Sentana

Sentana

Aku menangis terisak , mata bengkak, sesegukan. Aku tak mampu menghentikan tangisku. Bagaimana pun ini sudah terjadi ? Mungkin ini yang namanya nasi sudah menjadi bubur ? Kelelahan menangis mengantarkan ku pada dunia mimpi. Sayup- sayup terdengar dering handphone membuatku terlempar kembali ke dunia nyata ini. 

" Kamu dimana de ? aku belum lihat wajahmu dikelas "

" aku ga ngampus deh kayaknya kepalaku sakit banget "

" Kamu sakit, sudah minum obat ? Perlu aku antar ke dokter ? "

" Hmhmm, mampirlah " Lalu panggilan itu kututup.

Terdengar pintu terketuk. Aku tinggal dirumah BTN dikota Palu. Saat ini aku masih kuliah di Untika jurusan Hukum. Rumah ini dibeli ibuku dengan KPR agar aku tidak perlu indekost. Aku adalah anak tunggul dan perempuan. Bagi orang bali tidak memiliki anak laki- laki adalah perkara besar. Namaku Made. Sial pintu itu kini tergedor- gedor. Tertatih- tatih aku keluar mengintip dari jendela siapa yang datang. Laki- laki pembohong itu. Kenapa harus dia yang ku pilih sebagai kekasih diantara sekian lelaki yang pernah menyatakan cintanya ?.

" Kamu menangis ? Mukamu pucat , apa kamu sakit "  dia meraba keningku. Namun segera ku tepis.

" Pergi kamu pembohong , mau apa lagi ? Kamu harusnya bersyukur melihatku masih hidup. Masih bernyawa " . Bentakku, kepada Gede Bagus. Nama mu memang 'Bagus" tapi kelakuanmu tidak sebagus namamu. Kami berpacaran saat awal kuliah. Aku baru ingat kenapa aku memilihnya . Alasan aku mau berpacaran dengan nya adalah karena dia mau "nyentana" . Dalam tradisi Bali seorang yang menikah akan tinggal dirumah suaminya. Mepamit pada leluhurnya. Dan apabila didalam keluarga tidak memiliki anak pria maka si anak perempuannya tetap wajib tinggal dirumah dan suaminya lah yang pindah tinggal dirumahnya. Namun untuk kepala keluarga tetap yang ditunjuk adalah siperempuan tersebut. Kenyataan dilapangan tidak semudah itu. Apa sih bedanya tinggal dirumah yang laki atau yang perempuan. Bagi orang bali itu sangat berbeda. Para keluarga pada umumnya tidak merelakan anak lelaki berharganya untuk meninggalkan keluarganya / nyentana. Ini semacam menurunkan derajat si lelaki kecuali kamu perempuan yang kaya raya. Atau kamu keluarga lelaki yang miskin dan memiliki saudara lelaki lebih dari dua.  Walaupun tidak semua orang bali tetap pada tradisi ini. Keluarga ku adalah orang bali yang masih memegang teguh tradisi ini. Aku ini anak perempuan yang berharga bagi orangtuaku tapi tidak dengan kelakuanku yang memalukan diriku apalagi keluargaku.

" Aku akan bertanggung jawab "  dia memegang tanganku

" Dengan apa ? " Seharusnya dulu aku tidak mudah menyerahkan kehormatan ku. Hanya dengan iming- iming nyentana. Harusnya kutanyakan langsung pada orang tuanya apa benar menginjinkan anaknya nyentana. Sekarang sudah terlanjur hamil seperti ini. Mengatakan pada orang tuaku aku takut. Bukan hanya takut tapi teramat takut. Dimana ku taruh muka orang tua ku ? Ibuku pasti syok bila tau hal ini. Anak yang dibangga- bangakan ternnyata seperti ini , Menjaga kehormatannya saja tak mampu. 

" Melamarmu " katanya. 

