Si Kembar Harus Dipisahkan!

Si Kembar Harus Dipisahkan!

Plang kayu mungil bertuliskan BUAS akhirnya kami temukan setelah dua kali bolak-balik mencarinya di jalan ini. Berkali-kali kami lewat jalan di Kopeng, tapi tak sekalipun kami pernah melihatnya. Edith membelokkan motornya, dan menyusuri gang kecil dengan jalan berbatu. Ia tak melambatkan laju motor. Aku hanya meringis di boncengannya. Jok motor seakan jadi trampolin yang berniat melemparkanku.

Aku sudah hapal kelakuan Edith. Tak ada gunanya protes. Meskipun aku lebih tua setengah jam, namun Edith hampir selalu mendapatkan semua kemauannya. Ya, kami berdua kembar, identik. Tapi bagi yang jeli, orang bisa melihat sifat dan kelakuan kami agak berbeda. Edith orangnya perfeksionis dan agak-agak OCD. Bahkan dia cenderung agak kejam. Aku? Namaku Ima. Aku lebih sering jadi bayang-bayang Edith. Tahu kan Jekyll and Hyde? Nah, seperti itulah kami. Kurang lebih.

Edith menghentikan motor di halaman depan sebuah rumah kayu. Rumah besar dan bertingkat. Semuanya kayu! Semacam pondok atau kabin di buku-buku cerita. Lengkap dengan pepohonan pinus mengelilingi rumah. Tampak di belakang, Gunung Merbabu menjulang dengan awan menutup puncaknya. Pemandangan cantik ini cocok dicetak di kartu pos.

"Kartu pos? Emang kita ada di abad berapa?" sekak Edith di sebelahku. Pertanyaan Edith membuyarkan lamunanku.

Memang agak-agak ngeri kedengarannya, tapi Edith dan aku bisa telepati. Kami bisa berkomunikasi dalam diam, dan kami bisa saling baca pikiran. Mungkin karena kami kembar identik. Entahlah. Yang jelas Edith sering sekali mengganggu lamunanku, memotong ucapanku, bahkan sering mengambil keputusan untukku. Buruknya, aku selalu mengalah. Aku malas berargumen, apalagi bertengkar. Sebenernya capek sih. Itu sebabnya kami di sini sekarang.

Aku turun dari motor. Kulepas helmku. Brrrr... Dingin! Hawa sejuk khas Kopeng sepertinya turun beberapa derajat. Kutarik ritsleting jaketku sampai pol ke atas. Kueratkan syal di leher, dan kugosok-gosokkan kedua telapak tangan dan kutiup-tiup agar hangat. Akhirnya kumasukkan ke saku jaket. Aku memandang sekitar. Edith benar! Ini abad berapa sih? Aku melirik Edith, yang juga sedang menikmati momen ini. Sepertinya kami terlempar di sebuah tempat, di suatu waktu, in the middle of nowhere. Aku mengulurkan tangan dan sambil bergandengan tangan, kami berjalan menuju pondok.

Kehangatan langsung memeluk kami ketika kami masuk ke dalam pondok. Rupanya ada perapian di ruangan. Bunyi-bunyi percikan api melumat kayu sesekali terdengar. Ruangan kosong, tak ada seorang pun di situ. Samar-samar tercium bau kayu manis. Bau yang mengingatkan pada pumpkin soup buatan ibu di masa kecil kami. Hhhhmmm .. hangat dan yum!

TINGGG!!

Aku terlonjak. Edith! Rupanya ia memukul bel di atas meja dekat perapian. Ia mengangkat bahu sambil nyengir.

"Emang mo nunggu di sini seumur hidup?" tanya Edith secara telepati. Aku berkacak pinggang dan mendelik. Jantungku punya irama detak tersendiri. Jadi aku paling benci dikagetkan. Edith tahu itu, dan dia suka sekali menggangguku.

"Selamat datang. Kalian pasti Ima dan Edith ya."

Giliran Edith terlonjak kaget. Aku juga sih. Out of nowhere, tiba-tiba ada suara lembut menyapa kami. Seorang perempuan tinggi langsing sudah berdiri di belakang kami. Rambutnya hitam agak ikal sebahu. Kulitnya putih pucat. Ia mengenakan gaun beige dengan stola kasmir warna putih gading.

"Kalian langsung saja ke ruang dalam. Acara hampir mulai," suruh si perempuan cantik itu.

