Perjumpaan (2)

Cerita fiksi percintaan

Perjumpaan (2)

Perjumpaan (2)

Oleh Berliansari

 

            Semburat sinar mentari pagi meski sedikit awan menyelimuti. Berita kedekatan Ardana, seorang mahasiswa semester akhir sebuah universitas negeri, sekaligus calon sineas muda, dengan Meiliana penulis muda yang mulai tenar tercium wartawan rupanya.

            “Ibu kurang setuju, kamu makin akrab dengan Meiliana.” Ujar ibunda Ardana.

            “Kenapa Bu?” Tanya Ardana.

Apakah karena Ardana memberikan honor pertamanya, sebagai sineas muda kepada Meiliana dengan mentraktirnya tempo hari? Batin Ardana. Ibunda Ardana langsung menunjukkan berita dari media online yang ia baca. Akh wartawan kurang berita. Wartawan mencari duit dengan menuliskan berita Meiliana penulis beken itu dengannya.

            “Wartawan kurang berita Bu. Jika itu yang menjadi masalahnya.” Terang Ardana kepada ibundanya. Sudah menjadi resiko, dekat dengan orang terkenal seperti Meiliana, Ardana menjadi tenar, meskipun Meiliana bukan seorang artis.

            Pagi itu rintik hujan membasahi. Ardana segera pergi mengendarai mobil ke kampusnya. Begitu tergesanya dia. Cukup lama Ardana tidak lagi menekuni studinya, meski tinggal tugas akhir yakni skripsi. Ardana telah memiliki jalan hidup sendiri untuk bekerja, dan masa depannya. Namun desakan keluarga, terutama orangtua membuat Ardana termotivasi untuk menyelesaikan studinya.

            Ciiitttt. Terdengar suara mobil mengerem mendadak.

            Bruggg!!!!! Suara benturan begitu keras terdengar.

            “Kalau jalan pakai mata,…goblokkk!!!!” Seorang laki-laki mendampratnya, diteruskan dengan makian yang keji kepada Ardana. Secepat kilat Ardana keluar dari dalam mobilnya. Sepeda motor yang berlawanan arah telah menabraknya. Terlihat pengendaranya tersungkur jatuh, meski tidak terluka. Buru-buru Ardana mendekat bermaksud ingin menolong. Tapi pria itu dengan tangkas segera menguasai diri sekaligus kendaraannya.

            “Jauhi Meliana, dia sudah bertunangan!!!” Bentak pria itu kemudian.

            Belum sempat Ardana bertanya lebih lanjut. Bergegas pria itu menyalakan kontak sepeda motornya dan berlalu dengan cepat meninggalkan Ardana yang berdiri terpaku. Meiliana bertunangan? Kapan? Kenapa sampai dia tidak tahu? Aneh pikir Ardana.

            Beberapakali Ardana tidak menghadiri pertemuan komunitas penulis, dan otomatis Ardana tidak berjumpa dengan Meiliana. Meilianalah pimpinan komunitas itu. Meiliana pula yang membuatnya maju, sehingga terpilih oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengikuti diklat sebagai sineas muda, bahkan telah berkarya saat ini bersama Hanung Brahmantyo. Ardana harus membagi waktunya untuk menyelesaikan studi dan bekerja. Namun bukan berarti putus komunikasi dengan Meiliana.

 

*****

 

Valentine’s Day

 

            Hal yang sering Ardana lakukan adalah ke rumah Meiliana dengan mengendarai sepeda motor. Hampir tiap malam minggu Ardana bertandang ke rumah Meiliana yang hanya berjarak beberapa blok dari rumahnya. Juga hari itu. Namun, Ardana hampir ditabrak sesama pesepeda motor. Dia terjatuh dari sepeda motornya. Sial. Padahal rumah Meiliana sudah dekat. Meiliana terkejut melihat kedatangan Ardana dengan luka di lengan dan lutut.

