Rejekiku Dari Silitmu

Rejekiku Dari Silitmu

Ujang menatap layar smartphone-nya yang sudah retak di dua sudut itu. 

Layanan pijat online dihentikan… sampai waktu yang belum ditentukan lagi. 

Lalu makan apa hari ini? Harus ngomong apa ke Ambu dan Abah… Tanpa sadar air matanya luruh. 

Ujang menyalakan motornya, mengenakan jaket dan helmnya. Dipacunya motor perlahan, sembari menahan tangis agar tak buram penglihatannya. 

Sejak mulai berlakunya pembatasan sosial skala besar, Ujang memang semakin kehilangan order pijat dari para langganannya yang memesan jasanya lewat aplikasi ataupun yang menghubunginya langsung. Sebelum pandemi, ia bisa membawa pulang uang cukup untuk makan mereka sehari-hari dan juga membayar keperluan sekolah Hanifa, putri semata wayangnya yang sekarang tinggal bersamanya. 

Aplikasi layanan pijat door-to-door ini amat membantu keluarganya menyambung hidup. Sebelum ada aplikasi ini, Ujang bekerja serabutan. Apapun ia kerjakan untuk menghidupi Abah, Ambu, dan Hanifa.  Sejak Kesih meninggalkannya untuk kawin lari dengan selingkuhannya, Ujang belum menikah lagi. Meskipun sudah beberapa kali Ambu maupun Abah berusaha menjodohkannya dengan beberapa anak teman-teman mereka, ataupun sepupu jauh Ujang dari kampung. 

Tapi Ujang memilih sendirian, dan hanya fokus membesarkan Hanifa sembari menghidupi kedua orangtuanya. Dengan ijazah STM, kesempatannya bekerja sebetulnya tidak buruk-buruk amat, hanya saja keterampilannya membongkar dan memperbaiki mesin jadi tidak lagi terasah. Pernah suatu waktu ia bekerja di bengkel bubut, namun tak lama bengkel itu tutup karena bangkrut. Lalu Abah pernah menawarinya bekerja di minimarket milik salah satu tetangga mereka. Itu juga tak bertahan lama, karena ternyata pegawai yang mereka butuhkan adalah pegawai lepas yang hanya bekerja bila ada kebutuhan saja. Pekerjaan yang cukup lama ia lakoni adalah tukang/kuli bangunan. Lumayan, ia terlibat sebagai kenek bangunan untuk salah satu proyek pembangunan rumah tinggal di daerah Jakarta Timur selama enam bulan. Lepas dari situ, keberuntungan belum juga hinggap di hidupnya, hingga akhirnya ia ditawari bekerja sebagai tukang pijat oleh salah seorang teman sekolahnya, Darmo. Darmo sudah lebih dahulu menjadi tukang pijat online. Dan menurut Darmo, bila layanan yang diberikan memuaskan, ‘kastamer’ mereka akan royal memberi tips, dan bahkan tak jarang repeat order

Fase pelatihan selama 1 bulan dijalani Ujang, hingga akhirnya ia mulai bekerja sebagai tukang pijat online. Benar kata Darmo, dengan layanan pijat yang memuaskan, tak jarang ada beberapa orang yang menjadi pelanggannya. Dalam sehari, Ujang bisa melayani tiga hingga lima orang pelanggan, dan setiap hari, ia bisa membawa pulang uang tunai dalam jumlah yang cukup untuk hidup mereka dan sekolah Hanifa. 

Selama dua tahun Ujang melakoni pekerjaan itu hingga akhirnya virus mematikan itu singgah dan menyebar sangat cepat di Indonesia. Dalam sekejap, pesanan pijat online pun sepi, hampir tidak ada bahkan. Dan pengumuman yang ia terima via email tadi pagi melengkapi kesedihan dan kegalauannya. Layanan pijat online dihentikan sampai entah kapan… 

Ujang menghentikan motornya di depan sebuah mini market yang berjarak tak terlalu jauh dari rumah. Meskipun ia hanya memiliki uang limapuluh ribu rupiah, ia tetap ingin membelikan es krim kesukaan Hanifa, dan mungkin membawa pulang beberapa potong gorengan yang menemani Abah minum teh sore ini. 

“Jang?” sebuah suara familiar mengejutkannya. Ujang menolehkan kepalanya dan tersenyum, “Ya Allah, Fadil!” 

Fadil menepuk pundaknya, “Wah gila! Akhirnya ketemu lagi kita! Udah berapa tahun ya Jang?” 

