Rahasia Dalam Kotak

Rahasia Dalam Kotak

Dibutuhkan kekuatan hati yang besar untuk masuk ke kamar Ibu, tapi pagi ini tiba-tiba Senja sudah duduk di atas kasur yang rapi dengan seprai batik lembut itu. Diusapkannya tangan hingga menyusup masuk ke bawah bantal yang terasa dingin dan sejuk. Ini adalah kebiasaan Senja dari kecil.

Sambil tersenyum diresapinya sensasi dingin di tangannya dan hidungnya puas mencium aroma wangi melati yang juga menjadi kebiasaan Ibu, memetik bunga melati lalu menebarnya di setiap pojok ruangan termasuk kamarnya.

Ini adalah wangi kesukaan Senja, seperti tak pernah bisa puas untuk meresapi aroma wangi ini. Lalu dibaringkannya tubuh mungilnya di atas kasur Ibu. Meringkuk kaku seperti bayi, tak ingin merusak kerapian tempat tidur Ibu. Sudah 1 minggu Ibu dirawat di ICU karena koma. Terjatuh di kamar mandi mengakibatkan pembuluh darah di otaknya pecah.

Sudah seminggu pula Senja tidak pulang karena menemani Ibu. Tapi pagi ini setelah Bude Marni datang dari Semarang maka bergantian Senja pulang untuk istirahat di rumah. Niat hati ingin istirahat tetapi entah apa yang membawanya masuk ke kamar Ibu. Seperti mencari sesuatu, matanya menyapu setiap sudut kamar. Maka diputuskannya memulai membongkar laci.

Ada 4 laci lemari di kamar Ibu. Semua dibongkar tanpa ada hasil yang berarti, lalu dibukanya lemari pakaian Ibu. Tersenyum dia menatap lemari yang penuh berisi  pakaian tersusun rapi sesuai jenisnya. Ternyata Senja mewarisi kerapian dari Ibu yang selalu marah bila susunan pakaian bergeser, hati-hati saat mengambil pakaian agar tak jatuh dan berkerut. Seharusnya dia berterima kasih untuk sifat baik yang diturunkan padanya.

Pelan-pelan Senja meraba bagian belakang susunan pakaian Ibu, di bagian atas ia tidak menemukan apapun kecuali beberapa nota pembayaran mini market, nota pembayaran listrik dan PDAM yang warnanya sudah memudar kekuningan. Ada beberapa undangan yang disimpan Ibu. Entah mungkin karena bentuknya yang unik, warna yang disukai Ibu atau mungkin dari beberapa sahabatnya yang sangat disayanginya.

Berpindah ke bagian tengah lemari, hal yang sama dilakukan Senja, tetapi tetap tidak menemukan apapun yang berarti. Setengah putus asa, Senja berjongkok untuk menyisir bagian bawah lemari. Tangannya menggapai dan merasa telah menyentuh sebuah kotak.

Darahnya berdesir, ada kilatan di matanya yang membimbingnya untuk mengambil kotak tersebut maka dikeluarkan seluruh kain koleksi Ibu dari dalam lemari agar mengambil kotak itu menjadi lebih gampang.

Benar saja, tampak kotak bekas sepatu berada di dalam lemari itu. Ada raut kecewa di wajah Senja, sebelumnya dia berharap menemukan sesuatu. Entah itu berupa kotak perhiasan beludru indah atau kotak kayu yang berukir klasik, bukannya kotak bekas sepatu.

Senja duduk bersila di lantai, mulai dibukanya kotak sepatu itu. Tampak amplop putih yang tersusun rapi di dalamnya.

Seluruh amplop itu tanpa alamat pengirim dan alamat tujuan, tetapi semua tertutup rapat dengan lem yang sudah mengering.

Semua isi kotak ia sebarkan di lantai, seperti menemukan harta karun. Dengan antusias dipilihnya satu amplop secara acak. Penasaran dengan surat tanpa tujuan dan nama pengirim itu, maka dengan perlahan disobeknya amplop hingga dia menemukan lembaran dengan tulisan tangan milik Ibu. Bergetar dibacanya dalam hati.

 

Jogjakarta, 8 Juli 1995.

Koko Han, hari ini aku mengantar Senja masuk sekolah TK. Lucunya dia. Dia sangat bersemangat menenteng tempat minum dan bekalnya di dalam tas berbentuk kelinci. Rambutnya dikucir dua, di dadanya aku sematkan saputangan kecil berwarna pink.

Aku dan Senja berjalan kaki ke sekolah, harusnya Koko Han melihatnya.

Senja datang paling pagi, bahkan dia tak ingin bermain karena takut bajunya kusut. Kaus kakinya putih berenda, itu pilihan dia.

Pagi ini bekal sekolahnya roti tawar dengan meses coklat dan teh manis. Sejak pagi Senja sudah ribut ingin segera sampai sekolah. Padahal aku sudah bilang ini masih terlalu pagi.

