Sepak Bola Tradisional

Permainan sepak bola yang hilang ditelan arus modernisasi.

Sepak Bola Tradisional
https://unsplash.com/photos/HuaNW8t_FEc

Teringat pada masa di mana saya dan kawan-kawan saling adu sikut untuk menguasai bola, adu mulut untuk menentukan apakah bola sudah ­out atau belum, adu urat untuk memutuskan pelanggaran atau tidak, hingga adu pukul kalau tensi permainan memanas. Tetapi, selepas permainan selesai, kami kembali bercengkrama sembari bergantian mendapat giliran minum es plastik dengan sedotan warna-warni.

Beberapa tahun terakhir ini saya sangat jarang bahkan tidak pernah melihat lagi permainan sepak bola macam itu. Saya menyebutnya “sepak bola tradisional”, sepak bola tanpa aturan. Padahal, permainan tersebut sangat simpel untuk dimainkan, hanya butuh lapangan atau lahan kosong, bola, dan sekumpulan anak-anak. Kalau pun tidak ada lapangan atau lahan kosong, biasanya dimainkan di sela-sela gang sempit. Kalau pun tidak ada bola, biasanya menggunakan barang apa saja yang bisa ditendang.

Selepas solat ashar, pasti ada satu atau dua anak yang nyamper kawan-kawan lainnya. Biasanya yang pertama disamper itu adalah anak yang memiliki bola, karena dialah yang menjadi kunci apakah permainan akan digelar atau tidak. Kalau pun si anak itu sedang tidak diizinkan bermain bola oleh orang tuanya, maka akan terjadi negosiasi untuk peminjaman bola. Pada situasi seperti itu, kedermawanan si pemilik bolalah yang menentukan, kalau diberi pinjam artinya permainan akan digelar, kalau tidak diberi pinjam artinya si peminjam harus mencari alternatif lain.

Satu per satu rumah kawannya didatangi. Tak jarang, saat memanggil nama kawannya dengan suara lantang, selalu ada saja orang dewasa yang menyahut “berisik!”, dengan nada yang tinggi. Berteriak memanggil nama kawan di depan rumahnya adalah seni nyamper yang paling indah, tak ada bandingannya saat itu. Namun, sering juga kawan yang disamper-nya itu tidak ada di rumah karena sudah lebih dulu ke lapangan kosong.

Kalau sudah terkumpul dan dirasa cukup untuk satu permainan, mereka langsung membagi tim dengan cara suit. Untuk terciptanya keadilan saat pembagian tim biasanya yang jago harus suit dengan yang jago pula agar dalam kedua tim ada ”pemain unggulan”-nya. Tak jarang, pasti ada saja anak yang melakukan kelicikan agar ia mendapatkan tim yang berkualitas.

Setelah pembagian tim selesai maka kedua tim membuat gawangnya masing-masing. Ukuran standar lebar gawang biasanya tidak tetap, kadang berubah sewaktu-waktu. Namun, biasanya lebar gawang berukuran lima langkah kaki anak-anak. Untuk tinggi gawangnya tidak pasti karena gawang hanya terbuat dari tumpukan sandal.

Gawang rampung, pemain pun sudah siap di posisinya masing-masing. Kedua kapten tim terlebih dahulu melakukan suit untuk menentukan bola akan bergulir dari tim mana. Kapten tim adalah pemain yang dirasa paling jago di dalam tim, karena memang dalam sepak bola macam ini sangat mengandalkan seseorang yang jago.

Menjelang kick off biasanya ada salah satu anak yang mempunyai kemampuan meniru suara peluit dengan mulutnya yang entah bagaimana suara itu terdengar seperti peluit, biasanya mulutnya dibantu oleh tekanan jari tangan lalu ia seolah-olah melakukan tiupan dan keluarlah suara “pfuitttt”. Pertandingan dimulai.

Meskipun sepak bola macam ini bukan dilakukan oleh profesional, tetapi drama yang di dalamnya tak kalah dengan sepak bola yang dilakukan oleh profesional, bahkan bisa dikatakan dramanya melebihi sepak bola profesional.

Permainan ini sangat menjunjung tinggi nilai demokrasi karena setiap keputusan seperti foul, handball, out, corner kick, dan penalty kick harus disepakati oleh bersama. Pasalnya, dalam permainan ini tidak ada wasit, asisten wasit, garis lapangan, apalagi VAR. Sebab itu, keputusan apapun harus disepakati bersama.

Foul biasanya diputuskan ketika ada anak yang melanggar lawannya dengan cara keras, kalau hanya pelanggaran ringan maka tidak dianggap foul. Dengan kata lain, foul terjadi ketika ada salah satu anak yang benar-benar cedera. Keras.

Drama juga sering terjadi saat mereka memutuskan apakah telah tercipta sebuah gol atau tidak ketika bola yang ditendang striker sedikit melambung tinggi dari gawang dan tak dapat dihalau oleh kiper lawan. Pasalnya, tidak ada ukuran yang pasti untuk tinggi gawang, karena gawang pun hanya terbuat dari tumpukan sandal.

Untuk memutuskan gol atau tidaknya yaitu dengan melihat seberapa tinggi loncatan si kiper saat menghalau bola, kalau si kiper sudah meloncat dengan maksimal tetapi bola masih tak terjangkau maka keputusannya tidak gol, karena bola dianggap terlampau tinggi. Kalau loncatan si kiper tidak maksimal maka bola dianggap gol, karena memang si kiper tak dapat menghalau bola.

Setiap orang –yang dulunya sering memainkan sepak bola macam ini– pastinya punya pengalamannya masing-masing, karena setiap daerah memiliki kultur tersendiri atas permainan ini. Anak-anak yang tinggal di daerah yang memiliki sawah atau kebun yang kosong maka kemungkinan mereka akan menggelar permainan itu di tempat tersebut. Anak-anak yang tinggal di pemukiman yang padat biasanya menggelar permainan dengan memanfaatkan lapangan atau lahan kosong yang tersedia.

Kian hari sepak bola macam ini mulai tergerus oleh modernisasi. Tak terlihat lagi sikut yang saling menusuk tubuh lawan, tak terdengar lagi teriakan-teriakan saat terjadinya gol, tak terpampang lagi wajah-wajah lusuh penuh keringat namun tetap ceria. Kini, sore hari menjadi hening.

Bukan sudah tidak ada lagi anak-anak yang gemar sepak bola, melainkan media penyalurnya sudah beda. Kalau anak-anak zaman dulu menyalurkan kegemarannya secara langsung dengan bermain sepak bola, anak-anak zaman sekarang menyalurkan kegemarannya melalui media yang lebih canggih.

Kemajuan teknologi dapat menstimulasikan permainan sepak bola ke dalam media yang dapat membuat banyak orang kagum dan terpana. Permainan sepak bola dialihkan ke dalam layar yang membuat anak-anak lebih nyaman bermain di situ daripada bermain secara langsung. Ironis.