Pilihan

Haruskah Dewi memilih antara cinta dan moral?

Pilihan

PILIHAN

 

Malam ini aku berdandan dengan hati-hati. Aku ingin kelihatan lebih cantik dan memukau. Dua hari yang lalu aku sudah membeli baju dan sepatu baru yang membuat penampilanku lebih anggun. Parfum yang kupakai juga khusus, rekomendasi mbak Lina, teman kantorku. Katanya, bau parfum ini sensasional dan bisa memabukkan laki-laki, karena dia sudah membuktikannya kepada suaminya. Aku tersenyum geli mengingat bagaimana mbak Lina merayu suaminya untuk membelikannya tas Verrou Chaine, keluaran Hermes yang terbaru.

            Setahun sudah aku berpacaran dengan Daniel. Di mataku, ia adalah laki-laki yang kuimpikan selama ini. Ia ganteng, berwibawa, pintar dan sopan. Walaupun ia menduduki posisi yang tinggi di perusahaannya, ia tidak sombong, bahkan cenderung rendah diri. Kami sering mampir di warung untuk sekedar minum kopi dan makan pisang goreng sambil berbagi cerita mengenai apa saja. Kadang juga kami makan bakso di samping gerobak tukang bakso, lalu saling menertawakan wajah kami yang kepedasan. Dan malam ini, kami akan merayakan setahun hari jadi kami.

            Selama setahun aku belum pernah mengenalkan Daniel baik kepada teman-teman dan keluargaku. Aku tidak ingin gegabah mengenalkan pacarku kepada mereka. Pengalaman pacaranku sebelumnya telah mengajarkan untuk tidak terburu-buru mengenalkan pacarku. Aku harus yakin siapa dia dan bagaimana perasaannya terhadapku untuk kemudian membawanya ke lingkungan terdekatku. Tapi malam ini aku yakin pada pilihanku, dan aku akan menyampaikannya malam ini. Aku akan membuka diriku untuk ia kenali lebih dalam dengan mengenalkannya ke teman-teman dan orang tuaku. Mereka pasti menyukaiya.

            Bel pintu apartemenku berbunyi, dan aku bergegas membukanya. Aku tidak sabar melihat ekspresinya dengan penampilanku malam ini. Daniel berdiri di luar sambil membawa sekuntum bunga mawar. Aku tahu dia terpukau karena matanya berbinar memandangku dari ujung kepala sampaike ujung kaki. Tapi sebaliknya, ia tampil tidak sesuai dengan harapanku. Ia hanya memakai pakaian kasual – kaos polo dan celana jeans.

            “Selamat malam, Dewiku.” Ia selalu menambahkan kata “–ku” di namaku. ‘Karena engkau tercipta hanya untukku,’ demikian ia selalu menjawab bila aku tanya. “Kamu tampak cantik sekali malam ini.” Ia mendaratkan ciumannya di kedua belah pipiku. Aroma aftershave yang menyegarkan tercium.

            “Abang koq hanya pakai kaos dan jeans? Bukannya kita akan keluar makan malam,” kataku sedikit merasa kesal. Walau sebenarnya ia tampak ganteng memakai baju apapun. Tapi khusus malam ini, aku ingin dia tampil istimewa sebagaimana aku berusaha keras menyiapkan penampilanku.

            “Maaf sayang, tapi abang tidak bisa menepati janji. Abang tidak bisa mengajakmu makan malam.” Ia berkata tanpa memandang ke arahku.

            “Kenapa? Abang lupa hari ini kita mau merayakan apa?”

            Daniel meraih tanganku, dan mengajakku duduk di sofa panjang di ruang tamuku yang sempit. Tidak banyak perabotan di apartemen ini karena memang ruangnya yang terbatas. Namun apartemen ini aku sewa dengan penghasilanku sendiri, dan aku dekor mengikuti seleraku.

            “Ada yang abang perlu sampaikan kepada Dewiku.” Suaranya datar dan tidak hangat seperti biasa.

            Perasaanku mengatakan bahwa ia akan menyampaikan hal yang buruk. Oh tidak!! Apakah ia akan memutuskan hubungan denganku?’. Nafasku tercekat dan hawa dingin mulai merambat ke seluruh tubuhku. Tidak malam ini. Jangan malam ini. Apa salahku? Aku tidak ingin kehilangan bang Daniel. Aku mulai merasa panik.