Dimanapun Koko Han berada, semoga kebahagiaan ini sampai padamu. Karena aku yakin kita masih memiliki jiwa yang sama untuk saling merasakan walau terpisah jarak.

 

Salam kasih, dariku dan Senja.

 

Ada kerutan di kening Senja saat membaca surat pertama ini. Dipusatkan ingatannya tentang kejadian yang tertulis dalam surat itu. Ibu mengirimkan kabar pada orang yang bernama Koko Han. Siapa Koko Han ini? Apakah ia adalah ayah Senja? Mengapa Ibu berkirim surat padanya? Tetapi mengapa surat ini tidak dikirimkan melainkan hanya disimpan dalam kotak sepatu?

Berbagai pertanyaan yang muncul di benaknya, belum satupun terjawab. Bahkan Senja tak bisa memunculkan bayangan dirinya ke sekolah TK seperti yang ada di surat itu.

Dengan rapi dilipatnya kembali surat itu dan disisihkan. Lalu tangannya mengambil amplop yang lain, sama seperti sebelumnya, dibukanya amplop dengan pelan hingga tidak terkoyak lalu dibacanya surat itu.

 

Jogjakarta, 15 Agustus 2001.

 

Koko Han, hari ini aku menuliskan surat yang kesekian kalinya untukmu. Walau aku tahu ini akan bernasib sama dengan surat-suratku sebelumnya. Tidak akan terkirim padamu, tapi aku tetap harus menulisnya.

Koko, Senja harus aku masukkan ke pondok pesantren. Aku sudah bertemu dengan Ustadzah Aisyah untuk menitipkan Senja di sana. Maafkan aku, ini semua kulakukan demi kebaiakan Senja. Dia sudah semakin besar dan mulai memiliki banyak teman di luar rumah. Yang menjadi ketakutan aku adalah bila dia terluka batin dengan masa lalu kita.

Bahkan sampai hari ini, aku belum bisa mengatakan apapun tentang kehidupan masa lalu kita. Aku dihantui rasa bersalah pada Senja. Aku seorang ibu pengecut, yang tak pernah berani menghadapi kenyataan masa lalu. 

Koko Han, aku sangat tertekan, minggu kemarin Senja pulang dalam keadaan menangis karena diejek teman-temannya sebagai anak haram. Aku sangat marah atau lebih tepatnya aku terluka. Melihat air matanya, aku merasa hancur. Dengan terisak Senja bercerita bagaimana dia diolok teman-teman dan dijauhi karena dia tak memiliki ayah.

Apa yang harus kukatakan pada Senja? Apakah aku harus bilang bahwa ayahnya pergi ke luar negeri? Atau harus berbohong mengatakan ayahnya kerja di pulau seberang? Atau haruskah kubilang ayahnya menjelajah luar angkasa? Atau membohonginya terus dengan mengatakan ayahnya sudah mati?

Aku tidak ingin Senja terus merasa terasing dan berbeda dari temannya. Dimana temannya diantar ke sekolah oleh ayahnya, diajari naik sepeda oleh ayahnya, atau sekadar jalan bergandengan ke toko untuk membeli es krim atau bermain di taman. Ada kesedihan yang tak bisa diungkapkan bila kami berpapasan dengan  anak seusianya yang berjalan dengan ayah mereka.

Seandainya Koko Han melihat tatapan mata Senja, pastilah dunia Koko Han akan runtuh oleh kesedihan.

Memasukkan Senja di pondok pesantren bukanlah penyelesaian, aku tahu itu. Karena Senja sangat sedih dan marah padaku. Seminggu dia diam, tidak menegurku. Amarahnya meledak ketika aku memberi alasan bahwa ia harus masuk pondok untuk meningkatkan konsentrasi belajarnya. Aku tahu itu sangat menyiksa dia. Tapi tak ada cara lain untuk menyelamatkan jiwanya. Aku ingin melindungi dia dari cemoohan orang di kampung ini.

Pondok itu sangat jauh, jadi aku akan mengunjungi Senja sebulan sekali. Biarkan aku yang datang, agar dia tak usah pulang sampai lulus dari sana. Belum ada solusi untuk kelanjutan pendidikan Senja, tetapi demi pendidikannya aku akan terus berjuang.

Mesin jahit ini masih mampu aku gunakan untuk bekerja. Senja harus menjadi orang pintar, itu tekad aku. Dia harus sekolah di kota, dia harus bisa menjadi orang sukses demi masa depannya.

Koko Han, bila kamu bisa merasakan energiku ini, tolong bantu aku dalam doamu demi anak kita.

 

Salam rindu, dariku dan Senja.

 

Senja diam membisu dengan air mata yang menetes jatuh sebagian di kertas surat Ibu. Terbayang masa ketika ia sangat marah dan merasa Ibu telah membuangnya jauh. Memisahkan dia dengan rumah yang selalu menjadi benteng perlindungannya, menjauhkannya dengan Ibu yang selama ini sangat disayanginya, teman dia berbagi waktu dan cerita. Waktu itu, Senja merasa Ibu tak mencintainya lagi.

