Serial Sejoli Senja

Serial Sejoli Senja

 

KRAAAKKK.. bunyi keras terdengar bersamaan dengan reaksi runtuh sebagian ranjang. Mereka pun terdiam kaku penuh tanda tanya.

Ada apa dengan ranjang ini? Seperti ada yang patah?

Hening. Beberapa detik berlalu, si lelaki mengambil inisiatif untuk memastikan keadaan. Perlahan dia turun dari ranjang yang terasa labil, merendahkan tubuh, bertumpu pada tempurung lututnya, dan mengarahkan pandangan ke bagian bawah ranjang. Benar saja. Dia menemukan kayu utama penyangga di bagian tengah dan penopang vertikal, patah. Begitu pula kayu utama sebelah kiri, nyaris terbelah dua. Kasur tebal di atas ranjang menjadi miring tak karuan posisinya.

Si lelaki terpaku. Bobotnya memang melebihi rata-rata, sudah masuk ambang obesitas. Mungkin tadi dia terlalu larut dalam suasana, hingga tak berpikir panjang. Mengempas tubuh suburnya dan si wanita bersamaan ke ranjang memang hal yang penuh resiko. Namun, bukan kali ini saja dia melakukan aksi selebrasi seperti tadi.

Benaknya berdebat. Lama-lama tampak jelas, logikanya menegaskan.

Kualitas ranjanglah penyebabnya!

Dia terduduk lemah di lantai, tubuhnya lelah. Dia mengerahkan kerja otak semampunya, mencari cara untuk tetap bisa menikmati malam.

Pindah ke hotel? Detik ini juga?

uhm ... sepertinya tak mungkin. Vila tempat mereka bermalam ini jauh dari keramaian kota, tersembunyi di balik gunung. Medan jalan menuju vila, sempit terjal menegangkan. Jalan itu memiliki lebar sekitar empat meter dengan permukaan hanya ditabur butiran batu koral. Sisi kiri jalan dipenuhi dinding tanah rawan longsor, sementara sisi kanan menyajikan pemandangan tebing curam tanpa pagar pembatas. Sore tadi menjadi pengalaman pertamanya melintasi jalan itu. Sepanjang perjalanan mobil terus saja berguncang mengikuti gelombang gradasi batu koral. Kenyamanan berkendara sungguh hanya angan. Tebersit kegundahan, benaknya bergumam,

Apakah rencananya akan berhasil? Perjalanan ini seharusnya menyenangkan!

Dia melirik si wanita di sebelah, tidak ada sinyal positif di sana, suasana di dalam mobil dingin membeku, tanpa percakapan hangat. Lidahnya kelu, tak sanggup memulai basa basi. Otaknya terasa sesak dengan luapan kejengkelan yang tak mungkin dilepaskan sekarang. Semakin jauh mobil mereka memasuki kawasan mendebarkan itu, semakin menggunung kekesalannya kepada Adela, sang makelar.

Beberapa bulan lalu, ketika menyampaikan proposal penjualan vila, Adela meyakini bahwa semua yang ditawarkan adalah yang terbaik. Bangunan unik konsep minimalis dengan satu kamar tidur utama berpadu dengan furniture yang selaras, kamar mandi dilengkapi bath tub, shower dan pemanas, ruang duduk berikut perapian, dan pantry. Begitu juga dengan jalan akses. Berulang kali dia menanyakan perihal akses, selalu dijawab dengan gaya meyakinkan oleh Adela. Entah dukun mana yang disewa makelar itu untuk mempengaruhinya, hingga dia merasa tak perlu melakukan survei lapangan terlebih dahulu.

Kini, dia hanya bisa pasrah menanti reaksi si wanita.

Begitulah, setelah berjam-jam berada dalam mendung kebisuan, atmosfer berubah cerah ketika mereka tiba di tempat tujuan. Kekhawatirannya seketika lenyap, saat melihat wajah si wanita yang mulai bersemi, seperti terpukau dengan hadiah kejutannya. Dia sangat bangga, bahagia berlebihan, hingga akhirnya ranjang sialan itu kembali membuyarkan harapannya.

Mereka bukan pasangan muda. Dua puluh lima tahun bersama dalam biduk pernikahan tentu bukan hal mudah. Banyak lika liku yang mewarnai. Setiap segmen cerita sudah mereka lalui, hingga tiba pada episode kali ini, ketika si lelaki berniat memberikan sesuatu yang istimewa untuk pasangannya. Mungkin saja banyak kesalahan fatal yang telah dilakukannya beberapa waktu ke belakang, sampai-sampai sebuah vila terasa tak banyak merogoh sakunya untuk mengembalikan sebuah kehangatan. Namun alih-alih kesenangan, malah kemalangan yang dirasa.

