Rantauku Mengungu Tiba-tiba

Rantauku Mengungu Tiba-tiba
Foto oleh Jens Johnsson dari Pexels

Televisi menayangkan adzan Maghrib 
berlomba dengan speaker masjid. 
Telur dadar yang kumasak hancur dan 
gosong. Aku rasa di luar ada semburat jingga di langit yang membuat burung gagak menggigil kedinginan.

Dari jauh angin membawa wabah hitam. Ancaman untuk orang, tanaman dan hewan bahkan bakteri dan kuman. Selimut-selimut dibakar di halaman sekolah dan selokan-selokan disemprot dengan cairan pemusnah hama berbau Coco Channel.

Malam hari orang-orang sibuk menghitung pahala. Kertas dan pulpen menjadi sibuk bekerja. Suara-suara sembunyi, takut ditangkap polisi.

"BUKAN VIRUS, TEROR ATAU PENYAKIT YANG MEMBUNUHMU. TAPI KETAKUTAN DAN KEKHAWATIRANMU SENDIRI!". Begitulah anak-anak sedang menghafalkan yel-yel untuk diteriakkan pada demonstrasi esok hari.

Malam masih panjang dan membosankan. Debu-debu yang kering masih asyik berterbangan. Televisi sudah tak ada siaran dan tak ada suara adzan.

Tapi di kepalaku terus menggema "hayya lal falaaaaah"

Cilacap, 8 Maret 2020