Puisi Mading Mama

Cerita cinta yang bersemi di kala senja.

Puisi Mading Mama
autumn love

PUISI MADING MAMMA

“Ayolah Arina, Bukannya itu impianmu dari dulu?”

“Iya, tapi kan kondisinya gak semudah itu sekarang. Kalo aku ikut Mbak Nadya ke Paris, siapa yang mau nemenin Mama?”

“Sesekali pikirkan egomu kenapa sih? Memangnya kamu mau mentok di Bandung aja? Ngantor kagak, nikah kagak, sekolah lagi napa?”, suara mbak Nadya terdengar mulai kesal.

“Sembarangan! aku gak ngantor tapi produktif tau! Lagian band-ku lagi adaptasi nih, banyak personil baru sementara jobnya udah full  sampai tiga bulan ke depan.”

“Nah, berarti sampai tiga bulan ke depan kamu bakalan sering ninggalin Mama juga dong? Job-nya banyak yang ke luar Bandung juga kan pasti?”

“Iya juga siih..”

“Nah makanya, pikirkanlah masak-masak. Pas waktu keberangkatan kita juga sekitar tiga bulan lagi. Kalau kamu sudah oke, Mas Yudi bisa minta tolong orang kantornya ngurusin visa pelajar buat kamu. Prosesnya kadang ribet lho, harus jauh hari sebelumnya”

 “Hmm, aku pikir-pikir dulu ya?”

“Pikir apalagi sih? Kesempatan ini gak akan datang dua kali lho. Sekolah di Paris itu yang paling mahal biaya akomodasinya. Nah sekarang kamu bisa dapat tempat tinggal gratis sama aku dan mas Yudi. Ini waktu yang tepat, Arina”

“Terus terang mikirin Mama sendirian aku gak tega mbak”

“Ya gak sendirian laah, kan mas Agung juga di Bandung. Meskipun tidak serumah dia kan bisa jagain Mama juga.”

Aku masih mau menyanggah ucapannya ketika ada panggilan lain masuk ke HP mbak Nadya. Dia pamitan untuk menutup telfon dan memberiku deadline untuk mempertimbangkan ajakannya.

Aku, Arina, adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak sulungku Mas Agung dan Mbak Nadya kakak keduaku. Sejak mas Agung menikah, papa meninggal, lalu Mbak Nadya juga menikah, aku hanya tinggal berdua dengan Mama. Kami pun sering ngobrol ngalor ngidul berdua hingga malam hari untuk berbagi cerita tentang pekerjaanku atau  cerita-cerita Mama semasa muda.  Sebagai anak bungsu, akulah yang diandalkan kakak-kakak untuk menjaga Mama. Aku takut mama akan kesepian seandainya aku meninggalkannya ke Paris. Mama sendiri merasa  bahwa dialah yang menjagaku. Mama kadang lupa bahwa meskipun bungsu, aku sudah bukan anak kecil lagi.  Sebenarnya cukup sering aku meninggalkan Mama sendiri di rumah untuk urusan pekerjaan ke luar kota. Tapi paling lama tiga atau empat hari.  Dan malam ini, giliran Mama yang sedang meninggalkanku ke luar kota. Mama sedang ke Yogya untuk reuni SMPnya.

Saat pertama menerima undangan reuni, Mama terlihat kurang tertarik dan ragu.  Mama merasa bahwa dia hanya dua tahun bersekolah di SMP 1 Yogyakarta. Di tahun ketiga SMP, Mama pindah ke Surabaya  karena Kakek pindah tugas kesana. Jadi secara resmi Mama memang bukan lulusan SMP 1 Yogya. Aku mendukung  dan menganjurkan Mama untuk ikut reuni. Menurutku, Mama juga  perlu bertemu dengan teman-teman seusianya. Sejak Papa berpulang tujuh tahun yang lalu,  Mama jarang keluar rumah.  Mama sibuk mengurusi urusan kami, Mama seolah tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.

“Mama gak pede lah, mungkin tidak banyak yang kenal Mama disana nanti.  Mama kan sudah lama tidak menetap di Yogya.“ ,kata Mama meragu.

“Lho memangnya tante Tini dan tante Wuri yang ngajakin Mama tinggal dimana? Jakarta kan? Sama aja dong sama Mama” aku berusaha meyakinkan.

“ Iya sih, tapi nanti kamu sama siapa di rumah? Makanmu gimana? Siapa yang bukain pintu kalo kamu pulang  malam?”

Hellow Mam..., I am 24 years old , I am not a baby anymore! Mama lupa ya?” kataku gemas

“Hahaha  iya iya, Mama ingat.”

“Jadi... gimana? Berani berangkat reuni SMP?” , tantangku

“Hmm...  Mama pikir-pikir dulu deh ya?”

“Tapi jangan bilang alasannya karena aku gak ada teman lalu Mama gak pergi lho ya? Aku gak mau jadi penghalang pergaulan Mama”

“Oke boss, kasih waktu Mama dua hari” Kata Mama sambil menjawil hidungku.

Akhirnya setelah berpikir masak-masak Mama berangkat juga reuni ke Yogya, Mama diantar mas Agung ke Jakarta, untuk berangkat bareng tante Tini dan tante Wuri dari Jakarta.

Mama menginap lima hari di Yogya, sekalian menengok adik-adiknya dan nyekar ke makam Eyang.