Selama di pondok, Senja menjadi anak pemurung. Bahkan tiap malam ia menangis, berkali-kali berusaha lari untuk pulang tetapi selalu gagal karena dia menyadari bahwa ia tak tahu jalan pulang. Ustadzah selalu membujuknya untuk membawa kesedihannya dalam doa dan dzikir yang panjang, tetapi  hati kecilnya memeberontak.

Setiap bulan pada hari Minggu kedua, dia selalu menunggu kedatangan Ibu ke pondok, saat itulah hari paling membahagiakan bagi Senja. Seharian dia akan menempel bersama Ibu, bahkan tidur di pangkuan Ibu. Mendengarkan cerita ibu tentang rumah yang sangat dirindukannya.

 Bahkan selama enam tahun belajar di pondok, Senja tak pernah pulang. Sekalipun ada kesempatan, selalu saja ada kesibukan yang melibatkan Senja dengan pondok di hari libur itu. Senja hanya tak tahu konspirasi antara Ibu dan Ustadzah agar Senja lupa akan rumah.

Sekarang barulah Senja mengetahui alasan Ibu memasukkanya ke pondok. Semua itu ibunya lakukan agar Senja tidak terluka saat menyadari bahwa dia adalah anak yang tidak memiliki ayah. Anak yang berbeda dari teman-temannya yang memiliki orang tua lengkap.

Masih ada beberapa surat lagi di hadapannya, diambilnya surat yang terasa paling tebal di antara surat yang lain. Rasa penasarannya menutupi rasa sedihnya saat ini.

Jogjakarta, 21 Januari 1990.

Koko Han ... ini surat pertamaku untukmu. Aku hanya ingin bercerita bahwa bayi di dalam kandungan ini sudah mulai bergerak. Sepertinya kaki mungilnya tak pernah lelah menendang perutku. Sepanjang malam dia selalu menemaniku, mungkin dia tahu bahwa aku tak bisa memejamkan mata.

Koko Han, aku sangat bahagia memiliki teman untuk menikmati malam, walau aku tahu Mama dan Papa masih marah dengan kondisiku saat ini. Aku merasa terasing di rumah ini, karena semua orang marah padaku. Sejujurnya aku tahu ini adalah kesalahan dan dosa yang harus kutanggung, tetapi mempertahankan bayi ini adalah tanggung jawabku.

Bagiamana mungkin aku yang sudah berbuat dosa harus melakukan dosa yang lebih besar lagi dengan menggugurkan kandungan ini?

Dengan tegas aku menolaknya. Aku tahu Papa marah sekali, masih sangat terasa bagaimana sakitnya tamparannya pada pipiku, bagaimana rasa pukulan kayu itu mendera punggungku, tapi semua itu harus kutahan. Aku tahu, itu adalah luapan emosi yang harus kutanggung karena kesalahanku. Tak sebanding dengan perbuatanku yang mencoreng nama baik keluarga dan merusak kepercayaan mereka.

Satu-satunya yang membuat aku kuat adalah keyakinan bahwa Koko akan datang ke rumah untuk meminangku, membawaku pergi jauh dari rumah ini. Dan sampai kapanpun aku akan tetap menunggu Koko datang menjemput seperti janji Koko.

Aku tahu Koko tidak pernah tahu kondisiku yang sebenarnya. Aku yakin keluarga Koko menyembunyikan ini dari Koko. Karena sudah lebih tiga kali aku ke rumah tetapi selalu diusir. Maka aku memutuskan untuk menghadapi ini sendiri apapun resikonya.

Jangan takut, aku akan selalu menjaga kandunganku, apapun taruhannya. Sudah banyak obat yang diberikan Mama untuk kuminum. Padahal aku tahu itu adalah obat peluntur kandungan. Semua sudah kubuang demi menjaga keselamatan janin ini. Karena sejak pertama kali aku mengetahui diriku hamil, entah mengapa ada desir bahagia dan syukur bahwa aku mengandung anak Koko.

Seperti malam ini, saat aku menulis surat untuk Koko, bayi ini terus bergerak. Sepertinya dia menari bahagia karena ini adalah caraku memperkenalkan Koko sebagai ayahnya.

Koko, katakan bahwa aku ini sudah gila, aku sudah tudak waras, aku membuang masa depanku untuk sesuatu hal konyol. Ah, entahlah!

Yang kutahu aku harus berjuang, aku harus kuat dan sehat. Seandainya Koko bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini, tolong berikan aku pesan. Entah itu melalui angin, atau apapun, bahwa Koko mencintaiku dan anak kita.

Mama sudah sedikit melunak, tiap hari diingatkannya aku untuk istirahat dan makan. Tetapi Papa masih marah, bahkan untuk menegur saja dia tak mau. Maka aku lebih memilih menghindar dan itu sangat menyiksa. Abang Ardy yang mau berbaik hati mengajakku mengobrol, bahkan membawakanku banyak buku untuk kubaca. Sekali waktu Abang mengajakku menyepi untuk mengobrol dan aku tahu itu usaha dia untuk mengorek segala info agar aku mengatakan siapa bapak dari janin yang kukandung ini.

