Perang Mawar (Bagian Pertama)

Kebanyakan kekejaman di dunia ini disebabkan oleh mereka yang bertujuan mulia. T.S. Eliot.

Perang Mawar (Bagian Pertama)


Sebuah Cerbung tiga bagian.
Ini adalah cerita fantasy yang terinspirasi dari peristiwa bersejarah.
 

Bagian pertama.

 

Gadis cantik yang sedang makan di teras rumah makan megah itu, menutupi hidungnya dengan jijik.
Dia memandangi aku yang sedang mengais-ngais tong sampah mencari botol bekas.
Kuraih sebuah botol minuman berenerji sambil menyingkirkan jangkrik-jangkrik.
Baju kuningku sudah berwarna separuh coklat.
Lalat sibuk berkerumun di sekitar kami, seakan ikut menertawakan nasibku.
“Hus, pergi sana!, jangan membuat pelanggan kita jijik!” seorang pria, sepertinya pelayan rumah makan, mengusir kami.
Abah menepuk bahuku untuk mengajakku pergi.
“Tapi aku belum selesai, masih banyak botol di sini!” kataku.
“Sudahlah, jangan membuat mereka marah, nanti kita tidak bisa datang lagi ke sini” bisik Abah.
Gadis itu berhenti menyantap makanannya. Sepertinya menunggu kepergian kami.
Kulirik piringnya, Steak, kentang goreng dan sayuran. Membuatku menelan ludah.
Aku belum pernah memakan makanan seperti itu, tapi keliatannya enak sekali. Aku belum makan seharian. Abah bilang kita harus menunggu hingga jumlah botol kita cukup untuk dijual.
Gadis remaja itu memakai gaun putih pendek dari bahan rajutan. Memperlihatkan bahunya yang mulus. Gaun itu pernah kulihat di jendela sebuah toko mewah di mall, saat aku membersihkan sampah di sana.
Cantik. Aku berkhayal seandainya aku memakai baju itu.
Aku juga bisa cantik seperti dia kalau mengenakan baju itu.
Abah memepuk bahuku lagi.
“Jangan kebanyakan melamun!” kata Abah.

Dari situ Abah membawaku pergi ke pusat pembuangan sampah.
Gundukan sampah menggunung di sekeliling kami.
“Kadang-kadang kita bisa menemukan benda yang masih bagus di sini.
Seperti dapat harta karun.” kata abahku sambil tersenyum. Kerut-kerut wajahnya semakin jelas. Tubuh kurusnya kembali membungkuk mengais sampah.
Abahku masih berumur 45 tahun, tapi tampak tua dan lelah seperti 70 tahun.
Sudah mulai bungkuk. Kurus kering karena selalu merelakan jatah makanannya untuk kami. Tubuhnya penuh barut luka, Seringkali abahku dipukuli preman yang marah karena kurangnya uang setoran keamanan abahku.
Aku sebetulnya malu memiliki abah pemulung. Tapi aku sangat sayang abahku yang sudah bekerja keras membanting tulang untuk kami setiap hari.
Karena itu setiap liburan pasti aku berusaha membantu abahku bekerja.
Ibuku sudah meninggal lama, aku masih memiliki 4 orang adik yang masih kecil.
Aku berusaha sebisanya menjadi pengganti ibuku merawat adik-adik dan mengurus rumah setiap hari. Umurku masih 15 tahun. Tapi abahku bilang tahun ini adalah tahun terakhirku bersekolah. Tahun depan aku harus putus sekolah karena abahku sudah tidak sanggup lagi membiayaiku. Gantian sekarang giliran adik-adikku yang bersekolah.

Aku kembali sibuk bekerja di tengah teriknya matahari.
Kulihat ada sebuah buku yang sudah rusak di tengah gundukan sampah.
Aku mengambilnya. “War or the Roses” judulnya.
Berbahasa Inggris. Bahasa inggrisku pas-pasan. Tapi aku tertarik membacanya.
Aku mulai membaca halaman pertamanya,
“Mawar! jangan baca, ayo kerja!” kata abahku.
Aku melipat dan menyelipkan buku itu di sakuku. Nanti akan aku baca dirumah.
Lalu aku sibuk kembali membantu abahku di tempat pembuangan sampah ini.