----

Pagi ini Mama akan tiba di Bandung, naik kereta api malam  langsung dari Yogya. Aku bertugas menjemputnya di  Stasiun Bandung.

Cuaca  Bandung pagi ini  lumayan dingin setelah semalam hujan tidak berhenti. Matahari yang baru mulai mengintip dan bau rumput basah membuat suasana stasiun  sepi dan sendu. Stasiun ini adalah salah satu bangunan Heritage di Bandung yang diresmikan pada tahun 1884. Bangunan Belanda  yang terletak pada ketinggian +709 meter ini merupakan stasiun KA kelas besar tertinggi di Indonesia. Tadinya  stasiun ini hanya memiliki satu bangunan inti. Setelah direnovasi, sekarang ada dua akses  untuk masuk  yaitu  Pintu Utara dan Pintu Selatan.  Aku masuk dari Pintu Selatan, atau lebih dikenal Stasiun Lama. Suasana Stasiun Lama tidak banyak berubah sejak kami kecil. Aku membeli karcis peron, lalu masuk ke dalam.  Setelah meluaskan pandangan, mataku tertuju pada sebuah  kantin koperasi  di sudut kiri. Aku masuk ke kantin, lalu memesan secangkir kopi.  Kusen pintu dan meja dari kayu jati di kantin itu masih sama seperti saat kecilku. Tata ruangnya pun sama sekali tak berubah. Seorang pelayan mendekati mejaku dengan nampannya.  Gelas bening  berisi kopi susu yang panas mengepul diletakkan di atas lepek keramik putih berbunga merah muda kecil. Kopi itu sangat hitam pekat dan berampas. Sepertiga lebih dari gelas sudah terisi dengan susu kental manis yang belum diaduk.  

Aku jadi  teringat pada Papa. Papa pernah mengajari kami di kantin itu tentang seberapa pekat atau seberapa manis kopi yang kita inginkan bisa diatur dengan jumlah adukan kita di gelas tersebut. Bila kita malas mengaduknya, kopi ini akan pahit dan susu yang manis akan terbuang begitu saja. Tapi bila kita berani memutar sendoknya dengan hati-hati, kita bisa mencicipinya sedikit-sedikit untuk mencapai rasa yang kita inginkan. Sebaliknya bila kita mengaduknya tanpa berhati-hati, kopi tersebut bisa tumpah dan menciprat panasnya kemana-mana, atau terlalu manis sehingga tidak bisa dinikmati lagi. Perpaduan antara kepahitan dan kemanisan yang tepat, akan mencapai kenikmatan yang kita inginkan. Papa menganalogikan gelas kopi itu dengan sikap kita dalam memaknai hidup.

Sewaktu kami kecil, kami sering sarapan di kantin ini bila akan berangkat ke luar kota. Aku sering ikut-ikutan menyeruput kopi susu milik Papa. Karena Kopi itu terlalu panas, Mama sering menuangkannya di lepek keramik putih , agar kopinya cepat dingin. Papa dan Mama selalu kompak dalam mendidik kami. Papa adalah sosok pria yang selalu menyayangi dan memanjakan kami. Sedangkan  Mama selalu tegas meskipun lemah lembut. Sejak Papa meninggal, Mama seolah tak ingin kami kehilangan kasih sayang Papa. Mama berusaha keras untuk memenuhi segala keperluan kami, memperhatikan kami. Sehingga Mama jarang membahagiakan dirinya sendiri. Menurut Mama, bahagia kami adalah bahagia Mama dan juga bahagia almarhum Papa.

“Hoooong!” suara peluit kereta tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Pertanda kereta Mama segera tiba dan memasuki stasiun. Aku cepat-cepat menghabiskan kopi susuku dan meninggalkan selapis tipis susu manis di dasar cangkirnya. Setelah membayar, aku buru-buru menuju peron. Berusaha mencari wajah Mama dan oleh-oleh bakpianya. Aku membayangkan, Mama pasti lelah setelah semalaman duduk di kereta. Meskipun tertidur, tapi pasti badannya pegal-pegal dan kedinginan karena AC sepanjang malam. Aku sudah siap membawakan tolak Angin seandainya Mama membutuhkannya.

“Arina!” aku mendengar suara Mama dari arah kiri..

Aku menengok ke arah sumber suara dan melihat Mama. Di luar dugaanku, Mama terlihat sangat segar, wajahnya berseri-seri, senyumnya mengembang, tak terlihat lelah sedikitpun.

“Lho kamu yang anak muda malah gak lihat Mama pake baju merah begini, Mama malah lihat kamu duluan “ Kata Mama

“Kirain Arina Mama di gerbong sana, ternyata  malah di depan. Capek  gak Ma?” sapaku sambil mengambil jinjingan dari tangan Mama.

“Gak,  Mama tidur kok di jalan. Alhamdulilah perjalanan lancar semua”

Setelah memastikan  semua bawaan Mama  lengkap masuk bagasi,  kami pulang ke rumah.  Dari belakang kemudi  akuu menyalakan radio.  Lagu Cerita Cinta-nya kahitna mengalun merdu dari  speaker mobil. Tiba-tiba  HP Mama berbunyi.