            Daniel menatapku dalam sebelum berkata, “Dewi, abang sayang kepadamu.”

            Hhhh...leganya perasaan ini mendengar pernyataannya. Tapi nada suaranya menggantung. Akan ada ‘tapi’ yang menyusul.

            “Tapi abang harus jujur kepadamu. Abang tidak ingin kehilangan Dewi, dan sangat ingin memilik Dewi. Abang ingin menikahi Dewi.”

            Oh my God! Ini lebih dari yang aku harapkan untuk malam ini. Wajahku berseri dan senyumku merekah. Aku berteriak kegirangan dan ingin sekali memeluk erat tubuhnya dan mencium bibirnya. Ini hadiah terindah untuk hari jadi kami. Aku sungguh tidak menduganya.  Namun seketika Daniel menahan tubuhku.

            “Tapi status Dewi nanti adalah istri kedua.”

            Hah?! Apa?! Apa yang aku dengar? Istri kedua? Bukankah bang Daniel belum menikah?  Aku mematung, dan memandangnya penuh kebingungan. Tidak pernah aku menduga kalo ia sudah beristri. Ia selalu ada bila aku menelponnya, selalu datang bila aku memintanya, dan selalu menemaniku di setiap akhir pekan. Bagaimana mungkin ia sudah menikah kalo tiap saat dia ada di dekatku dan menghabiskan hampir seluruh waktunya denganku?

            Seperti bisa membaca pikiranku, Daniel melanjutkan perkataannya. “Aku sudah menikah. Tapi tidak dengan pilihanku. Orang tua kami menjodohkan kami karena alasan bisnis. Aku tidak mencintai dia. Aku cuma cinta Dewi.”

            Daniel mencoba meyakinkanku. Tatapannya seakan memohon pengertianku. Aku rasakan tangannya dingin dan peluh keringat tampak mengembun di dahinya. Nafasnya terengah-engah seperti ia tengah berusaha keras mendorong suatu keluar dari tubuhnya. Mungkin kenyataan ini sudah lama ia pendam, dan menjadi beban untuknya.

            Aku mengambil nafas panjang karena gamang dengan apa yang barusan Daniel katakan. Tapi aku harus kuat untuk mendapatkan fakta yang sebenar-benarnya. “Kapan abang menikah? Apa dia ada di kota ini juga?”

            Sambil menyenderkan badannya ke sofa, Daniel bercerita. “Kami menikah empat tahun yang lalu. Waktu itu aku baru saja menyelesaikan program master, dan dia selesai kuliah. Orang tua kami adalah mitra kerja, dan berpikir bahwa perusahaan mereka akan lebih maju apabila dipimpin oleh kami berdua. Sebagai bentuk penyatuan perusahaan mereka, kami berdua dijodohkan. Dan ya, dia ada di kota ini tapi dia lebih sering ke luar negeri karena harus menangani klien perusahaan di sana.”

            Aku baru ingat kalo Daniel beberapa kali izin kepadaku untuk pergi ke luar negeri, dan itu sangat sering. Tapi aku menyangka kalo ia pergi untuk urusan pekerjaan dan sendirian.

            “Kenapa abang tidak menolak?”

            “Saat itu aku punya ambisi yang sama dengan orang tuaku. Lagipula aku tidak melihat ruginya menikahi anak mitra ayahku. Ia pun punya tujuan yang sama denganku. Kami berdua sepakat untuk mengikuti permintaan orang tua, lalu bersama-sama bekerja keras mengembangkan perusahaan sampai maju seperti sekarang.”

            Perlahan aku mengambil jarak darinya. Menurutku, apapun alasannya Daniel menyetujui pernikahan itu terjadi, dan ia menjalaninya. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dihabiskan bersama dengan seseorang. Mereka pasti sudah melakukan hubungan layaknya pasangan yang sudah menikah dan berbicara mengenai masa depan. Aku juga cukup tahu karakter Daniel, istrinya pastilah cantik. Karena ia pernah berkata bahwa yang membuatnya pertama kali memperhatikanku adalah karena wajahku yang cantik.

Daniel merasakan keraguanku. Cepat ia raih tanganku dan menarikku untuk duduk kembali dekat dengannya.

