Sebuah seni elok dari Eros untuk Selene dan Endymion

Endymion, raja dari Aeolians, akankah tetap menemui ajal dalam pernikahannya jika saja Eros tidak datang dan memberikannya secangkir Frappe? Ia tidak bisa membiarkan manusia fana itu terombang-ambil dalam keputus-asaannya dengan keterikatan bersama wanita pembawa cahaya bulan. Apa yang membuat Eros mampu mempecundangi polemik bahkan diantara raja dan diva batari sekalipun?

Sebuah seni elok dari Eros untuk Selene dan Endymion
Sebuah seni elok dari Eros untuk Selene dan Endymion
Sebuah seni elok dari Eros untuk Selene dan Endymion
Sebuah seni elok dari Eros untuk Selene dan Endymion

 

    "Setidaknya bicara padaku kalau kau dalam masalah," desak Selene, "kau tidak melihat? Justru kau merusak segalanya sekarang! Kau merusak kepercayaanku!" 
    Lelaki tinggi lagi gagah dengan toga tradisional putih nan panjang yang tampak elok itu tercekat, merasa tenggorokannya ditahan dengan kelat bahu yang berkarat. Dengan frustrasi dia berdecak, memalingkan tubuhnya yang menjulang dihadapan istrinya itu kebelakang sambil 
menutup wajahnya lantas dengan geraman yang mematikan dia berteriak, "Karena sejak awal aku takut kehilanganmu, Selene! Jangan pernah," bersamaan dengannya patung anaglif pahatan Hermes hadiah pernikahannya terlempar. Menimbulkan efek pecah belah rengkah retak yang kompleks sekaligus mendebarkan. Mendadak saraf perempuan itu bergelenyar. Seperti jala rambut gaya baroque daun emas yang melingkar di kepalanya berubah menjadi akar berduri yang terus membesar dan menancapkan duri-duri kecilnya pada kepalanya. Dia tak mampu berkedip barang sekejab. Berusaha melawan dorongan maut Hades yang memaksanya untuk jatuh. 

 

    Selene merasa telah memperlakukan setiap masalah dengan cara yang tepat karena sadar betapa  besar bahaya dan kepiluan yang ditimbulkan dari prasangka sekejab dan mood yang memengaruhi ketika itu menyangkut kerikil kecil rumah tangganya; seperti mengapa suaminya memilih selop Beyarne ketimbang Dames,tali keemasan dari Athena yang harus selalu digantung disamping toga keetisan suaminya saat pagi hari, dan alergi yang dideritanya terhadap ambrosia dan nektar. Selene juga tahu bagaimana cara melintasi angkasa dari kastil emasnya untuk memberikan cahaya lembut dengan kereta kerbau bertanduk sabitnya. Tetapi ketika polemik besar dan perkara krusial dengan lelaki yang baru diangkat menjadi seorang bupala itu, bahkan seolah-olah dia seperti Yiós tou theoú1 yang tabu terhadap bir Dionisos. Kadang-kadang Endymion yang biasa tenang datang dengan dua kain putihnya yang lusuh dan keringatyang melekat diwajahnya--kiranya Selene tidak tahu kalau ternyata suaminya baru saja mendapat konflik pemberontakan Aeolians yang menyebabkan Cyclops hampir menyerang. Kadang-kadang dia terlihat buruk dengan tingkat sensitifitas tinggi dan semakin irit bicara. Selene selalu menunggu Endymion menghampirinya sambil memijit pelipis dan mulai menceritakan berapa anak panah Ares menembaknya hari ini. Tetapi waktu yang dinanti itu tak pernah datang, seperti tidak ada waktu yang tepatselama persinggahan sakramen ikatan itu untuk berbincang. Awalnya, Selene terlalu takut untuk bicara pada Endymion meski hanya menanyakan kabarnya. Ada sedikit ragu yang tercipta dari raut wajah Endymion yang muram meski pada akhirnya dia beberapa kali memutuskan untuk memijat bahu suaminya dan bertanya mengenai reputasi Gunung Latmus. Apayang harus dilakukan untuknya? Jenis prasangka buruk yang sedang dibicarakan ini tidak terlalu kentara, komplikasi sehingga bagi Selene--seorang yang bersimbah kabut kesedihan--tidak mudah menemukan pemecahannya. Di lain sisi, diskriminasi bawah sadar akan jauh lebih rumit bagi Selene yang seorang perasa. Agaknya ini menyiksa, semakin adaperegangan antara dirinya dan lelaki itu ketika masalah kompleks tidak bisa dideteksi matanya. 