“Mbak Nadya kali tuh Ma.. pingin tau Mama sudah sampe apa belum”  kataku

Mama buru-buru meraih HPnya di dalam tas, dia melihat ke layar HP lalu tersenyum dan menjawab panggilan itu sambil mengecilkan volume radio : “Hallo.. Yess, sudah sampai Alhamdulillah...... iya ini dijemput si bungsu... sehat, Alhamdulillah..... Iya, iya..... lengkap, oleh-oleh lengkap..... iya, ok.. Thank you ya Min.. Take Care.. “ Mama menjawab telepon dengan berseri-seri.

“Siapa Ma? Tante Tini?” tanyaku

“Bukan, teman Mama. Om Armin”

“Om Armin? Siapa tuh? Baru denger namanya”

“Sama.. Mama juga baru ketemu kemarin di reuni”

“Lah? Baru kenal dong, kok akrab amat?” kataku menyelidik.

“Dia tau Mama waktu SMP, Mama sih gak ingat dia hahahaha... “ Mama tertawa geli

“Eh ciyee, secret admirer niiih, awas ya nanti Mama CLBK!  hihihi..” Kataku menggoda.

“Hus ngawur aja kamu, CLBK tuh kalo dulu udah kenal.”

“Oh jadi bukan Cinta Lama tapi Cinta Baru niiih?” akupun tambah iseng menggoda Mama.

“Cinta, cinta...! wis tuwek tauu.. udah kepala enam  Mamamu ini Arina, dasar anak  iseng !” Mama mencubit pinggangku gemas

Aku senang melihat wajah ceria Mama pagi ini. Tampaknya suasana  reuni  SMPnya kemarin cukup sukses membahagiakan hatinya.  Sejak pagi itu, aku sering melihat Mama tersenyum-senyum sendiri bahkan tertawa terbahak-bahak di depan Hpnya. Telpon rumah pun jadi lebih sering berdering. Tampaknya beberapa teman Mama sering menelpon dan bertukar cerita. Mama pun menemukan keasikan baru.  Mama  jadi  lebih rajin berolahraga ringan, berkebun, mencoba resep masakan baru, dan tak lupa mengabadikan setiap momen dengan kamera HPnya untuk diceritakan pada teman-temannya. Aku bersyukur kepada Tuhan untuk kebahagiaannya. Namun ada sedikit cemburu juga karena tampaknya sekarang Mama tidak lagi terlalu dekat hanya denganku. Mama sudah punya banyak teman lain untuk bertukar cerita.

---

Setelah  berpikir masak-masak, akhirnya aku memutuskan untuk ikut pergi bersama keluarga mbak Nadya ke Paris. Segala urusan pekerjaan tampaknya bisa aku delegasikan. Calon penggantiku di band pun sudah kupersiapkan. Aku hanya belum menemukan cara yang enak untuk minta izin pada Mama. Meskipun selama ini pun aku sering pergi keluar kota meninggalkan Mama, namun Mama masih punya orang yang siap dicerewetin dan ditunggu pulangnya setiap hari. Aku takut melihat wajah keberatan Mama.

Maka dengan mengerahkan seluruh ketegaran yang  kupunya, pagi ini kuberanikan diri mengungkapkannya pada Mama saat sarapan.

“Ma, Mama ingat kan Arina pernah bercita-cita belajar Fashion design waktu kecil?” tanyaku berhati-hati.

“Oh iya, kamu paling suka gambar-gambar desain baju sejak kecil. Bahkan dulu kamu yang ngatur pakaian Papa untuk ke kantor setiap hari, ingat gak? “ jawab Mama sambil tersenyum.

“Seandainya, sekarang ada kesempatan itu datang, menurut Mama gimana?”

“Ya kamu ambil dong, itu kan cita-citamu sejak dulu” Mama terlihat antusias.

“Tapi seandainya sekolahnya jauh gimana Ma?”

“Jauh? Dimana?”

“Di Paris Ma..”

“Di Paris? Wah keren banget, itu tempat yang paling tepat untuk belajar Fashion. Tapi, kamu sama siapa disana?” Ekspresi wajah Mama sedikit berubah khawatir.

“Mbak Nadya ma.., dia yang ngajakin Arina. Beberapa bulan lagi Mas Yudi ditugaskan disana selama dua tahun. Jadi Arina bisa nebeng tinggal sama mereka disana”

“Oh Oke. Nadya malah belum cerita.  Aman  deh kalau begitu” kata Mama

“Oke? Segitu aja Ma?” tanyaku bingung

“Lha iya, Mama setuju saja asalkan semua sudah kamu pikir masak-masak. Bagaimana dengan band-mu, persiapanmu, tabunganmu? Cukup gak?”

“Itu semua bisa diatur Ma, tapi nanti Mama sama siapa?” tanyaku

“Lho ya Mama disini saja, sendiri. Gak apa-apa dong, ini kan rumah Mama” Jawabnya

“Mama gak kesepian apa aku tinggalin?”

“Ya mungkin sepi, tapi Mama juga punya teman-teman yang sering telpon kok”

“Om Armin ya?”

“Ya salah satunya dia, .. tapi memang dia yang paling sering  siih” Mama tersipu, lalu menggamit tanganku sambil setengah berbisik:

“Eh kamu tau gak, om Armin itu ternyata masih menyimpan puisi Mama sejak SMP!”

“Puisi? Kok bisa? Gimana ceritanya?”