Sebenarnya aku sudah akan mengatakan yang sejujurnya, tetapi mendengar ancaman Papa yang akan membunuh lelaki yang menghamiliku, maka kuputuskan untuk diam seribu bahasa. Cukup hanya aku dan Tuhan yang tahu. Bagaimana bisa aku mengatakan bahwa Koko adalah ayah dari bayiku? Bagaimana aku tega melihat keluarga besar yang sama kuatnya akan ribut berperang karenaku? Tidak! Aku telah putuskan untuk mengurung diri, diam menjaga rahasia ini demi kebaikan semua orang.

Bukankah diam atau berbicara, tamparan, pukulan dan makian akan tetap kurasakan? Jadi biarkan saja seperti ini. Aku bisa bertahan dengan segala kenangan yang kita alami. Aku bisa tersenyum bila mengingat hujan dan bau tanah basah yang sama-sama kita sukai. Aku memiliki kekuatan bila memandang cahaya lampu komidi putar di pasar malam. Aku selalu merindukan rasa manis gulali yang Koko belikan untukku.

Aku akan tetap mencintai Koko dalam semua kenangan, bahkan mahkota dari rumput kering yang Koko buatkan untukku adalah hal terindah walau kata orang itu adalah konyol.

Koko Han, aku berjanji tak akan mengatakan hal yang sebenarnya sampai kita berdua dipertemukan. Aku sudah terlanjur tidak mempercayai semua orang kecuali kamu. Seandainya kita masih bisa saling merasakan rindu, datanglah, aku menunggumu selamanya.

 

 

Surat ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu. Ada rasa sedih dan bangga pada wanita yang selama ini membesarkannya. Ada ungkapan terima kasih tak terhingga pada keteguhan hati Ibu yang rela dibenci dan disakiti oleh Kakek demi mempertahankan dirinya. Bagaimana bila seandainya Ibu adalah wanita yang rapuh? Yang tidak akan berusaha keras mempertahankan kandungannya?

Senja tidak akan pernah ada di dunia ini. Senja tidak akan pernah bisa hidup seperti sekarang ini. Bahkan dia tidak akan sanggup melakukan hal yang sama seperti ibu.

Erangan tertahan dan air mata yang membanjir adalah luapan rasa bersalahnya pada Ibu. Terngiang kembali bagaimana Senja selalu marah bila ingat ketika dia menjadi terasing dalam pergaulan karena dianggap anak haram. Selama ini semua itu Senja persalahkan pada Ibu, tanpa tahu yang sebenarnya , bagaimana sang ibu berjuang untuk hidupnya.

Ada bayangan saat ia marah dan mengatakan Ibu jahat, Ibu egois, hanya mau bahagia sendiri tanpa tahu bagaimana perasaan Senja di pondok yang sangat terasing. Ternyata bila saja Senja tidak patuh dengan bersekolah di kampung, pasti konflik batin akan hinaan dan cemoohan orang menjadi beban dan memupuk rasa bencinya pada Ibu lebih dalam.

Dengan Senja berada di pondok, paling tidak semua orang tidak pernah tahu apa yang terjadi di kampungnya. Itu juga yang menjadi alasan Ibu tak pernah mengijinkannya pulang sampai ia tuntas menyelesaikan sekolah di pondok.

Ada kerinduan yang membuatnya ingin memeluk Ibu, ingin mengucapkan maaf pada Ibu atas semua kelakuannya selama ini, ingin mengucapkan terima kasih pada Ibu untuk kekuatannya menghadapi kemarahan Kakek hingga mempertahankan dia dalam kandungannya.

Tak sampai di situ saja, dalam linangan air mata diambilnya satu amplop. Dibukanya kali ini dengan tergesa, seperti tak sanggup membaca apa yang dituliskan ibu.

Jogjakarta, 9 Oktober 2007

Ini adalah hari ke-27 bulan Ramadhan. Ini adalah Ramadhan ke 4 tanpa Senja. Maafkan Ibu, Nak. Ibu juga kangen ingin menjalankan puasa dan lebaran bersama kamu, tetapi sebaik-baiknya tempat untukmu adalah di pondok.

Hari ini Ibu sudah menjahitkan dua buah gamis cantik untukmu dan juga jilbab dengan warna senada. Ibu bisa membayangkan kamu pasti cantik mengenakan gamis ini. Insyaallah, tiga hari lagi kita berjumpa ya, Nak. Ibu akan ke pondok membawakanmu kue lebaran, dodol kesukaanmu, rengginang asin yang banyak agar bisa kau bagi bersama kawan-kawanmu, Ibu juga akan membawakan opor ketupat yang banyak dan sambal goreng hati kesukaanmu.

