Roti Kehilangan Tepung

Roti Kehilangan Tepung
image:pixabay

Lelah, kali ini Nyai tak punya lagi tempat mengadu. Dalam kepala semua beradu, bertabrakan dan masing-masing merasa dia yang paling berperan untuk segera Nyai teriakkan.

Tuhan, Engkau di mana?

Wujudku berubah, Nyai merasa tak layak lagi disebut manusia saat rasa sudah tak memiliki nama dan hasrat tak memiliki peka. Nyai kalah oleh emosi yang membuncak hebat, meletup tanpa arah yang kemudian disebut dengan kegilaan. Bahkan dalam sedu Nyai sampaiakan, Setan kamu Nyai. Nyai Setan yang sedang gila atau Nyai Orang Gila yang kesetanan. Ah Persetan apa namanya, atau hanya cemburu buta.

Nyai siapkan pena untuk menyimpan semua cerita bahwa kehidupannya berujung monokrom, tak ada satu manusiapun terharu dengan sejarah Nyai. Jangankan terharu, melihat Nyai sendu saja sudah tak ada yang siapkan bahu.

Kasihan Nyai, saat Tuhan ambil pegangan hidupnya, Tuhan tak berikan pengganti.

Rupanya saat Tuhan berkehendak, segala rupa yang Nyai suka bisa dibalik menjadi hal yang membuat muram sepanjang sisa hidup Nyai kelak. Maka kali ini Nyai sampaikan bahwa, ini tak adil Tuhan. 

Tuhan pernah sampaikan bahwa, segala hal yang kamu temui ada bagian yang kamu tanam. Bila sampai saat ini aku masih berteman tangis, sejarah bagian mana yang mesti aku perbaiki Tuhan. 

Apakah aku terlalu hebat hingga kau biarkan aku berjalan di atas kerikil tanpa alas. Kau tahu Tuhan, aku tak sanggup.

Tidak, aku tak hebat. Dalam guratan pena yang Nyai sampaikan, sempat terlihat ribuan vocal dan konsonan serabutan berebut posisi, ada yang berperan mempercantik kertas Nyai, ada juga yang dengan gagah membuat tulisan Nyai jadi berantakan namun tetap punya arti.

Katanya Nyai jatuh cinta, ya...jatuh cinta. Ada gambar hati yang Nyai panah dalam guratannya. Tapi Nyai kenapa kau tambahkan mutiara, eh sepertinya bukan mutiara. lebih tepatnya bulir-bulir tangis yang keluar dari ceruknya mata seorang perempuan lalu kenapa perjalanan menuju ujung jurang?. Apa yang sebenarnya ada dalam benak Nyai.

Tidak Nyai, jangan kau nilai dirimu begitu rendah. 

 

Hujan dan angin tak diijinkan semesta.

Maka ketika seutas tali sudah disiapkan di ujung pohon, dengan kekuatan super mereka mendorong Nyai hingga Nyai terjungkal lantas mencari kambing hitam yang sekiranya berperan menggagalkan rencana Nyai.

"Woiiiii, sedikit lagi gue sukses habiskan raga. Kenapa kau gagalkan ?"

Nyai terduduk ditemani air mata yang semakin deras.

 

Tak habis pikir, atas 5 detik kebelakang.

Seandainya saat ini yang dilakukan Nyai adalah termenung, maka Nyai sudah kehabisan bahan termenung.

Nyai tak berani bertemu dia dalam lamunannya, tak berani memanggil sayang dalam bisikannya dan tak berani menunggu lagi di ujung taman pada bangku kosong yang sudah disiapkan. Nyai lemah.

 

Yang Nyai mau hanya dia, sayangnya cara Nyai selalu keliru hingga sulit untuk dipahami bahkan mungkin bukan kasih yang diperoleh Nyai namun kesempurnaan perih.

 

Nyai kalah...

Secangkir tubruk di depannya diseruput dengan segera, dalam tenggakan pertama Nyai sampaikan,

"aku mau berbahagia denganmu, jika caraku selalu salah tak lain karena alasanku mencintaimu begitu besar"

 

Nyai, aku ikut berdoa agar kelak semesta ciptakan masa untuk kau dan dia membuka pagi bersama.

Tak ada yang saling menunggu, namun saling menuntun

 

Kusajikan sebait rupa dari sendunya gerak tubuhmu.

 

Berikan padaku satu alasan
Bahwa kopi tak berasa pahit
Berikan padaku satu jawaban
Bahwa gula mampu meniada sakit

Biar kelu lidahku menari
Malam menyempurna iri
Biar kebas inderaku meraba
Angin melengkapi senyap

 

Nyai, berperan merupa malam, tak perlu kau berteriak namun hadirmu selaku di tunggu.

Tenang Nyai, semesta sudah berjanji.

 

#RelKeretaApi
12Maret20