Rintihan Dini Hari

Rintihan Dini Hari

RINTIHAN DINI HARI

“Auwww….,” pekik Bima sambil memegang dan mengusap-usap pergelangan kaki kanannya yang tersandung ujung kursi ketika ia terburu-buru melangkah menuju kamar kecil yang terletak di sebelah luar dari bangunan utama rumah milik eyangnya.

“Apa-apaan sih setiap melewati tempat ini selalu tersandung kursi yang sama?. Lagian sejak kapan eyang selalu mindah-mindahin kursi?. Dasar si eyang sudah tambah pikun. Ini rumah kenapa juga toilet letaknya diluar ya ?, benar-benar aneh.” Bima berjalan sambil terus menggerutu menuju kamar kecil hingga saat ia hampir mencapai pintu, tiba-tiba ia mendengar rintihan yang begitu lirih, seperti suara anak kecil yang sedang menangis. Lama kelamaan terdengar menyayat hati.

Bima mengurungkan niatnya ke kamar kecil, berbalik arah dan berjalan mengendap-ngendap mencari sumber suara. Dibawah sinar rembulan yang mengintip diantara dedaunan dan cahaya lampu remang-remang di pekarangan belakang rumah eyangnya yang lumayan luas dan terdapat beberapa pohon serta aneka jenis tanaman, Bima terus berjalan menyusuri pekarangan itu.

Tiba-tiba suara rintihan tersebut menghilang seiring hembusan angin yang menerpa wajah Bima. Ia terkesiap dan belum hilang rasa terkejutnya kemudian terdengar suara anak tertawa pelan, sayup-sayup nyaris tak terdengar lalu semakin jelas, kemudian hening…tidak ada suara apa pun. Seketika bulu kuduk Bima meremang, ia memegang tengkuknya, menarik dan menghembuskan napas pelan-pelan. Lalu ketika ia hendak berjalan kembali ke dalam rumah, Bima merasakan seseorang sedang memegang bahu kanannya. Sontak saja ia terkejut dan membelalakkan mata. Namun diantara rasa keterkejutannya Bima segera memejamkan mata dan mulutnya komat kamit bersuara melafalkan doa mengusir setan. 

“Bocah edan…kamu pikir eyangmu ini demit apa ?” seru eyang. Pria tua itu kemudian menjewer telinga cucunya dan menyeretnya kembali masuk ke dalam rumah. Ditengah kesakitan karena dijewer oleh sang kakek, Bima kemudian menghentikan langkahnya yang diikuti oleh eyang seraya berucap,”bentar…bentar dulu eyang, Bima kebelet mau buang air kecil.”

“Cepat selesaikan urusanmu di toilet, setelah itu masuk kembali ke dalam rumah!” seru eyang.

Bima bergegas ke toilet. Setelah menyelesaikan panggilan alamnya, dengan gerakan cepat dan terburu-buru Bima membuka pintu toilet dan betapa terkejutnya ia ketika seseorang telah berdiri di depan pintu.

“Bocah edan…ngapain toh melotot begitu lihat eyang ?”

“Ya ngapain juga eyang berdiri di depan pintu ?” tanya Bima.

“Lah kamu pikir eyang ngintip apa ?”

“Terus eyang ngapain coba ?”

“Dasar bocah…ya jagain kamu, cucu eyang yang paling ganteng. Ayo…cepat masuk dalam rumah!, ndak baik jam segini ada di luar rumah.” 

Lelaki tua itu kemudian memegang lengan Bima dan setengah menariknya untuk bergegas masuk ke dalam rumah. Sementara itu Bima merasa risih dengan usia yang sudah menginjak kepala dua tetapi masih diperlakukan seperti anak kecil oleh sang kakek. Namun tak urung mengikuti langkah kakeknya untuk masuk kembali ke dalam rumah.

“Bima…lain kali jangan keluar rumah menjelang dini hari. Di desa ini tidak ada orang yang keluar rumah di jam-jam tersebut kecuali orang-orang yang sedang ronda malam. Urusan toilet selesaikan sebelum tidur. Selepas senja jangan biasakan duduk di teras rumah. Sebaiknya di dalam rumah saja.” Ujar eyang panjang lebar yang disambut anggukan kepala oleh Bima tanda ia paham dengan permintaan eyangnya. Bima enggan bertanya pada eyang karena selain mengantuk, tubuhnya terasa lelah karena sepanjang hari membantu eyang di kebun bercocok tanam.

