SATE AYAM TANPA AYAM

SATE AYAM TANPA AYAM
Sumber foto: http://likeavegan.com.au/wp-content/uploads/2012/02/satayskewer.jpg

Di kalangan vegetarian (dan vegan), salah satu yang selalu masih diperdebatkan adalah penggunaan daging tiruan. Meskipun namanya 'daging', namun tidak berasal dari hewan. Jadi, dari apa dong? Ya dari nabati.

Ada banyak sumber nabati yang dapat diolah sehingga menyerupai 'daging'. Bahan yang dipakai antara lain tepung terigu, kedelai, kacang hijau, jamur, dll.

Mengapa selalu diperdebatkan? Toh bukan dari hewani, kan? Iya. Ada kalangan tak berkenan mengonsumsi daging nabati ini, karena menurut mereka, sekali mereka memutuskan untuk tak mengonsumsi produk hewani, ya total! Seakan-akan, jika mengonsumsi daging nabati itu, ya masih 'kangen' dan 'pengen' (alias belum bisa melepaskan) daging. Jadi, mereka menolak daging tiruan atau daging imitasi ini.

Kalangan satunya, tidak merasa ada masalah dengan mengonsumsi daging nabati ini. Wong bukan dari hewan. Ada juga yang mengklaim, bahwa ini cara konversi perlahan si pemakan daging yang akan jadi herbivora.

Aku aliran yang mana? Hmmm... Aku mengonsumsi daging nabati, meskipun terbatas. Aku memang sudah lama vegetarian, jadi bukan pemula yang perlu penyesuaian perlahan itu tadi. Karena tak vegetarian dari bayi, maka secara kultur aku dekat dengan makanan seperti soto, bakso, rawon, sate, dll. Yang kadang kurindukan adalah, yang namanya bumbu. Ketika tersedia daging nabati yang bisa lebih cocok (secara rasa) diolah menjadi soto, bakso, rawon, sate, dll, why not?

 Meskipun, aku juga ga mau makan banyak-banyak daging nabati ini. Terutama yang bikinan pabrik, alias processed food, apalagi yang frozen food itu. Ya, biar gimana-gimana, aku lebih suka makanan dari bahan segar, misalnya aneka sayur. Tahu tempe itu bukannya processed food? Iya, tapi kan prosesnya lebih 'alami' dibanding yang pabrikan itu. Tempe itu malah banyak manfaat bagi tubuh kita karena proses pembuatannya fermentasi. 

Nah, justru aku punya preferensi sendiri, yaitu akan jauh lebih baik jika makanan yang kami konsumsi adalah produk organik dan tanpa zat aditif (pewarna, perasa, pengawet, penguat rasa). Buatku, yang namanya pewarna, perasa, pengawet dan penguat rasa itu adalah proses-proses imitasi yang sesungguhnya. Contohnya, biskuit rasa stroberi, tapi di ingredient-nya bukan stroberi (ato bubuk stroberi) tetapi perasa stroberi dengan kode tertentu. Ada keripik kentang, tapi di ingredient-nya justru berisi tepung terigu dan perasa kentang. Mana kentangnya? Imitasi itu! Yang urusan ini aku sulit toleransi. Kalopun terpaksa mengonsumsi, pasti dicari yang paling sedikit zat aditifnya. Ato, ya pilih ga makan saja. Ga makan sehari ga akan mati, kan? Hehe..

Jadi, bagaimana menurut Anda? Pernah cicip sate ayam tanpa ayam? ???????????? (rase)