Kami merasa disulap jadi dua kerbau dengan anting di hidung. Kami mengikuti sarannya. Sekumpulan orang sudah ada di dalam ruangan. Ada kerumunan sedang terbahak-bahak di dekat meja sebelah pintu masuk. Di depan, ada kerumunan lain yang tampak serius mendengarkan seorang berbicara. Ia melihat kami masuk, tersenyum dan melambaikan tangan. Edith melangkah masuk menggabungkan diri ke kelompok yang masih tertawa-tawa. Aku mengikuti di belakang Edith, menuju meja, menuang kopi, dan bergabung dengan kelompok di depan.

Acara berlangsung duabelas hari. Ada sesi tatap muka untuk materi dua jam per hari. Sisanya acara bebas, yang diisi dengan sesi konsultasi dan sesi diskusi. Selama pemberian materi, aku memilih menjadi pengamat. Aku merapal mantra invisible dalam diam. Edith, sebaliknya, sangat antusias dan aktif. Tiap sebelum tidur, ia bahkan membahas kembali semua sesi yang kami lalui. Seakan dia lupa kalo aku pun ada di sana.

Tiap kali, Edith selalu datang ke kamarku melalui pintu penghubung antar kamar, duduk di tempat tidurku, dan mulai ngoceh. Ya, kami mendapat kamar bersebelahan. Satu kamar satu orang. Begitu aturan panitia. Berlaku juga bagi kami yang kembar begini.

Kalo berpikir positif sih, ada gunanya kok Edith ngoceh begitu. Ia biasanya suka monolog. Jadi aku tak perlu meresponnya. Aku bisa ngulang materi hanya dengan mendengarkan dia. Tapi sering aku ingin menyendiri, merenung, dan menjelajahi imajinasiku. Sering Edith mendikteku, menyuruhku, bahkan tak jarang juga mengintimidasi. Itu yang aku tak suka! Kembar bukan berarti selalu sama kan?

"Bedakan ruangnya! Masuk dulu di ruang imajinasi, baru ke ruang editing," begitu mentor kami menjelaskan. Ketika sesi tanya jawab, banyak sekali yang mengangkat tangan. Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu? Hampir semua minta tips pada sang mentor. Rupanya banyak orang mengalami hal sama dengan yang kualami. Masalahku dengan Edith. Ia terlalu dominan. Don't give me wrong. Aku sayang Edith. Tapi aku juga berhak punya waktu untuk diriku sendiri.

"MAKSUDMU APA?" tanya Edith setengah teriak.

Kami ada di kamarku. Lewat tengah malam. Aku barusan meminta Edith untuk kembali ke kamarnya dan tidak lagi masuk kamarku tanpa seizinku. Sepersekian detik Edith terpana, lalu ngamuklah dia! Semua kosakata makian miliknya ia semburkan. Ia bahkan memakai beberapa makian yang biasa kupakai. Aku hanya diam menunggu dia selesai.

TOK TOK TOK.

Aku membeku. Kulirik Edith. Kusuruh dia buka pintu.

"Apa-apaan sih kalian? Ini sudah lewat tengah malam. Kembali ke tempat masing-masing!"

Ternyata kedua mentor kami yang datang! Rupanya suara Edith terlalu keras dan terdengar sampai keluar kamar. Tentu saja mengganggu yang lain. Edith dan aku menundukkan wajah. Akhirnya Edith berjalan perlahan menuju pintu penghubung, dan kembali ke kamarnya.

"Tutup pintu itu," suruh mentor kami, lalu berbalik meninggalkan aku. Aku menggumamkan terima kasih dan menutup pintu kamar. Aku menuju ke pintu penghubung, menutupnya rapat dan menguncinya. Tak kudengar suara Edith di balik pintu. Tak apa, besok kami bertemu seperti biasa.

Aku Ima, nama lengkapku Imajinasi. Nama lengkap Edith adalah Editing. Kami memulai bab baru dalam hidup kami. Saling menghargai dan memberi keleluasaan menggunakan waktu masing-masing. Tetap kerja sama tentu saja, demi meraih impian kami! (rase)

Segunung terima kasih kepada:

Budiman Hakim

Asep Herna 

Devina Hanoum Hakim 

yang dengan kreatif penuh keikhlasan hati menyelenggarakan The Writers, sebuah Pelatihan Menulis berbasis grup Whatsapp. Semoga lebih banyak orang tercerahkan dalam kepenulisan, sehingga: Sebelum mati buatlah minimal 1 buku.

- - -

Tulisan ini saya tulis dan posting di akun FB saya 22 Juli 2019 sebagai tugas akhir pelatihan The Writers Batch 2, sekaligus ngincer hadiah yang disiapkan oleh Om Bud dkk blush