Malam itu semua orang sudah tidur, dengan lampu remang-remang seadanya, aku mulai meneruskan membaca buku itu.
“Margaret of Anjou pergi meninggalkan Perancis dan tiba di Inggris pada tanggal 9 April 1445. Beberapa bulan kemudian 23 April 1445, Margaret menikah dengan raja Henry ke 6……”
Ah alangkah indahnya hidup sebagai permaisuri raja. Seandainya aku bisa jadi permaisuri…., Aku bosan jadi orang miskin. Tidak mau jadi pemulung lagi.
“Mawar, matiin lampunya, sudah malam, cepat tidur, besok harus bangun pagi. Jangan kebanyakan baca!” kata abahku.
Aku terpaksa mematikan lampu dan segera tidur.

 

Ketika aku bangun, aku terkejut melihat sekelilingku.
Ini bukan gubukku!
Aku berada di atas tempat tidur yang luas dan megah, penuh dihiasi ukiran antik berbatu permata, aku terpaku.
Empuk  sekali kasurnya, Kuperhatikan Semua perabotan di ruangan itu berukir indah dan berhias permata. Semua terlihat antik seperti di abad lampau. Seperti ruangan kerajaan.
Berada di manakah aku?
Apakah aku bermimpi? Aku mencubit tanganku. Aduh sakit!
Kulihat kulit tanganku yang biasanya hitam terbakar matahari, sekarang berubah putih.
Kuraba wajahku. Hidung pesekku berubah mancung. Rambut pendekku yang hitam lurus berubah menjadi panjang, pirang bergelombang.
“Selamat pagi baginda Ratu Margaret!” kata seorang wanita.
Ratu Margaret? Apakah aku menjadi Ratu Margaret seperti di buku itu?
Ratu Margaret dari Anjou, Perancis, adalah permaisuri Raja Henry ke 6, yang terkenal dengan kecantikannya.
Ah beruntung sekali nasibku. Ternyata benar kata Abah, Kadang kita menemukan harta karun di tumpukan sampah. Ternyata buku itu buku ajaib yang membuatku menjadi permaisuri.
Aku melangkah turun dari ranjang yang tinggi dan kokoh itu.
Dayang-dayang membawaku ke kamar mandi yang seluas kolam renang. Airnya ditaburi bunga. Harum sekali. Mereka mulai sibuk membasuhku dengan sabun rempah.
Lalu mereka sibuk mendandani aku dengan gaun burgundi panjang bertabur permata.
Mereka menyisir rambutku dan menatanya.

Lalu mereka membawaku ke meja makan yang tak kalah megahnya dengan kamar tidur tadi.
Kulihat semua perabotan di sini memiliki simbol ukiran mawar. Semua sarung bantal, sapu tangan, taplak meja, hingga pakaian dayang-dayang juga terlihat rajutan logo mawar merah.  Apakah ini logo keluarga mereka? Kudengar para bangsawan biasanya memiliki logo keluarga mereka.
Satu-persatu pelayan menghidangkan aneka makanan yang lezat.
Ada daging panggang, sapi, ayam, aneka sosis, seafood, aneka keju, aneka buah-buahan, aneka pastry.
Padahal cuma makan pagi.
“Selamat pagi Ratuku” kata seorang pria. Umurnya sekitar 30 puluhan. Pakaiannya megah seperti seorang Raja. Tidak tampan. Rambutnya coklat bergelombang. Kulitnya putih pucat. Tubuhnya agak gemuk. Wajahnya terlihat polos dan lugu. Tidak gagah. Tapi cenderung terlihat lemah lembut.
Inikah Raja Henry ke 6? Suamiku? Kok tidak berwibawa seperti sosok raja yang kubayangkan?
Aku berbincang-bincang bersama suamiku.
Raja Henry terlihat baik hati. Tapi tidak secerdas yang kubayangkan.

