Selamat Memilih Monyet

Manusia adalah monyet dengan rencana-rencana di kepalanya. Ketika pilkada hanya tempat melihat dan memilih sosok atau identitas, saat itu pula kita menjadi sama dengan saudara tua kita; monyet.

Selamat Memilih Monyet

“Selamat pagi, Pak,” sapa mantan ibu Ketua RT tempat tinggal saya sambil memelankan laju motornya. Suasana seperti ini beberapa kali terjadi. Tapi sepertinya kali ini ada yang berbeda. Saat motor berhenti, dia melanjutkan obrolan. “Minta tolong ya, Pak. Nanti dibantu, yang tanggal 9. Pilih si ... (sengaja disensor).”

 

Saya hanya mengiyakan, sambil melanjutkan mengajak Risa dan Nugget jalan-jalan. Dua anjing jenis shihtzu itu sudah tak sabar, menarik-narik tali semakin kencang. Waktu masih menjabat dulu, si Ibu Ketua RT sering memberi titipan untuk memilih si A atau si B saat pemilu atau pilkada. Saya coblos kalau sama dengan pilihan saya, tapi saya cuek kalau berbeda.

 

Pilkada di era pandemi memang berbeda. Di saat kaki tak bisa berjalan jauh, di saat pandangan terbatas, yang bisa dijelajahi hanya dunia internet. Sulit rasanya tidak terlibat dengan isu politik di dunia maya. Apalagi ini bulan pilkada, Desember 2020. 

 

Ajakan si Ibu selaras dengan kondisi perpolitikan di negara ini. Setidaknya sebagian besar seperti itu. Saat memilih bakal calon pemimpin, tak penting isu atau masalah di lingkungan si bakal calon akan memimpin. Yang penting adalah sosoknya, kepribadiannya, dan kehidupan pribadinya. Tak penting prestasinya, yang penting siapa keluarganya. Tak penting moral, yang penting uang yang dibagi-bagikan.

 

Setiap pemilu atau pilkada seperti saat ini seharusnya semua bicara soal isu. Tapi politik itu adalah permainan banyak-banyakan pengikut yang sering menjerumuskan orang pada sosok atau identitas. Jadi yang menonjol pun sosok identitas.  

 

Politik identitas menaikkan Obama, Jokowi, Trump, dan berbagai sosok pemimpin terpilih di dunia. Untuk Trump, politik identitas ini sekaligus menjatuhkannya dari kursi presiden.. Buat Trump, pemilih atau kebijakan boleh berubah setelah pemilu, tapi kepribadian yang dimilikinya tetap tak berubah. Salah satunya sifat temperamen. 

 

Semakin orang mengenal sosok asli Trump, semakin banyak pemilih baru yang tadinya tidak memilih bergerak ke tempat pemilih suara dan memilih lawan Trump. Selama ini orang tidak melihat pribadi Trump secara utuh. Memang sulit menilai kepribadian seseorang tanpa pernah bertemu, hanya melihat dari teve, atau pidato-pidato yang ditulis oleh entah siapa.

 

Kembali ke pilkada. Nyaris tak ada bakal calon yang mengangkat isu-isu di masyarakat. Menurut pengamatan saya, isu besar di wilayah ini adalah kebebasan beribadah, lingkungan dan ruang hijau, dan lain sebagainya. Saya pernah melihat poster salah satu calon mengangkat isu sampah. Oke sih. Tapi ya hanya satu poster dan menjadi isu kecil. Isu kebebasan beribadah lebih membutuhkan perhatian. Sekitar tiga kilometer dari tempat saya tinggal, orang-orang masih beribadah di ruang terbuka. Entah sampai kapan.

 

Katanya, manusia adalah monyet dengan rencana-rencana di kepalanya. Ketika pilkada hanya tempat melihat dan memilih sosok atau identitas, saat itu pula kita menjadi sama dengan saudara tua kita; monyet. Pilkada tanpa membahas isu dan rencana-rencana di kepala akan menjadi pesta monyet. Karena monyet juga saling berebut dana mempertahankan wilayah, monyet juga bersosialisasi dan berkomunitas, monyet juga bertukar barang untuk seks,  

 

Selamat memilih monyet.