Mamapun menceritakan oom Armin dengan berapi-api. Nama lengkapnya Armin Mintaraga, pensiunan dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Istrinya meninggal sekitar lima tahun yang lalu. Anaknya tiga orang. Dua yang pertama sudah menikah. Tinggal satu putri bungsunya yang berencana menikah tahun ini yang tinggal bersamanya.  Oom Armin  adalah kakak kelas Mama. Sewaktu SMP dia adalah pimpinan redaksi  Mading sekolah. Mama sering menulis puisi untuk dipasang di Mading sekolah setiap bulan. Termasuk sebuah puisi yang disimpan oleh oom Armin sampai sekarang.

“Dia masih menyimpan semua isi Mading sekolahnya dari jaman dulu atau hanya puisi Mama saja?” ,tanyaku menyelidik

“Mama gak tau pasti. Dia hanya bilang bahwa puisi Mama disimpan rapi karena dia merasa perlu menjawabnya, tapi dulu tidak sempat.”

“Kenapa gak sempat?”

“Puisi itu adalah puisi terakhir yang Mama kirim sebelum Mama pindah ke Surabaya”

“Kok dia merasa perlu menjawabnya Ma? Memang Mama menulis apa di puisi itu?”

“Justru itu, Mama juga lupa hahahaha.”

“Memangnya Mama membuat puisi itu untuk siapa? Untuk dia?”

“Ya jelas bukan,  pernah kenal dia aja Mama gak ingat. Tapi kok dia bisa merasa bahwa puisi itu spesial  untuknya dan dia perlu menjawabnya. Aneh kan? Mama jadi penasaran lho sama isi puisi itu”

“Mama gak tanya isi puisi itu sama dia?”

“Udah Mama tanya, tapi dia bilang kurang seru kalau Mama tidak membacanya sendiri. Sewaktu reuni di Yogya yang lalu dia tidak membawa puisi itu karena tidak menyangka Mama akan hadir. Dia menyimpan puisi itu di rumahnya di Jakarta. Dia berjanji akan memberikan pada Mama apabila kita bertemu lagi” , Mama bercerita dengan antusias

“Yakin, dia berkata jujur Ma? Ati-ati lho cowok jaman sekarang suka modus! Hahaha”, aku menggoda Mama.

“Ah Arina, kamu nih suka ngarang deh!  masak cowok jaman sekarang rambutnya ubanan? Hahahaha..”

Aku dan Mama pun tertawa bahagia di pagi itu. Di luar dugaan, ternyata meminta izin Mama untuk pergi ke Paris sama sekali tidak sulit. Hati dan fikiran Mama terbuka lebar mengizinkanku pergi  untuk kemajuan dan kebahagiaanku. Mungkin juga, semuanya terasa lebih ringan karena Mama sudah punya teman ngobrol seru sekarang, yaitu  Om Armin.

----

Kring.. kring.. suara telpon rumah berbunyi

“Halo, selamat siang” sebuah suara bariton terdengar di seberang sana.

“Ya Halo, mau bicara dengan siapa?” jawabku ramah.

“Ini pasti Arina ya? Belum berangkat latihan band?” tanyanya sok akrab.

“belum, ini dengan..?”

“Ini om Armin, temannya Mama. Mamamu sudah  banyak cerita. Kegemaran Arina main band dan mendesain kan?”

“Ooh iya om, betul.“ , tadinya aku mau bilang juga kalau Mama banyak cerita tentang om Armin, tapi aku takut dia geer.

“Jadi, kapan rencananya Arina berangkat ke Paris?” tanyanya lagi.

“Sekitar dua bulan lagi, ini masih persiapan bahasa dulu om”

“Oh, baiklah. Semoga kita bisa ketemu dulu sebelum Arina berangkat ya?”

Ketemu? Untuk apa? Pikirku dalam hati, jangan-jangan...

“Apa boleh om bicara sama Mamamu” suara Baritonnya membuyarkan dugaanku.

“Oh sebentar ya om...”  Aku bergegas memanggil Mama yang ternyata sedari tadi sudah berdiri di belakangku.

Mama langsung mengambil gagang telpon dan mengisyaratkanku untuk menjauh.

Dari kejauhan sayup-sayup aku mendengar suara Mama ngobrol dengan om Armin di telpon. Sesekali mereka menggunakan bahasa Belanda sehingga aku tidak terlalu mengerti percakapannya. Tapi nada suara Mama terdengar ringan dan gembira. Jelas, Mama bahagia.

 

_____

“Oom Armin ingin menikahi Mama”  ,Mama memulai percakapan di meja makan dengan kalimat yang hampir membuat jantungku copot.

“Hah..? Kok bisa?”

“Ya dia kan sudah lima tahun menduda. Anaknya tiga, sama seperti Mama. Dua yang besar sudah menikah. Tinggal satu yang bungsu perempuan, Sarah, yang  masih tinggal dengan oom Armin. Tapi rencananya tahun ini Sarah akan menikah dan ikut suaminya ke luar negeri.” Cerita mama.

“Wah, senasib dong sama Mama. Terus Mama mau sama dia?” tanyaku.

 “Mama sih sebenarnya sudah gak mikir nikah seumur gini, Mama pingin berteman saja seperti ini,  tapi....”

“Tapi apa? Kalau Mama gak mau ya gak usah dong, lagian kok cepet amat berapa bulan ketemu aja langsung ngajak nikah. Ya gak bisa gitu.“ kataku sedikit cemburu.

