Sekali dalam Setahun

Sekali dalam Setahun

Tau gak, kenapa beberapa brand terkenal mengeluarkan produk limited edition?

Karena dengan membuat edisi terbatas, mereka bisa jual dengan harga yang lebih mahal. Jadi kalau kita mau membuat sesuatu menjadi lebih mahal, kita harus membuatnya lebih terbatas.

Hal ini nggak cuma berlaku buat barang aja. Tapi termasuk momen juga. Momen yang lebih terbatas akan terasa lebih berharga buat kita.

Seorang Ayah yang harus kerja di luar kota dan pulang ke rumah seminggu sekali pasti akan merasa kalau momen bersama keluarga lebih berharga daripada Ayah yang bisa pulang setiap hari.

Begitu juga dengan momen Idul Fitri. Karena cuma dateng setahun sekali, momen ini jadi terasa lebih berharga. Coba bayangin kalau lebaran itu ada setiap minggu. Pasti lama-lama kita akan menyambutnya biasa aja kan, kaya Jumatan.

Saking berharganya momen Idul Fitri, ada bercandaan kalau orang Islam yang nggak pernah sholatpun paling nggak dia sholat setahun sekali. Ketika sholat Id.

Sebagai momen yang berharga biasanya umat muslim menyambutnya dengan bahagia. Begitu juga dengan gue. Pagi itu gue bangun dengan bersemangat, langsung mandi. Pakai baju rapi dan berdandan di depan kaca.

Sambil menunggu Yal dan Rahma siap, gue manasin motor punya mertua gue. Gue keluarin motor dari rumah dan gue hirup udara pagi di desa yang begitu menyegarkan. Lagi lagi karena buat gue udara pedesaan yang segar itu adalah momen langka, gue ngerasa itu sangat berharga. Jadi gue bener-bener menikmati ini karena di Jakarta gue gak bisa ngerasain ini.

Begitu Yal dan Rahma siap, kita berangkat. Rahma duduk di depan dan Yal di belakang gue. Gue bawa motornya pelan pelan karena udara pagi itu masih dingin. Gue amatin berbagai sudut kota ini yang nggak banyak berubah sejak 10 tahun yang lalu gue tinggalin. 5 menit kemudian kita sampai di alun-alun. Tempat dimana kita akan melaksanakan Sholat Id.

Alun-alun udah rame banget. Saking ramenya mau parkir motor aja susah. Di parkiran ini gue berpisah sama Yal dan Rahma. Gue langsung menuju barisan laki-laki. Gue gelar koran bekas yang udah gue bawa, lalu sajadah gue. Baru gue duduk. 

Di mimbar udah ada imam yang bicara. Biasanya ada beberapa pengumuman yang disampaikan sebelum sholat dimulai. Gue gak terlalu nyimak pengumumannya apa. Biasanya gak penting penting amat soalnya. Gue malah asik main HP sambil nunggu sholatnya mulai.

Gue tunggu tunggu, gak mulai mulai
Gue tunggu tunggu, gak mulai mulai
Gue tunggu tunggu, gak mulai mulai

Sampai akhirnya ada notifikasi chat di hp gue dari Yal.

“Mas, ini udah selesai sholatnya”.

 

Ternyata yang di mimbar itu khotib lagi khotbah karena sholatnya udah selesai. Bukan pengumuman. Kita terlambat.