Ratapan Dan Kesurupan

Ini adalah cerita fiktif yang terinspirasi dari kisah nyata.

Ratapan Dan Kesurupan



Ibunda Minah meninggal saat dia masih berumur 6 tahun.
Hanya mbok Inah yang mengasuh Minah saat ayahnya bekerja setiap hari.
Saat Minah berumur 9 tahun, ayahnya menikah lagi.
Ibu tirinya bernama Tante Indah. Wajahnya indah. Tapi sayang hatinya tidak Indah.
Dia selalu marah marah.
Sejak mereka menikah, Tante Indah memulangkan mbok Inah.
“Tidak perlu pembantu, kita bisa mengurus rumah sendiri.” kata Tante Indah pada Ayahnya.
Ternyata yang dimaksud dengan kita adalah Minah sendiri.
Tante Indah selalu sibuk berdandan, bergosip dan berjalan-jalan dengan teman temannya.
Minahlah yang menjadi pengganti mbok Inah bebenah rumah.
Setiap hari ada saja yang membuat Tante Indah marah.
“Liat tuh masih ada bercak di piring. Gimana sih cuci piringnya nggak bersih!” gerutu Tante Indah.
“Lantainya masih kotor tuh, Pel lagi gih!”
“Ganti channel TVnya, aku mau nonton sinetron!” kata Indah saat Minah sedang asik nonton kartun kesayangannya. Tante Indah memindahkan channel ke sinetron horor kesayangannya.

“Ya udah cukup kerjanya hari ini, sebentar lagi ayahmu pulang, mandi gih!” kata Tante Indah setiap jam 5.
Di depan ayah Minah dia selalu manis, tapi saat ayahnya tak ada di rumah dia selalu membuat Minah menangis.
“Ayah, tante Indah marah marah terus!” kata Minah mencoba mengadu pada Ayahnya.
“Kamu nakal sih, makanya dia marah.” kata ayahnya.
“Kan ayah sudah bilang kamu harus panggil dia Bunda!” lanjut ayah.
“Minah nggak nakal kok Ayah!” kata Minah.
“Minah nakal, tidak mau belajar, maunya nonton TV terus!” tuduh Tante Indah, tiba tiba dia sudah ada di dekat mereka.
“Minah harus menurut sama bunda ya!” kata Ayahnya.
“Tapi Minah nggak nakal ayah, dia bohong!” kata Minah.
“Coba aja liat buktinya, sudah bikin PR belum hari ini?” kata Tante Indah.
“Kamu sudah buat PR, Minah?” tanya Ayahnya.
Minah menunduk, dia belum buat PR, karena seharian harus membereskan rumah.
“Belum ayah!” kata Minah
“Udah buat PR sekarang, jangan nakal, harus nurut sama Bunda!” kata Ayah.
“Tapi ayah, Minah belum buat PR sebab…..”, Minah mencoba menjelaskan.
“Sudah sudah jangan ribut, ayah lelah mau istirahat dulu!” potong Ayah.
Minah hanya dapat meratapi nasibnya diam diam di kamar.


“Rasanya aku tidak betah dirumah!” keluh Minah pada Arya, temannya yang tinggal di sebelah rumah.
Arya hanya tinggal bersama neneknya dan pembantu mereka mbok Ijah.
Orangtua Arya bekerja di Timur tengah.
“Kenapa kamu nggak ngadu sama ayahmu?” tanya Arya.
“Setiap kali aku mengadu, ayah tidak percaya, ayah lebih percaya dia!” kata Minah.
“Aku kangen Bunda, kangen mboh Inah” keluh Minah.
“Nih aku punya ice cream coklat!”, Arya memberikan Ice cream coklatnya.
“Kamu nggak makan ice cream?” tanya Minah.
“Nggak aku udah kenyang, buat kamu aja!” kata Arya tersenyum.
Arya memang selalu pintar menghibur Minah.
Tiap kali Minah bertemu Arya, dia selalu mengeluh tentang ibu tirinya.
Arya ikut sedih dengan keadaan Minah, tapi dia tidak bisa berbuat apa apa.