Huh, rasanya ingin segera berlari memburu Adela dan melemparnya jauh ke luar galaksi.

Pikiran sehatnya kembali pada keripuhan dalam ruangan. Layar televisi masih membingkai wajah tokoh serial masa lalu favorit mereka, ‘Resident Alien’. Tadi memang dia sengaja memutar kembali untuk mengingatkan masa romantis dulu, ketika keduanya menemukan segudang kesamaan minat. Wajah Alien itu seperti menatapnya, mengungkap perasaan turut prihatin dengan kondisi yang baru saja dialami. Dia membuang muka, menarik napas panjang dan berusaha mengembuskan bersama segala kegusaran.

Bola matanya beralih menangkap sosok si wanita. Tampak dia masih terdiam memaknai keadaan. Air mukanya keruh, jelas menggambarkan pikirannya yang penuh.

Ada apa dengan suamiku? Perjalanan ini sungguh melelahkan, sepertinya aku sudah membuat keputusan yang salah. Mungkinkah dia ingin mencelakaiku? Pantas saja akhir-akhir ini sikapnya dingin, seperti tak bergairah. Biasanya itu karena pekerjaan yang menuntut perhatian besar, tetapi rasanya kali ini ada yang berbeda!

Bayangan buruk mulai membungkus benaknya. Sudah lama dia curiga dengan Adela, sosok yang tiba-tiba muncul begitu saja. Sering sekali dia melihat notifikasi pesan Adela pada telepon seluler si lelaki, tetapi dia tak pernah mau ambil pusing. Namun, kejadian ini membuatnya merasa harus mempertimbangkan itu.

Dia melirik cangkir kopi yang seolah memanggil. Otak memberi sinyal untuk meraih dan menghirup. Sayang, suhunya sudah menurun, sensasinya sungguh berbeda, tidak terlalu nikmat. Dia menyesal sempat melupakan kopi. Wangi kopi sebenarnya sudah menguar sejak tadi, namun ketika dia baru saja ingin menyesap, si lelaki tanpa bicara tiba-tiba memeluknya.

Sejenak dia terkesiap, lalu mulai menyadari betapa sangat merindukan sentuhan si lelaki. Dia membiarkan, sementara fokus matanya tak lepas dari layar televisi yang menyajikan potongan gambar sesosok alien di atas perahu, yang tengah berada di hamparan danau luas dengan latar perbukitan biru dihiasi langit semburat merah kekuningan. Tayangan itu, yang dulu sering disaksikan bersama, dan selalu memicu otak membuka file kemesraan mereka, kini menjadi santapan istimewa bagi mata telanjangnya, melengkapi kenikmatan yang diberikan si lelaki.

Sengatan-sengatan kecil menjalar hampir ke sekujur tubuh. Dia melayang, sempurna. Semakin lama terasa semakin ringan, hingga terjadilah insiden itu.

Ranjang kelas teri menjerit!

Sosok berkulit biru dan berotak besar itu tertawa terbahak-bahak. Emosinya tergugah. Kejadian ranjang patah adalah hal yang mustahil, dia yakin si lelaki pasti sudah merencanakan. Sifat makhluk bernama manusia, memang sungguh beragam, penuh dinamika. Berbeda jauh dengan kaumnya, Arctuarians, yang cenderung stagnan dan terprogram. Setelah melahap puluhan episode serial kesayangannya itu, dia semakin larut tenggelam dengan fenomena kehidupan rumah tangga makhluk bumi. Bahkan, rasa penasaran nyaris selalu mengusik, menanti kisah selanjutnya.

Kecanggihan sistem informasi dan komunikasi di planetnya membuat jarak 36 tahun cahaya tidak menjadi penghalang untuk menangkap sinyal bumi, dan mungkin juga karena bintang Arcturus, sumber kehidupan komunitasnya, masih berada dalam satu sistem galaksi bersama bumi. Entahlah, yang pasti kali ini dia sedang asyik menyaksikan satu episode Serial Sejoli Senja dari tengah danau dengan latar bukit kebiruan yang berharmoni bersama pendar merah kekuningan lengkung cakrawala.

Mata besar berbentuk almond fokus pada layar monitor kecil yang menempel pada salah satu sisi perahu. Diakhir cerita tampak tulisan yang sudah tak asing baginya.

‘Bersambung’.

 

***