Setelah COVID-19

Setelah COVID-19

Tangan kanan saya menunjuk kedepan, mengarah ke laptop dan bergerak keatas. 

Laptop  tetap tidak bisa bergerak.

Saya menghela napas panjang, kesal. 

Ya, saya belum bisa jadi Super Woman, saya masih manusia biasa. Tapi setelah dua bulan hidup dalam pandemi, rasanya hidup saya dipercepat puluhan tahun. Saya terpaksa melihat kedalam, berefleksi, berpikir dan mengkaji. Hasilnya? Saya melihat bahwa manusia terbukti punya ketahanan, kebaikan, banyak akal. 

Begitu banyak hal-hal baru dan menarik yang terjadi disekitar kita, dilingkungan, kota, negara, bahkan dunia. Terlihat jelas negara mana yang kuat dan mana yang lemah, tantangan baru apa yang dihadapi kasat mata, apa bentuk ketakutan-ketakutan dasar manusia, kecerdikan kita, manusia. Jelas sudah bahwa masyarakat yang selama ini mendapat paling sedikit perhatian justru adalah pemeran-pemeran utama yang memegang andil terpenting dalam hidup kita. Petugas kesehatan, perawatan, pos, supermarket, apotik, polisi, tentara bahkan pemerintah.

Secara pribadi dan secara kolektif, ada perubahan mendasar terhadap cara pandang kita selama ini. Manusia hidup dalam 'victim mode' atau 'pola viktimisasi' sepanjang sejarah manusia dibaca dan dikaji. Tapi pola ini sedikit-sedikit berubah menjadi 'growth mode' atau 'pola pertumbuhan'.  Pandemi inilah yang menggerakkannya, bukan krisis finansial 2008 atau krisis-krisis lainnya sepanjang sejarah. 

Sekarang, perubahan-perubahan berkepanjangan harus dan akan timbul di segala bentuk kehidupan. Ekonomi akan mendapat arti baru; yang tadinya hanya berakar pada pertumbuhan GDP, sekarang harus juga mencakup pertumbuhan sosial dalam alam yang seimbang. Industri-industri besar yang memegang peranan dalam kehidupan manusia sehari-hari seperti industri makanan, kesehatan, keamanan, teknologi, finansial akan menerapkan ideo-ide baru. Dunia yang tadinya sangat global akan mengalami de-globalisasi karena berbagai pintu-pintu masuk harus ditutup guna melindungi manusia, bumi dan alam tempat manusia tinggal.

Mindfullness, resiliency, self examination, collective reflections atau Kesadaran, Ketahanan, Pengujian diri, Refleksi kolektif akan menjadi norma-norma dan alat ukur baru. COVID-19 memaksa manusia berpikir keras tentang apa peran kita di bumi dan hal-hal baru yang dapat merubah penghancuran bumi seperti pemanasan global, penggundulan hutan, konsumsi berlebih, dan apapun itu yang melawan kesinambungan. 

Dunia yang hanya mementingkan laba dan uang tanpa memikirkan kesetaraan dan keseimbangan alam tidak boleh ada lagi. Yang boleh hanya dunia yang seimbang dimana semua penghuninya, apakah manusia, flora dan fauna, hidup bahu-membahu melestarikan alam dan menyayangi sesamanya.

Mungkin lusa saya bisa jadi Super Woman untuk anak saya.

 

"After years of ideological polarisation, the crisis has reiterated the need for humility and provided a poignant reminder of our shared humanity" - NewStatesman