Fadil adalah salah satu teman SD Ujang. Anak pak dokter di kelurahan tempat Ujang tinggal. Anak orang yang cukup berada, pintar, namun sangat rendah hati. Kabarnya ia juga kini menjadi dokter. 

“Kerja apa sekarang, dil?” tanya Ujang, ingin mengkonfirmasi kabar yang ia dengar selama ini. 

“Gue kerja di Rumah Sakit Karya Husada, Jang. Itu lho, Rumah Sakit rujukan untuk penyakit infeksi.”

“Wah beneran jadi dokter ya lo, hebat!” Ujang mengacungkan jempolnya, “Spesialis ya Dil?” 

“Masih residen… gue lagi ambil spesialis penyakit dalam, Jang. Doain ya, lancar…”

“Siap… pasti gue doain!” 

“Nah lo sendiri kerja dimana sekarang? Gue denger, kerja di bengkel bubut Pak Marno ya?” 

“Ah itu udah lama, Dil… Gue udah lama keluar dari sana, kan bengkelnya Pak Marno tutup. Biasa lah, Dil… gak hati-hati sama uang, kalah deh di meja judi…”

“Oooh baru tau gue… Trus, lo kerja dimana sekarang?” 

Ujang menghela nafasnya, “Baru aja diberhentiin, Dil… “

“Lho? Kenapa?”

“Gue kerja jadi tukang pijat online, Dil…” jawab Ujang perlahan, “Yah lumayan, dapet dua tahun gue kerja jadi tukang pijat. Lumayan banget buat bantuin Abah-Ambu, dan anak gue…” 

“Lho trus, kenapa diberhentikan?” 

“Layanannya tutup, Dil… Sejak Covid layanan yang ada hubungannya dengan kontak langsung kan otomatis dihentikan. Ojol aja diberhentikan untuk sementara waktu. Dan tadi pagi gue dapat kabar kalau layanan pijat juga diberhentikan… yang ini kayaknya selamanya…”

Di balik maskernya, Fadil terlihat ikut sedih, “Duh… turut prihatin ya Jang…” 

“Makasih Dil… “

“Eh, lo mau ngga kerja di rumah sakit tempat gue residensi?” 

Ujang menganggukkan kepalanya cepat, “Gue mau ngerjain apa aja deh, Dil!”

“Tapi Jang… ini kerjaan utamanya bersih-bersih Jang… gimana?”

Ujang terdiam sebentar, bersih-bersih? Hmmm tapi tetap pekerjaan halal kan itu… “Ngga papa, Dil… gue mau deh ngerjain semuanya!” 

“Oke! Besok pagi lo ke Karya Husada aja ya! Kita ketemu agak pagi, jam 8an ya Jang! Nanti gue kenalin ke personalia. Mereka sangat membutuhkan orang.” 

Pertemuan sangat singkat dan membuahkan manfaat itu cukup membuat mood Ujang terangkat naik. Setidaknya kemungkinannya menganggur untuk waktu yang lama berkurang sedikit. 

***

Keesokkan paginya, Ujang sudah duduk menanti Fadil di ruang tunggu Rumah Sakit Karya Husada. Suasana rumah sakit tak seramai biasanya. Ruang tunggu yang biasanya terlihat cukup sibuk, pagi ini terlihat begitu lengang. Setelah memarkir motornya tadi, Ujang memasuki lobi rumah sakit, salah satu satpam yang bertugas lengkap dengan masker dan face shield mengukur suhu tubuhnya dengan termometer laser. Semua orang yang berada di ruangan itu, para pekerja, dokter, perawat, hingga pengunjung seperti dirinya mengenakan masker. Maskernya pun beragam, ada yang masker kain, ada juga masker hijau-hijau yang seperti digunakan para dokter. 

Sepuluh menit berlalu sejak UJang mengabari Fadil bahwa dirinya sudah tiba di Rumah Sakit. Fadil membalas pesannya, “Jang, naik aja ke lantai 5 ya langsung ke ruang personalia.” 

Ujang menuruti pesan itu dan melangkah menuju lift. 