            Meiliana mempersilakan Ardana masuk rumahnya. Buru-buru Meiliana menuangkan air panas di baskom kecil dan membersihkan luka dengan waslap. Ardana meringis kesakitan, meski luka itu tidak cukup parah. Tawaran Meiliana untuk periksa di klinik terdekatpun  ia tolak.

            “Makanya hati-hati kalau bersepeda motor.” Meiliana menasihati.

            “Tidak sekali bukan aku ke sini?” Ujar Ardana membela diri.

            Dengan seksama Ardana memperhatikan wajah Meiliana, saat Meiliana sibuk merawat lukanya. Sangat cantik. Kulitnya kuning langsat, dengan lesung pipit di pipinya, terlihat jelas jika tersenyum. Perawakannya tinggi semampai dan proporsional dengan berat tubuhnya. Tidak hanya itu, Meiliana adalah finalis Puteri Indonesia.

            Kemudian Ardana menceritakan hal-hal yang ia alami selama dekat dengan Meiliana. Tentang kejadian tempo hari. Meiliana kaget, ada pria yang mengancam Ardana. Ardana ingin tahu dan menanyakan siapa pria tunangan Meiliana? Bukankah hampir enam bulan Ardana sering menghabiskan malam minggu bersama Meiliana? Meski yang mereka bicarakan, dan bahas, tentang program-program komunitas penulis yang dipimpin oleh Meiliana. Hubungan mereka mirip hubungan kerja. Ardanalah yang berharap lebih. Ardana memaksa perhatian dari Meiliana, yang tampak masih sendiri. Seperti perhatian yang ditujukkan Meiliana saat mengobati lukanya.

            Meiliana mempersilakan Ardana beristirahat di sebuah kamar kosong, terletak di bagian depan rumah. Sementara Mey menuju dapur, menuang minuman untuk ia berikan kepada Ardana.

            Rumah itu sangat luas. Ada dua bangunan rumah. Bangunan yang pertama adalah rumah induk dan di bagian belakang adalah rumah khusus disewakan atau dikostkan. Di antara ke-2 bangunan itu terdapat taman kecil. Meiliana tinggal bersama orangtuanya. Orangtua Mey jarang ada di rumah, sibuk mengurus bisnisnya di bidang property. Sering Meiliana hanya ditemani pembantu dan tak jarang sendiri seperti saat itu.

            Ardana meneguk air minum yang diberikan Meiliana. Sepi. Hanya mereka berdua di kamar itu. Tiba-tiba,…Mata Mey tertumbuk pada sekuntum bunga dan sepotong coklat yang dibawa Ardana.

            “Mey,…” Sapa Ardana hanya dengan memanggil nama saja. Sebab sejak Ardana mentraktir Mey, Arda hanya ingin memanggil nama kepada Mey tanpa embel-embel ‘Mbak’, atau ‘Kak’ dan merasa lebih dekat.

            “Aku ke sini ingin memberikan coklat dan sekuntum bunga ini ke kamu.” Kata Arda sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam coklat serta bunga.

            “Ya ampun,…” Mey terkejut melihat kelakuan Ardana yang childish menurutnya. Mana bisa Meiliana takluk hanya  dengan sekuntum kembang dan sepotong coklat? Meiliana wanita dewasa bukan anak remaja yang bisa ditembak hanya dengan bunga dan coklat. Hal itulah yang kurang disadari oleh Ardana.

            “Terimakasih.” Mey menerima pemberian Ardana dengan tersenyum kecil. Kemudian Ardana menarik lengan Meiliana.

            “Eits,..” Meiliana menepisnya. Tanpa disadari Meiliana menggiring Ardana keluar dari kamar. Sementara pikiran Meiliana masih sibuk menginvestigasi tentang pria yang mengaku tunangannya itu.

            “Mey, beritahu aku siapa pria tunanganmu itu?” Ardana merajuk.

