..bentar.., siapa bilang kami maksa? Kan kita dah punya perjanjian."  potong Fio. “Iya deh." timpalku pendek. Tidak ada lagi pilihan bagiku selain ceritain kisahku ke mereka. Apa yang kemudian aku ceritain ke teman-temanku sebenarnya bukan karangan, tapi beneran kisah nyata, dan itu terjadi sekitar 2 minggu lalu. Saat itu ketika habis subuh, aku buka pintu depan rumah hendak ngisi jimpitan beras yang lupa aku isi semalam. Begitu pintu terbuka, alangkah kagetnya ketika kudapati seekor anak kucing tertidur pulas di kursi teras. Akupun penasaran dari mana datangnya karena pagar rumahku tinggi dan tertutup rapat, hampir tidak mungkin seekor kucing kecil bisa naik pagar setinggi itu. Juga tidak ada satu lubangpun yang memungkinkan dia untuk masuk. Aku melangkah mendekati kucing yang nampaknya tidak menyadari kedatanganku. Kuamati lebih teliti dari jarak 1 meteran. Warnanya hitam dengan sedikit garis berwarna putih. Tubuhnya kelihatan kurus dan lusuh. Umurnya kutebak baru sekitar 2 bulan. Aku jadi penasaran siapa pemilik kucing ini sampai gak keurus begitu. “Ayah temuin tadi malam di depan pagar rumah kita waktu pulang ronda.” kata suamiku yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangku tanpa kusadari. Aku pun membalikkan badan. “Kok dimasukin ke rumah? Nanti kalo pemiliknya nyari gimana?” tanyaku menyelidik. “Kalau Ayah lihat si kayaknya kucing terlantar, gak ada pemiliknya." jawab suamiku. “Nah apalagi kalo emang terlantar, masa dibawa ke sini. Emang mau kita pelihara? Nggak..Aku nggak setuju.” kataku dengan nada agak ketus. “Kasihan kan, Bu. Lihat aja tampangnya, kerempeng dan dekil. Umur segitu harusnya masih sama induknya.” suamiku mencoba menjelaskan. Aku menggelengkan kepala. “Nggak bisa, Yah. Kan Ayah tahu aku paling nggak suka sama kucing.” 

 

Terdengar pintu kamar terbuka dan lampu ruang tamu menyala. Arya, anakku yang kedua sudah berdiri tepat di pintu depan dan penasaran dengan suara berisik Ayah dan Ibunya. “Ada apa, Yah? Berisik amat, bikin aku terbangun." tanya Arya sambil menguap. Aku melirik suamiku dan dengan tatapan mata sebenarnya aku pengin ngasih kode agar dia nggak ngasih tahu Arya kalau ada kucing. Tapi tiba-tiba terdengar suara meong si kucing yang nampaknya terbangun karena kehadiran kami bertiga. “Wih..ada kucing.” teriak Arya kegirangan. Dia langsung mendekati kucing kecil itu, dan jongkok di depan kursi. “Meong kecil lucu, siapa namamu ?” Reflek tanganku menarik tangan Arya agar tidak terlalu dekat dengan kucing itu. “Jangan dekat-dekat, Arya. Kucingnya kan kotor, lagian juga belum tahu sehat apa nggak.” kataku memperingatkan. “Yah, aku pelihara, ya?" pinta Arya dengan mimik muka merajuk ke Ayahnya. “Nggak bisa, Arya. Ibu nggak perbolehkan. Wong kucing bagus aja sama Ibu gak boleh, apalagi kucing kotor kayak gini." kataku agak sewot. “Pokoknya Ibu tahunya kucing ini gak ada di rumah ini lagi." kataku sambil masuk ke rumah. Sempat kulirik ekspresi wajah Arya yang nampak kecewa, sementara suamiku datar saja seperti biasa.