“Nek, tolong bilangin Tante Indah, biar jangan galak galak ke Minah!” pinta Arya ke Neneknya.
“Iya iya, nanti Nenek bilangin.” kata Neneknya.
Tapi setiap kali bertemu Indah, neneknya selalu lupa.
Arya menarik kain neneknya.
“BILANGIN nek!” bisiknya.
“Iya iya” kata neneknya.
“Bu Indah, jemuran saya ada yang ILANGIN!” kata neneknya.
“Aduh nenek, kok malah bilang gitu sih?” bisik Arya.


“BILANGIN nek!” bisik Arya besoknya, ketika Indah lewat di depan rumah mereka lagi.
“Bu Indah, sekarang banyak ANGIN ya!, hati hati masuk ANGIN!” kata neneknya.

“Bilangin jangan GALAK GALAK, nek!” bisik Arya, keesokan harinya lagi.
“Bu Indah, jangan suka makan SALAK ya!” kata neneknya.

Akhirnya Arya menyerah minta tolong neneknya yang sudah mulai pikun.
Arya berusaha minta tolong pembantunya mbok Ijah.
“Aduh jangan den Arya, Mbok Ijah takut, nanti kalau dia marah gimana?” kata mbok Ijah.
Berkali-kali Arya berusaha membujuk mbok Ijah membantu menegur tante Indah. Tapi mbok Ijah selalu menolak, takut sama Tante Indah.
Arya sedih tidak bisa membantu. Cuma bisa menghibur Minah.

 

“Masakan sayur asem kamu nggak enak!, Ayo masak yang lain lagi. Aku nggak mau makan sayur itu!” bentak Tante Indah.
“Masak sendiri!” Jerit Minah sambil melotot. Matanya merah.
Tante Indah menampar muka Minah.
“Anak kurang ajar!” bentak Tante Indah.
Tapi Minah tidak menangis kali ini. Minah tertawa terbahak-bahak dengan suara keras.
Seperti bukan suara anak perempuan kecil, Tapi suara berat kakek-kakek.
Minah mengeram seperti binatang. Mengaum seperti harimau. Badannya bergetar kejang-kejang. Diselingi tawa cekikikan seperti kuntilanak.
Tante Indah  mulai bingung. Ada apa dengan Minah?
“HAH, Awas kamu ya! Jangan berani berani menganggu anak saya!, Nanti aku cekik kamu!” kata Minah dengan suara berat. Kali ini suaranya berubah lagi seperti suara nenek nenek.
Lalu Minah menari-nari sambil tertawa kekikikan.
Minah melempar mangkuk berisi sayur asem ke muka Tante Indah.
Tante Indah yang basah terkena sayur asem, naik pitam. Tapi sekaligus ketakutan.
“Siapa kamu?, Minah, kamu kesurupan ya Minah?” tanya Tante Indah.
“Saya Bundanya Minah, saya tidak rela kamu menganiaya anak saya!” kata Minah dengan suara yang berbeda lagi.
“Oh, maaf ,maaf, saya tidak akan marah marah ke Minah lagi, saya janji!” kata tante Indah.
“Awas kalau kamu mengingkari janji kamu!, Saya akan datang membalas dendam!” kata Minah dengan suara mengerikan.
Tante Indah ketakutan hingga mengompol.
“Iya saya janji, tolong jangan ganggu saya lagi!” pinta tante Indah.
Lalu Minah tergeletak pingsan di lantai.

Ketika Minah membuka matanya, Tante Indah membawakan Tongseng ayam kesukaannya.
“Ini makan Tongseng kesukaan kamu Minah!” kata tante Indah sambil tersenyum.
“Kalau sudah habis, ada kue coklat buat penutupnya.” kata Tante Indah.
Sejak saat itu Tante Indah berubah.

 

“Ide kamu memang genius Arya!’ kata Minah.
Arya tersenyum senang.
“Sejak aku pura pura KESURUPAN, Tante Indah jadi baik. Aku tidak pernah disuruh beresin rumah lagi. Aku juga sering dikasih makanan kesukaanku.” kata Minah.
"Makasih ya Arya, Untung kamu kasih ide pura-pura KESURUPAN!"
"SIRUP PANDAN?, nenek mau juga dong minum sirup pandannya!" kata Neneknya Arya.
"KESURUPAN nek!, bukan SIRUP PANDAN!" kata Arya.