Anakku, Senja … maafkan Ibu yang hanya bisa memberimu bekal ilmu. Ibu tak punya apapun selain mesin jahit tua untuk mencari uang. Ibu hanya bisa melindungimu dari semua hal buruk dengan cara Ibu, Nak. Itu cara Ibu untuk menebus rasa bersalah Ibu padamu.

Suatu hari nanti, kau akan memahami kenapa sikap Ibu keras padamu. Di dunia ini, Ibu hanya memiliki kamu, Nak, jadi biarkan Ibu menjagamu dari luka perasaan karena hinaan dan juga dosa Ibu di masa lalu.

Satu hal yang ingin Ibu sampaikan, kamu adalah buah cinta, kamu adalah harapan Ibu. Demi apapun kamu adalah bukti cinta, Ibu sanggup menghadapi semua hinaan dan tatapan sinis dari semua orang asal jangan kamu yang menanggungnya. Maka Ibu minta tetaplah berjuang untuk masa depanmu, di sini Ibupun berjuang untuk hidup kita.

Jangan pernah merasa kamu tidak dicintai, sebab bilapun ayahmu tahu keberadaan kita dan tahu yang sebenarnya terjadi, dia pasti akan sangat mencintai kita dan berjuang mempertahankan kita apapun kendalanya. Karena Ibu sangat paham bagaimana rasa ayahmu terhadap Ibu, Nak. Jadi percayalah kamu adalah buah cinta Ibu dan Ayah.

Ibu akan mengabarkan ayahmu tentang perkembanganmu, Nak, walau Ibu tak tahu harus mengirimkan ke mana surat untuk ayahmu. Tetapi Ibu yakin kami masih memiliki kekuatan dan harapan untuk saling berbagi secara batin. Untuknya, Ibu akan terus setia menunggu sampai kapanpun ayahmu datang pada kita.

Tahun ini Ibu sangat bangga mendengarmu terpilih menjadi santri teladan, terima kasih untuk usaha dan semangatmu, ya, Nak. Ibu sangat rindu ingin memelukmu, ingin tidur sambil bercerita banyak padamu, ingin merasakan pijatan jemarimu pada pundak Ibu yang sudah sering sakit karena menjahit. Ibu juga ingin kau sanggul rambut Ibu agar rapi, seperti dulu Ibu selalu menyisir rambutmu bila kau hendak ke sekolah.

Senja anakku, maafkan Ibu untuk sikap keras karena Ibu ingin kamu menjadi anak kuat. Mungkin saat kamu dewasa nanti kamu harus berjuang sendiri, tanpa Ibu bisa mendampingimu menghadapi dunia. Ketika saat itu tiba, Ibu yang sudah renta hanya bisa duduk di atas sajadah, berdoa untukmu dan memohon pada tuhan untuk dosa yang telah Ibu perbuat dan sekaligus bersyukur karena Tuhan menitipkan kamu pada Ibu.

Besok saat lebaran kita berjumpa di pondok seperti biasa, semoga Ibu bisa mendengar suaramu melantunkan ayat-ayah indah itu. Ibu rindu mendengarkanmu mengaji.

Sudah malam, Nak, Ibu menuliskan ini karena Ibu sangat rindu padamu dan ayahmu. Hati Ibu kosong, hampa tiap memikirkan kalian berdua. Kamu sangat mirip ayahmu, wajahmu selalu mengingatkan Ibu pada ayahmu, pada senyum yang selalu jenaka bila mengoda Ibu, tawa yang selalu hadir saat kami saling bertukar cerita, lirikan yang selalu diberikan bila ayahmu tidak setuju dengan tindakan Ibu.

Tetapi sudahlah, hingga saat ini Ibu masih menjaga semuanya. Ibu masih sanggup berdiri sendiri tanpa ayahmu, jangan ragukan kekuatan Ibu, Nak, demi kamu Ibu sanggup melakukan apapun. Tekunlah belajar demi hidupmu kelak.

 

Ibu, yang selalu merindukanmu.

 

Kali ini tangis Senja lebih keras, setengah diremasnya surat yang ada di genggamannya. Ternyata Ibupun menuliskan surat untuknya yang tak pernah sampai padanya. Seandainya saja waktu bisa berputar, ingin Senja berada pada masa itu, di mana ia tak akan pernah protes dengan kedatangan Ibu mengunjunginya hanya sebulan sekali. Seandainya Senja dulu memahami bagaimana Ibu berjuang menjadi penjahit sendirian untuk mencukupi kebutuhannya makan, tak akan pernah ada cemberut dan ngambek pada Ibu.

Seperti ingin menghapus kenangan buruk akan sikapnya pada Ibu, digelengkan kepalanya berulang-ulang sambil menjerit. Ternyata ada rasa lega dalam keyakinan bahwa ia adalah buah cinta. Bukan seperti yang selama ini tertanam bahwa ia anak haram, anak di luar nikah, anak yang tak diakui, hingga dia memenuhi otaknya dengan berbagai skenario tentang asal-usulnya.