Sinar mentari yang mencuri masuk melalui gorden jendela kamar Bima yang sedikit tersingkap membangunkan si empunya kamar. Bima menggeliat perlahan dan bangkit dari tempat tidur. Ia membuka jendela kamar dan segera saja disambut oleh udara sejuk khas desa di pagi hari. Sejauh mata memandang ia melihat hamparan perbukitan dihadapannya dan tak kalah serunya telinga Bima bahkan dimanjakan oleh suara aliran sungai yang letaknya tak jauh dari rumah eyang. Inilah hal yang paling ia sukai, suasana alami jauh dari polusi udara dan kebisingan suara deru kendaraan. 

Ini adalah kali kedua Bima berkunjung ke desa eyangnya. Kali pertama ia datang adalah 20 tahun yang lalu. Usianya baru menginjak lima tahun ketika itu. Tak banyak yang ia ingat pada masa-masa itu kecuali ia datang bersama kedua orang tua dan adik perempuannya bernama Anjani tetapi ia ingat betul jika ia memiliki teman sepermainan di desa ini.

Pagi itu di meja makan, Bima berusaha mengingat-ingat teman kecilnya itu. Eyang yang daritadi memperhatikan ekspresi cucunya bertanya dengan lembut,“Bima…ada apa ? kamu seperti sedang mengingat-ingat sesuatu,” tanya eyang.

“Eyang…dulu aku punya teman sepermainan disini yang seusia denganku. Siapa ya namanya ?,  aku lupa.”

“Bocah edan…kamu saja yang masih muda sudah lupa apalagi eyang yang sudah sepuh,” jawab eyang lantang sambil mengunyah makanannya.

Lalu mengalirlah obrolan singkat kakek dan cucunya di meja makan pagi itu sebelum mereka kembali bergegas menuju kebun yang letaknya tak begitu jauh dari rumah eyang Dananjaya, demikian orang-orang di desa Kemiri menyapa eyang. Untuk sementara eyang tinggal di rumah sendiri karena istrinya sedang berkunjung ke rumah salah satu anaknya yang tinggal di Kalimantan karena tugas pekerjaan yaitu paman dari Bima. Eyang tidak ikut serta karena ada urusan di desa yang harus diselesaikan  sebelum ia menyusul istrinya ke Kalimantan. Sementara Bima sendiri sedang mengambil cuti tahunan dari kantornya dan memutuskan untuk menghabiskan liburannya di desa Kemiri menemani kakek tercinta.

Dalam perjalanan menuju kebun, mereka melintasi sebuah areal pemakaman. Bima berhenti tepat dipintu masuk makam. Eyang yang melihat hal tersebut lantas bertanya,”Bima…kenapa berhenti disini ?”

“Eyang…ayo kita nyekar dulu ke makam bulik Mayang,” ajak Bima. Bulik Mayang adalah adik dari ayah Bima. Satu-satunya anak perempuan dari eyang Dananjaya, kedua anaknya yang lain adalah laki-laki termasuk ayah Bima.

“Bima…di desa ini tidak ada orang yang nyekar di hari biasa. Pantang…tidak boleh. Nyekar hanya diijinkan ketika ada warga yang meninggal dunia. Hanya pak Danu yang diijinkan ada di areal makam karena beliau yang ditunjuk warga desa untuk menunggui dan membersihkan makam. Ayo lekas pergi dari sini, pantang berlama-lama di pintu makam!” Eyang lantas menarik tangan Bima untuk segera pergi dari sana.

**********

Sudah beberapa hari Bima di desa Kemiri dan ia baru mendengar penuturan kakeknya tentang hal-hal yang dianggap tabu oleh penduduk desa dan sudah beberapa hari pula Bima selalu tersandung dengan kursi rotan yang sejatinya berada di ruang lain tapi selalu berpindah tempat tepat beberapa langkah sebelum mencapai pintu menuju halaman belakang rumah. Dan ia mulai berpikir bahwa kakeknya yang sudah sepuh itu pasti yang memindahkan kursi rotan tua itu tetapi mengapa setiap malam dipindahkan ?

