Pulang

Pulang

Hari itu aku tiba di kota tua Toboali. Seratus dua puluh lima kilometer dari titik nol Pangkalpinang, Di pesisir Selatan Pulau Bangka.

Langkahku sejenak terhenti di depan sebuah rumah tua. Terpana menatap keindahan sebuah rumah kayu yang dibangun sempurna. Entah sudah berapa puluh tahun umurnya.

Di salah satu jendela terlihat seorang ibu tengah menjahit.

Yo singgah lah ke umah..” sapanya ramah, melihat aku berdiri di depan rumahnya.

Aku tersenyum mengangguk dan langkahku ringan mendekat. Rasanya seperti pulang ke rumah mak. Ada rasa rindu, ada rasa haru yang membuncah.

Dari balik jendela aku menyapa; “Tenga ngape mak?” tanyaku membalas keramahannya.

Biaselah gawi sehari-hari ku ni... tenga ngejait heppan budak hekulah (sedang menjahit celana seragam anak sekolah),” jawabnya dengan logat Toboali yang khas. “Engka dari manei nak pegi kemanei?” Mak bertanya sambil terus tekun dengan pekerjaannya.

“Aku dari Jakarta mak, nak nyari sahabat lama jaman SMA... lah hampir empat puloh taun lebeh kami bepisah,” jawabku.

Tiba-tiba mak menggumam; “Kayu patah mari dikerat, bawa sebatang melintas jalan, masa susah berkawan erat, masa senang dilupakan jangan...”

Lalu kami tertawa bersama...