Profesor Rempah

Profesor Rempah

"Siapa yang belum minum wedang serenya?" teriak bunda sambil memandang segelas wedang sere yang sudah mulai dingin di atas meja.

Dengan memandang sisa gelas yang di meja bunda sudah tahu ada yang belum meminum 'minuman wajib' di rumah ini.

"Terus aja ya, gak mau minum. Ngerti gak kalau sekarang ini lagi Corona? Ini memang bukan obat tapi paling tidak buat menjaga kondisi tubuh kita biar fit. Makanya baca, biar ngerti kalau segala minuman rempah gini bagus buat badan. Untung lho, Kakak punya Bunda yang mau buatin, mau repot nyongkel sere, jahe di kebun, terus mau berjuang masakin di dapur, Kakak cuma tinggal minum aja tetep susah. Dengerin ya, di luar sana pada beli mahal lho sere, jahe kayak gini, dan mereka mau beli mahal. Mbok ya manut kalau Bunda suruh minum. Rasanya enak kok, cuma emang Kakak selalu nolak apapun yang buat kesehatan. Jangan kepedean jadi orang, Corona itu gak keliatan, jadi kita kudu waspada." Omelan panjang yang selalu sama hingga seisi rumah sudah hapal.

Sejak Corona menyerang dunia, banyak info di media massa bahwa berbagai jenis rempah bisa menghalau si virus dengan menjaga imunitas tubuh kita. Maka sejak itu pula bunda merasa wajib meracik berbagai rempah setiap hari, menghidangkan dalam gelas cantik agar tampak menarik, terutama untuk kedua gadisnya yang memang selalu menolak untuk meminumnya dengan berbagai alasan. Entah bau yang tak enak, rasa yang aneh, seribu alasan untuk menolak meminumnya. 

Tapi bukan bunda kalau tidak bisa memaksa anaknya meminum apa yang sudah tersaji. Bak polisi militer ia menunggu kedua gadisnya untuk menegak minuman rempah dalam gelas. Akhirnya dengan terpaksa wedang sere itu habis diminum, selalu seperti ini. Buat mereka sudah terbiasa pula dipaksa minum wedang rempah oleh bunda.

Walau sampai saat ini bila ditanya wedang rempah apa yang menjadi kesukaan mereka, selalu mendapat jawaban yang sama yaitu gelengan kepala. Seakan kompak menggelengkan kepala karena mereka belum bisa menikmati rasa sesungguhnya dari setiap rempah yang ada.

"Bunda, kalau Kakak minta wedang jeruk nipis aja boleh gak?" pinta kakak suatu sore.

"Boleh dong, tapi tetep dikasih geprekan jahe dikit, ya," ujar bunda sambil tersenyum.

"Kalau gak pakai jahe boleh?" Kakak mencoba bernegosiasi.

"Kenapa? Gak suka jahe?" tanya bunda.

"Iya pedes rasanya, tapi baunya seger," balas kakak.

"Rasanya pedes? Biar perut gak kembung itu. Hujan gini kan, suhu tubuh dingin, kita jarang bergerak diam di rumah terus, aktivitas berkurang karena gak kemana-mana makanya tubuh butuh minuman hangat. Jahe ini bisa buat tubuh kita hangat, perut jadi gak kembung, jahe juga bagus banget buat kulit kita biar cerah, jadinya gak perlu banget pakai perawatan skincare yang mahal dan berisiko. Konsumsi jahe secara teratur aja udah bagus dan alami.

Terus semasa Covid gini minuman rempah itu bagus banget, Kak." Penjelasan bunda yang panjang kali lebar kali tinggi bikin kakak rada senewen.

"Intinya Kakak tetep harus kasih geprekan jahe di wedang jeruk nipisnya?" tanya kakak putus asa.

"Iya dong, Bunda kan, pengen Kakak sehat dan cantik," balas bunda sambil mengaduk rebusan rempah di panci.

"Iya udah kalau gitu ...." balas kakak menyerah.

Sudahlah Nak, jangan membantah karena bunda sayang kalian. Makanya cerewet rada maksa minum wedang rempah walaupun bunda tahu kalian tidak suka. Untuk saat ini menjaga kesehatan adalah hal utama. Bunda tak ingin salah satu dari kita sakit, karena kata sakit adalah perkara besar. 

