SEBUAH ELEGI YANG SALAH KUMENGERTI

SEBUAH ELEGI YANG SALAH KUMENGERTI

Cause the hardest part of this is leaving you…” terdengar keras lirik lagu yang dinyanyikan Ales malam itu.

Sudah sering kali aku mendengar lagu ini dibawakan Ales diiringi petikan gitarnya. Hampir setiap malam bahkan. Aku tak begitu memperhatikan lirik sepenuhnya, hanya baris itu saja karena memang berada di bagian akhir lagu. Aku pun tidak tahu lagu itu milik siapa tapi dari iramanya seperti senandung duka. Duh, dengan siapa lagi hatinya patah. Di antara tiga buah hati kami, yang nomor tiga ini paling sering gonta ganti kekasih hati. Bulan ini yang dikenalkan belum tentu bertahan, karena bisa jadi ganti lagi di bulan depan.

“Bosen, Ma.” Enteng bener jawabnya.

“Males, ah.” Atau cuma begitu saja alasannya. Sekenanya.

Tapi kali ini, berhari-hari yang dinyanyikan lagi-lagi lagu itu. Sementara pacar masih sama seperti tiga bulan lalu. Tidak ada yang baru. Tumben juga sebenarnya begitu.

“Aku latihan aja. Mau IG live sama Kakak.” O, ternyata ada rencana duet lewat Instagram live bersama Kakak yang masih belajar di Negeri Jiran.

“Jangan terlalu kenceng ya suaranya. Bapak baru tidur.” Aku sedikit menegur mendengar suaranya yang begitu lepas.

Sudah hampir enam bulan sejak Bapak sakit karena sel kanker sudah menggerogoti hampir seluruh tubuhnya hingga sampai ke otak, Kakak belum bisa pulang. Pandemi yang merebak liar berputar-putar akhirnya mengharuskan Malaysia lockdown. Semua kegiatan hanya bisa dilakukan online. Untuk beberapa hari di awal mungkin terlihat mengasikkan, tapi ketika itu menjadi rutinitas mulailah terasa memuakkan apalagi ketika sendirian tanpa teman di dalam ruangan yang hanya ada kiri kanan dan depan belakang. Bahkan bisa jadi sangat mengerikan dengan Pandemi yang masih berkeliaran tak terelakkan dan Bapak yang sakit terus terbayang dalam pikiran.

Video Call dan Instagram live menjadi salah satu pengobat rindu walau tak selalu bisa begitu. Hari demi hari harus kami lalui walau terasa begitu lambat penuh sembilu. Bapak yang sebelumnya masih bisa bertanya bagaimana kabar Kakak, hanya dalam beberapa minggu sudah tidak mengerti siapa yang ada di layar saat video call dibuka. Terus menurun hingga bicarapun tak lagi mampu untuk dilakukan.

Akhirnya Bapak tidak kuat lagi untuk menunggu, walau Kakak sudah dalam perjalanan untuk bertemu. Kakakpun menyaksikan kepergian Bapak hingga perjalanan akhirnya meski lewat dunia maya.  Bapak pergi dengan senyuman terindahnya dikelilingi kami yang mengasihinya sepenuh jiwa.

***

Tujuh bulan sudah berlalu.

Cause the hardest part of this is leaving you…”

 Aku masih mendengar lirik lagu itu dinyanyikan Ales. Dulu aku tak sempat menyaksikan duet Adik Kakak di IG Live yang pernah disampaikan Ales padaku. Kekhawatiranku akan kehilangan kesempatan mendampingi suamiku saat perjalanan akhirnya, membuatku tak sempat memikirkan apalagi melakukan hal-hal lain di luar itu.

Hari ini, ketika kudengar lagi lirik lagu itu, segera aku meluncur ke Instagram live putraku itu. Airmata tak mampu kubendung. Aku baru memperhatikan setiap liriknya. Bait demi baik aku dengarkan dengan seksama. Yaa Tuhan, apa yang aku pikirkan selama ini salah.

Turn away1
If you could get me a drink
Of water 'cause my lips are chapped and faded
Call my aunt Marie

Help her gather all my things
And bury me
In all my favorite colors
My sisters and my brothers, still

I will not kiss you
'Cause the hardest part of this
Is leaving you

Now turn away
'Cause I'm awful just to see
'Cause all my hair's abandoned all my body
All my agony
Know that I will never marry
Baby I'm just soggy from the chemo
But counting down the days to go

It just ain't living
And I just hope you know
That if you say (if you say)

Good-bye today (good-bye today)
I'd ask you to be true (I'd ask you to be true)

'Cause the hardest part of this
Is leaving you

'Cause the hardest part of this
Is leaving you1

Aku tercekat, sangat. Kata demi kata kucerna. Lagu itu bukan lagu putus cinta seperti yang aku sangka sebelumnya. Liriknya begitu dalam mengungkapkan kesedihan, kegundahan, kegelisahan dan ketakutan yang dialami pasien kanker saat menjalani sakitnya yang dihadapkan pada kenyataan akan kematian yang segera menghampirinya. Begitu menyayat hati dan menyesakkan dada. Menggoreskan luka yang bukan main sakitnya karena yang paling berat dirasakan adalah saat meninggalkan orang-orang yang dikasihi akan segera tiba. Betapa bodohnya pemikiranku selama ini. Berpikir hanya pada nada tanpa menangkap makna liriknya.

Kesedihan Bapak selama berhadapan dengan sakitnya itulah yang mereka rasakan.  Kegelisahan Bapak saat menuju akhir hidupnya itulah yang mereka gundahkan. Ketakutan Bapak karena harus meninggalkan kami semua yang disayanginya itulah yang mereka dukakan.  Ungkapan cintanya pada Bapak, itulah yang mereka nyanyikan.

My lips are chapped and faded, my voice shaken and trembling, but I won’t turn away from your beautiful face, Dad.2 ” Begitu yang ditulis Ales pada Instagramnya.

‘Terima kasih atas cintamu pada Bapak, Nak. Maafkan atas prasangka Mama yang salah.’

***

Duren Sawit, 14 Februari 2020

Catatan:

1Lirik lagu Cancer dari My Chemical Romance.

2Bibirku pecah dan pudar, suaraku bergetar dan gemetar, tetapi aku tidak akan berpaling dari wajahmu yang indah, Pak.