Banyak yang berubah sejak pandemi terjadi. Di dekat tombol lift terlihat ada peringatan yang sepertinya baru dipasang, anjuran untuk menggunakan siku saat menekan tombol dan bukan menggunakan jari. Terlihat ada tiga orang yang mengantri untuk naik lift termasuk dirinya. Ketika pintu lift dibuka, Ujang memerhatikan stiker-stiker panah yang ditempel di lantai lift. Ada lima titik dan di situ tertulis, “Berdiri di sini”. Ujang menurutinya. Dalam hati ia berkata, banyak betul penyesuaian yang harus dilakukan. Sepertinya kapasitas lift pun diturunkan, tidak lagi menampung 10-12 orang, tapi kini maksimal hanya 5 orang. 

Ujang menggunakan sikunya untuk menekan tombol angka lima pada lift. Tak lama ia sampai di lantai yang dituju. Keluar dari lift, Ujang celingukan mencari papan nama Personalia. Ah itu ruangannya! 

Ujang bergegas menuju ruangan yang letaknya paling ujung. Ujang mengetuk pintu ruangan tersebut dan sebuah suara mempersilahkannya masuk. Ujang membuka pintu dan mendapati Fadil duduk di hadapan seorang perempuan yang mengenakan jilbab biru tua, masker senada dan blus berwarna putih duduk di balik meja. 

“Hai, Jang!” Fadil melambaikan tangannya, “Masuk, Jang! Kenalin, ini dokter Vibi. Beliau kepala personalia di sini.” 

“Selamat pagi bu dokter…” 

“Pagi… Silahkan duduk mas…” 

Ujang mengambil kursi di sebelah Fadil yang berjarak cukup jauh. 

“Mas Ujang, sudah tau ya apa pekerjaannya…” Dr. Vibi ini sepertinya ngga suka basa-basi. Baru juga Ujang menaruh bokongnya dia sudah membuka mulutnya. 

“Eng… su..sudah Dok…” 

“Oke, jadi gini mas Ujang… Tugas mas Ujang nanti adalah membersihkan wing khusus untuk pasien Covid ya. Mas Ujang sayangnya akan bekerja sendirian… Petugas kami yang sebelumnya mengundurkan diri. “ 

“Oooh…” ucapnya lirih. 

“Jadi, mas Ujang bekerja 14 hari full tanpa libur, lalu isolasi mandiri 14 hari, dan masuk lagi setelah isolasi mandiri. Kami juga akan melakukan swab di akhir hari ke 14, dan sebelum mas Ujang masuk di periode 14 hari berikutnya. “

Mata Ujang terlihat penuh tanda tanya sementara mata Fadil terlihat tersenyum, “Tenang aja, Jang.. Swab gak sakit kok… gue juga begitu, tiap 2 minggu sekali kami semua di sini di-swab.”

“Oooh gitu…” 

Lalu Dr. Vibi menjelaskan mengenai gaji, tunjangan dan semua uraian pekerjaan yang harus ia lakukan. Tanpa berpikir panjang, Ujang menerima tawaran itu. Gajinya memang tidak terlalu besar, namun setiap kali Ujang melalui masa isolasi mandiri di rumah, ia mendapatkan tunjangan harian yang cukup baik. 

Pertemuan limabelas menit yang membuahkan pekerjaan baru untuknya membuatnya sangat bahagia. Ambu dan Abah adalah yang pertama dihubunginya, mengabari mengenai hal ini. 

Segera setelah pertemuan itu, Ujang menemui Andri, salah satu staf dr. Vibi dan menerima seperangkat alat pelindung diri. Ia menerima dua set pakaian putih berbahan parasut, sepuluh buah masker khusus, sepuluh sarung tangan lateks, sepatu safety boots warna oranye, dan face shield. Andri memberikan petunjuk lebih detil tentang apa saja yang harus Ujang lakukan setiap hari. Tugasnya adalah menyapu dan mengepel lantai bangsal khusus infeksi Covid-19 dan juga kamar mandinya dua kali sehari, pagi dan sore, ia juga bertanggungjawab merendam dan menjemur sprei yang digunakan pasien, serta membantu para perawat menjalankan tugasnya. 

“Kapan saya mulai kerja, Pak?” tanyanya pada Andri. 

