RAHASIA PERCIKAN PARFUM

Parfum bukanlah sekedar menawarkan keharuman. Ada sensasi, persepsi, imajinas, personality hingga belief yang tersembunyi dibalik keharumannya. Biarkan semua itu tersembunyi atau ini saatnya digali.

RAHASIA PERCIKAN PARFUM

Enak Kali punya Kantor di seberang Mall.Tiap waktu Kau bisa ngeMall” itu komentar pertama Temanku saat Aku menjelaskan kantorku di Jakarta. Ada benarnya juga kalo membandingkan antara Kantorku yang dikelilingi Kampus dan Mall dengan kantornya yang dikelilingi oleh persawahan dan pasar. Tapi benarkah demikian? Ah engga’juga, karena Aku bukanlah orang yang suka ngeMall.

 

Saat Temanku melakukan perjalanan Dinas ke Jakarta, aku berniat untuk mengajaknya jalan-jalan ke Mall yang pernah kuceritakan. Selain untuk bisa ngobrol lebih santai, Aku juga ingin menemaninya belanja oleh-oleh untuk keluarga. Aku sangat paham kebiasaan Temanku ini yang sangat suka membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di kantor. Kebiasaan ini agak berlawanan dengan kebiasaanku yang kurang suka membeli oleh-oleh, meskipun itu pesanan langsung Istriku.

 

Salah satu hobby temanku adalah membeli Parfum. Yaa, Iya seorang kolektor parfum. Ia pernah membelikanku Parfum dari Paris, ketika Ia mengikuti Benchmark ke beberapa Negara di Eropah. Bang Ipoel, begitu panggilannya. Kalo sudah cerita soal parfum, sebaiknya Kita lebih baik jadi pendengar dibanding yang jadi bercerita. Kenapa? Ia memiliki banyak katalog parfum dan sangat ngelotok tentang nama, asal muasal dan sejarah dari parfum tersebut.

 

“Cari Parfumlaaah” itu permohonannya ketika aku tawarkan untuk ngeMall selesai Ia menyelesaikan pekerjaannya.

“Siaaaap, dengan senang hati” jawabku seperti biasa.

 

Karena antara Kantorku dengan Mall hanya dipisahkan oleh Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), maka Kami cukup berjalan kaki menuju ke Mall itu. Kami melewati Halte Bus dan terlihat banyak kerumunan orang menunggu kedatangan Bus. Kemacetan di Sore itu terjadi seperti biasa, maklum jam pulang Kantor. Terlihat kesibukan pada beragam moda transportasi, ada OJOL yang sedang memanggil pelanggan diantara kerumunan, Taksi menurunkan penumpang, Bus Kota lagi ngetem dan Antrian orang menunggu Busway di Halte seberang.

 

“Kau pulang jam berapa?”tanya Bang Ipoel dengan dialek kental yang jadi ciri khasnya.

“Aku pulang setelah Sholat Maghrib” jawabku sambil berjalan menuju tangga turun JPO.

“Tiap hari gitu?”lanjut tanya Bang Ipoel seperti keheranan.

“Engga kok” jawabku santai.

“laennya gimana?” Ia mencecar penasaran.

“Terkadang setelah sholat Isya. Tergantung kondisi lalu lintas” kataku sambil menahan senyum.

“Engga Capek?” tanya Bang Ipoel sambil geleng-geleng kepala.

“Ya begitulah, Enjoy Jakarta”Jawabku sambil tertawa kecil.

 

Kami berjalan menuju ke Mall dan saat masuk ruang utama Mall, “Nyessss”terasa pendingin Mall merasuk keseluruh tubuh. Ini salah satu yang aku suka kalau ke Mall, selain ada beberapa view lain yang juka menjadi favoritku. Sambil berjalan, Aku melirik ke Bang Ipoel untuk mencari tahu apa yang sedang Ia pikirkan. Aku menjelaskan beberapa tempat yang mungkin menjadi tujuannya dan mempersilahkan Bang Ipoel untuk menentukan.

 

“Konter parfum dulu aja, yang laen itu gampanglah” jawabnya mantap saat kutanya tempat pertama yang kami datangi.

“Kamu ini ga berubah. Kemanapun pergi, tetap harus ke konter parfum. Ga bosan apa?” tanyaku memancing responnya.