“Tapi, dia merasa gak enak seandainya dia sendiri dan Mama sendiri, lalu kita ketemuan tanpa ikatan apa-apa berdua di rumah ini. Meskipun kita  gak ngapa-ngapain, tapi kan bukan muhrim katanya”

 “Ntar dulu Ma, Mama yakin udah kenal banget sama dia, sedekat apa sih Mama sama dia?”

“Mama baru ketemu dia pas reuni itu.  Sehabis reuni kami sempat ketemu bicara  santai sekali lagi bareng teman-teman di Yogya. Habis itu Mama pulang ke Bandung, dan dia pulang ke Jakarta”

“Terus telpon-telponan? Seberapa sering?”

“Yaaa.. makin kesini makin sering lah..  tiga sampai lima kali sehari”

“What...? ngobrolin apa aja siih?”

“Macem-macemlah, ada aja yang diomongin. Tentang anak, tentang teman”

“Itu sih sama aja orang pacaran dong ma,pantas mama santai aja aku mau ke Paris, ternyata mama jatuh cinta niih..”, godaku. “ Lalu, soal puisi dulu, Mama udah inget apa isinya?”

“Belum. Nah justru itu, om Armin ingin bertemu Mama dan anak-anak Mama sebelum kamu dan mbak Nadya berangkat ke Paris”

“Untuk apa?”

“Untuk mengenal kalian lebih dekat selagi masih ada kesempatan. Menurutnya apabila kita sudah saling mengenal, kamu akan lebih tenang di Paris. Kamu sudah tau teman Mamamu ini seperti apa.  Sehingga bisa  terus mendoakan untuk Mama untuk kebaikan meskipun kita berjauhan. Soal Mama dan dia jadi menikah atau tidak, yang penting kita sudah memohon yang terbaik pada Allah. Jadi keputusan apapun yang diambil nanti itulah yang terbaik untuk semua.”

“Terus Mama setuju kita ketemuan?”

“Ya mengapa tidak? kalaupun hubungan Mama nanti hanya berteman, menyambung silaturahim kan hal yang baik. Lagian rin, dia berjanji akan membawa puisi yang masih disimpannya itu, ih Mama penasaran lho dulu pernah nulis apa”

Pinter juga ternyata si Om Armin mengambil hati Mama, Mama dibikin penasaran dengan puisinya sendiri.  Jangan-jangan womaniser nih si om. Aku harus waspada. Insting protektifku pun terusik, aku mencoba menemukan  informasi di Google tentangnya.  Aku search nama  Armin Mintaraga, akun media sosialnya, foto-foto keluarganya. Semua informasi yang kutemukan sesuai dengan apa yang diceritakan Mama. Tidak ada catatan buruk yang kutemukan, semuanya lurus-lurus saja

Aku melihat wajah Mama yang sedang memandang layar Hpnya. Sejak Papa meninggal, aku belum pernah melihat wajah Mama sebahagia sekarang. Mama tampak lebih sehat dan bersemangat.  Mama juga jadi jarang menanyaiku soal kapan nikah. Tampaknya Mama sedang menikmati kebahagiaannya sendiri.

___

Maka tibalah hari yang ditentukan itu. Besok Pagi pesawat kami akan berangkat dari Jakarta. Kami berangkat siang dari Bandung, dan berencana menginap semalam dulu di Jakarta. Sekalian bertemu dengan om Armin.

Kami menginap di sebuah hotel appartemen di kawasan Kuningan.  Sekitar jam 3 sore kami tiba di hotel dan langsung check in. Kami mengambil dua unit appartemen yang saling berhadapan. Tiap unit terdiri dari ruang tamu yang bersatu dengan pantry dan dua buah kamar tidur dengan kamar mandi di dalam. Mbak Nadya sekeluarga menginap di kamar 1009. Sementara aku, Mama dan Mas Agung di kamar 1010.

Begitu tiba di kamar, Mama langsung menelepon om Armin, mengabari bahwa kami sudah sampai Jakarta dan janjian akan bertemu di hotel nanti malam sekitar jam 7.30 setelah makan masing-masing di rumah.

Ada perasaan geli dalam hatiku melihat Mama yang sudah seusia itu mulai berkencan lagi. Rasanya sekarang seperti aku yang jadi orang tua Mama. Aku sering harus membatasi bila Mama sampai malam masih ngobrol di telpon, atau bangun tidur sebelum sarapan langsung  senyum-senyum di depan HP. Seperti anak remaja yang tidak tahu waktu, ada saja hal yang dibahas setiap hari. Mulai dari film jaman mereka muda, musik the Beatles, Buku novel Agatha Christie, puisi WS Rendra sampai ke penyakit-penyakit yang mulai terasa dan teman-teman mereka yang mulai berguguran satu persatu. Tapi aku bersyukur, meski usianya sudah hampir 70 tahun Mama masih sehat, demikian juga dengan om Armin. Mereka masih rutin berolahraga ringan. Beberapa kali malah aku pergoki Mama sedang jalan santai di kebun, sambil ditemani obrolan om Armin di speaker HP.  Mereka sepertinya saling menemani satu sama lain. Sejak pulang dari reuni SMP dan mengenal om Armin. Mama terlihat lebih relaks, dan lebih ceria. Akupun mulai berpikir, seandainya Mama dan om Armin jadi menikah, mereka akan tinggal dimana? Bandung atau Jakarta ? Lalu aku akan tinggal dengan mereka? Atau bagaimana ya?

“Kita pesen makan malam room service aja ya?” suara mas Agung membuyarkan lamunanku.

