Perjalanan Akhirmu

Perjalanan Akhirmu
Photo: freeimages

Di malam keempat belas Ramadhan, kau anggukkan kepalamu ketika kuminta ijinmu untuk diangkut dengan tandu oleh Bala Sekuriti yang membantu. Kita harus dievakuasi dari lantai dua puluh tujuh karena musibah kebakaran di Apartemen kita yang tak terduga itu. Sekali lagi kau mengangguk dengan senyummu saat kukatakan kita akan tinggal di rumah Umak untuk sementara waktu. 

Ketika satu demi satu anak tangga kita turuni, tak lepas pandang matamu dari aku dan si Bungsu. Dalam laramu yang melemahkan daya pikirmu, kau masih ingin memastikan kami aman dan ada di sampingmu. Alhamdulillah kita berhasil dievakuasi hingga lobby dan diantar pasukan sekuriti yang baik hati sampai ke rumah Umak walau hari sudah cukup larut saat itu.


***
Hari pertama di rumah Umak, ada semangat lagi di matamu. Walau tak banyak, kau mulai mau makan lagi. Tak apa sedikit, yang penting perutmu bisa terisi walau permintaanmu kadang lucu sekali.

“Ma, hari ini aku mau makan tahu internasional.” Pintamu pagi itu. 

Maaf ya, aku hanya punya tahu lokal berwarna kuning kesukaanmu dulu. Aku goreng dengan sejumput air lalu aku sajikan untukmu. Namun hanya seujung sendok yang kau kunyah tanpa selera sama sekali, dan sejenak kemudian ada permintaanmu yang lain.

“Tolong cariin es campur ya.” Pintamu terbata-bata karena kau berusaha keras mengingat kata ‘es campur’.

Nah kalau es campur produk lokal nih, aku bisa beli atau buat sendiri. “Enak banget.” Katamu saat pertama kusuapkan es campur kesukaanmu. Jadilah setiap hari yang kau mau hanya itu, es campur. 

Aku jadi ingat saat kita suka jalan-jalan naik motor, kita sering mampir makan Bakso Kocok di Simpang Tiga dan pasti digandengkan dengan es kelapa campur. Atau kalau kita ngebakwan Malang Cak Su, es campur Sinar Garut pasti nambah seru. Nikmat betul memang. Aku masih berharap kita bisa menikmatinya lagi nanti, saat Yang Maha Kuasa memberikanmu sembuh ya.

***
Kau terlihat nyaman sekali ketika Umak dan Ubak menengokmu di hari kedua kita tinggal di sini. Bahasamu sesekali tersusun kembali. Terkadang kau mengadukan aku yang suka membantahmu dan aku hanya bisa tersenyum geli. Kau jadi manja sekali.

“Udah dikasih tau tapi suka gak nurut,” begitu kau mengadu pada Ubak dan Umak.

Maafkan aku ya, terkadang aku masih bingung untuk menjawab pertanyaanmu yang seringkali tak masuk akalku. Aku masih suka mengatakan “Nggak ada apa-apa di situ.” Ketika kau menunjuk sesuatu karena memang aku tidak melihat apa-apa di situ sementara kau ngotot melihat ini dan itu.

Seperti pagi itu, kau begitu ketakutan pada selimut yang menutupi tubuhmu. Kau minta dibukakan selimut itu dan disingkirkan jauh-jauh. Kau geser-geserkan kaki kirimu dan ngotot untuk turun dari tempat tidurmu.

“Ayo Ma, aku mau turun. Cepetan aku takut itu.” Katamu sambil menunjuk-nunjuk selimutmu.

“Takut apa, yank? Ini cuma selimut.” Dengan bingung aku menjawabmu.
“Itu buaya. Emang kamu gak liat?”

Ah pantas kau takutnya bukan main!
Butuh beberapa saat untuk menenangkanmu dan meyakinkanmu kembali kalau buaya itu tidak ada.

***
Sudah tiga hari kita di rumah Umak, kau mulai terbiasa. Matamu tak lagi memandang sekeliling kamar dan menanyakan kita ada di mana. Aku sedang menyapu lantai kamar saat kau memanggilku siang itu.

“Maa, sini.” Katamu sambil melambaikan tanganmu agar aku mendekat.

“Aku mau mandi, aku mau bersih-bersih. Aku mau pamit, boleh?” Sejenak aku terdiam. Aku tak tahu harus menjawab apa.

“Mau pamit kemana?” Akhirnya itu yang keluar dari mulutku.

“Kain, Ma. Tolong siapkan kain. Gimana caranya.” 

Aku semakin bingung. Katamu aku harus menyiapkan ‘kain penutup jasmani’. Aku terhenyak, hatiku rasa tercampak. Setengah mati kutahan air mataku agar tak tampak. 