            “Aku tidak mencintainya, Dewi. Percayalah. Ini hanya pernikahan bisnis. Aku tidak tahu apa itu cinta sampai aku bertemu denganmu. Selama ini aku berfikir bahwa cinta hanya ada di novel-novel picisan dan film-film romantis amatiran. Tapi aku benar-benar mengalaminya denganmu”

            Kepalaku mulai berdenyut. Ini bukan laki-laki yang aku idamkan untuk menjadi pendampingku. Ia sudah berbohong sejak pertama kali bertemu, dan ia terus menyembunyikan kebenaran sampai aku terlena dengan romantismenya. Bagaimana aku bisa mempercayainya sekarang? Ia sudah tega membohongiku. Apapun alasannya ia sudah menikah. Artinya, aku sudah menjadi perusak rumah tangga orang. Apa aku tega melakukan itu kepada sesama perempuan?

            “Tapi abang sanggup hidup bersamanya selama empat tahun. Berarti pernikahan abang berjalan sempurna sampai aku datang. Aku bukan perempuan yang suka mengganggu suami orang, apalagi merusak rumah tangga. Aku dekat dengan abang karena aku kira, dan abang memberikan keyakinan, bahwa abang belum menikah.”

            Aku berdiri dan menjauh darinya. Perasaanku berkecamuk dengan kecewa, marah, sedih dan cinta. Ya, aku masih tetap mencintainya. Tapi bagaimmana aku bisa terus bersamanya? Ia bukan hakku, tapi hak orang lain. Tanpa terasa air mataku berderai. Teganya dia membohongiku padahal aku mencintainya dengan tulus. Perasaannya kepadaku pasti juga bohong besar.

            “Dewi, aku tahu apa yang aku lakukan salah. Aku mengkhianati istriku dan membohongimu. Tapi aku tidak bisa melawan perasaanku kepadamu. Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk meninggalkan dan melupakanmu. Tapi aku tidak bisa. Aku sungguh-sungguh mencintaimu.”

            Daniel berusaha meraihku. Ia tidak pernah sebelumnya melihatku menangis. Tapi apa peduliku. Ia sudah menyakiti perasaanku.

            “Lalu istri abang?,” tanyaku di sela isak tangis.

            “Aku tidak bisa menceraikannya.” Ia menghela nafas panjang. “Kami terikat perjanjian pernikahan. Makanya aku hanya bisa menawarkanmu sebagai istri kedua.”

            Istri kedua. Apa kata orang tua dan teman-temanku? Sudah tidak bisakah aku mencari pasangan sehingga setuju menjadi istri kedua? Apa aku tidak bisa lagi menarik perhatian laki-laki lain sehingga terus bersama bang Daniel? Melihat aku tidak memberikan respons, ia melanjutkan perkataannya. “Aku akan minta izin istriku untuk menikahi Dewi, dan aku yakin dia akan menyetujui. Dia tahu aku tidak bahagia dengan pernikahan bisnis seperti ini, dan bahwa aku menginginkan adanya keturunan. Istriku tidak bisa memberikanku anak.”

            Daniel menundukkan kepalanya. Dari sudut mataku yang berlinangan air mata, kulihat ekspresi wajahnya yang murung. Selama ini aku memang memperhatikan betapa senangnya ia bila berada dekat dengan anak kecil. Itulah juga salah satu alasanku memilihnya. Aku yakin ia bisa menjadi ayah yang baik bagi anak-anak kami. Tapi mengapa kedengarannya seperti alasan yang dicari-cari.

            Aku beberapa kali membaca di majalah dan internet tentang cerita seperti ini. Alasan para lelaki di cerita itu hampir mirip dengan apa yang diutarakan Daniel. Apakah aku sekarang menjalani peran tokoh utama di cerita itu. Tidak mau!! Aku berteriak dalam hati.

            Seakan mendengar teriakanku, Daniel datang mendekatiku. “Dewi, percayalah kepadaku. Kasihilah aku seperti aku mengasihimu.” Ia meraih tanganku. Tatapannya menghiba, dan aku harus menutup mataku agar tidak melihatnya. Kukepal kuat-kuat tangan melawan keinginanku membelai wajahnya. Please jangan melihatku dengan tatapan seperti itu.

            “Aku cinta padamu, Dewiku. Hidupku tidak berarti tanpa kau disisiku.”

            Aku juga cinta kepadamu, bang. Sungguh. Aku bersedia untuk melakukan apapun untukmu. Tidak tahu bagaimana hidupku tanpa abang di dekatku. Air mataku kian deras. Kepalaku makin berdenyut. Perasaanku mulai mempertanyakan logikaku.