Bahwa ia adalah anak yang dibuang dan dipungut di tong sampah oleh Ibu, lalu dibesarkan oleh Ibu. Sekali waktu Senja berimajinasi bahwa ia adalah anak kutukan yang ditemukan di batang pisang, hingga tangisnya terdengar oleh Ibu dan Ibu merawatnya hingga sekarang, bahkan yang paling kejam ia adalah anak penjahat yang datang memperkosa Ibu hingga Ibu sangat membencinya dan membuangnya di pondok yang sangat jauh. Ternyata semua adalah rekaan yang salah, kebenarannya ia adalah buah cinta.

Mengetahui bahwa ia adalah buah cinta saja sudah membuatnya memiliki rasa percaya diri yang selama ini tak pernah dimilikinya. Tak peduli siapapun ayahnya, yang terpenting adalah Ibu sangat mencintai lelaki itu. Bahkan hingga rela menunggunya dengan setia hidup dalam kesendirian, merawatnya dengan caranya sendiri, melindunginya dengan cara yang dipilihnya sendiri, itu saja sudah cukup untuk Senja.

Sesak napas yang kini dirasakan Senja, sepetinya udara di kamar Ibu tak cukup lagi memenuhi rongga dadanya. Tetapi masih belum cukup baginya untuk membuka rahasia Ibu, maka perlahan diambilnya sepucuk surat lagi yang kali ini berbeda dari amplop yang lain. Warnanya lebih lusuh dan menguning

Di tangannya tidak ada surat tetapi dua lembar foto. Tampak pada lembar pertama foto banyak anak sekolah berdiri dengan latar belakang gedung sekolah yang diyakini Senja adalah sekolah Ibu. Diamatinya wajah-wajah di dalam foto itu, sepetinya ia mengenali sosok wanita cantik berkepang dua dengan mata bulat besar tersenyum di bagian tengah. Masih berseragam olahraga, tetapi matanya masih mencari sosok lain yang diyakini ada di antara wajah dalam foto itu.

Tampak seorang pria jangkung yang berdiri di pojok dengan pakaian olahraga. Wajahnya seperti wajah Senja, lengkap denga mata sipit, rambut lurus, dengan senyum yang sama dengannya. Iya, itu adalah ayah. Itu adalah ayahnya, lelaki yang dipanggil Ibu koko Han.

Koko dalam bahasa Cina adalah kakak lelaki. Ia dia adalah lelaki keturunan Tionghoa yang sangat dicintai Ibu, lelaki yang mampu membuat Ibu bertahan denga rasa setianya hingga renta, lelaki yang sudah menitipkan benih padanya tetapi entah pergi kemana. Lelaki yang tak pernah cela di mata Ibu, bahkan lelaki yang diam-diam diselamatkan Ibu dari amukan Kakek dan keluarga besar Ibu.

Di manapun Ayah berada, Senja bisa memahami bagaimana semua bisa terjadi. Hingga foto kedua berupa foto Ayah dan ibu yang masih tampak sangat muda. Duduk di bawah pohon rindang, Ibu tampak cantik tersenyum manja dan Ayah tampak sangat gagah, tampak dia menggengam tangan Ibu. Ini adalah jawaban dari semua pertanyaannya. Dari mana Senja menurunkan mata sipit, itu semua dari sang ayah, bersyukur dia memiliki perawakan mungil seperti Ibu kekuatan dan ketegaran jiwa seperti Ibu, hingga mampu membuatnya tersenyum di antara isak tangisnya. Didekapnya foto itu sambil berbisik, "Ayah Ibu, Senja kangen."

Sambil menagis, didekapnya foto kedua orang tuanya seolah Senja memeluk mereka berdua. Ini adalah bentuk perdamaian batin antara anak dan orang tua yang selama ini penuh dengan misteri.

Tangan Senja menjuntai ke lantai dan menggapai sepucuk surat lagi dari tumpukan surat yang masih belum dibacanya. Tanpa berpikir disobeknya amplop itu lalu perlahan dibacanya tulisan tangan Ibu yang sangat dihapalnya.

 

Jakarta, 23 September 2011

Koko Han, jangan kaget aku menuliskan surat kali ini dari ibukota, sudah tiga hari aku di sini, tinggal di kost Senja anak kita. Ternyata kamar kost ini sangat sempit, kamar yang berdempet- dempetan hingga hawa terasa sumuk sekali. Aku tak pernah membayangkan anak itu betah belajar dalam kondisi seperti ini.

Yang paling membanggakan adalah Senja akan wisuda besok, hari ini dia sedang gladi resik di kampusnya. Jangan kau tanya rasa hatiku, ada sedih dan bangga anak kita sudah berhasil menyelesaikan tanggung jawabnya tepat waktu. Itu saja sudah cukup untukku. Dia berhasil menjaga tanggung jawabnya tidak seperti aku, Ibunya.

Koko Han, kalau saja kamu ada bersama kami esok pagi, pasti akan terasa berbeda buat Senja. Aku sudah menjaganya untukmu, kalau suatu hari nanti kita berjumpa, aku akan mampu menengadahkan wajahku padamu dan keluargamu bahwa aku sanggup untuk hidup demi masa depan anakku.