Bima sudah merencanakan untuk menanyakan hal ini pada eyang pasalnya hampir setiap malam ia mengaduh kesakitan karena tersandung kursi rotan tua, jelek, dan butut itu. Bima heran mengapa eyang masih mempertahankan benda reyot dan ditambah lagi setiap malam eyang hanya menyalakan beberapa titik lampu padahal rumah eyang sangat besar. Bukan karena hemat listrik tapi kata eyang di desa Kemiri tidak lazim jika rumah dalam keadaan terang benderang di malam hari. 

“Eyang…ada pak RT dan beberapa warga yang mau ketemu eyang. Mereka sedang menunggu di ruang tamu,” ujar Bima yang menyapa kakeknya di ruang keluarga yang tengah asik membaca buku. Eyang lantas bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menemui tamunya. Eyang tidak mengijinkan Bima untuk mengikutinya. Bima penasaran dan bermaksud untuk mencuri dengar pembicaraan eyang dengan para tamunya.

“Ada apa malam-malam begini berkunjung ke sini ?” tanya eyang Dananjaya. Pak RT lantas menarik napas dalam-dalam lalu menghempaskan pelan-pelan sebelum menjawab pertanyaan eyang.

“Begini pak Dananjaya…,” selanjutnya Bima tidak dapat mendengar dengan jelas isi pembicaraan eyang dan tamu-tamunya karena ucapan mereka begitu lirih sepertinya sangat rahasia. Bima mengerutkan alisnya dan berusaha mendekatkan telinganya ke arah sumber suara ketika tiba-tiba kakinya menyenggol kaleng kosong didepannya yang tidak ia ketahui sejak kapan kaleng itu ada di sana.

“Pranggg…,” demikian bunyi kaleng itu dan sontak saja eyang dan para tamunya terdiam dan sama-sama menoleh ke arah sumber suara.

“Abimanyu…!” pekik eyang. Bima yang merasa dipanggil namanya segera menutup mulut dengan tangan kanan dan perlahan berjalan mundur kemudian memutar tubuh menuju ke kamarnya. Ia menutup pintu dan merebahkan tubuh di atas kasur dan menopang kepala dengan kedua tangan sambil menggumamkan nama-nama yang disebut tadi di ruang tamu.

“Mayang…Indra…Mayang…Indra,” begitu terus berulang-ulang sampai akhirnya Bima tertidur. Ia tidak tahu kapan tamu-tamu eyang pulang. Bima melirik jam tangannya. Pukul dua dini hari. Dan lagi-lagi ia tidak dapat menahan panggilan alamnya, harus segera diselesaikan tapi ia teringat pesan eyang untuk tidak keluar rumah di jam segini. Sebagai seseorang yang lahir dan dibesarkan di kota besar tentu saja hal-hal takhayul tidak ada dalam kamus hidupnya. Segera saja ia bangkit dari tempat tidur dan hendak menuju  ke kamar kecil.

Langkahnya kemudian terhenti tepat di ruang baca eyang, pintunya tidak tertutup. Bima masih bisa mendengar suara eyang yang sedang berbicara seorang diri sambil memegang sebuah foto.

“Indra…maafkan eyang, jika eyang mempertahankan kamu maka eyang akan membahayakan Abimanyu. Eyang harap kamu mengerti posisi kamu. Kamu hanya anak har…,” eyang tidak melanjutkan ucapannya tapi ia kemudian menangis. Dan Bima seperti dapat merasakan kesedihan kakeknya tapi penggalan ucapan kakek diakhir kalimatnya tadi sukses mengusik rasa ingin tahunya. Apa sebenarnya yang sudah terjadi ? 

Mayang…sudah jelas adalah bulik Mayang tapi Indra itu siapa ? dan mengapa nama ini begitu familiar ditelinganya. Seingat Bima, bulik Mayang tidak pernah disebut lagi namanya setelah ia meninggal dunia. Bima hanya tahu bahwa ayahnya memiliki saudari perempuan yang meninggal diusia yang sangat muda. Bahkan di rumah eyang tidak ada foto bulik Mayang yang dipajang. 

