Pulang Kampung

Pulang Kampung

“Jelajahi waktu Ke tempat berteduh hati kala biru

Dan lalu...Sekitarku tak mungkin lagi kini. Meringankan lara

Bawa aku pulang, rindu! Segera!”

-Pulang oleh Float-

Setelah 8 tahun menikah pada 2018 lalu, suamiku baru mengajakku untuk pulang kampung ke Purworejo. Entah kenapa dia enggan sekali untuk pulang ke sana. Padahal masa remajanya dihabiskan di sini. Aku mulai curiga jangan-jangan dia punya kenangan menyedihkan dengan mantannya.

Kereta pun berhenti di stasiun Kutoarjo, lalu kami dijemput oleh sepupunya dan mulai perjalanan ke alun-alun. Rumah keluarga besar suamiku ada persis di belakang Masjid Agung Purworejo. Entah kenapa, sebagai anak Jakarta tulen atau lebih tepatnya anak Depok asli yang lahir, besar, sekolah hingga kuliah di Depok, saya merasakan angin dan aroma Purworejo ini menyejukkan. Ini kedua kalinya aku menginjakkan kaki di rumah ibu mertuaku. Pertama kalinya ketika dinas ke Jogja 5 tahun silam yang kusempatkan untuk mampir, namun waktu itu saya sendiri tidak bersama suami. Maka kini rasanya ada sesuatu yang berbeda.

Setibanya di rumah, aku langsung minum teh manis yang sangat pekat warnanya. MashaAllah ini teh paling nikmat yang kurasakan. Rasanya pekat, kental dan manisnya sangat pas. Mendengarkan keponakan-keponakanku bercengkrama dan rindangnya pohon rambutan membuat suasana ini menjadikan hati tentram.

Karena masih pegal-pegal akibat duduk lama di kereta, maka aku dan suami baru keluar sehabis solat Ashar. Berjalan-jalan di atas rumput alun-alun, seakan tanah dan rumput menyerap segala letihku. Matahari sore menimpa wajah kami, aku tak ingat apa yang kami bincangkan, tapi tak selesai-selesai rasanya kami tertawa. Bahan obrolan mungkin terlupakan tapi kesan hangat bisa terasa hingga kini.

Keesokan paginya pun  kami jalan keliling Alun-alun, ada banyak anak yang bermain di tempat permainan, ada banyak anak muda yang nongkrong bercengkrama di sudut teater kolam dan banyak juga orang tua yang jalan dengan gagah. Aku pun membawa bekal tumbler yang berisi teh manis hangat dan buku untuk kubaca di pojokan bawah pohon. Kubuka sandal dan kurasakan energi dari sekitarku menyerap: matahari, tanah, rumput, angin, suara tawa anak, suara napasku. Seakan panca inderaku berjalan dengan baik di sini. Kutarik napas panjang, kurasakan beda sekali dengan hiruk pikuk Jakarta. Ritme nadi dan waktu seakan melambat. Satu menit di Purworejo valuenya bisa beda dengan satu menit di Jakarta.  

Siang harinya aku diajak ke Winong, konon katanya di sana ada warung sate kambing yang legendaris. Dan benar saja, enak sekali rasanya sate ini. Kuliner pun kami lanjutkan ke pasar, di sana kami menikmati es dawet dan aneka jajanan pasar lainnya.

Oleh suami saya dibawa ke sekolah SMA nya, yang ternyata cukup jauh di Purwodadi. Masih banyak sawah dan sapi-sapi sepanjang jalan.  Tapi senang rasanya menapaki jejak dia dahulu seakan kita berkenalan lagi dengan diri-diri yang dulu belum saling kenal.

Kini aku mengerti kenapa teman-temanku yang merantau suka sangat rindu pulang kampung. Ada rasa yang tidak bisa dilukiskan tentang pulang. Ketika kita sudah mengerti akan rasa “rumah”, semua tak lagi sama. Bawa aku pulang, rindu! Segera!