Sama Rata

Sama Rata

Di pojok ruangan itu telah duduk Coki dengan si anak baru. Meski sudah seminggu menempati rumah yang sama, tetap saja dia anak baru bagi Coki yang sudah di sana selama hampir tiga tahun. Udara di luar sedang panas, dan kehadiran anak baru itu membuat Coki semakin panas.

“Coki, kamu tidak mau bicara denganku? Bukankah Sera sudah mengenalkan kita berdua? Aku ingin jadi temanmu,” ujar si anak baru.

Coki menoleh pelan. “Bukan begitu Kuna, aku malu.”

Kuna, si anak baru, menoleh sepenuhnya pada Coki. “Aku sudah seminggu di sini dan kamu bahkan tak pernah menatapku. Apakah kamu merasa kehadiranku mengganggumu?”

“Tidak, Kuna. Kamu mana bisa paham.”

Kuna memutar matanya dan melemparkan punggungnya untuk bersandar di dinding. “Oh, seandainya aku bisa bicara pada Sera untuk memindahkanku ke tempat lain, biar kamu nyaman.”

Coki menggeleng kuat-kuat. “Kubilang bukan salahmu, Kuna. Jangan begitu.”

Kuna tersenyum simpul. “Aku tahu kamu baik. Jadi ayo bilang, kamu kenapa? Kumohon terima aku sebagai temanmu.”

Coki meneguk ludah kasar. Kuna tampak begitu berkilau sampai ia tak mampu menolak permintaannya. Anak itu tampak manis sekali. Coki betul-betul tidak bisa menghindar.

“Sebenarnya aku iri.”

Kuna terkejut. “Iri? Maksudnya iri ke aku?”

Coki mengangguk. Sudah terlanjur, pikirnya. “Iya.”

Kuna mengerjap tak percaya. “Apa yang kamu irikan dariku Coki?”

Coki memainkan tangannya dengan gelisah. Sudah sejak Kuna hadir dia merasakan hal ini. “Aku iri, kamu tampak lebih dekat dengan Sera, padahal aku lebih lama bersamanya. Kurasa aku juga hilang percaya diri. Kamu cantik sekali, Kuna, jauh lebih dariku yang lusuh ini.”

Kuna mengangguk paham. Sedikit banyak dia merasa tidak enak telah membuat Coki merasa seperti itu. Tapi ini harus diluruskan.

“Kamu tahu tidak? Pertama kali aku datang aku juga iri dan minder sama kamu.”

Coki tertegun. Bagaimana bisa?

Kuna tertawa melihat ekspresi Coki. “Heran kan? Aku juga heran kenapa kamu bisa iri sama aku.”

“Pertama kali aku datang, Sera langsung mengenalkan aku padamu. Kamu ingat? Nah itu, aku kaget sekali ketika dia bilang kamu sudah bersama dia dari dia kelas 6 sekolah dasar. Itu waktu yang sangat lama untuk bertahan.”

Coki memerah pipinya. “Itu semua berkat Sera. Kalau aku tidak dirawat dengan benar oleh dia mana bisa aku bertahan sampai sekarang.”

Kuna menyenggol bahu Coki. “Itu dia, kita beruntung dimiliki Sera. Kita sama, untuk apa kamu iri?”

“Entahlah. Aku rasa Sera bakal lebih sering denganmu mulai sekarang,” ujar Coki sedih.

“Kurasa itu sih pasti. Dia membawaku karena dia bosan denganmu.”

“Hei! Kamu jahat sekali.”

Kuna tertawa. “Aku bercanda. Lagipula kalau dia akan sering bersamaku, apa bedanya? Kalau dia bosan denganmu bukankah sudah sejak dulu kamu dibuang?”

“Kamu benar. tapi tetap saja, kamu tampak jauh lebih menarik dariku.”

Kuna menggeleng pelan. “Kalau memang dia mementingkan bagaimana dirimu terlihat, tidakkah kamu pikir dia bakal langsung membuangmu setelah dia membawaku ke sini?”

Coki termenung. Kuna benar, apa yang sebenarnya dia khawatirkan?

“Sera sayang padamu dan dia punya alasan untuk itu. Tiga tahun kamu menemaninya, menjaga barang-barangnya tetap aman, dan dia merawatmu dengan sepenuh hati. Kamu bahkan punya banyak kenangan dengannya. Lihat? Kamu unggul satu poin dariku.”

Coki memukul lengan Kuna. “Oh, jangan mulai pertandingan konyol semacam itu.”

“Aku senang kamu sudah bisa diajak bercanda,” ujar Kuna sambil tertawa.

Diam-diam Coki tersenyum. Semua yang dikatakan Kuna bersliweran dalam benaknya. Meski dia tampak lusuh dan warna cokelat pada tubuhnya tampak usang, seminggu lalu Sera masih menggendong Coki di punggungnya dengan bangga. Sekarang semua kekhawatirannya hilang entah ke mana. Ada Kuna di sampingnya, memandangnya dengan senyum manis dan mata berbinar, Coki sangat senang. Mereka berdua akan jadi teman baik.

“Terima kasih, Kuna.”

“Sama-sama Coki, aku ikut senang,” ujar Kuna sambil tersenyum lebar.

Di luar pintu terdengar derap langkah kaki yang mereka kenal.

“Menurutmu itu Sera? Haruskah kita sambut dia?”

Kuna mengangguk antusias. Mereka saling melempar kedipan sebelum menegakkan tubuh mereka, sepenuhnya siap menyambut Sera.

Gadis yang sejak tadi mereka bicarakan itu bersenandung kecil sambil memutari kamarnya. Baju yang dia kenakan tampak cantik. Sera mendekati Kuna dan Coki.

“Hari ini aku lagi seneng banget mau jalan sama temen-temen,” ujarnya bercerita. Dalam hati Kuna dan Coki ikut gembira.

Sera menjulurkan tangannya dan mengambil Coki dari tempatnya. Gadis itu menarik napas sambil memandang ke sekeliling kamarnya, mengingat-ingat kalau ada barang yang tertinggal. Ketika merasa semua sudah lengkap, ia berjalan keluar dari kamar.

“Sera, kenapa kamu pakai lagi tas lamamu? Tas yang mama belikan seminggu lalu, kamu nggak suka?”

Sera menoleh dan mendapati Mama juga baru keluar dari kamarnya. Sera menggeleng sambil tersenyum. “Namanya Coki, Mama. Dan aku bukannya tidak suka Kuna, aku sayang dua-duanya.”

Mama mengelus rambut putrinya dengan lembut. “Hati-hati ya, perginya.”

“Iya Mama, Sera pergi dulu.”

Bersamaan dengan langkah kaki Sera berjalan keluar rumah, hati Coki berbunga riang. Pulang nanti ia akan berterima kasih lagi pada Kuna dan bilang bahwa Sera memang menyayangi mereka berdua, tas-tas yang setia pada pemiliknya.