 

Kupikir drama sebabak tadi pagi sudah berakhir. Tapi ternyata tidak. Sorenya, ketika suamiku pulang, dia menenteng kandang kucing berukuran sedang, dan si kucing kecil itu ada di dalamnya. “Sudah aku bawa ke toko hewan. Diperiksa dokter hewan, divaksin dan dimandiin. Dah gak dekil lagi, kan?” katanya sambil menaruh kandang itu di teras rumah. Dia kemudian balik lagi ke mobil dan mengeluarkan bungkusan yang ternyata berisi pakan kucing khusus buat kitten. “Duh, Ayah lupa beli pasirnya.” kata suamiku sambil garuk-garuk kepala. “Yah, aku dah nemu nama buat kucingnya. Aku kasih nama si Kucil ya, artinya kucing kecil.”teriak Arya dari dalam rumah ketika tahu Ayahnya pulang membawa kembali kucing itu ke rumah.  Aku hanya diam mematung. Pengin rasanya aku teriakin mereka kalau aku gak setuju ada kucing di rumah. Tapi mereka berdua nampaknya seperti tak lagi mempedulikan kehadiranku. Benar saja. Ketika kulirik suamiku, dia cuma tersenyum seakan ngasih tanda kepadaku agar menahan diri dan tidak berkomentar. Dengan rasa kesal yang memuncak, aku tinggalkan mereka yang masih asyik bermain dengan si Kucil.

 

Keesokan harinya, drama kembali berulang. Ketika kubuka pintu depan, bau menyengat yang tidak biasanya segera tercium. Ya, bau pup kucing. Parahnya, bau pup itu berasal dari kursi yang kelihatannya dipakai tidur si Kucil semalam. Ketika kulihat ke kandang, si Kucil masih tertidur pulas di dalamnya, tapi pintu kandang terbuka setengahnya. Pasti tadi malam lupa dikunci. “Ayah!” teriakku memanggil. Kontan suamiku yang lagi asyik  dengan laptopnya di ruang keluarga segera beranjak menghampiriku. “Lihat itu!” kataku sambil menunjuk kursi asal bau pup si Kucil. “Walah..,Bu.  Ayah kemarin lupa beli pasir, dan tadi malam lupa kunci kandangnya lagi." kata suamiku sambil nepuk-nepuk jidatnya. “Pokoknya, aku tahunya semua kembali bersih." ucapku setengah berteriak sambil masuk ke rumah. 

 

Belum lagi hilang kekesalanku gara-gara pup si Kucil tadi pagi, emosiku kembali meluap ketika sore harinya kudapati Si Kucil sedang melahap bandeng presto yang kutaruh di meja dapur dan lupa kumasukin ke kulkas. “Dasar maling kecil." teriakku sambil meraih sapu yang ada di pintu dapur dan segera ku ayunkan ke arah si Kucil.  Saking lahapnya menyantap bandeng, si Kucil tidak menyadari kehadiranku dan tidak sempat menghindar ketika ujung sapu yang kuayunkan menghantam tubuhnya. “Meooonggg...” jerit si Kucil berlari keluar  sambil meringis kesakitan. Mendengar keributan di dapur, Arya dan Abi kakaknya bergegas menghampiriku. Belum sempat mereka bertanya, aku dah bicara dengan nada tinggi sambil memperlihatkan potongan bandeng presto yang tinggal separo. “Lihat tuh kelakuan si Kucil ! Tambah besar tambah berani naik ke atas meja dan mencuri makanan." Arya langsung keluar dan mencari-cari si Kucil, tapi entah kemana ia bersembunyi.