“Jangan aah, nanti kamarnya jadi bau makanan! Gak enak kan mau ada tamu, kita makan di bawah saja” Kata Mama

“E ciyeeee, yang mau diapelin..” mas Agung menggoda Mama, yang berujung dengan cubitan di pinggangnya.

“Apa siih, Mama kan boleh punya teman biar gak sepi” Wajah Mama mendelik lucu

“Teman ? teman kok ngajak nikah, hahahaha” kata mas Agung sambil kabur masuk kamar mandi menghindari cubitan Mama

“Dasar mas-mu itu, dari kecil sampe sudah berkeluarga begini, jahilnya gak hilang-hilang. Sama kaya Papanya”  kata Mama sambil tersenyum.

“ Ma, Mama masih suka kangen Papa gak sih  sekarang?” tanyaku  sambil mengusap halus tangan Mama

“Tentunya masih sayang.., setiap tingkah laku kalian selalu mengingatkan Mama pada Papa. Selalu membuat Mama mengucap doa untuk Papa. Ada hangat sorot mata Papa di setiap tatapan kalian. Bagaimana Mama bisa lupa?”

“Terus, om Armin?” tanyaku menyelidik.

“Arina, Mama minta kalian jangan membandingkan Papa dengan om Armin. Mereka itu jelas dua hal yang berbeda di hati Mama”

“ Aku gak ngerti Ma..” jawabku bingung.

“Dengan Papa, dulu Mama membangun cinta dengan penuh harapan, bahwa kami berdua bisa menciptakan kebahagiaan bersama, mendidik anak-anak kami dengan penuh kasih sayang, mengantarkan mereka tumbuh dewasa dan melihat mereka mengulang perjuangan kami dulu untuk meraih bahagianya sendiri.”

“Kalau oom Armin?”
Mama diam sejenak, lalu berkata, sambil matanya jauh menerawang:

 “om Armin. Dengannya Mama tidak banyak berharap. Kami hanya sadar bahwa usia kami sudah tidak muda lagi. Energi kami mungkin sudah habis saat muda dengan ambisi dan harapan kami masing-masing. Dia dan Mama hanya sama-sama sadar, bahwa kami butuh kawan. Kawan yang sebanding. Kawan yang bisa diandalkan, kawan yang siap saling menopang di saat fisik kita sudah tidak sekuat dulu lagi. Kawan yang saling mengingatkan seandainya kita mulai pikun. Kawan yang selalu ada di sisi kita saat sepi menyerang kita.”

“Aaah Mama...” Aku memeluknya erat-erat. Tak satu katapun keluar dari mulutku, apapun pilihan Mama aku akan mendukungnya. Akupun bersyukur, di saat aku harus pergi untuk mengejar impianku, Om Armin seolah dikirim Tuhan untuk menggantikan posisiku menemani Mama.

“Woi, udah jam segini niih, jadi makan gak? Keburu yang ngapel dateng nih” mas Agung muncul dari kamar mandi

“Oh iya, aduuh Mama belum mandi. Bentar ya tungguin Mama” kata Mama sambil bergegas lari ke kamar mandi

Akupun mengusap mataku yang basah, sambil menuju ke kamar mandi. Melewati Mas Agung yang mencibir dengan wajah jahilnya “Si Bungsu mau merantau euy.. jangan mewek atuuh, di Paris nanti gak ada ketek Mama lho..” katanya sambil mengacak rambutku.

“Plok!”, kusabet wajah jahilnya dengan handukku sambil berlari ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi dan dandan, kami pun turun ke resto hotel di lantai 1.  Mama terlihat cantik sekali malam ini, dia mengenakan cardigan warna pink dan celana longgar berwarna Marun. Seulas lipstik berwarna senada dioleskan di bibirnya. Mama berdandan agak istimewa untuk menghormati tamunya. Sambil menunggu makanan siap, kami berbincang-bincang bertiga.

“Ma, harum amat kaya abege mau prom night” Si jahil mas Agung membuka pembicaraan.

“Masa sih? Terlalu menusuk ya parfum Mama?” kata Mama sambil mengendus-endus  lengannya sendiri.

“Enggak, udah pas, udah cantik, udah keren !” kataku.

“Beneran? Mama gak menor nih?”

“Bener, sini deh aku fotoin”

Akupun meraih HP dalam tasku, tapi...

“Ya ampun, Hpku ketinggalan di kamar, lagi dicharge dekat lampu, lupa deh!” kataku sambil menepok jidat.

Tadinya aku mau langsung kembali ke kamar untuk mengambilnya, tapi nasi goreng pesananku keluar duluan. Mama menyuruhku menghabiskan makananku dulu, baru kembali ke kamar bersama-sama. Nasi goreng pun aku habiskan dengan kilat. Buatku, ketinggalan HP seperti kehilangan separuh jiwa, aku takut ada informasi penting yang terlewat. Setelah selesai menenggak es jerukku, aku kembali ke kamar duluan meninggalkan Mama dan mas Agung yang masih menyelesaikan makan malamnya.

Lift berhenti di lantai 10. Aku langsung menuju ke kamar 1010. Sesampainya di depan pintu, aku melihat seorang laki-laki sedang memencet bel di depan pintu. Mengenakan kemeja putih bersih tangan pendek dan celana  drill berwarna kakhi. Seluruh rambutnya sudah memutih dan tersisir rapi. Badannya cukup tegap, tidak gemuk juga tidak kurus.

