Presesi, Pandemi, Selfi

Fenomena selfi pegawai saat ini

Presesi, Pandemi, Selfi

Presensi, Pandemi, Selfi

"Eh, aku belum absen." Tiba-tiba saja bunda menghentikan pekerjaannya membuat teh untuk ayah. Lalu beranjak meninggalkan dapur menuju kamar, memakai kerudungnya dan bolak-balik berkaca merapikan pakaian dan memasang tanda-tanda di dadanya.

Setelah itu bunda meraih ponsel dari sofa di ruang tengah. Duduk dengan memilih latar belakang yang menurutnya paling pantas untuk ikut tampil. Lalu cekrak-cekrek lihat hapus cekrak lihat hapus ulang lagi ulang lagi sambil bolak-balik tak sadar bibir ikut monyong. Mencap-mencep plengah-plengeh, dan yak... cakep (menurut bunda) hasil swaphoto presensinya.

Seluruh anggota keluarga harap maklum, mau komentar apapun ga bakalan digubris. Kalau sudah urusan dengan perintah atasannya bunda, ga bakal direken.

"Wah, sekarang jadi makin banyak Ratu Selfi ya, kalau presensinya model kaya gini." Komentar ayah.

"Biarin, daripada kena potong gaji!" Sahut bunda dengan sengit karena merasa diledekin.

Masa pandemi memang masa yang penuh sensasi. Paling tidak, itulah yang dirasakan bunda saat ini. Berbagai surat edaran dari dinas bermunculan berseliweran silih berganti kadang tanpa permisi. Semua bertujuan mengatur kinerja pegawai agar tetap siap melayani masyarakat walau bekerja dari rumah ( Work From Home ) di masa pandemi.

Salah satu aturan yang harus dilaksanakan oleh semua pegawai pemerintah daerah adalah presensi. Dengan bukti presensi dengan aplikasi time stamp, maka akan terdeteksi keberadaan pegawai pada jam dinas yang sudah diatur. Sejak itu, setiap pagi dan petang, para pegawai melatih diri untuk mampu berswaphoto kemudian dikirim melalui whatsapp kepada atasan masing-masing.

Berbagai ekspresi bermunculan tiap pagi dan petang. Senyum, manis, tegang, bosan, bangun tidur, lupa seragam, bahkan telat jam. Ponsel menjadi barang penting untuk mendukung keberlangsungan kerja seorang pegawai. Begitu banyak yang harus disesuaikan, diatur ulang dan membiasakan diri dengan perubahan.

Wkwkwkwk... fenomena ini terasa sangat menggelikan. Tapi mau bagaimana lagi. Aturan memang harus diikuti oleh seluruh pegawai tanpa kecuali.