Dalam segala keterbatasan Senja berjuang, tak pernah mengeluh kecuali merengek ingin dikirimkan rendang dan sambal olehku. Katanya masakan Ibu selalu terenak, masakan Ibu adalah obat rindu buat Senja dan untuknya akan selalu aku buatkan tanpa ada kata tunggu. Karena aku tahu dia sedang menyusun kehidupan untuk masa depannya.

Koko Han, terima kasih sudah memberi aku energi untuk membesarkan Senja. Suatu hari bila Tuhan sudah mau berdamai dan mau mempertemukan kita kembali, tolong peluk Senja dengan kasih karena ada kepingan kosong yang harusnya diisi oleh kasihmu, seorang ayah.

Maafkan aku, sampai hari ini aku masih menyimpan rapat-rapat kisah kita. Aku belum sanggup membukanya, aku belum sanggup melihatnya menangis oleh kesalahan aku, ibunya. Aku tak ingin melihatnya pergi dariku akibat dosa yang aku perbuat, aku tak ingin melihat jarinya menuding di wajahku, membalikkan semua wejanganku kepadanya tentang harga diri dan menjaga kehormatan. Aku belum sanggup melihatnya membenciku.

Biarlah aku masih menyimpan semuanya, biarkan alam yang menuntunnya untuk mengetahui kebenaran tentang jati dirinya. Mungkin saja saat itu aku sudah tiada, hingga aku tidak melihat semua kemarahan dan kekecewaanya pada aku, ibunya.

Sifat Senja adalah kombinasi kita berdua, matanya bila marah sama seperti matamu, mata itu jadi hilang bila dia tertawa. Aku selalu ingat sewaktu Senja kecil ia selalu merengek ingin mata besar bulat seperti Ibu, dia membenci mata sipit yang kau wariskan padanya. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.

Besok gadis kita akan diwisuda, dia akan memasuki gerbang baru dalam hidupnya. Kemarin dia berkata akan tetap bertahan di Jakarta sambil mencari kerja, sejujurnya aku lega dia berada jauh dari orang-orang yang tahu kisah masa lalu kita dan keberadaan Senja.

Aku berharap orang-orang sudah melupakan kejadian itu, tetapi siapa yang bisa menghilangkan kenangan buruk dalam otak? Bukankah kenangan buruk selalu bersifat abadi? Itulah yang terjadi aib, yang tak pernah bisa mereka lupakan dan aku ingin Senja jauh dari mereka yang mengetahui masa laluku.

Koko Han, aku masih sanggup menunggu, aku menyakini pasti ada hari indah untuk kita. Dan saat ini Tuhan sedang tertawa melihat kita yang berusaha tegar untuk menghadapi setiap kejadian. Dan akupun yakin energi kita masih sama, kita bisa saling merasakan apa yang kita rasakan sekarang. Hari ini aku bahagia untuk semua yang sudah terjadi.

Salam kasih, Ibu dan Senja

Bayangan hari wisuda terlintas di benak Senja, di mana dia dan Ibu menggunakan taksi ke auditorium kampus tempat wisuda. Semua memakai mobil pribadi bahkan mobil mewah adalah kendaraan yang tak aneh hilir-mudik di sekitar kampus, tetapi untuk ibu dan anak ini menggunakan taksi tidak mengurangi kebahagiaan mereka. Senyum dan tawa selalu mengembang di bibirnya, gandengan tangan tak pernah lepas dari tangan Senja. Hingga Ibu masuk sebagai tamu undangan dan Senja berada di posisi wisudawan.

Dari atas tribun Ibu sangat antusias memperhatikan anaknya berjalan di atas panggung, membungkukkan kepala saat rektor memindahkan posisi tali di toganya sebagai tanda sah telah menyelesaikan kewajibannya sebagai mahasiswa. Ibu menangis terharu untuk keberhasilan permata hatinya.

Semua kembali terkenang bagai putaran film di otaknya. Membayangkan kekuatan dan kegigihan Ibu untuk menyekolahkannya. Demi sebuah pembuktian cinta. Kini yang tersisa adalah rindu dekapan Ibu, rindu cerita Ibu tentang segala macam obrolan mereka, rindu omelan Ibu tentang disiplin dalam segala hal, bahkan Senja rindu belaian Ibu pada rambut dan punggungnya saat menjelang tidur.

Air mata dan sesak datang bersamaan. Dengan mata sembab, dimasukkanya semua surat dalam kotak sepatu kembali, walau tidak tampak rapi seperti semula. Masih ada beberapa surat yang belum terbaca, tetapi Senja yakin itu untuk Ayah yang tak akan pernah dikirimkan Ibu. Surat untuk Ayah yang mungkin saja sudah Ayah baca melalui kontak batin. Senja yakin karena cinta dan kesetiaan, orang tuanya pasti akan dipertemukan Tuhan.