Bima lantas berlalu dari tempat ia berdiri mengamati eyang kemudian bergegas keluar rumah. Seperti malam-malam sebelumnya, Bima tersandung sebelum menuju keluar rumah lalu mendengar suara anak kecil menangis dan tak lama tertawa lirih. Ketika ia pertama kali mendengar suara-suara itu Bima berpikir itu suara anak tetangga yang sedang terjaga tidak dapat tidur hingga kemarin malam saat ia menyadari ada yang salah dengan suara itu. Lagi pula jarak antara rumah eyangnya dan tetangga cukup berjauh-jauhan, jadi apa mungkin itu suara anak tetangga ?. Astaga…Bima baru menyadari sudah beberapa hari di desa Kemiri tetapi ia tidak pernah menjumpai seorang anak kecil pun.

“Abimanyu…!” seru eyang. Bima lantas menoleh ke belakang dan ia terkejut melihat ekspresi eyang yang memancarkan kemarahan.

“Dasar bocah…cepat masuk dalam rumah! Kamu buang air kecil di ember kecil saja, besok pagi bersihkan!”

Bima tidak ingin membantah eyang karena ia bisa melihat jika eyang sangat marah. Ia lalu segera melangkah untuk masuk kembali ke dalam rumah. Tetapi didalam hati ia sudah menyusun rencana untuk mencari tahu semua yang ingin ia ketahui.

Bima sebenarnya bukan saja kebetulan ingin berlibur ke rumah eyang. Sudah beberapa bulan ini ia selalu mengalami mimpi yang sama. Dalam mimpinya ia seperti terlempar ke usia kanak-kanak sedang bermain dengan seorang anak laki-laki seusianya. Mereka sedang berebut bola sampai ketika bola itu terlempar ke sungai dan secara spontan dua orang anak kecil tersebut sama-sama melompat ke sungai. Ternyata air sungai itu lebih dalam dari tinggi badan kedua anak kecil itu. 

“Selamatkan Abimanyu…biarkan yang satunya lagi!” seru orang-orang disekitar sungai.

“Tidakkkk…selamatkan yang satunya juga!!! Demi Tuhan…anak itu tidak berdosa,” seru seorang perempuan sambil berteriak histeris menangis pilu. Namun perempuan muda itu tidak berdaya sebab seseorang sedang memeluknya dari belakang, menahannya agar tidak berlari menyelamatkan anak yang satunya lagi.

“Aku akan membalaskan semuanya nanti. Anak itu tidak akan mati sia-sia! Semua perempuan di desa ini hanya akan melahirkan satu orang anak dan aku akan datang mengambil anak itu sebagai ganti anakku!!!” pekik perempuan malang itu dengan tatapan nyalang penuh dendam.

**********

“Abimanyu…apa yang sedang kamu pikirkan ? jangan suka melamun!” tegur sang kakek.

“Eyang…,” Bima menjeda sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya sambil menatap lekat kedua bola mata eyang berharap ia akan mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Lalu Bima menceritakan mimpinya dan semua suara rintihan dini hari yang beberapa hari ini selalu ia dengar.

Sesaat eyang membuang pandangannya, menatap ke langit-langit rumah kemudian menunduk. Ketika eyang mengangkat wajahnya kembali, Bima melihat eyang sedang menitikkan air mata. Eyang tidak sanggup berkata-kata, hanya terisak menangis. Bima tidak tega melihatnya. Saat ia akan berdiri hendak memeluk sang kakek tiba-tiba eyang mengeluarkan suara dan kata pertama yang terucap adalah…

“Mayang…,” hening sejenak lalu eyang melanjutkan ceritanya.

“Dua puluh enam tahun yang lalu, desa Kemiri kedatangan rombongan dari sebuah instansi milik pemerintah yang sedang melakukan penelitian di desa ini. Diantara rombongan itu, ada seorang pemuda yang sangat disukai Mayang dan ternyata pemuda itu juga menyukai Mayang. Mereka kemudian menjadi sangat dekat tetapi terlalu dekat sehingga mereka melakukan perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan. Seusai beberapa pekan melakukan penelitian pemuda itu kembali ke kotanya dan tak pernah kembali. Mayang mengandung anak dari pemuda itu. Eyang hanya petani biasa, tidak cukup pendidikan, dan tidak tahu kemana harus mencari pemuda itu untuk meminta pertanggungjawabannya.”