Ketika Ubak, Umak, anak-anak dan adik-adik datang mengelilingimu, dengan fasih kau sampaikan kalau waktumu sudah dekat dan sekali lagi kau minta disiapkan kain. Tapi kali ini kau lantang menyebutkan kain itu kain kafan.

Aku hanya bisa mengingatkanmu untuk terus melafazkan kalimat kesaksian dan beristighfar, memohon ampunan pada Sang Pemilik Hidup. Kita tak berdaya untuk menentang maut. 

Aku tidak tahu berapa lama lagi waktu yang kita miliki. Hanya kematian yang kau ucapkan setiap hari. Aku masih berharap kau hanya berhalusinasi.

Aku hanya bisa mendampingimu dalam menunggu sang penjemput. Aku bukan malaikat yang punya kekuatan dasyat. Namun aku yakin Sang Empunya Waktu akan memberikannya padaku.

***
Di hari ke enam puluh enam di rumah Umak, Sabtu pagi itu aku siapkan satu gelas kecil sari buah pepaya jeruk nipis tanpa gula untukmu. Dulu bisa bergelas-gelas kau seruput, apalagi saat udara panas menyengat mengeringkan kerongkongan. Kini, walaupun tarikan nafasmu sudah sangat pendek kau masih berusaha untuk menelannya sedikit demi sedikit. Habis, dan setelahnya kau terpulas lagi dalam lemah tubuhmu.

”Kak, mama masak sebentar ya, tolong jagain Bapak” begitu aku minta pada Kakak kedua yang memang selalu menggantikanku saat aku tak bisa di sampingmu.

Sekitar pukul sebelas, aku kembali naik ke kamar untuk menemuimu namun rasanya aku ingin membersihkan diri dulu. Entah kenapa terlintas dalam pikiranku “Harus mandi, bersih-bersih biar gak bau habis masak kalo banyak  orang yang datang.”  Jujur, aku bingung sendiri. 

Saat selesai, aku bergegas untuk memberikan air minum padamu, namun aku merasakan aura yang berbeda dari wajahmu. Dadaku berdegup kencang tak karuan. Kugeser kaki kananmu yang pernah patah itu, kau diam. Padahal biasanya tersentuh sedikit saja kau bisa berteriak kesakitan karena sel-sel cancer itu terus menggeroggoti tulangmu. Kucoba untuk mengangkatnya agak tinggi, kau tetap diam. Tak bereaksi.

“Kakak, tolong panggil Nenek dan Adek-adek terus telpon Kakak atau video call. Mama gak mau ninggalin Bapak lagi, mama mau dampingin Bapak.” Hatiku berbisik jika waktumu sudah dekat, aku ingin memenuhi janjiku untuk mendampingimu hingga akhir perjuanganmu.

Terus kulantunkan di telingamu kalimat kesaksian itu agar kau terus mendengarnya dalam ujung perjalananmu. Nikmat pendengaran adalah nikmat yang paling akhir akan dicabut, begitu yang aku tahu. Kau masih terlihat sedikit gelisah dalam tarikan nafasmu yang semakin cepat dan pendek-pendek itu.

“Bapak, bapak tenang aja. Bapak gak usah takut. Aku sayang Bapak. Bapak gak sendiri, aku ada sama Bapak.”

Begitu yang disampaikan Sulung kita dalam tangisnya melalui video call karena dia masih di negeri seberang menyelesaikan studinya.

Mendengar itu, kau tampak mulai terlihat lebih tenang. Saat Kakak ketiga terus membisikkan kalimat tauhid itu, aku berusaha sekuat hati untuk menyampaikan padamu, “Yank, walau ini tidak mudah bagiku dan anak-anak, tapi kami akan berusaha ikhlas. Seperti Kakak bilang, gak usah takut. Kamu sudah banyak berbuat baik, Allah sudah catat. Tugasmu sudah tuntas. Sekolah Kakak-kakak alhamdulillah beres. Bungsu kita alhamdulillah berhasil masuk SMP yang kau cita-citakan. In sya Allah kami bisa survive.”

Dan, tepat jam 1205, saat adzan dzuhur dikumandangkan kau hembuskan nafas perjuangan terakhirmu. Tak dapat kami hindari tangis itu, namun kami tak mau meratapi kepergianmu karena senyummu terukir indah di wajah yang begitu bahagia. Belum pernah aku lihat senyum itu sebelumnya. Semoga Sang Pemilik Jiwa telah memperlihatkan padamu tempat tinggalmu yang indah di sana. Selamat jalan pejuang sejatiku. Tunggu aku, semoga Sang Empunya Waktu mempersatukan kita lagi, nanti di penghujung waktu.

Dursa, 29 Juli 2020

 

Catatan:
Umak: panggilan untuk Ibu dalam Bahasa Palembang
Ubak: panggilan untuk Ayah dalam Bahasa Palembang