Pulang Malu Nggak Pulang Rindu

Mengapa banyak orang memuja senja? Apa yang diharapkan dari senja? Apakah mereka menganggap senja sebagai pertanda akhir perjalanan setelah lelah seharian membanting tulang? Atau mereka, para pemuja senja itu, diam-diam memuja kegelapan yang menyertainya? Apakah senja mereka berbeda dengan senja seorang kernet dan supir truk? Senja yang mengabarkan awal sebuah perjalanan. Senja di mana rindu dititipkan. Rindu yang harus dikesampingkan...

Pulang Malu Nggak Pulang Rindu
Sumber foto: http://surabaya.tribunnews.com

Sebuah pangkalan truk, suatu senja. Sarpin duduk menghadap ke barat di atas kepala truknya. Matanya memanah senja. Pikirannya melesat mengembarai semburat jingga di ufuk barat. Istri dan dua anaknya ada di sana. Di langit barat.

Tiga tahun lalu, dengan hanya berbekal ijazah SMP, Sarpin pamit bekerja ke Jakarta. Selama itu pula, ia tak pulang kampung. Dia malu jika pulang hanya bawa badan. Istrinya membutuhkan uang, anaknya membutuhkan kebanggaan. Alasan itu pula yang membuatnya meninggalkan pekerjaan di kampung sebagai buruh tani.

Di kota metropolitan, dia sempat menjadi porter gelap di terminal Kampung Rambutan. Namun, karena penghasilannya tak seberapa, dia banting setir menjadi tukang tagih pada sebuah CV debt collector di Pasar Minggu. Selama setengah tahun menjalani pekerjaan ini, dia mulai bisa menyisihkan uang barang dua tiga ratus ribu per bulan untuk dikirimkan ke istrinya di kampung, meskipun tanpa memberitakan apa pekerjaannya.

Namun, celakanya, pekerjaan itu pula yang mengantarkannya menjadi pesakitan. Seorang debitor memperkarakan caranya menagih yang dinilainya berlebihan. Sarpin tak bisa (dan tak tahu) caranya berkelit ketika perusahaan tempatnya bekerja turut menyalahkan dirinya. Maka, satu setengah tahun lamanya dia dipenjara, menjadi tumbal perusahaan. Tentu, peristiwa itu tak sedikit pun ia kabarkan kepada teman atau kerabatnya, biar tak sampai pula di telinga istri dan anaknya. Menjadi tukang tagih saja harus ditutup-tutupi apalagi menjadi narapidana!

Tiga bulan setelah bebas, Sarpin lontang-lantung. Tak aneh, karena di negeri ini, sulit bagi seorang bekas napi mendapatkan pekerjaan. Jangankan mendapat pekerjaan, mendapat tempat dalam riung sosial pun sulit. Untungnya, dia bertemu dengan Subangkit, teman semasa SMP. Subangkit (biasa dipanggil Bikang) adalah seorang supir truk di sebuah perusahaan logistik milik Babah Ko. Atas referensi Bikang, Babah Ko menerima Sarpin bekerja sebagai kernet.

Penghasilan menjadi kernet memang tak lebih besar dari tukang tagih. Namun anehnya, dia malah bisa menyisihkan uang lebih banyak. Uang itu disimpan di dalam tas kecil pemberian istrinya, sengaja tidak buru-buru dikirim ke kampung. Dia yakin, suatu ketika, dia akan mendapat tugas mendampingi supir pada rute yang dekat dengan kampungnya. Jika saat itu tiba, dia akan minta ijin pulang sebentar saja. Dan pada saat itu terjadi, uang yang dikumpulkannya sudah lebih dari cukup untuk membuat istrinya bangga, demikian juga anaknya. Ah, si Alit tentu sudah besar.

"Kita mau jalan jam berapa, Kang?" Tanya Sarpin kepada Bikang.

Alih-alih menjawab pertanyaan kernetnya, Bikang menyodorkan koran lalu pergi begitu saja. Sarpin meraih koran itu. Pada halaman depan, tertulis judul berita dalam cetak tebal: Truk Nyungsep, Dua Tewas.

Sarpin membaca berita itu pelan-pelan, kalimat demi kalimat. Darahnya mendesir, dadanya berdegup kencang membayangkan kronologi kecelakaan yang tertulis di koran itu. Dan, ketika sampai pada nama korban yang tewas, dia tak sanggup lagi meneruskan. Dia sangat mengenali kedua nama korban yang tewas itu: Subangkit dan Sarpin.

***

@thriologi

Ditulis di Kedai Laku Kopi Bintaro, 24 Juli 2018