PERMINTAAN MAAF SEORANG PEMBUNUH MASSAL

"Kesalahan terbesar dalam hidup Ayah adalah bahwa Ayah percaya segala sesuatu yang datang dari atas dengan penuh keyakinan, dan Ayah tidak berani sedikit pun meragukan kebenaran yang disajikan di hadapan Ayah." Itulah pesan terakhir yang disampaikan Rudolf Hoess, komandan kamp tahanan Auschwitz, kepada anaknya melalui surat yang ia tulis dalam sel penjara di Polandia. Surat-surat terakhir Hoess mengungkap sisi lain dari "Sang Pembunuh Massal" .

PERMINTAAN MAAF SEORANG PEMBUNUH MASSAL
Hoess dan keluarga

 

Sekelompok tentara menggedor-gedor pintu sebuah rumah yang didiami oleh sekeluarga buruh tani. Ketika pintu akhirnya dibuka, mereka meneriaki anak-anak di dalam rumah itu, “Di mana bapakmu berada? Di mana bapakmu berada?!”

Pada malam 11 Maret 1946, para tentara Inggris itu mendatangi seorang laki-laki paruh baya. Ia mengaku sebagai seorang petani bernama Franz Lang. Dengan ancaman akan memotong jarinya, seorang tentara memaksa laki-laki tersebut untuk melepaskan cincin kawin yang ada pada jarinya. Pada sisi dalam cincin yang akhirnya dilepaskan tampak terukir dua nama: “Rudolf” dan “Hedwig”. Terungkaplah siapa jati dirinya sesungguhnya, ia adalah Rudolf Hoess (Höss), komandan kamp Auschwitz yang dijuluki pembunuh massal terbesar sepanjang sejarah.

Tentara-tentara Inggris tersebut (yang sebagian merupakan orang Jerman Yahudi) sudah lama mengintai dan menginterogasi keluarga petani yang tinggal di bagian barat laut Jerman itu. Mereka mendatangi tempat persembunyian Hoess setelah mendapat bocoran dari istri Hoess sendiri, Hedwig, yang memberi informasi tersebut untuk melindungi anak sulungnya, Klaus, dari tentara Inggris. Hoess dan keluarga telah melarikan diri dari Auschwitz setelah kekalahan Jerman pada Perang Dunia II yang diikuti oleh tindakan bunuh diri Hitler.

Berbeda dengan para tentara Nazi lainnya yang diadili untuk kejahatan perang, Hoess tidak menyangkal keterlibatannya dalam pembunuhan massal di Auschwitz sepanjang 1940–45. Selama memberi kesaksiannya di Mahkamah Internasional Nuremberg tentang pembunuhan para tahanan di Auschwitz, Hoess tampak menuturkan fakta-faktanya dengan dingin dan tanpa penyesalan.

Kesaksian Eleonore Hodys

Kesaksian seorang perempuan tahanan politik non-Yahudi asal Austria, Eleonore Hodys, kepada tentara Amerika, juga menambah bukti-bukti tentang kekejaman yang terjadi di kamp tahanan Auschwitz. Hubungan antara Hoess dan Hodys kerap disebut sebagai sebuah “affair”, tetapi juga diperdebatkan sebagai perkosaan. Hodys dipekerjakan di rumah Hoess dan keluarganya di Auschwitz yang tak jauh dari kamp tahanan. Dari kesaksiannya, tampak Hodys mendapat beberapa perlakuan khusus. Setelah Hoess beberapa kali mendatangi Hodys di dalam selnya, ia dipindahkan ke sel yang lebih memiliki “privasi”. Hubungan badan dengan Hoess terjadi sebanyak “4 hingga 5 kali”, aku Hodys.

 

Rudolf Hoess (tengah) menjelang eksekusi (Wikiepdia)

Rudolf Hoess (tengah) menjelang eksekusi (Wikipedia)

 

Sebagian pengamat menafsirkan hubungan Hoess dan Hodys sebagai “perselingkuhan” karena menganggap Hodys melakukannya dengan persetujuan—meski untuk mendapat keringanan-keringanan dalam menjalani hidup di kamp. Bagi pengamat lain, hubungan ini adalah perkosaan karena Hodys melakukan hubungan badan dengan Hoess di bawah tekanan dan sebagai strategi pertahanan hidup di tengah penyiksaan dan pembunuhan keji terhadap tahanan di Auschwitz.

Ketika Hodys diketahui hamil, Hoess memerintahkan agar Hodys ditahan dalam sel isolasi dengan makanan terbatas sebagai usaha untuk menghabisinya. Terungkapnya kehamilan Hodys pun berdampak pada jabatan Hoess, untuk sementara waktu ia dipindahtugaskan dan seorang komandan baru Auschwitz ditunjuk. Hodys akhirnya difasilitasi untuk melakukan aborsi.