    Endymion mungkin saja sadar betapa jahat dan konyolnya membohongi Selene tentang gencatan senjatanya dengan Clymenus putra Cardis yang berakhir dengan persengketaan.Betapa kadang dia mencemooh dirinya karena terlalu lemah dan bersifat pasif menghadapi intaian Zeus diluarsana. Banyak lubang dalam relung pikirannya, 
tetapi sejauh ini, dia masih belum melihat pada kedalaman jurang paling dasar nan gelap dalam dirinya.Bahwa terkadang menganggap diri kita buruk itu lebih baik dan bahwa semua orang disekitar kita mungkin bisa membantu untuk mengendalikan persoalan itu. Sebagai contoh, tidak salah jika Endymion kewalahan dan mengalami depresi ringan ketika menghadapi pemerintahan di Aeolians--sebagai sang fana, berusaha menjawab semua persoalan secara lebih cepat dan tepat dan ternyata itu tak membuat keadaan menjadi berbeda bahkan memburuk. Namun letak kekeliaruannya adalah pada sinyalemen imajiner yang muncul dalam pelangi pikirannya. Ini kredo milikmu, Endymion. Tak ada yang boleh tahu apa kepenatan yang ada 
dalam jiwamu. Kau memiliki resonasi yang tinggi, jangan runtuhkan itu dengan bicara pada siapa pun termasuk istrimu, Selene sang Bulan. Kau mampu mengatasinya sampai badai ini berlalu.

    Begitulah. Meskipun pada kenyataannya, Ada rasa yang ditentang oleh pikirannya yang terlalu paranoida. Rasa ingin mencurahkan semua masalahnya, mengadukannya, membaginya. Kian lama pergumulan jiwa dan batin yang tersiksa itu kian kompleks. Dia kehilangan siapa dirinya, Endymion seorang astronom dan bupala yang sering menghabiskan waktunya di atas gunung Latmus. Memengaruhi intensitas bicaranya pada Selene, dia mengukir  keegoisan yang melukai diri sendiri. Tidak, tentu saja ini bukan jenis keegoisan mementingkan kebutuhan sendiri di atas oranglain tetapi ini jenis keegoisan mementingkan keteguhannya yang salah dibanding memikirkan perasaan oranglain yang boleh jadi tersiksa dengan sifatnya yanag kembali tak ceria dan membawa warna. Di beberapa kesempatan, Selene--wanita itu menggunakan instingnya untuk berbicara. Bertanya mengenai masalahnya dan sama seperti sebelum-sebelumnya, Endymion memilih mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan menjauh. 
    "Ingatan saya masih segar pada saat kali pertama saya bertemu dengannya," tutur Endymion dengan tatapan mata muramnya yang sendu, "Ah, tempatnya di Gunung Latmus
dekat Miletus di Caria. Dia membantu pembahasanku tentang lingkaran bulan karena aku seorang astronom dan mulai bercerita sambil memandang di kejauhan." sekarang dia 
menarik lengan toganya yang menjuntai sambil lalu bersandar pada 
kursi kayu dibelakangnya.

    "Dia menawan, hatinya lembut seperti kapas keemasan di Athena. Dan pada hari itu aku berjanji takkan menyakiti hatinya. Tak mau kehilangannya," 
Amor sekaligus sang bijak bernama Eros itu menyimak, mengangguk, lantas menyandarkan busur pahatan Hephaestus sang pandai besi ke meja besarnya. 
    "Tetapi justru masalah demi masalah semakin bergelimpangan, aku seperti menghancurkan pilar kuil kota kuno. Seperti ada sesuatu yang 
membalikan duniaku dan aku tak tahu bagaimana cara membenarkannya." beberapa waktu Eros tercenung, kemudian dengan tatapan mata lembut serta anggukan takzim dia berkata,
    "εντάξει, Endymion, επιτέλους2! Jawabannya adalah komunikasi." 
    "Kau pikir aku tak pernah ber.." 
    "Bilang pada dirimu, περίμενε για μια στιγμή3!" Eros menatapnya seperti tatapan seorang teman pada sahabatnya yang nakal dan keras kepala. 
    "Komunikasi, Endymion. Komunikasi kelihatannya seperti mudah, mungkin banyak orang menyepelekan, ο καλύτερός μου φίλος4! Namun butuh seni didalamnya. Barangkali,
pemahaman yang cepat lagi lazim adalah seperti orang yang membuat karya klasik 
dan indah di atas krim Frappe. Seninya menarikan tangan diatas krim dengan 
hati dan perasaan yang tenang dan bahagia, terbuka dan lapangdada. Pikiranmu, alihkan. Buka sehingga yang terlihat hanyalah refleksi warna-warna hologram aurora yang indah."
    Endymion merasa dirinya semakin gamang, tapi mendengar kata-kata pria pembawa panah cinta itu hatinya mencelos. 


