Semangkok Nasi Inspirasi

Semangkok Nasi Inspirasi

Sebuah status facebook dari kak Asep Herna membuatku berhenti dan membaca seksama, tanpa sadar.. hatiku terasa teriris. Seketika bayangan sosok Ibu di kampung datang, bagaimana beliau dengan sangat cekatan menyiapkan memasak dan menyiapkan makanan kami, setiap kami pulang kampung. Beliau tidak pernah memaksaku untuk membantunya, beliau selalu bertanya, khususnya padaku dan suami, " Dik, mau dimasakin apa? "  atau " Syifa mau belajar masak apa? ". Mendadak kangen ibu.

Detik berikutnya, muncul kembali momen masa kecil dimana aku terbangun di tengah malam karena perutku keroncongan minta diisi. Akupun membangunkan umi, " Mi... teteh lapar,"ucapku sambil memegang perut. Segera umi bangun, bergegas ke dapur. Saat itu, aku masih berumur 6 tahun dan kondisi orangtua masih merintis. Kami tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil yang memiliki dapur terpisah. Untuk pergi ke dapur, umi harus keluar dan menyusuri lorong kecil di pinggir rumah.

Umi kembali bersama dengan semangkok nasi beserta saos dan kecap. Umi mencampurkan nasi bersama saos dan kecap tersebut, sementara aku bergantian memperhatikan umi dan juga nasi yang sudah berubah warna menjadi merah kehitaman. Setelah selesai, sambil tersenyum umi bilang, " Gak apa -apa ya teh, teteh makan ini dulu."  Aku mengangguk sambil membuka mulutku, dengan telaten umi menyuapiku makanan. Sesekali umi mengusap kepalaku sambil tersenyum. Tak lama, semangkok nasi merah kehitaman pun habis tak bersisa. Aku merasa nikmat sekali memakannya, dan itu menjadi makanan paling enak yang pernah kumakan.

Setiap mengingat moment itu, aku selalu menangis. Betapa hebatnya ALLAH memberikan salah satu moment terindah antara aku dan umi. Sebagai Ibu rumah tangga kala itu, dan istri dari seorang staf honorer saat itu, bisa saja umi mengeluh. Namun tak pernah umi lakukan. Umi selalu berusaha tersenyum tegar, meski setelah dewasa aku mulai memahami, dibalik senyum tegar itu banyak menyimpan pengorbanan, kesabaran dan rasa syukur. Seperti ketika menyodorkan semangkok nasi merah kehitaman padaku, umi tersenyum. Dan itu mengajariku untuk mensyukuri setiap pemberian dari ALLAH. Membuatku lebih fokus menikmati apa yang menjadi rezeki ku, bukan mengeluhkan sesuatu yang tidak ada. Umi mengajariku bagaimana mengerti "kondisi" orang tua yang sedang merintis tanpa menjadikan ku anak yang sering meringis.

Dari umi, aku belajar. Betapa hebatnya peran seorang "ibu". Mampu mengubah moment sederhana menjadi istimewa dan sarat makna. Hal ini lah yang menjadi motivasiku untuk menjadi anak berprestasi.Terima kasih Umi, Terima kasih Ibu. Semoga kelak aku bisa mengikuti jejakmu menjadi sosok ibu yang penuh inspirasi.