" Itu tidak menyelesaikan masalah " teriaku . Kamu tau kan orang tuaku mau kamu nyentana dan dengan enteng kamu berkata tidak dibolehkan Ayahmu. Lalu kenapa dulu kamu mengatakan mau ? Aku bisa digantung ibuku hidup- hidup . Apa aku aborsi saja ? "

" Kamu gila , itu sama dengan membunuh. Kamu mau jadi pembunuh "

" aku anggap membunuh semut "  

Pipiku terasa panas. Sial seenaknya dia menamparku. Aku terisak. " Sekarang kamu mandi, aku belikan sarapan. " dia pergi dengan motornya. Kupaksakan diriku mandi. Aku berdoa dalam hati semoga apapun keputusan yang terjadi adalah kuat kuhadapi dan sanggup kujalani. Sebenarnya akupun takut aborsi selain takut dosa aku juga takut dihantui perasaan bersalah selama sisa hidupku . Dan juga takut pada karma. Seandainya saja waktu bisa kembali mundur.  

Setelah kuceritakan semuanya pada sahabat baikku. Aku merasa membaik. Aku bersyukur punya satu sahabat baik yang bisa menjaga rahasia dan memberikan solusi tanpa menghakimi. Hasil perundingan kami bertiga adalah menceritakan hal ini pada sepupuku yang lebih tua. Sepupuku ini adalah anak perempuan dari adik bapakku. Dia sudah menikah dan  juga mencari sentana. Berharap nanti dia berada dipihakku bila terjadi hal - hal lain. Sekarang dia juga tinggal di Palu dan cukup terpandang. Sehingga cukup disegani juga oleh orang tua ku. 

********

Orang tua ku sangat terpukul dengan keadaanku. Terutama ibuku. Mau ditaruh dimana mukanya. Sebagai anak kebanggaann yang sudah mencoreng arang diwajahnya. Sungguh ibuku menggila dan histeris. Kalau sanggup mungkin aku dikulitinya dan digantung hidup- hidup. Namun ibu mana yang sanggup, sebejat apapun aku tetap anak yang keluar dari rahimnya. Seperti kata lagu 'Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia'. Meskipun Ibu tetap pada keputusannya bahwa pacarku harus nyentana apapun yang terjadi. Bahwa aku tak boleh meninggalkan rumah , tak boleh meninggalkan leluhur. Ibu lebih memilih aku tidak menikah daripada menikah dan meninggalkannya dan para leluhurku. Begitulah tradisi yang masih dipegang teguh oleh keluargaku. Tak ada yang dapat kulakukan selain tegar. Aku harus tetap menjalani hidup ini, tetap sehat demi anak yang ada  dirahimku. Dan patuh pada orang tua ku. Walaupun pada akhirnya aku dilamar, toh lamaran itu tertolakkan . Pernikahan memang tak pernah terjadi, kedua belah pihak orang tua tak ada yang mengalah semua hanya meninggalkan luka tanpa kata sepakat. Lalu karena kehamilan ku dan agar diriku tak begitu malu ku ajukan cuti kuliah. Selain badanku juga yang semakin membengkak. Waktu berlalu dan anak itu pun lahir . Sesakit derita yang kujalani selama mengandungnya sesakit itu pula aku melahirkannya melalui cesar. 

*****

Kini anak itu sudah mulai TK nol kecil. Anak itu laki - laki yang begitu tampan, lucu dan cerdas.  Hanya karena aku tidak menikah , anakku menjadi anak bagi ibuku. Yah ibuku yang mengadopsi anakkuu untuk menghindarkan anakku diperebutkan oleh keluarga mantan pacarku. Dan peranku hanya sampai dimelahirkannya kedunia ini. Sekarang anakku menjadi adikku. Perbuatanku tetap menjadi kekecewaan tersendiri untuk orang tuaku dan juga diriku. Tak kusangka aku begitu gampangan dan menoreh luka pada orang tua dan diriku sendiri. Masa lalu memang berlalu. Lukanya mungkin sembuh tapi masih berbekas sampai kapanpun. Menghantui masa depanku. Selamanya menjadi aibku. Akankan ku temui lelaki lain yang bisa menerima aku apa adanya ? Gadis bukan janda juga bukan ?