Rawindra

Rawindra

Ibu.

Siapa yang kamu sebut ibu ? Apakah wanita yang melahirkan dan membesarkan mu ? Atau wanita yang hanya membesarkanmu tanpa melahirkanmu ? Atau semua wanita paruh baya ? Atau Atasanmu ? Lalu kapan aku dipanggil ibu ? Apakah semua wanita adala ibu ? Iya semua wanita mungkin saja dipanggil Ibu oleh orang lain atau pasangannya. Tapi aku sangat mendamba dipanggil ibu oleh anak yang terlahir dari rahimku. 

10 Tahun pernikahan kami . Entah kebelahan bumi mana kami sudah berobat. Dari klinik ke klenik. Entah sudah seperti apa nyinyiran menyanyi sumbang ditelingaku. Sebenarnya kami baik- baik saja tanpa nyinyiran orang- orang. Sebagai orang bali anak adalah penting. Mungkin bagi semua pasangan anak memang penting. Tapi bagi kami orang bali yang percaya reinkarnasi  (lahir kembali) tentu anak amat sangat penting . Kenapa ? Sebagai tempat leluhur untuk reinkarnasi (lahir kembali) menebus dosa- dosa dari kehidupan sebelumnya . Aku percaya pada reinkarnasi tapi apa reinkarnasi hanya bisa terjadi pada satu garis keturunan ? Apakah reinkarnasi tidak bisa lintas keluarga ? Misalnya nanti aku bereinkarnasi pada keluarga si A yang notabene adalah orang lain yang juga percaya pada reinkarnasi ? 

Kalian pernah dengar cerita jaratkaru ? Jaratkaru adalah pertapa sakti pada jamannya yang mendapat berkah dapat berkunjung ke alam lain selain alam dunia ini. Tersebutlah suatu hari Jaratkaru pergi ke Ayatanasthana tempat di antara surga dan neraka. Lalu dilihatlah orang tuanya yang telah meninggal tergantung pada bambu dengan kepala mengarah ke bawah dengan kaki diikat keatas dan dibawahnya jurang dalam menuju ke neraka. Dan seekor tikus tinggal di dalam buluh bambu yang setiap hari mengerat buku batang. Dan bertanyalah jaratkaru penyebab mengapa mereka seperti itu ? Dan penyebabnya adalah karena sijaratkaru tidak menikah dan tidak berketurunan. Sepulangnya dari Ayatanasthana sudah pasti jaratkaru mencari seorang yang mau menjadi istrinya. 

Sepenting itulah keturunan selain nanti diharapkan akan menjaga kami orang tuanya disaat renta. Kenapa diharapkan karena kita tak tau pasti apa yang terjadi dimasa depan . Sebaik- baiknya berusaha menjadi orang tua belum tentu susu tidak terbalaskan tuba ? Bukankah begitu ? Karena kita sebagai orang tua yang mengharapakan seorang anak, bukan sebaliknya .Maka kita hanya berkewajiban pada anak untuk merawat dan membesarkannya dengan sebaiknya tanpa membebankan tanggung jawab pada anak untuk kemudian merawat kita saat tua dan renta. Itu namanya minta balas budi ? Sejak kapan budi minta dibalas ? hehehhe

Ditengah serbuan nyinyiran mertua, orangtuaku ,keluarga dan para tetangga. Beruntungnya aku mempunya suami yang pengertian dan tidak melulu menyalahkanku atau menekanku. Begitupun aku. Tanpa kehadiran buah hati pun kehidupan berumah tangga kami sudah sangat bahagia. Hampir tak pernah ada pertengkaran. Kami sudah seperti sahabat yang tidak menuntut satu sama lain untuk berubah demi kepentingan masing- masing. Tidak ada kata talak, tidak juga ada kata- kata dimadu. Mungkin karena setiap pagi kami minum madu asli untuk menjaga kesehatan. Padahal sudah sebegitu pedulinya kami pada kesehatan.

Demi memenuhi target anak tersebut sebelum kami semakin senja. Suamiku yang seorang akuntan memilih resign dari pekerjaannya. Meskipun secara nominal gajih suamiku jauh diatasku yang seorang perawat disebuah RSUD. Tapi karena aku PNS makanya dia yang mengalah toh nanti dia masih bisa bekerja kembali ditempat nya sekarang karena dia kesayangan Ownernya. Atau bekerja ditempat lain.  Akunting hampir diperlukan disetiap perusahaan meskipun kedepannya entahlah. Sebagai pasangan intensitas kami bertemu memang jarang karena kesibukan masing- masing .Suami ku sering pulang hingga larut. Entah berapa Milyard keuntungan perusahaan yang dihitungnya. Kalau aku dinas malam, dia yang tak lembur. Atau kalau aku tak dinas malam ,dia yang lembur. Memiliki suami akuntan memang penuh perhitungan. Uang masuk dan uang keluar harus pada posnya. Tapi memiliki anak tentu tak bisa dihitung dengan ilmu akuntasi. 

Adakah perjuangan yang sia- sia ? Tentu tidak. Pasti Tuhan berbelas kasih pada mereka yang tak mengenal putus asa, berusaha dengan sungguh- sungguh dan tulus. Pilihan terakhirku demi mengandung adalah dengan mengikuti program bayi tabung atau  fertilisasi in vitro (IVF). Walaupun kami bukan pasangan yang kaya raya, dan betapa proses menyakitkan yang harus aku jalani .Berkali-kali suntikan setiap hari. Bila jarum- jarum itu dikumpulkan mungkin bisa menghasilkan ratusan jarum suntik .

Ketika aku memulai program bayi tabung ini, dokter memberikan satu sampai tiga suntikan hormon setiap hari di paha atau perutku. Suntikan itu untuk merangsang produksi sel telur selama siklus menstruasi tunggal. Aku juga menyuntik diri sendiri dengan obat tambahan, yang mencegah ovulasi awal, sampai telur siap untuk diambil. Kemudian, setelah telur siap, suntikan lain diberikan pada ku untuk memulai ovulasi, mendorong telur dari indung. Lalu aku juga menjalani beberapa tes darah sampai akhirnya telur diangkat dengan menggunakan jarum yang panjang. Setelah mereka dibuahi, embrio ditransfer melalui kateter. Sesungguhnya, aku telah melakukan banyak pengorbanan untuk bisa memiliki bayi ini. 

Memalui persalinan caesar anak yang kami dambakan pun terlahir kedunia.  Seorang putra yang aku beri nama rawindra dari bahasa sansekerta yang berarti 'Cahaya Matahari" . Ya kehadiran nya adalah cahaya bagi kehidupan berumah tangga kami.