“Selamat Malam” Aku menyapa dari arah belakang.

“Oh, Selamat Malam” Pria itu membalikkan badannya ke arahku. Kulitnya tidak terlalu putih, namun wajahnya terlihat sangat bersih dan bercahaya.  Meskipun beberapa garis kerutan dalam  tampak di sekitar matanya, namun sorot matanya begitu teduh  dan tenang.  

“Ini, Nadya atau Arina ya?” Tanyanya

“Arina oom”

“Oh yaya.. saya hafal suaramu, saya om Armin” katanya sambil tersenyum . Sederet gigi putih yang berjejer rapih menghiasi senyumnya. Untuk sekilas kesan pertama Om Armin cukup simpatik.  Aku mulai tidak heran jika Mama tertarik padanya.

“ Oh iya om, mari masuk dulu. Mama masih makan di bawah dengan mas Agung, sebentar saya telpon ya” kataku sambil membukakan pintu.

“Iya, ndak apa santai saja, om yang datangnya kepagian kok”

Otomatis aku melihat jam tanganku, baru jam 7:05. Sepertinya si om sudah tidak tahan ingin bertemu Mama, pikirku. Dia terlihat mempersiapkan diri dengan baik untuk bertemu keluarga Mama. Harum parfum BRUTnya bisa tercium dari jarak satu meter. Pakaian casualnya dikenakan dengan sangat rapi.

“Saya tadi di drop anak bungsu saya Sarah, biar sekali jalan. Dia ada janji dengan Wedding Organisernya jam 7.30 di hotel dekat sini. Jadinya saya agak kepagian deh” om Armin  menerangkan, seolah dia bisa membaca pikiranku.

“Iya Om gak apa-apa ya menunggu sebentar, silakan duduk dulu” Aku mempersilakan om Armin duduk di ruang tamu. Ruang tamu itu tampak remang-remang hanya dengan penerangan lampu meja di sebelah sofa. Setelah dia duduk, aku bergegas masuk ke kamar untuk menelepon Mama agar cepat-cepat kembali ke kamar.

Aku menelepon nomer Mama, tapi tidak tersambung. Menelepon HP mas Agung, tapi tidak diangkat. Duuh, aku paling tidak suka membiarkan orang menunggu seperti ini. Setelah beberapa kali mencoba dan nihil, aku berniat menemani om Armin mengobrol dulu saja di ruang tamu daripada dia bosan.

“ Sebentar ya om, sepertinya mama sedang...... “ , aku tidak menyelesaikan kalimatku, karena kulihat om Armin tertidur! Dia bersandar di sofa, dengan jari kedua tangan nya disilangkan di depan perut. Nafasnya terdengar dalam dan nyenyak, sampai-sampai deretan gigi putih yang ternyata gigi palsunya, sedikit melorot ke bawah.

Hihihi , aku menahan tawaku. Aku  jadi geli melihat kelakuan orang-orang tua yang berkencan ini. Sepertinya  mereka terlalu gembira dan bersemangat mempersiapkan diri, sampai-sampai kelelahan. Di saat yang paling penting, mereka malah ketiduran. Hehehe, ada-ada saja.

Akupun kembali ke kamar, mencoba menelepon lagi. Tapi Mama dan mas Agung tidak juga mengangkat telpon. Mungkin suasana di resto cukup  berisik sehingga suara dering telpon tidak terdengar. Sementara oom Armin aku biarkan dulu tertidur  di ruang tamu, sesekali aku mendengar dengkurannya. Tampaknya dia benar-benar kelelahan. Aku bahkan tidak berani menyalakan lampu ruang tamu karena  takut mengganggu tidurnya.

Jam 7.30 pas, akhirnya Mama dan Mas Agung sampai ke kamar. Pintu ruang tamu terbuka lebar, sehingga dari luar kamar Mama sudah  bisa melihat oom Armin tertidur nyenyak duduk di sofa.

Mama dan mas Agung masuk berjingkat, dan menemuiku di kamar.

“Kok Arina gak bilang oom Armin sudah sampai?” kata Mama berbisik

“Coba cek HP Mama dan HP Mas Agung! Sudah 20 menit lebih aku telpon tidak diangkat, sampai yang ngapel ketiduran tuh!” kataku setengah marah.

“Oke, Oke maaf tadi musik di resto bawah agak keras, gak kedengeran” ,kata mama.

 Mama lalu bergegas ke depan cermin, merapikan baju dan lipstiknya, berjalan ke  pantry,  menyiapkan secangkir teh lalu menuju ke ruang tamu.

“Min , Armin. Selamat Malam” aku dengar suara lembut Mama membangunkan tamunya.

“Min, Armin...” kedua kali,

“Armin, Armin Mintaraga, bangun! Ini aku, Sari” ketiga kali dan..

“Ya Allah! Armin!”... dan “Prang..!!”  cangkir teh yang dipegang Mama terjatuh.

Aku dan mas Agung terkejut lalu  bergegas ke ruang tamu.

Aku melihat oom Armin masih tetap tertidur di posisinya semula di sofa. Mama jatuh  terjongkok didekatnya, sambil memegang lepek cangkir  teh. 

“Mama kenapa? Mama gak luka kan?” kataku sambil berusaha mengangkat tubuh Mama.   Cahaya ruang yang remang-remang dari lampu meja, membuat aku tidak bisa melihat jelas wajah Mama.  Mama hanya diam namun aku mendengar bunyi nafasnya yang memburu.