Sosok Hoess

Lahir pada 25 November 1901 di Baden-Baden, Jerman, Hoess dibesarkan di bawah nilai-nilai kedisplinan militer dan fanatisme agama. Saat remaja, mengikuti jejak ayahnya, ia menjadi tentara. Beberapa pengalaman terkait agama mengecewakannya sehingga saat dewasa ia memutuskan untuk meninggalkan agama dan kemudian bergabung dalam partai Nazi. Hoess pun menjadi tentara yang patuh pada perintah dan menjunjung tinggi ideologi fasis Nazi.

Hingga menjelang kematiannya pun, saat sudah dipindahkan ke penjara Polandia, ia mengaku masih menyakini keunggulan ideologi Nasional-sosialisme. Meski sempat mengalami keraguan, ia kemudian berkesimpulan bahwa para pemimpin Nazi telah membawa ideologi tersebut pada kesesatan. Dalam memoar yang ia tulis selama dalam tahanan di Polandia, Hoess menyatakan:

"Saya yang sekarang sama seperti dulu, sejauh menyangkut filosofi hidup saya ... masih seorang Sosialis Nasional. Seseorang yang telah menyakini sebuah ideologi, filsafat, selama hampir dua puluh lima tahun dan yang terikat dengannya jiwa dan raga tidak bisa begitu saja membuangnya hanya karena ... negara Sosialis Nasional dan para pemimpinnya bertindak salah."

Melukai Kemanusiaan

Menjelang hari menjalani hukum mati, Hoess menulis sebuah surat permintaan maaf dan menunjukkan penyesalannya.

"Hati nurani saya memaksa saya untuk membuat pernyataan berikut. Dalam kesendirian di sel penjara saya, saya sampai pada sebuah pengakuan pahit bahwa saya telah melakukan dosa besar terhadap kemanusiaan. Sebagai Komandan Auschwitz saya bertanggung jawab untuk melaksanakan bagian dari rencana kejam "Third Reich" untuk penghancuran manusia. Dengan melakukan hal itu saya telah menimbulkan luka mengerikan pada kemanusiaan. Saya telah menyebabkan penderitaan yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata terhadap orang-orang Polandia pada khususnya. Saya harus membayarnya dengan nyawa saya. Semoga Tuhan mengampuni saya suatu hari atas apa yang telah saya lakukan. Saya meminta maaf kepada orang-orang Polandia. ... Semoga fakta yang sekarang sedang terungkap tentang kejahatan mengerikan terhadap kemanusiaan tersebut akan membuat terulangnya tindakan kejam seperti itu mustahil untuk selamanya."

 

Monumen yang menandai lokasi eksekusi Hoess (Flickr)

 

Hoess yang kemudian kembali menganut agama Katolik dan telah dikunjungi pastur di selnya, juga menulis surat kepada anak sulungnya, mengimbaunya untuk tidak melakukan kesalahan yang telah ia lakukan.

"Jaga hati baikmu. Jadilah seseorang yang membiarkan dirinya dibimbing terutama oleh kehangatan dan kemanusiaan. Belajarlah berpikir dan menilai sendiri, secara bertanggung jawab. Jangan menerima semuanya tanpa kritik dan sebagai kebenaran mutlak... Kesalahan terbesar dalam hidup Ayah adalah bahwa Ayah percaya segala sesuatu yang datang dari atas dengan penuh keyakinan, dan Ayah tidak berani sedikit pun meragukan kebenaran yang disajikan di hadapan Ayah. ... Dalam semua tindakanmu, jangan biarkan hanya pikiranmu yang berbicara, tetapi dengarkan terutama suara hatimu."

Pada 16 April, 1947, beberapa hari setelah ia menulis surat-surat tersebut, Hoess dihukum gantung di Auschwitz, kamp yang dahulu ia bangun dan pimpin. Sebuah monumen menandai tempat eksekusi. Memoar Hoess telah dipublikasikan oleh beberapa penerbit.

 

Sumber:
1. A MASS MURDERER REPENTS: The Case of Rudolf Hoess, Commandant of Auschwitz, John Jay Hughes,1998
2. Cuplikan dalam jaringan dari The Nazi Hunters, Andrew Nagorski, 2016
3. Wikipedia

Foto utama: Wall Street Journal (daring)
 

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di halaman Facebook penulis, Some Thoughts from the Cappuccino Girl (https://www.facebook.com/feministpassion/).