Saat ini sudah tidak penting baginya, yang Senja inginkan adalah segera memeluk Ibu, membisikkan semua yang belum pernah diucapkan Senja pada Ibu, meminta Ibu untuk sadar agar Senja bisa merasakan pelukan Ibu lagi.

Berjanji mulai hari ini Senja akan hidup dengan jiwa yang baru, jiwa dengan keyakinan bahwa ia adalah anak yang diharapkan, anak buah cinta yang suci. Melupakan apapun tentang kesalahan masa lalu Ibu dan Ayahnya. Sejatinya setiap manusia pernah berbuat salah.

Sambil berbisik, dipejamkan matanya dan dengan lirih Senja berkata, "Ibu, tunggu Senja". Senyum menghiasi wajahnya dan bergegas menuju kamar untuk bersiap menjumpai Ibu dengan jiwa yang baru.

***

Senja duduk di samping Ibu menggengam tangan Ibu seolah ingin membagikan energi untuk Ibu. Sementara itu,  ia berbisik dengan lembut di telinga Ibu, “Ibu, Senja sudah tahu semuanya. Senja bangga menjadi anak Ibu. Senja ingin Ibu cepat sadar. Senja sangat membutuhkan Ibu .…” Dengan terisak, sang anak tetap berusaha untuk menyadarkan Ibu yang terbaring dengan berbagai macam selang di tubuhnya.

“Ibu, Senja mau berterima kasih karena Ibu sudah menyelamatkan Senja dan Ayah. Ibu hebat, Senja bangga punya Ibu yang kuat. Ibu, Senja juga sudah tau wajah Ayah seperti apa dan memang benar mata Senja mirip Ayah, rambut Senja juga seperti Ayah, kulit Senja juga seperti Ayah.” Genggaman tangannya pada jemari Ibu yang dingin semakin menguat.

“Ibu, Senja mau nemenin Ibu menunggu Ayah pulang, atau Senja bersedia mencari Ayah untuk Ibu. Ke manapun itu, Senja akan pergi.” Isak tangis itu terdengar pilu, dari seorang anak yang ingin menukarkan apapun demi keselamatan Ibunya.

“Bu, Senja tahu mengapa Ibu sangat mencintai Ayah, Ibu rela menghabiskan sekian lama waktu untuk menunggunya. Ibu hebat, Senja bangga punya Ibu yang setia. Ibu, Senja kangen pengin denger cerita Ibu, pengin telur dadar buatan Ibu, pengin tangan Ibu elus rambut Senja. Ibu, bangunlah demi Senja.”

Senja terus mengajak sang Ibu yang terbaring tak sadarkan diri. Berharap ada keajaiban yang membuat Ibu sadar kembali.

“Ibu, maafkan Senja, ya, selama ini suka marah. Senja sekarang sudah tahu bahwa Ibu mepertahankan Senja dengan menukar semua hidup Ibu. Senja bahagia mengetahui ibu sangat sayang pada Senja, Ibu tidak pernah membuang Senja tetapi Ibu menjauhkan Senja dari semua yang jahat, semua yang bakal bikin Senja sedih, semua orang yang tidak ingin Senja bahagia. Terima kasih Ibu, Senja sayang Ibu.”

“Ibu, sekali lagi tolong berjuanglah untuk kembali pada Senja, berjuanglah untuk sadar. Senja sangat membutuhkan Ibu di samping Senja. Senja ingin Ibu ada saat Senja menikah, saat Senja memiliki anak. Senja ingin Ibu ada di hari bahagia Senja. Ibu bangun, Senja ingin Ibu bangun.” Seperti tak ingin menyimpan semua beban, Senja terus mengajak Ibu berbicara, memohon pada Ibu untuk terus berjuang hidup.

Ikatan batin yang kuat antara ibu dan anak mampu menggerakkan alam bawah sadar Ibu bahwa ada seseorang yang sedang menunggunya untuk kembali, ada seseorang yang sangat membutuhkan dirinya berada di sampingnya, bahwa ada seseorang yang selalu mengharapkannya menjadi malaikat pelindung dan membutuhkan pelukan hangatnya. Itu saja sudah menjadi energi untuk membuatnya ingin kembali. Rasa hangat seketika menjalari tubuhnya yang dingin, jemari keriputnya memberi respon walau dengan gerakan yang masih sangat lemah.

Sementara Senja belum menyadari respon Ibu, dia terus saja menangis sambil berdoa agar Tuhan mengembalikan Ibu padanya, karena Senja sangat ingin balas membahagiakan Ibu. Di sudut mata Ibu yang terpejam, menetes butiran air mata sebagai bukti bahwa alam bawah sadar Ibu merespon.

Hatinya penuh kelegaan karena Senja sudah mengetahui semua kebenaran tentang hidup dan masa lalunya. Senja sudah bisa merangkai semua kepingan puzzle kehidupan masa lalu mereka dan menerimanya sebagai takdir. Tak ada yang lebih indah saat kita bisa berdamai dengan masa lalu dan berjuang untuk masa depan.