RENDANG ETEK DEVINA

Rendang dengan bumbu tradisional asli warisan orang tua zaman dulu, agak mustahil didapatkan sekarang. Tapi ternyata setelah lebih 30 tahun kemudian, saya berhasil menemukan rendang itu.

RENDANG ETEK DEVINA

 

Masa kecil hingga SMA, saya tinggal di Kota Jambi. Persis di belakang rumah ada sekolah TK & SD milik NU, Muslimat namanya.  Saya bersekolah TK dan SD hingga kelas 1 di SD Muslimat itu. Sedangkan di Madrasah saya belajar sampai kelas 5. Pada siang hari sekolah tersebut dimanfaatkan untuk madrasah. Malam harinya diperuntukkan khusus untuk belajar mengaji. Di bagian ujung bangunan sekolah disiapkan rumah sederhana buat penunggu sekolah. Sepasang suami istri orang Padang. Kami memanggilnya dengan Apak dan Etek Muslimat. Entah siapa sebenarnya nama aslinya. Mereka memiliki 2 orang anak, Sijon dan Uni.

Bagian depan rumah dibuat menjadi warung buat jajan anak-anak. Makanan paling favorit anak-anak adalah kerupuk bakar putih lebar yang terbuat dari sagu. Cara makannya dengan dibanjuri sambal pedas cair buatan Etek yang enaknya tiada tanding. Tapi gara-gara sambal inilah Etek sering ngamuk dan marah-marah. Bagaimana tidak, beli 1 kerupuk tapi sambalnya dibanjiri full bolak-balik. Setelah itu ditimpa lagi dengan cuko yang seharusnya untuk pempek. Kerupuk yang akhirnya jadi lembek itu jadi letoy. Air sambalnya tidak lagi bisa menyerap dan akhirnya berceceran di lantai.

Etek ini orangnya sangat emosional. Kayaknya dia gak pernah bisa bicara dengan nada normal. Nadanya selalu tinggi karena berteriak lengkap dengan sumpah serapah. Kalau sudah sangat marah, dia akan melemparkan apapun yang ada disekitarnya. Ngeri banget! Semua orang takut dengannya, termasuk kami. Jadi kalau ingin beli kerupuk itu, kami harus memastikan yang  sedang jaga warung Apak, bukan Etek. Berlawanan dengan Etek, Apak orang yang sangat sabar. Selalu senyum dan pelit bicara. Peci hitam  yang tidak pernah lepas dari kepalanya menggenapkan auranya sebagai orang baik. Tidak pernah sekalipun dia menjawab perkataan istrinya bagaimanapun marahnya Etek. Rasanya makan kerupuk letoy nikmatnya sempurna kalau beli dari Apak. Dia gak pernah negur apalagi marah. Bahkan diam-diam dia sering ngasih bonus jajanan lainnya.

Disamping super emosional, Etek punya kelebihan yang membuat orang akhirnya rela dan sabar dengan sumpah serapahnya; dia bisa membuat ketupat sayur nangka yang enaknya susah dideskripsikan. Semua bahan dan prosesnya dia lakukan sendiri. Kelapanya dipetik oleh Sijon dari pohon kelapa yang ada di samping sekolah. Diperas jadi santan kental yang lalu dicampur dengan banyak bumbu yang diulek pakai ulekan sangat besar. Setelah itu dimasak dengan menggunakan panci  tanah liat dan kayu bakar. Biasanya dia masak mulai pagi hari dan selesainya pada saat kami lagi belajar di madrasah siang hari.

Harumnya kuah ketupat itu akan masuk ke kelas yang membuat semua anak gak focus lagi belajar. Ketupat ini istimewa sekaligus sangat aneh cara pemasarannya, karena tidak dimasak setiap hari. Tergantung moodnya Etek. Bisa selang sehari atau bisa saja 2 minggu sekali. Porsi yang disiapkan pun hanya secukup kuah sayur nangka itu. Etek gak akan jawab siapapun yang nanya kapan jadwal masak ketupat. Dan dia pun gak akan umumkan kalau ternyata hari itu dia masak. Jadi harum kuah nangka itulah yang menjadi tandanya. Itu sebabnya kami gelisah menunggu jam istirahat sekolah madrasah tiba untuk adu cepat berlari ke rumah mengabarkan ke orang tua bahwa hari itu Etek bikin ketupat.