“Paman dan ayahmu yang saat itu sudah bekerja di luar kota juga turut mencari pemuda itu tapi karena tidak punya cukup informasi sehingga mereka tidak menemukannya. Di desa ini, perempuan yang mengandung diluar nikah akan diusir karena anak yang akan dilahirkan kelak dipercaya akan membawa petaka di desa. Tetapi orang tua mana yang tega mengusir anak sendiri. Kami menyembunyikan Mayang dirumah ini dan mengatakan pada orang-orang desa bahwa Mayang sudah ikut kakaknya di kota. Tak lama anak itu lahir dan ibunya memberi nama Mahendra, gabungan dari nama Mayang dan Hendra, nama ayah anak itu. Tetapi anak itu kami biasa memanggilnya dengan sebutan Indra…”

Eyang lalu menangis tersedu-sedu. Bima memeluk kakeknya dengan erat dan eyang melanjutkan ceritanya dalam pelukan cucunya itu.

“Suatu hari kamu dan orang tuamu serta Anjani datang berlibur ke desa ini. Kami tidak pernah membiarkan kalian bermain di luar rumah karena keberadaan Mayang dan Indra sangat dirahasiakan. Tidak ada warga yang tahu keberadaan mereka kecuali dukun beranak yang membantu persalinan Mayang dan ia turut merahasiakannya karena merasa iba. Akan tetapi semenjak kelahiran Indra hasil pertanian menurun drastis padahal tidak pernah terjadi kemarau panjang di desa ini. Pupuk apa pun yang kami berikan tidak menghasilkan panen seperti sebelumnya.”

“Hari itu, kamu dan Indra diam-diam pergi bermain di pinggir sungai.” Dan cerita selanjutnya persis seperti yang terjadi dalam mimpi Bima.

“Dukun beranak itu yang akhirnya memberitahukan tentang Indra karena ia yakin Indralah penyebab hasil panen yang rusak. Mereka menyelamatkanmu tetapi membiarkan Indra hanyut di sungai. Mayang hendak menolong anaknya tetapi saat itu eyang menahannya karena eyang takut warga akan ikut menyakiti Mayang. Eyang menyeretnya kembali ke rumah. Saat itu kamu pingsan dan setelah kamu siuman kamu tidak mengingat kejadian itu. Kata dokter mungkin karena trauma sehingga kamu tidak ingat apa yang sudah terjadi.”

“Sejak hari itu Mayang lebih banyak melamun dan ia sering duduk di pinggir sungai sambil meratapi Indra. Suatu hari Mayang jatuh sakit dan keadaannya tidak pernah membaik. Sore itu ditengah hujan deras menjelang senja warga menemukan Mayang sudah tak bernyawa di dekat sungai sambil memeluk bola kesayangan Indra.”

“Hasil panen warga membaik bahkan lebih baik dari yang pernah terjadi di desa ini sampai sekarang. Lemparlah benih apapun di tanah ini maka benih itu akan bertumbuh dengan baik. Selama tidak ada noda di desa Kemiri, selama itu pula hasil panen akan baik.”

“Dalam semua kebaikan yang terjadi di desa Kemiri, di alam sana, Mayang masih menyimpan dendam. Semua anak tunggal di desa ini akan hanyut di sungai ketika mereka bermain di sana. Mayang selalu menampakkan diri ketika ada warga yang berada di luar rumah di kala senja terutama jika ada perempuan yang baru melahirkan dan suara-suara yang kamu dengar kala dini hari itu adalah suara anak-anak yang hilang.”

“Semula warga tidak mengindahkan amarah Mayang tetapi ketika beberapa anak hanyut di sungai barulah mereka menyadarinya. Dan lagi di desa ini sejak dua puluh enam tahun yang lalu tidak pernah ada pasangan suami istri yang melahirkan lebih dari satu anak. Setelah anak lahir mereka lebih memilih untuk pindah ke desa sebelah karena takut Mayang akan datang mengambil anak mereka.”

Bima mendengarkan dengan seksama cerita eyang tetapi otaknya sulit sekali mencerna hal-hal yang berbau mistis.

“Eyang…semua ini pasti ada penjelasan yang logis, lebih masuk akal.”

“Abimanyu…di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung,” ujar eyang.