“Oooooo, kau belon tau aja mejignya”jawabnya berargumen.

“Dimana sih daya Tarik Parfum itu?” Aku mengulangi lagi pertanyaan yang pernah kuajukan (mudah-mudahan Ia lupa).

“Sekarang Aku tanya. Kalo Kau pake parfum untuk apa?” Bang Ipoel bertanya balik.

“Yaaaa, biar Harum” jawabku sekenanya.

“Terus, Kau biasa beli yang mana? Eau Fraiche (EF), Eau de Cologne (EDC), Eau de Toilette (EDT), Eau de Parfum (EDP), atau Parfum?” tanya Bang Ipoel.

“Wuah, Akusih ga pernah tahu. Pokoknya wanginya OK, katanya tahan laman terus ada diskonnya. Langsung deal” Aku menjelaskanalasanku membeli dengan ringan.

“Kau kukasih tau yaa! Parfum itu banyak jenisnya, tergantung dari wangi dan tahan lamanya. Jadi EF itu yang wangi ringan dan daya tahannya kira-kira 1 jam, EDC lebih wangi dan tahan 2-3 jam begitu seterusnya. Terakhir yang Namanya Parfum itu wanginya  tahan 12 Jam dan harganyapun paling mahal” Bang Ipoel menjelaskan layak seorang expert.

“Kalau Saya cocoknya yang mana Bang Iphoel” lanjut aku nanya sekaligus konsultasi.

“Yang kau carikan fungsi dan harga! Nah, Itu jawaban kastamer segmen D, yaaaaa paling jauh Segmen C-lah” kata Bang Ipoel menyimpulkan.

“Maksudnya Segmen C ato D itu apa Bang?” tanyaku penasaran.

“Biasanya pelanggan yang begini ada di Level Functional benefit” Bang Ipoel menjelaskan pake bahasa Marketing.

“Functional benefit?” Aku berusaha untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap.

“Seperti Alasan Kau tadikan, sekedar dapat sensasi Wanginya aja” jawabnya sambil berjalan menuju lantai konter parfum.

“Masak siiiih, tapi ga semua orang begitu khan?” Aku mencoba berdalih.

 

“Kau tengok itu, kerjaan Pramuniaga Parfum itu!” Bang Ipoel mengarahkanku untuk memperhatikan Pramuniaga sedang menawarkan parfum dengan menyemprotkan ke kertas tester dan meminta calon pembeli untuk mencoba.

“Kalo pelanggannya seperti itu, biasanya ada di segmen C bahkan D” kata Bang Ipoel lanjut menjelaskan.

“Terus kalau Ia berada di Segmen c atau D, terus kenapa?” tanyaku lagi.

“Harusnya Pramuniaga itu tahu apa yang dinginkan Pembil dan engga perlu ngasih sampel sebanyak itu” jawabnya sederhana.

Kami lanjutkan berjalan mengelili konter parfum lain. Aku mengamati prilaku bang Ipoel dan selama berinteraksi dengan Pramuniaga, terlihat memang Ia sangat menguasai perparfuman. Kami keluar dari konter parfum tanpa membeli satupun. Hal ini membuatku penasaran, tapi untuk bertanya rasanya agak enggan. Akhirnya aku ikuti saja Ia melangkah.

Akhirnya kami tiba disatu Toko Parfum yang disainnya sangat glamour dan diikuti oleh tampilan pramuniaga yang apik. Setahu Saya Toko ini menjual parfum yang berbasis tumbhan dan alam. Aku pernah baca kisah Pemiliknya yang mencoba meramu parfum dari tumbuhan langka di Hutan Amazon.

 

“Selamat Sore Pak, ada yang bisa dibantu”Sapa Mba Pramuniaga itu.

“Pengen lihat-lihat boleh mba”? balas Bang Iphoel santai.

“Ya silahkan Pak” Jawab Pramuniaga tersebut sambil meninggalkan Kami berdua.

“Bah! Parah kali!” kata Bang Ipoel sambil melotot ke arahku.

“Kenapa Bang Ipoel” tanyaku heran.

“Baru dibilang Cuma tengok-tengok aja. Eeeeh dianya langsung cabut!” sahutnya kesal.

“Mungkin biar Kita bebas lihat-lihat”jawabku menenangkannya.