 

Arya masuk kembali ke rumah dengan muka masam setelah gagal menemukan si Kucil. “Ibu jahat ! Ngapain juga harus mukul si Kucil pakai sapu. Kucil itu kucingku. Aku gak mau ada orang yang menyakitinya, termasuk Ibu.” teriak Arya sambil berlari ke kamarnya. Braakkk !!! Terdengar suara pintu kamar dibanting keras-keras. Aku dan Abi saling berpandangan. “Ibu sih. Soal kucing aja jadi marah-marah. Ngambek tuh dede jadinya.” kata Abi sambil beranjak kembali ke depan TV. Aku memilih diam dan membereskan sisa-sisa bandeng yang masih berserakkan di atas meja. 

 

Harus kuakui, hubunganku dengan kedua anak lelakiku kurang dekat. Terutama sama Arya, sering bertengkar tentang banyak hal. Dibanding Abi kakaknya, Arya lebih keras kepala, susah diatur dan impulsif. Di umurnya yang hampir menginjak 10 tahun, banyak hal yang belum bisa dilakukannya sendiri. Semua harus diingetin berkali-kali dari mulai urusan mandi, belajar, nyiapin peralatan sekolah, merapikan tempat tidur, atau sekedar naruh barang-barang di tempatnya. Kalo dimarahin, bukannya nurut, malah balik marah-marah. Mungkin karena dia anak kedua, dan perlakuan manja yang selama ini didapatnya, membuat dia punya karakter dan kelakuan seperti itu.   

 

Waktu sudah hampir magrib, tapi belum ada tanda-tanda Arya keluar dari kamarnya. Aku ketuk kamarnya dan mencoba memanggilnya. Tapi tetap tak ada jawaban. Kubuka pintunya perlahan, dan kunyalakan lampu kamarnya. Kulihat Arya duduk di sudut kamar dengan wajah dibenamkan ke sela-sela kedua lututnya. “Dah mau magrib, Ya”, kataku mengingatkan. Tapi dia tetap saja bungkam. Aku tak yakin bisa membujuknya. Biasanya kalau Arya dah ngambek seperti ini, hanya Ayahnya yang bisa menenangkannya. 

 

Suamiku yang sedang duduk sambil membaca buku di ruang tengah hanya tersenyum ketika aku memintanya membujuk Arya keluar dari kamarnya. “Duduk sini, Bu.” katanya sambil melambaikan tangan padaku. Ketika aku sudah duduk persis di sampingnya, dia pun membuka percakapan. “Arya itu suka banget sama kucing. Lihat saja bagaimana dia memperlakukan si Kucil. Walaupun dia impulsif, tapi perasaannya halus.” Aku memandang tajam wajah suamiku. “Tapi aku itu paling gak suka sama kucing. Ayah kan tahu itu. Lagian sebaik-baiknya perlakuan kita, kucing ya kucing. Tetep aja gak bisa lihat makanan di atas meja.” Suamiku menghela napas sembari meletakkan bukunya di atas meja. “Ibu nih belum ngerti juga ya maksud Ayah. Kucing itu cara kita bisa berkomunikasi sama Arya. Kan selama ini Ibu mengeluh dia susah diatur, gak mandiri dan gampang emosi. Coba lihat sekarang semenjak ada si Kucil, ada yang berubah kan?”  tanya suamiku. Belum sempat aku menjawab pertanyaanku, suamiku sudah ngomong lagi. “Sekarang dia jadi lebih teratur kan. Bangun dah lebih pagi. Kasih makan dan mbersihin kandang kucing setiap hari sudah jadi rutinitasnya. Tadinya coba. Boro-boro mau bersih-bersih”. Kali ini aku terdiam. “Merawat hewan peliharaan juga bisa memupuk rasa kasih sayang anak lho bu, selain ngajarin tanggungjawab.” Tiba-tiba terdengar suara adzan berkumandang. “Pokoknya, tetap saja aku gak suka kucing. Kalo mau ngajarin anak tanggungjawab kan bisa pakai cara lain.” kataku sambil hendak beranjak. Tapi belum sempat berdiri, suamiku meraih pergelangan tanganku. “Bu, kadang sebagai orangtua, kita yang mesti mencoba memahami perasaan anak. Di rumah ini kan bukan hanya soal apa yang kita suka, tapi juga apa yang mereka suka. Coba renungin sebentar deh”.