Harga ketupatnya tergolong mahal dan tidak terbeli dengan uang saku kami. Setelah mendengar kabar dari kami, orang tua kami akan bergegas membawa piring kosong ke Warung Etek karena Etek tidak mau menjual selain yang bawa piring sendiri. Uniknya lagi, Etek gak mendahulukan siapa yang duluan datang untuk ngantri karena antriannya berjajar horizontal. Suka-suka dia aja mau ngambil pring mana duluan yang disodorkan orang tua, 1 orang hanya boleh 1 porsi. Sangat sering terjadi porsi ketupat sudah habis duluan padahal antrian masih banyak. Jadi kalau bisa mendapatkan 1 porsi ketupat itu kamu benar-benar beruntung. Kadang dengan seenaknya Etek bilang habis gak dijual lagi padahal masih ada tersisa sekitar 2 porsi. Bener-bener semaunya. Pembeli adalah raja gak berlaku disini. Tapi orang-orang memaklumi aja dengan cara Etek itu karena memang kelezatan ketupat sayur nangkanya bikin orang rela aja diperlakukan kayak gitu. Sampai hari ini saya belum menemukan ketupat sayur yang selezat buatan Etek.

Tapi ada yang enaknya lebih gila lagi selain ketupat sayur nangka yaitu, Rendang Etek yang hanya dibuat  saat Ramadhan menjelang idul fitri. Tidak akan ada yang tau apakah tahun ini Etek bikin rendang atau tidak karena dia tidak akan pernah menjawab pertanyaan itu. Bahkan yang mau bayar dimuka pun ditolaknya, system PO seperti sekarang tidak berlaku. Etek bikin dengan penggorengan besar mungkin memuat  sekitar 20 kg . Rendang Etek itu warnanya menghitam, kering, dagingnya  sangat empuk, padat dengan potongan besar, bumbunya kaya rasa terutama rasa kelapa yang kuat, terkadang dicampur kacang merah dan terkadang kentang kecil seukuran kelerang. Suka-suka dia aja.  Biasanya 1 minggu menjelang lebaran, sekolah libur jadi kami tidak punya tanda Etek masak rendang. Tapi kami biasa bermain kasti di halaman sekolah Muslimat itu dan seminggu menjelang lebaran orang tua kami akan sering mengingatkan untuk lebih rajin lagi main kastinya agar bisa duluan mencium aroma rendang. Ketika mulai mencium tanda itu kami akan berlari mengabari ke orangtua. Jangan coba datang ke Etek pada hari itu pasti di blacklist, karena  saat itu dia berada pada puncak emosi tertinggi , lagi pula  rendang baru akan jadi pada keesokkan harinya.

Dengan mengandalkan perhitungan dan perasaan, keesokan harinya orangtua mulai datang antri membawa rantang. 1 keluarga hanya boleh 1 rantang. Kali ini persaingan akan lebih ketat. Etek akan sesuka hatinya untuk meletakkan berapa potong daging di rantang yang antri. Selain potongan daging itu, dia akan memenuhi rantang dengan bumbu yang MasyaAllah nikmatnya. Kalau sudah mendapatkan rendang itu, magrib rasanya akan lama banget. Gak sabar rasanya nunggu Azan.

Ketika saat berbuka tiba, Umi akan membagi 1 potongan rendang untuk 3 orang dengan bumbu yang dijatahi 1 sendok tiap orang. Cukup dengan nasi panas mengepul. Rendang Etek tidak perlu ditemani dengan lauk lain apapun karena pasti kalah bersaing. Dengan jatah sedikit itu, kami makan bisa berkali-kali nambah nasi karena  kami sangat berhati-hati di setiap suapan hanya mencampurkan sedikit bumbu. Rendang tidak akan pernah ada sampai lebaran karena setiap berbuka sejak menerima rendang itu kami tidak akan mau dimasakin apapun hingga rendang tersebut betul-betul habis tak bersisa.

 

                              ===============================================

 

Suatu hari ketika saya kelas 1 SMA, Sekolah Muslimat ramai sekali didatangi polisi. Orang-orang sekitar juga mengerubungi sekitar rumah Etek. Ternyata Sijon anak kesayangan Etek, yang tergila-gila nyabung ayam, terbukti mencuri. Dan akhirnya polisi menangkapnya di rumah Etek. Saya sangat ingat bagaimana Etek meraung-raung histeris hingga berguling di tanah saat polisi memborgol tangan Sijon dan membawanya ke mobil.

Hari itu adalah akhir dari segalanya. Etek menjadi sangat pendiam. Dia mengurung diri dan tidak peduli pada apapun. Tidak ada lagi kerupuk bakar, ketupat padang apalagi rendangnya. Kami jadi kangen sekali masakannya. Bahkan anehnya kami juga kangen juga sama marah-marahnya. Warung Etek meskipun tetap buka dan dijaga Apak jadi terasa  sunyi. Suasananya dingin. Etek tidak peduli apapun, bahkan ketika Uni anak keduanya kabur kawin lari, Etek tidak bereaksi sama sekali. Kami tidak lagi pernah main ke halaman sekolah itu.