            Ardana memang memaksa Meiliana untuk menjawab pertanyaan itu. Mey menggelengkan kepala. Ia berusaha mengingat-ingat peristiwa demi peristiwa yang telah terjadi terutama 6 bulan belakangan ini. Sepertinya ada orang yang tidak menyukai kedekatan mereka berdua.

 

*****

            Meiliana membuka album kenangan Facebooknya. Meiliana jadi teringat teman kuliahnya ketika mereka sama-sama mengambil master di sebuah universitas di luar kota. Mereka belum lama bertemu kembali saat acara syawalan dan temu kangen. Eric nama pria itu. Dialah yang mengirim bunga papan ucapan ‘selamat’ ketika Meiliana mengadakan launching buku 6 bulan yang lalu. Mereka sempat dekat, karena orangtua mereka memiliki bisnis property. Bahkan Eric pernah menawari Mey dan keluarga untuk menginap ke villanya yang berada di pulau Bali. Dia pria lajang yang cukup kaya. Meskipun baik, Eric seorang pria playboy, pacarnya gonta-ganti. Namun saat ini Eric masih bekerja di perusahaan tambang di pedalaman pulau.

            Eric cukup perhatian sebagai teman meski mereka berjauhan. Karena kesibukan masing-masing mereka jarang sekali bertemu. Jika mereka bertemu joke-joke segar akan keluar dari mulut mereka berdua. Sama-sama memiliki selera humor yang tinggi. Berita terakhir yang Mey dengar, Eric akan menikah, dengan seorang janda cantik, berbeda keyakinan pula. Meiliana mengamati satu persatu foto itu. Ada foto mereka berdua tersenyum lebar, dengan lesung pipit yang sama bahkan seperti kembar kata teman-teman. Eric sangat menawan senyumnya. Kenapa gosip yang beredar seperti itu? Batin Mey seperti menyayangkan Eric.

            Malam telah larut. Rumah sangat sepi. Seketika seperti ada bayangan berkelebat,…

            Eric, datang dari mana? Kenapa bisa masuk ke rumah ini? Batin Mey.

            “Aku cuti bekerja Mey, selama satu minggu. Aku memang tiba-tiba ke sini.” Kedatangan Eric mengejutkan Mey. Masih dengan rasa terkejutnya Mey bertanya,

            “Apa yang kau bawa? Kenapa datang tiba-tiba?” Tanya Mey tanpa basa-basi.

            “Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu.” Balas Eric. Kemudian Eric mengeluarkan sekotak cincin berlian dari sakunya. Meiliana sangat terkejut dan,….

            Brugggg. Suara benda jatuh. Meiliana terjatuh dari tempat tidurnya. Seketika bayangan itu pergi. Rupanya Mey bermimpi dilamar dan akan ditunangi Eric. Meskipun itu hanya sebuah mimpi. Bergegas Meiliana mengambil air wudlu untuk melaksanakan salat dan memohon petunjuk dariNya.

 

*****

Teruntuk seseorang yang masih dalam kebimbangan. Semoga Allah memberi hidayah.      

Bionarasi

Nama asli Betty Berliansari, lulus dari universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif dalam kegiatan literasi bersama alumi. Dapat berinteraksi dengannya melalui FB dengan nama Betty Berliansari. Akun IG Berliansaribett atau email Berliansaribetty@yahoo.com.

Karya tulis yang terbit yakni Inspiring Story antologi bersama alumni UGM berisikan kisah-kisah inspiratif yang menggugah semangat. Semua Anakku Tembus UGM, edisi terbatas berupa kumpulan cerpen. Puncak Kleco adalah buku wisata menulis Kagama di Kulonprogo DIY. Buku Melodi karya antologi berupa kumpulan cerpen dan puisi. Syair-syair Ramadan dan Semesta Ramadan merupakan kumpulan puisi juga Beautiful Night. Ramadan Punya Cerita, juga Mon Amour merupakan kumpulan cerpen. Buku dengan judul Kaos Putih adalah buku berbentuk e-book, karya Bersama yang bisa diakses secara gratis.

 

 

           

 

 


v