Sedikit Tentang Misoginisme

Misogini adalah gangguan mental yang menganut kebencian atau prasangka buruk yang teramat kepada kaum perempuan.

Sedikit Tentang Misoginisme

Tempo hari, saya melihat sebuah berita tentang penemuan mayat di Kota Bogor. Ada dua mayat yang ditemukan dalam kurun waktu yang berdekatan. Penemuan mayat yang pertama yaitu di daerah Cilebut Kota Bogor, penemuan mayat yang kedua yaitu di daerah Puncak Kabupaten Bogor. Kedua mayat tersebut adalah seorang remaja perempuan.

Kepolisian setempat yang menangani perkara tersebut menyebutkan bahwa kedua mayat ini adalah korban pembunuhan. Dan yang mengejutkannya yaitu pelaku pembunuhan dari kedua mayat tersebut adalah orang yang sama, seorang pemuda laki-laki berusia 21 tahun. Saat diinterogasi oleh pihak kepolisian, alasan ia membunuh korbannya karena merasa benci kepada perempuan.

Saat mengetahui alasan pelaku membunuh korbannya, saya geleng-geleng kepala sampai tak habis pikir. Kok, bisa-bisanya benci sama perempuan? J

Dalam tulisan ini saya tidak membahas tentang pembunuhan yang terjadi pada dua orang remaja perempuan tersebut, terlalu sadis. Namun, saya ingin membahas sedikit lebih lanjut tentang penyataan pelaku pembunuhan, “saya benci perempuan”.

Dalam dunia psikologis, memang ada suatu sindrom yang membuat seseorang cenderung membenci perempuan, yaitu sindrom misogini. Sindrom ini bisa dialami oleh laki-laki maupun perempuan. Misogini mengakibatkan seseorang cenderung membenci, memandang rendah, dan mendiskriminasi hingga membunuh perempuan. Manisfestasi misogini diantaranya yaitu diskriminasi seksual, fitnah perempuan, dan objektifikasi seksual perempuan.

Menurut sosiolog Michael Floof, meskipun sindrom ini paling umum terjadi pada laki-laki, kebencian terhadap perempuan juga ada dan dipraktikan oleh perempuan terhadap perempuan lain atau diri mereka sendiri. Misogini tidak terjadi pada laki-laki saja, perempuan juga mempunyai kecenderungan untuk membenci perempuan lain yang biasanya disebabkan oleh pegalaman yang tidak mengenakkan di masa lalu.

Pelaku misogini disebut misoginis. Para misoginis bisa saja berada di sekitar kita, namun sering tidak terdekteksi keberadaannya. Dalam sebagian kasus, beberapa orang terkadang juga tidak menyadari bahwa dirinya mengidap misogini.

Faktor-faktor yang membuat seseorang menjadi misoginis diantaranya yaitu faktor kultural yang dialami oleh pengidap misogini, faktor ini biasanya terjadi pada anak laki-laki. Kultur yang dialami oleh anak tersebut mengarahkannya kepada perilaku untuk merendahkan dan tidak menyukai segala sesuatu yang berbau perempuan dan feminim. Pada pembentukan identitas dirinya sebagai laki-laki itu ia mempelajari bahwa untuk bisa diterima di dunia luar, ia harus menyesuaikan dirinya dengan nilai-niai dominan yang ada di sekitarnya yaitu nilai-nilai yang bersifat patriarkis.

Ada juga faktor pengalaman yang membuat seseorang menjadi misoginis. Pengalaman seseorang dengan seorang perempuan di masa lalu yang berupa kekerasan mental, pelecehan verbal maupun seksual, hingga kekecewaan akibat diabaikan dan ditelantarkan, dapat menyebabkan seseorang menjadi misoginis. Karena hal-hal tersebut bersifat menyakitkan, ada kemungkinan orang yang mengalaminya akan terus mengingat kejadian itu sehingga menjadi dendam masa lalu.

Lingkungan di mana seseorang dibesarkan juga bisa membentuk seorang misoginis. Kepercayaan dan pola pikir di mana laki-laki harus selalu mendapat hak dan keuntungan yang lebih besar, memiliki kekuatan fisik, dan kecerdasan yang harus berada di atas perempuan, lambat laun dan tanpa disadari akan membentuk seseorang menjadi pengidap misogini.

Sekian.