REJEKIKU DARI SILITMU (Sebuah Kisah Nyata)

Ini kisah pengalaman saya beberapa puluh tahun lalu di kos yang tercinta. Mungkin orang akan mudah melupakan suatu kejadian, tetapi tidak dengan kejadian ini. Semua orang akan mengingatnya jika mengalaminya.

REJEKIKU DARI SILITMU (Sebuah Kisah Nyata)
Indrawati

Bisakah kamu bayangkan?
Kuliah siang, jam terakhir di Kampus Bukit Jimbaran Tercinta (yang terkenal gersang dan kebus sangat alias panas sekali). Pikiranku sudah di kost yang nyaman dan adem, tiduran ditemani radio kesayangan dan Coke dingin.

Kami berhamburan keluar begitu dosen mengumumkan kuliah telah berakhir dan berlari mengejar bemo untuk balik ke Denpasar.

Aku pulang bareng temanku Wilsa yang tinggal di gang sebelah. Dalam perjalanan kami mampir  membeli makan dan minuman, untuk dimakan di kos, tidak seperti biasanya karena panas sekali cuaca hari itu dan tempat makan cukup ramai.

Kami berdua adalah teman karib dan sering mengambil mata kuliah yang sama, biar bisa belajar dan kerjain tugas bareng.
Anaknya lucu dan asyik, kloplah sama aku.
Aku berniat memamerkan sepatu baruku padanya, hehehe.
Buat anak kos seperti kami bisa beli barang baru itu langka.

Sesampainya di kos, aku heran kok ada mobil Indrawati di halaman, mungkin Bapak Kos yang memanggilnya untuk mengatasi closet yang sudah berkali-kali tersumbat. Ini problema besar bagi anak kos setiap pagi.
Syukurlah, masalah akan teratasi, batinku.

"Siang, ngapain Pak," tanya saya bernada basi.
"Biasa, Dek, bisnis," jawab Pak Sopir sambil senyum ramah.
"Mari, Pak, saya masuk dulu," pamit saya.
"Nggih, Dek." 

"Cha, ini sepatu baruku ...," pamerku di depan pintu kamar.
"Bagus Cy, kok ditaruh di luar? Awas maling lho," tanya Wilsa.
"Tenang, di sini aman hehehe. Gak kayak tempatmu," kataku. 
"Aduh, maaf ya, Cy," katanya lagi.

Kami ngakak, mengingat paniknya kami minggu lalu, saat sepatuku hilang di kos Wilsa.
Padahal kami hendak ke kampus bareng.


"Yuk, cepet, kita makan dan kabur Cha, aku gak tahu jadwalnya Indrawati hari ini," ajakku. 
"Yuk." 
"Eh, Cha."
"Hmmm." 
"Bisa kamu bayangin gak?"
"Apaan? Mulai deh kamu."
"Bisa kamu bayangkan gak kalo si Indrawati meledak?"
"Udah ah, kamu nih, ngilangin selera makan aja, makan yuk... eh doa dulu."
"Iya, Bu Pendeta."
"Terima kasih Tuhan, atas makanan ini, semoga ..."

Tiba-tiba...
DHUARRRR!
BRRRR!

Kami berdua berteriak karena kaget, nasi yang baru dibuka terlempar berantakan.
"Ada apa Cy?"
"Gak tahu Cha."

Aku berlari ke pintu dan membukanya, bau busuk yang menyengat dan, 
Oh My God... 
Sepatu baruku, sepatu lamaku, sandalku dan sepatu Wilsa sudah berubah warna hijau kecoklatan tertutup cairan yang berbau busuk itu.

Pak Sopir dan anak buahnya berlarian menarik selang yang meledak dan menciptakan cipratan tai di sekeliling kos, sambil tak henti-hentinya minta maaf.

Tak sanggup aku lama-lama melihat pemandangan serta menghirup aroma menyengat itu.
Segera kupalingkan wajahku dan kembali ke kamar.

Samar kulihat tulisan di belakang mobil itu, REJEKIKU DARI SILITMU.

Indrawati, oh Indrawati, namamu akan selalu kuingat!!!