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh  orang Padang  lain yang menawarkan rendang untuk mengganti Rendang Etek, tapi rasa kelezatannya jauh sekali.

 

   ===============================================

 

Selepas SMA, saya pindah ke Jakarta. Satu tahun kemudian ketika mudik saya sengaja menyambangi rumah Etek. Ternyata rumah itu sudah diisi orang lain. Apak meninggal 6 bulan sebelumnya, sedangkan Etek pergi entah kemana. Semua keluarga kami mencari Etek tapi tak ada seorang pun yang tau kemana jejaknya.

Saya kangen sekali dengan Rendang Etek. Setiap berkenalan dengan orang Padang, saya akan mendeskripsikan Rendang Etek itu. Dari jawaban mereka, saya dapat menyimpulkan bahwa ada banyak jenis rendang dari Sumatera Barat. Ada yang basah, berwarna kecoklatan dan ada juga yang kering kehitaman seperti Rendang Etek. Setiap melihat yang cirinya mirip Rendang Etek, pasti saya akan beli dan mencobanya. Baik itu yang dijual online maupun yang direkomendasikan teman. Tapi sampai sejauh ini, belum ada yang selezat Rendang Etek. Bahkan saya sengaja pergi ke Padang dan Bukit tinggi mencoba rendang terlezat yang banyak dibicarakan orang. Namun kembali kecewa karena rasanya tidak sama. Hingga akhirnya saya berhenti mencari pengganti Rendang Etek. Bukan saja karena selalu kecewa tapi juga mulai selektif memilih makanan dengan menghindari santan dan daging. Di rumah, saya juga tidak pernah masak rendang. Kalau anak-anak lagi kepingin, saya cukup beli di Simpang Raya. 

 

 

Sejak WFH  awalnya saya jadi rajin masak tapi lama-lama bosen juga. Saya mulai gerilya mencari beragam frozen food. Meskipun beli beragam, anak-anak tetap bosan juga. Suatu hari gak sengaja buka FB dan baca timeline tulisan Mbak Devina tentang rendangnya yang dirayu-rayu oleh teman-temannya agar mau bikin lagi. Setelah membaca itu saya pikir boleh juga nih nyipain rendang di rumah sebagai alternatif makanan yang awet selain frozen food. Maka saya coba WA beliau untuk pesan, tapi ternyata saya baru dapat giliran 2 minggu kemudian saking banyaknya yang pesan sedangkan waktu beliau terbatas.

Setelah lewat 2 minggu datanglah rendang tersebut. Hati saya sempat bergetar melihat rendang hitam dengan taburan kacang merah. Penampilannya persis seperti Rendang Etek. Tapi saya cepat-cepat menepisnya karena takut kecewa lagi, kan ekspektasi saya bukan dalam rangka mencari Rendang Etek. Lagipula saya sudah lama menghindari rendang, saya tidak akan tergoda untuk mencobanya. Kemasannya sangat sederhana, hanya kotak plastik biasa tanpa merk apapun. Sebenernya agak ganjil sih kemasan polos begitu mengingat suaminya Mbak Devina adalah ahli branding, Om Budiman Hakim, yang pasti sangat faham dengan brand.

Saat berbuka datang, rendang disiapkan di meja makan. Awalnya Umi mengambil bumbu rendang tersebut lalu menggaulnya dengan nasi panas mengepul. Sesaat setelah suapan pertama, Umi terbatuk-batuk hebat yang panjang dan sulit dihentikan hingga membuat kami semua khawatir. Dalam jeda batuknya Umi berusaha menyampaikan sesuatu sayangnya kami tidak tau maksudnya hingga kami menerka-nerka dengan menyodorkan minuman dan mengurut punggungnya. Akhirnya Umi berhasil menghentikan batuknya. 

“Ini…ini Rendang Etek, betul ini persis Rendang Etek!” kata Umi dengan sedikit berteriak.

“Bukan Mi, itu Aku beli dengan temen, bukan Rendang Etek,” sahutku menyanggah.

 Gak sabar dengan reaksiku, Umi lalu menyendok rendang tersebut dan menyuapinya ke mulut ku.

Begitu sampai di lidah, sungguh otomatis air mataku meleleh tak tertahankan. Ya, ini Rendang Etek. Rasa bumbunya persis sama. Tekstur dagingnya padat namun empuk, hanya beda sedikit di pedasnya, Rendang Etek lebih pedas. Ya Allah berapa puluh tahun saya mencarinya dan akhirnya ketemu lagi dengan tanpa sengaja.

Anak-anak dan suami yang heran melihat reaksi saya dan Umi cuma bengong. Mereka memang belum tau kisah Rendang Etek. Selepas berbuka nanti saya janji akan menceritakannya, tapi dengan nama Rendang Devina.