Makan siangku lebih komplit lagi, Segala jenis daging ada di meja, Aneka roti, dan segala makanan ala Medieval yang aku tak tahu namanya ada di situ.
Dan sebagai penutupnya tersedia beragam kue.
Gadis yang kulihat di restaurant kemarin pasti iri kalau melihat makan siangku ini.
Tiba-tiba seorang prajurit datang memberi laporan.
“Pemberontak itu sudah bergerak menuju istana, kita harus siaga!” katanya panik.
Wah ada apa ini, baru saja aku menikmati jadi ratu, kok tiba-tiba ada berita mau ada kerusuhan?
“Tanggal berapa hari ini?” tanyaku pada seorang dayang.
“1 May 1450” jawabnya.
Aku mulai menghitung, berarti saat ini Umur Henry 29 tahun. Umur Margaret 20 tahun.
Aku baru membaca buku ajaib itu beberapa halaman, belum sampai pada kejadian tahun 1450. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
“Apa yang harus kita lakukan Raja Henry?” tanyaku.
“Aku tidak tahu, biasanya Duke of Suffolk yang mengurus soal seperti ini.Tapi sekarang dia sudah meninggal. Aku bingung!” Raja Henry tampak ketakutan.
“Kamu harus menghadapi mereka!” kataku.
“Aku belum pernah berperang!” katanya.
“Ayahmu terkenal pemberani dan bisa mengalahkan Perancis! Kamu pasti bisa mengalahkan mereka yang cuma gelandangan pemberontak!” kataku.
“Aku tidak mau, aku takut!” kata Raja Henry.
“Baginda raja, mereka menuntut kita menyerahkan pejabat keuangan yang korupsi” kata seorang perwira.
“Serahkan saja pejabat korup itu ke mereka!” kata Raja Henry.

Setelah pejabat Koruptor itu diserahkan pada masa.
Mereka mengaraknya, mengadakan pengadilan jalanan dan memenggal kepalanya.
Mereka juga membunuh menantunya yang juga pejabat tinggi.
Tapi pemberontak itu tidak berhenti menjarah. Malah semakin bersemangat, merasa diatas angin.

“Kita harus melarikan diri ke Puri Kenilworth!” kata Henry.
“Jangan jadi pengecut Henry, kamu harus berani menghadapi mereka!” kataku.
“Ayo cepat, sebelum mereka keburu datang ke sini!” kata Henry.
“Pergilah kau ke sana, aku akan tetap berada di sini!” kataku.


Setelah Henry melarikan diri ke puri Kenilworth. Walikota London berjuang sendiri berusaha memadamkan pemberontakan.
Tanggal 9 july, sungai Thames sudah penuh mayat. Walikota akhirnya berhasil menutup kota dan memadamkan pemberontakan.
Aku mengumumkan bahwa pemberontak yang mau menyerah akan diampuni dan boleh pulang ke rumah mereka. Sebagian dari mereka memilih pulang. Sebagian lagi masih berkeras bertahan.

Raja Henry sudah kembali pulang.
Pemberontak yang belum mau menyerah berkumpul di balai kota ingin menemui Raja Henry.
Raja Henry masih tampak ketakutan dengan pemberontak itu. Terpaksa aku sebagai istrinya, ibu negara, mengambil alih tugas Raja Henry.
“Pancung mereka semua!” perintahku.
Algojo mulai memancung leher mereka satu-persatu.
Tanganku gemetar, tapi berusaha kusembunyikan.
Abah pasti marah kalau tahu apa yang aku lakukan hari ini.
Dalam sehari aku sudah memancung ribuan rakyat kami.
Apakah aku kejam dan akan dibenci?
Tapi aku terpaksa melakukan hal ini untuk keamanan negara kami.
Ya Tuhan, dosakah aku melakukan ini?
Tak kuduga ternyata berat menjadi seorang permaisuri.

 

Bersambung.