“Manalah Aku bisa lihat, parfumnya semua tersimpan di lemari” lanjutnya senewen.

“Gampang! Khan Kamu tinggal pilih dan minta pramuniaganya ambilin, terus tanya-tanya. Udah beres khaaaaan” Kataku menjelaskan.

“Nahhhhh kalo gini jadi masalah. Salah satu kunci sukses menjual Parfum yang harganya langitan begini bukan cuma karena kualitas produknya!” saut bang Ipoel gass poll.

“Cara menjual itu jauh lebih penting dari Apa yang dijual” katanya menjelaskan kepadaku.

“Kalau Kau datang kesini Cuma mau cari parfum, terus pilih, beli, bayar dan langsung pergi.  Ngapain  Pramuniaganya didandanin pakaian mahal dan parfum yang juga mahal kek gitu” kata Bang Ipoel (agak kencang suaranya, jadi Aku agak risih juga mendengarnya).

 

Akhirnya Kami keluar dari Toko tersebut dengan tangan hampa. Untuk menenangkan suasana hati Bang Ipoel, Aku ajak istirahat makan sekalian ngobrolnya santai. Kami mencari eskalator dan naik ke lantai atas menuju Food court favoritku. Setelah menukarkan bebarapa lembar uang kertas dengan Koin, kamipun menelusuri konter makanan yang ada. Kalau makan malam biasanya tidak seramai makan siang. Umumnya Mereka yang nongkrong di FoodCourt ini adalah orang-orang yang menunggu kemacetan lalulintas reda.

 

“Memakai Parfum itu bagian dari unjuk kepribadian”kata Bang Ipoel (ternyata belon selesai).

“Unjuk kepribadian?” tanyaku.

“Iya, Ketika kita mencium bau parfum seseorang, Kita tidak sedang mengkonsumsi bau yang Ia tawarkan. Tetapi Kita sedang menikmati sensasi wewangian yang mampu menciptakan persepsi, imajinasi, personality hingga pada belief si Pemakai” Bang Ipoel lanjut menjelaskan.

“Terus apa hubungannya dengan prilaku pramuniaga tadi” Aku mencoba mendapatkan lesson learnt dari kejadian barusan.

“Ajaklah calon pembeli itu ngobrol. apakah tentang kebiasaan menggunakan parfum, cari tahu aktifitasnya apakah lebih banyak di ruang terbuka atau tertutup, olah raga favorit, parfum yang ia sukai apakah aroma sporty, ceria atau sensual dan satu yang penting, mau pakai sendiri atau untuk hadiah?” lanjutnya lebih detail.

“Ribet aaamat yaaaa” jawabku memberi alasan.

“Ah macam mana Pulak kau ini. Kalo jualan parfum itu niatkan membantu Pembeli ningkatin penampilan dan rasa percaya diri. Bukan sekedar menawarkan wewangian. Karena intinya pake parfum itu untuk memenuhi kebutuhan psikologis” Kata bang Iphoel sambil menyantap Ikan bakar kesukaannya”.

“Nah kalo pelanggan seperti ini biasanya berada di Segmen B, A dan A+” katanya menjelaskan.

“Bedanya apa bang Iphoel?” Aku kembali bertanya.

“Mereka itu pelanggan yang membeli karena ingin memenuhi kenyamanan, Percaya diri, penampilan, yaa orientasinya adalah aktualisasi diri. Makanya menghadapi pelanggan seperti itu harus memberi perhatian lebih, fokus dan bisa menawarkan pengalaman membeli yang OK. Mereka umumnya pelanggan berkantong tebal, harga engga masalah dan senang dikasih cerita-cerita tentang kepribadian. Seperti yang Aku bilang tadi. Untuk menghadapi Mereka, maka Cara menawarkan jauh lebih penting daripada apa yang ditawarkan” kata Bang Ipoel sambil menyelesaikan makan malamnya.

 

Sehabis makan malam Aku antarkan Bang Ipoel ke Hotel tempat Ia menginap, karena esok Pagi ia harus kembali Sumatera. Satu lagi perjalanan waktu yang apik baru kulalui. Hanya dari beberapa percikan Parfum, Aku mendapatkan sebuah  keakraban, pengalaman dan cerita yang eksotik. Hebat!!!

 

Relax at home, 03-10-2020