**********

Abimanyu dan kakeknya sedang berteduh makan siang di pondok yang ada di kebun ketika pak Erlangga selaku ketua RT dan beberapa warga datang menghampiri mereka. Bersama pak Erlangga, ada seorang pria paruh baya dan seorang pemuda yang eyang tidak kenali sama sekali. Berbeda dengan Bima yang sepertinya mengenali sosok pemuda disebelah pria paruh baya tersebut. Eyang mempersilahkan mereka duduk bersama dipondoknya. Pak Erlangga segera saja menyampaikan maksud dan tujuannya menemui eyang dan betapa terkejutnya eyang mendengarkan penuturan pak Erlangga.

“Pak Dananjaya maafkan saya,” ucap Hendra lirih, ada nada ketulusan dan penyesalan didalamnya.

“Ini Mahendra, cucu bapak juga,” sambil memegang bahu pemuda yang duduk disebelahnya.

Eyang tak kuasa menahan laju air mata yang segera tumpah dari kedua bola matanya, ia lantas berdiri dan mendekat sambil memeluk cucunya yang disambut hangat oleh Mahendra. Tidak ada dendam pada raut wajah pemuda itu. Eyang melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangannya pada Bima.

“Abimanyu…ini Indra sepupumu, putra bulik Mayang.” Eyang menatap kedua cucunya penuh haru tetapi ia juga sadar bahwa Indra tidak boleh berlama-lama berada di desa Kemiri. Bima menyambut uluran tangan Indra, teman sepermainan yang juga adalah sepupunya.

Hendra lalu menceritakan bahwa puluhan tahun yang lalu ia kembali ke desa Kemiri untuk melamar dan menjemput Mayang seperti janjinya. Dalam perjalanan ia menemukan seorang anak yang tergolek lemah dipinggiran sungai, anak itu ternyata masih hidup. Setelah memberikan pertolongan pertama, Hendra lalu melarikan anak kecil itu ke rumah sakit. Setelah siuman, anak kecil itu tidak ingat siapa namanya. Hendra menamakan anak itu Banyu. Ia merasakan getaran yang sulit dijabarkan ketika pertama kali menemukan Banyu sehingga Hendra memutuskan untuk merawatnya. Beberapa waktu kemudian Hendra datang kembali ke desa Kemiri dan mencari informasi pada pemangku adat di desa tetapi kenyataan yang ia peroleh adalah  mengetahui bahwa Mayang telah tiada. 

Sehingga pada suatu hari melalui sebuah peristiwa tak terduga Banyu mengingat siapa nama dan dari desa mana ia berasal, juga ia mengingat siapa nama ibunya. Hendra pun menyadari bahwa Indra adalah darah dagingnya tetapi ia tidak memiliki cukup keberanian untuk membawa Indra kembali ke desa karena telah berjanji pada pemangku adat untuk tidak membawanya kembali ke desa Kemiri. 

Hari ini mereka kembali ke desa, melanggar semua hal-hal yang dianggap tabu demi sebuah kedamaian untuk Mayang. Dan setelah perdebatan yang cukup panjang dengan para sesepuh desa, akhirnya keluarga eyang Dananjaya diijinkan untuk mengunjungi makam Mayang.

**********

Seorang perempuan cantik dengan rambut yang disanggul sederhana dengan busana kebaya yang membalut tubuh rampingnya mengamati kedatangan rombongan kecil dari balik pohon. Matanya menatap tajam penuh amarah. Namun tatapan itu berubah syahdu ketika ia melihat dua sosok laki-laki yang sangat dirindukannya.

“Mayang…ini aku, Hendra. Dulu aku datang mencarimu tapi kau telah tiada. Aku menyesal tidak datang lebih awal. Semua ini salahku bukan salah penduduk desa. Padamkanlah amarahmu. Aku datang bersama Mahendra, putra kita.” 

“Bunda…Indra sayang bunda.” Hanya itu yang mampu ia ucapkan selebihnya Indra larut dalam tangisnya.

“Mayang…maafkan bapak, nak,” isak eyang.

Mereka semua memanjatkan doa kepada Sang Maha Kasih untuk memohon pengampunan dari kesalahan masa lalu. 

Perempuan cantik itu menangis dalam hening alamnya tanpa ia bisa memeluk raga orang-orang yang dikasihinya. Ia lalu menjauh dari tempatnya berdiri, berjalan seorang diri dalam kesunyian namun kali ini langkahnya diiringi doa orang-orang yang dicintainya.