            Daniel tidak menyintai istrinya sebagaimana ia mencintaiku. Pernikahan mereka hanya untuk tujuan bisnis. Dan mereka belum memiliki anak. Aku bisa mewujudkannya untuk bang Daniel, dan ia pasti akan terus mencintai aku dan anak-anak kami. Biarlah aku menjadi istri kedua, asalkan perhatian Daniel bisa terbagi rata antara aku dan istri pertama. Aku yakin bang Daniel bisa melakukannya.

            Lagi-lagi Daniel bisa membaca pikiranku. “Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu. Waktuku akan kuluangkan lebih banyak bersamamua. Apalagi kalo kita memiliki anak. Kamu dan anak kita akan menjadi prioritasku”

            Perlahan kubuka mata. Kami saling bertatapan. Daniel mendekatkan dirinya. Tangannya menghapus sisa airmataku. Kuteteskan airmata yang terakhir, dan kuhela nafas panjang.

            “Maafkan aku, bang. Aku tidak bisa menerima tawaranmu. Kita akhiri saja hubungan ini.”

            Mata Daniel mencari mataku. Ia ingin memastikan bahwa aku berkata yang sebenarnya. Tangannya memegang kedua sisi wajahku.

            “Yakinkah kamu dengan keputusanmu? Kita putus dan tidak akan bertemu lagi? ”

            Aku membalas tatapannya, dan dengan segala kekuatan, menganggukkan kepala. Sekali lagi aku mengepal kuat-kuat tanganku. Perasaanku sekali lagi melawan. Bujuk aku bang. Jangan menyerah. Yakinkan aku lagi bahwa engkau adalah laki-laki yang tepat untukku. Tapi aku katupkan bibirku rapat-rapat agar kalimat itu tidak terucap. Karena saat itu, logikaku menghardik perasaanku.

            Dewi, yakinkah kamu bahwa masa depanmu akan lebih baik bersama dengannya? Apakah ia tidak akan berbohong dan menyakitimu? Akankah ia menetapi janjinya kepada kepadamu dan anaknya? Benarkah ia akan berlaku adil antara dirimu dan istri pertama? Bila kamu tidak bisa memberinya anak, akankah ia tetap menyayangimu? Tidak akankah ia mengulangi apa yang diperbuat kepada dirimu kepada wanita lain? Kamu masih muda dan cantik. Berilah kesempatan pada dirimu untuk mencari laki-laki lain. Untuk sementara, putus dengannya pasti sangat menyakitkan dan akan membuatmu merasa kehilangan. Tapi percayalah kepada dirimu bahwa kamu bisa menjadi orang yang lebih baik tanpa Daniel.       

             Daniel merasakan perlawananku dan ia menarik tangannya dari wajahku. Ia paham bahwa malam ini apapun yang ia katakan tidak akan mempengaruhiku.

            “Aku tidak akan meminta lagi, dan akan pergi. Tapi ketahuilah, aku akan tetap menunggumu. Telepon aku kapan saja, dan aku akan datang.”

Sesaat ia menatapku kembali, namun aku tidak bergeming. Perlahan ia melangkah menjauh dan berbalik ke arah pintu keluar. Ia membuka dan menutup pintu tanpa suara. Lamat-lamat kudengar langkah kakiknya di lantai koridor apartemen. Dua menit kemudian tidak ada suara apapun yang kudengar selain suara angin mengetuk jendela kamarku. Perasaanku sakit dan menyalahkan logikaku. Bayangan sepi mulai merayap di benak mata.

Sanggupkah aku menjadi lebih baik tanpa Daniel? Adakah laki-laki lain yang mampu mencintai aku sebaik Daniel? Oh logika dan hati, berdamailah dan berikan aku jawaban yang terbaik.

Di hadapanku, telepon genggam dengan latar foto kami berdua sunyi. Akankah berbunyi kembali dengan pesan-pesan romantisnya? Jantungku berdetak kencang. Bulir keringat dingin pelan-pelan mengembun di dahi. Malam semakin sunyi dan bulan sembunyi di balik awan. Dengan tangan gemetar, aku meraih telepon genggam dan mencari nama Daniel. Tampak di layar, pilihan Panggil dan Hapus.  Dengan satu helaan nafas panjang, jariku menekan satu pilihan akhir.

             

***

Jakarta, Des 2020

Vee Cemal