Saat sakit kita akan terpisah jauh, bunda tak akan bisa merawat kalian dengan leluasa. Jangan bertanya kenapa demikian. Semua sudah berubah, Nak. Sejak Covid-19 menguasai dunia, standar protokol kesehatan pun berubah, dan kita harus menaati protokol kesehatan yang ada demi keselamatan kita bersama.

Untuk ini, semua bunda adalah garda terdepan di keluarga, saat bunda tidak mengijinkan kalian keluar rumah tolong patuhi, saat bunda cerewet menyuruhmu minum ramuan rempah yang rasanya aneh menurut kalian tolong minumlah. Benar rasa wedang rempah ini tidak seenak jus buah atau capuccino kesukaan kalian tapi ini adalah minuman kesehatan yang sedikit bisa menjaga imunitas kalian dari virus menyeramkan itu. Saat bunda selalu parno menyuruhmu memakai masker ke manapun kalian pergi, tolong pakailah masker secara benar agar tak ada celah buat virus itu masuk ke tubuhmu. Jangan pernah bosan mencuci tanganmu karena kamu tak pernah menyadari benda kecil yang kalian pegang dengan tidak sengaja itu bisa saja menjadi petaka besar untukmu.

Begitupun saat bunda selalu melarang kalian kumpul bersama teman di luar sana, percayalah Nak itu karena bunda sangat menyayangi kalian. Mari kita manfaatkan pandemi ini untuk berbagi apapun dengan keluarga kita. Anggaplah ini sebagai pengganti waktu kita yang banyak hilang di waktu yang lalu. Kita buat kegiatan di rumah seasik mungkin. Bahkan apapun yang tak mungkin bisa kita wujudkan menjadi mungkin. Berkemah di kebun belakang juga mengasikkan, kita tetap bisa bakar singkong dan makan mie instan serasa camping di atas bukit, kita juga bisa mandi hujan bersama di belakang rumah, asik berlari di bawah derasnya hujan sambil tertawa adalah hal ajaib yang bisa kita lakukan. Anggaplah kita sedang mandi di bawah air terjun di kaki bukit. Semua akan terasa indah saat kita melakukannya bersama.

"Bunda ternyata kalau jahe, jeruk, dicampur madu dikit rasanya enak, ya," ujar kakak sambil memperlihatkan gelasnya yang sudah kosong dengan senyum.

"Iya enak lho Kak, manis kecut," tambah adik yang juga mengangkat gelasnya yang kosong.

"Naah kan, enak. Boleh dicampur madu, gula aren, karamel, apapunlah yang penting diminum habis. Biar semua sehat," jawab bunda.

"Kalau sere rasanya lebih lembut ya, Bun, gak pedes kayak jahe," ujar kakak.

"Yang masih rada aneh itu rasa temu lawak dan kunyit, kaya ada rasa gimana gitu di tenggorokan," lanjutnya.

"Tapi khasiatnya sama bagusnya jadi tetep harus belajar buat diminum ya, demi kesehatan," ujar bunda sambil terus menggemburkan tanah menanam berbagai jenis rempah di kebun.

"Itu Bunda nanem apa?" tanya adik.

"Ini namanya kencur, wanginya enak banget. Rempahnya lebih imut dari yang lainnya, besok kalau sudah tumbuh daunnya juga unik nempel di tanah, bagus banget." Penjelasan bunda membuat anak gadisnya tertawa.

"Bunda tuh beneran dah, berasa jadi ahlinya rempah-rempah. Kok bisa hapal sih, Bun?" tanya kakak dengan nada takjub.

"Belajar Nak, semua harus dipelajari. Sambil belajar juga untuk mencintai, pasti jadi ahlinya," ujar bunda bergaya ilmuwan.

"Mulai hari ini Bunda dapat gelar Profesor Rempah, jabatan paling tinggi untuk pemilik serikat kebun karena Bunda hapal semua jenis rempah dan juga manfaatnya," teriak kakak yang disambut tepuk tangan adik dan juga tawa kami bertiga.

Apapun jabatan yang kalian berikan, bunda terima asal kalian tetap meminum segelas wedang rempah yang bunda buat dengan cinta untuk kalian.

Tak ada tujuan lain demi kesehatan kita semua. Karena bunda ingin kita bersama berjuang melawan virus ini dan ingin menjadi pemenangnya di kemudian hari.

Jadi mari terus berjuang, taat pada protokol kesehatan, ikuti anjuran pemerintah tentang 5 M, karena #vaksinsajatidakcukup untuk mengantarkan kita sebagai pemenang Covid-19.