Seperti dugaanku, Ayah berhasil membujuk Arya. Kami pun shalat magrib berjamaah di rumah. Tapi Arya nampaknya masih kebawa ngambek. Selepas salam, dia ogah mencium tanganku seperti biasanya, dan segera berdiri meninggalkan ruang sholat. Aku cuma bisa menghela napas, dan sekejap muncul rasa bersalah. Selepas shalat, kuhampiri Arya yang sedang duduk di sofa depan TV. Aku duduk di sebelahnya, tapi ada rasa canggung juga di antara kami. “Masih marah sama Ibu ?” tanyaku mencoba memulai perbincangan. Arya masih saja diam seribu bahasa dan sama sekali nggak menoleh ke arahku. “Ibu mau minta maaf sama kamu, ya.” ucapku lirih walaupun gak nyaman juga rasanya harus mengalah seperti ini. “Jujur aja Ibu itu dari dulu gak suka kucing. Setiap orang kan pasti ada yang di suka dan nggak disuka, kan." Kali ini Arya melirikku walaupun masih terbaca enggan di sudut matanya. “Kenapa Ibu gak suka kucing ?” tanya Arya pendek. Akupun menggeser posisi dudukku lebih dekat ke Arya. Kali ini tidak terasa bahasa tubuh penolakan darinya. “Gak tahu juga, Ya. Mungkin karena Eyang Uti mu juga gak suka sama kucing. Waktu Ibumu masih kecil, kami tidak pernah pelihara kucing di rumah. Bisa jadi karena di lingkungan kami waktu itu adanya kucing-kucing rumahan yang gak keurus sama yang punya. Kucing-kucing itu jadinya kotor dan sukanya nyolong makanan di tetangga."  Nampaknya Arya cukup tertarik dengan ceritaku. “Tapi si Kucil kan beda. Dia bersih, aku mandiin seminggu sekali. Kandangnya setiap hari aku bersihin. Makannya juga khusus makanan kucing. Dan tadi juga namanya bukan mencuri. Salahnya Ibu bandengnya gak dimasukin kulkas." Aku gak komentar, memberinya kesempatan ngomong lebih banyak. “Lagian, aku kan berhak melakukan apa yang aku suka di rumah ini. Bukan cuma Ayah, Ibu, atau mas Abi. Kalo ibu suka sesuatu, aku juga gak ribut. Contohnya, aku gak suka tanaman. Tapi aku biarin aja Ibu punya banyak tanaman di rumah kita, kan ? Gak ada yang aku cabut atau buang tuh.” Kaget juga ngederin Arya ngomong begitu, bikin aku kehabisan kata-kata. 

“Kenapa diam ?” tiba-tiba Tia mengagetkanku. “Iya, lanjutin. Seru banget tuh ceritanya.” timpal Fio sambil menuang kembali Teh Rosela ke cangkirnya. “Happy ending, kan?”celetuk Meta tak mau kalah. Kali ini aku tersenyum simpul melihat teman-temanku disergap rasa penasaran terhadap akhir ceritaku. “Penasaran, ya?” godaku. Belum sempat aku menjawab rasa ingin tahu mereka, terasa getaran dari jam pintar yang melingkar di pergelangan tanganku. Kulirik sekilas, ada notifikasi WA dari Arya. Segera ku ambil HP yang ada di meja depanku, dan segera kubuka chat WA . “Bu, si Kucil ketabrak motor di depan rumah.” tulis Arya. Sontak aku berdiri dan langsung bergegas pulang tanpa sempat bilang apapun, meninggalkan teman-temanku yang bengong penuh tanya. Tak kupedulikan teriakan mereka.  Yang muncul di otakku cuma satu pertanyaan. Bakalan ada drama apa lagi gerangan.