“Mas Ujang bisanya kapan? Sekarang bisa? Kalau bisa, nanti setelah dari sini, silakan mencuci tangan menggunakan sabun, itu di washtafel yang di situ, di situ juga ada sabun. Untuk mengeringkan tangan, silakan ambil handuk di lemari yang ada di sebelahnya ya. Setelah selesai, handuknya ditaruh di keranjang itu ya Mas. Ooiya, itu nanti juga jadi tanggungjawab Mas Ujang ya… Merendam dan menjemur handuk bekas pakai yang ada di keranjang itu. Kalau sudah, silakan ke ruang ganti, dan pakai baju APD ini ya Mas. Pakai dulu kaus kaki, sarung tangan, lalu baru kenakan APD, sepatu boots, dan pasang masker dan face shield ya Mas. Awalnya memang agak gerah, tapi lama-lama juga terbiasa. Maskernya ganti setiap 4 jam ya Mas. Sarung tangannya ganti setiap kali mas Ujang selesai bekerja, jadi sehari bisa lima kali ganti sarung tangan ya Mas. Nanti kami akan sediakan semua. Jam istirahat biasanya jam 12, silakan dibuka saja APD-nya, dan mas Ujang mandi dulu ya baru istirahat. Lamanya jam istirahat 1 jam, setelah itu, mas Ujang kerja lagi dan menggunakan APD yang berbeda. APD yang tadi pagi, silakan direndam dan dijemur, untuk dipakai besok pagi ya Mas. Mohon untuk tidak membawa pulang APD dan semua perlengkapan itu ya Mas, kami sangat menjaga agar tidak terjadi infeksi silang.” 

Ujang manggut-manggut mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Andri. Jadi, dia akan bekerja seorang diri di bangsal khusus ini. Jujur saja, ada rasa takut yang tiba-tiba menyergap. Kalau dia tertular, bagaimana? Siapa yang akan menjaga Abah dan Ambu, merawat dan mengasuh Hanifa? Tapi dengan cepat diusiknya ketakutan itu. Menafkahi mereka menjadi suntikan semangat terbesar untuknya, terlalu besar hingga bisa menaklukan rasa takutnya… 

***

Ujang baru selesai membersihkan kamar salah satu pasien yang meninggal semalam saat ada seorang perempuan muda menghampirinya. Perempuan itu berperawakan sedang, berambut sebahu. Ia mengenakan pakaian casual, kaus berwarna hitam dan celana jeans. Ia mendekati Ujang. 

“Mas, maaf, saya mau tanya… Barang-barangnya Pak Komar… yang meninggal semalam, dimana ya?”

“Maaf, mbak ini siapanya almarhum?” 

“Saya anaknya, mas…” 

“Oh… turut duka cita yang mendalam ya Mbak…” 

Mata perempuan itu terlihat sembab, sepertinya menangis cukup lama. Siapa yang tak sedih bila orangtua tercinta meninggal dunia… batin Ujang dalam hati. 

“Barang-barang pasien yang meninggal biasanya disimpan pak Andri, Mbak. Kalau mbak mau ambil, langsung saja ke kantornya ya Mbak. Beliau di Lantai 5. “

“Makasih ya Mas…”ucapnya sembari menganggukkan kepala,”Mas kerja sendirian?” 

Ujang menganggukkan kepalanya. 

“Setiap hari?”

Lagi-lagi Ujang menganggukkan kepalanya. 

“Kenapa sendirian mas?” 

Ujang tersenyum dari balik masker, “Ngga ada yang mau, Mbak…” 

“Oooh…” Perempuan itu seperti memerhatikan Ujang dengan lekat, “Padahal, mas pakai APD ya… harusnya tidak terlalu berbahaya ya Mas…” 

“Hehehe… harusnya ya Mbak. Tapi ya sampai sekarang saya sendirian…”

“Sudah berapa lama kerja di sini, Mas?”

“Baru… baru 3 bulan Mbak. Baru lulus masa percobaan… heheheh…”

“Wah selamat ya… oiya, saya ijin mau posting tentang mas ya… by the way, namanya siapa mas? Saya Kanna… “ 

“Ujang, Mbak…” 

Kanna mengatupkan dua tangannya, “Senang berkenalan dengan mas Ujang… Terimakasih ya sudah membuat Ayah merasa nyaman di hari-hari terakhirnya ya Mas…” 

Ujang mengatupkan kedua tangannya dan menganggukkan kepalanya, “Sama-sama Mbak… Semoga pak Komar mendapatkan tempat terbaik di sisiNya ya Mbak…. Insya Allah husnul khotimah, Mbak…” 

Pak Komar adalah salah satu pasien yang masuk ke bangsal ini tiga hari yang lalu. Kondisinya menurun dengan sangat cepat. Beliau masuk dengan kondisi sesak nafas, dan ternyata beliau memiliki kondisi diabetes. Tiga hari saja Ujang mengenal Pak Komar sebagai “pasien kamar Bougenville”. Dan semalam, ia dipanggil pulang untuk selamanya… 

 

***

“Ujaaaang….! Ujaaaaang….!” Teriak Ambu dari ruang tengah. Ujang terbirit-birit lari ke ruang tengah selepas sholat maghrib tadi. 