     "Tetapi, itu saja tidak cukup. Perlu ditambah sentuhan ornamen seperti astor atau strawberry biar tambah cantik. Maka dalam komunikasi seninya adalah 'mendengar'. Tentu saja, νέα Μπούπαλα5, rasanya seperti mudah! Namun dalam komunikasi yang kompleks, semuanya harus dijalankan dengan rinci. Dilengkapi dengan menyimak, memahami apa dan bagaimana perasaan orang disekitarmu. Istrimu. Maka ketika kau melakukannya, kau akan menemukan cahaya dan titik jalan keluar dari persoalanmu dari orang yang kau ajak bicara, terutama istrimu.
    Selanjutnya adalah, ungkapkan idemu. Ini semacam astor yang nikmat. Sehingga lawan bicaramu atau istrimu dapat mengerti. Dua belah pihak yang saling menemukan sematan jari kelingking masing-masing. Kesamaan persepsi dan tanggapan juga menjadi hal yang penting, Endymion. Kau membuka ruang-ruang yang terkunci dalam pikiranmu, menerima diskusi sehingga berkomunikasi dengan istrimu menjadi nyaman." Amor itu mengaduk frappe-nya perlahan dan gemulai menyeruput minuman panas itu. Dia lekaki abadi yang sangat berpengalaman dalam ettitude perkopian di antara yang lain.
    "Seseorang tidak bisa menduga apakah benda itu Myrtus atau Prunus spinosa dalam suatu ruangan yang gelap. Dibutuhkan keterangan yang jelas. Dan kau tahu, Endymion? ketika perempuanmu bicara, dengarkan perkataannya meski mereka punya stok kurang lebih 25 ribu kata. Itu bisa melegakannya meski mata birumu hanya menatapnya, tidak memberikan nasihat atau sanksi." lanjutnya, 

    "Dalam banyak hal, supaya tidak terjadi praduga  yang mematikan, miskomunikasi, misinterpretasi, miskonstruksi
kau harus mencurahkan pikiran maupun perasaanmu tanpa harus merasa takut. Gengsi ataupun sangsi. Dia yang mencintaimu akan membuka hatinya demi dirimu."

 


"Apa kau siap memecahkan persoalanmu dengan komunikasi ala Seni Klasik di atas krim Frappe, Endymion?"
"Ya,"
"Untuk belahan jiwaku, Selene, dan untuk penabur bintang dalam hidupku, Menae." 

 

***

 

catatan bahasa Yunani 

1) Anak dewa

2) Baiklah, Endymion, akhirnya!

3) Tahan sebentar

4) Sahabatku

5) Bupala baru

 

 

 

 

disclaimer : 

the author is not a mythologist or including people who believe in any mythology, only believing in one religion. This story is promoted because it is interesting to be used as a lesson and analogy. illustrations and complements only as supporting writing. Thank you.

 

 

 

 

Daftar Pustaka 

Gladwell, Malcolm. 2006. Blink, seni berpikir tanpa berpikir. Jakarta : Gramedia pustaka utama

Hyang, Oh Su. Bicara itu ada seninya, rahasia komunikasi efektif. Jakarta : Bhuana ilmu populer. 

Changara, Professor. Dr. H. Hafied. 2016. Pengantar ilmu komunikasi, edisi 2. Depok : Raja Grafindo Persada

Hitamputihkita. 2008. Kisah dewi Bulan dan dewi Pajar. Diunduh 10, jan, 2021. https://hitamputihkita.wordpress.com/2008/01/20/kisah-dewi-bulan-dan-dewi-pajar/