“Awas hati-hati, tajam! Jangan banyak bergerak” kata mas Agung sambil berlari ke arah saklar lampu utama.  Mas Agung  menyalakan lampu. Ruang tamu itu menjadi terang benderang.   Aku pun  bisa melihat jelas wajah Mama. Mata Mama nanar menatap om Armin. Mama terlihat sangat terkejut.  Aku berpaling melihat ke arah om Armin, wajahnya yang tadi begitu cerah dan bercahaya, kini tampak  redup dan membiru. Dengkurnya tak ada lagi. Nafasnya begitu senyap.  Matanya tertutup  rapat dan tak akan pernah terbuka lagi. Om Armin sudah tak bernyawa!

“Aku terlambat, dia sudah pergi” suara Mama lirih dalam pelukanku.

___

Musim gugur di Paris tiba, daun-daun jingga berhamburan terbang tertiup angin. Warnanya begitu indah dan cantik, sayangnya mereka tak bisa bertahan di atas pohon. Musim telah datang untuk menjatuhkannya ke tanah. Gemerisik suara daun kering yang terinjak membuat hatiku makin sesak. Aku merindukan Mama. Membayangkan Mama sendirian di rumah tanpa telpon dari om Armin.  Aku duduk di salah satu bangku kayu di sudut Parc Monceau. Tepat menghadap  ke sebuah kolam yang dikelilingi oleh deretan pilar bergaya Romawi Kuno. Aku melihat beberapa pasangan manula saling berpegang tangan, berjalan sangat pelan. Berusaha menyamakan lambatnya langkah dengan tatih langkah di sebelahnya. Ya Allah, entah apa maksudMu menghadirkan om Armin dalam kehidupan kami, menancapkannya begitu dalam, namun hanya sekejap. Bahkan rasa penasaran Mama tentang isi puisi lamanya pun belum terjawab.

“Tring” tiba-tiba notifikasi Whatsappku voice call-ku berbunyi.  Ternyata dari Mama.  Aku menjawabnya, dan mendengar suara hangatnya.

“Halo Arina sayang”

“Halo Mama sayang, apakabar? Arina kangen”

“Mama baik sayang, bagaimana kursus bahasamu? Lancar?”

“Alhamdulillah Ma..”

“Minggu depan Mama mau ke Jakarta, menghadiri pernikahan Sarah Mintaraga ,putri bungsunya Om Armin almarhum”

“Sama siapa ma?”

“Sama tante Tini dan tante Wuri, juga beberapa teman SMP Mama”

“Memangnya Mama diundang?”

“Ya, Mama diundang khusus sama Sarah. Minggu lalu Sarah datang dengan calonnya ke Bandung mengantar  undangan, sekaligus mengantarkan puisi Mama”

 “Sarah menemukan puisi itu di kantong kemeja putih yang digunakan ayahnya pada saat terakhirnya. Rupanya om Armin sudah berniat untuk menepati janjinya pada Mama tentang puisi itu. Tapi waktu tidak mengizinkan” suara Mama melemah.

“Ya Allah Ma..” Dadaku rasanya sesak ingin memeluk Mama diseberang suara sana. Akupun terisak.

“Lho, Arina jangan menangis. Mama gak apa-apa kok, Mama bersyukur sudah sempat mengenal  om Armin dalam hidup Mama. Meskipun sebentar, tapi cukup banyak hal baru yang dia berikan, yang membuat Mama jadi lebih sehat dan bersemangat seperti sekarang. Oom Armin orang yang sangat baik, bila Arina berdoa, jangan lupa selipkan doa untuk oom Armin dan keluarganya ya?”

“Baik Ma....In syaa Allah. Ma, apa mama gak merasa kesepian?” tanyaku

“Hmm.. sepi sih memang. Gak ada kamu yang cerewetin Mama. Tapi Mama bahagia, kamu bisa melakukan apa yang kamu suka. Mama sadar sepi ini demi kebahagiaanmu, mimpimu. Kejarlah sayang, lakukan yang terbaik, Mama mencintaimu dengan doa.”

Mama pun menutup telponnya. Bulir-bulir hangat meluncur di pipiku. Aku bangga pada ketegarannya sejak dulu. Hidup kami memang tidak selalu berjalan dengan manis. Tapi perpaduan antara kepahitan dan kemanisan yang tepat, akan menjadi kenikmatan yang selalu kami syukuri. Seperti kopi susu di cangkir Papa dulu.  Aku yakin meski berjauhan kami terus saling  menjaga dengan kekuatan terbesar kami yaitu cinta dan doa.

 Semenit kemudian Mama mengirimkan sebuah foto di kolom chat, dia menambahkan caption di bawahnya. “Arina sayangku, ini Puisi Mading Mama itu.”

 

KU MINTA RAGAMU

Andai kuminta ragamu

Aku meragu akankah kau mengizinkanku

Andai kuminta hatimu

Adakah layak ku menjaga bahagiamu

Andai kuminta waktumu

Ku tak tau adakah masih ada kesempatan itu

Andai kuminta doamu

Ku tahu pasti kau akan ucapkan selalu untukku.

Tuntunlah aku dengan doamu, antarkan aku menuju tempat tertinggi.

Untuk mencintaimu.

Saridewi, Bausasran 1954