“Ada apa, Ambuuu..” 

“Taaah… tingali, jaaang! Ada kamu di tipi!” Ambu buru-buru menarik tangannya dan merangkulnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah televisi. 

Ujang mengernyitkan dahinya dan memerhatikan lekat-lekat layar televisi yang ada di ruang tengah. 

“… di tengah pandemi, selain para petugas kesehatan, ada juga peran penting dari para petugas kebersihan, seperti yang dilakukan oleh Ujang, satu-satunya petugas kebersihan yang bertugas di wing khusus pasien Covid-19 di Rumah Sakit Karya Husada. Berita yang pertama kali diunggah oleh Siti Kanna Dwiyani ini di akun media sosialnya mendadak viral dalam semalam… “

“Wah, Ayah viral!” komentar Hanifa dengan mata berbinar. 

“Eh kok piral sih neng?” Abah terlihat protes, “Maksudna piral teh naon? Kan ayah Hanifa baik-baik aja, ngga sakit… kok piral? Terinpeksi pirus gitu neng?” 

Hanifa tergelak, “Viral, Ngkiii… Ayah terkenal! Viral, bukan sakit, Ngki, tapi viral terkenallll…” 

Ujang tersenyum. Viral… Karena tidak punya akun media sosial, Ujang sama sekali tak mengetahui bahwa dirinya menjadi omongan banyak orang dalam semalam. Hari ini adalah hari ke dua-nya melakukan isolasi mandiri di rumah. Selama isolasi mandiri 14 hari, Ujang diwajibkan untuk tetap berada di rumah, tidak melakukan kegiatan di luar rumah, dan bersiap melakukan swab test kembali pada hari ke duabelas, atau dua hari menjelang ia mulai bertugas lagi. 

Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi, Darmo. 

“Jaaang!” teriak Darmo di seberang, “Wiiih kamu terkenal, Jang! Aku lagek nonton tipi ki! Hebat kowe, Jang!”

“Makasih Mo! Aku malah baru tau kalau ada pemberitaan ini. Ambu tadi yang ngasih tau…” 

“Makanya, Jaaang… punya akun fesbuk dan ai ji dooong… ben gak ketinggalan berita!” Darmo tergelak. 

Ujang terkekeh mendengar tawa Darmo yang khas itu. “Ya nanti deh buat…”

“Eh Jang, tapi kowe betah to kerjo nang kono?” tanya Darmo. 

“Insya Allah betah Mo… Kerjaannya menyenangkan, tapi memang agak gak betah sama gerahnya pakai baju APD itu, Mo. Panas!”

Darmo kembali tergelak, “Wis panas, akeh obah maneh yo, Jang!” 

Ujang tergelak mendengar ucapan sahabatnya itu. Darmo selalu berasumsi ia paham setiap kata yang diucapkannya dalam bahasa Jawa. Menurut Darmo, orang Jawa dan Sunda itu sebetulnya 11-12, hanya saja, cara baca aksaranya berbeda. 

“Syukur Alhamdulillah lek kamu betah, yo Jang… Wis jan… rejekimu iku soko silite wong lara, Jang! Sing penting halal, yo, Jang!” 

Ujang tertawa lepas. Dalam hati Ujang berucap syukur yang demikian besar. 

Iya betul, rejekinya saat ini datang dari kotoran yang dibuang oleh para pasien di bangsal itu. Meskipun terlihat ‘hina’ dan mungkin sepele, tapi Ujang sangat menikmati pekerjaannya. Pekerjaan ini berhasil mengangkatnya dari jurang pengangguran, pekerjaan ini berhasil menafkahi Ambu, Abah dan Hanifa… 

Tidak hanya beroleh upah, ia juga kini beroleh banyak teman dan tentunya, penghargaan. 

Ia jadi belajar banyak tentang penyakit baru ini, dan menjadi sangat berhati-hati, terutama karena di rumah ada Abah dan Ambu yang sudah lansia. 

Kelak, bila penyakit ini berlalu, setidaknya Ujang bisa bercerita kepada cucu-cucunya bagaimana ia ikut berkontribusi dalam membantu penanganan wabah terbesar di abad 21 ini…