Perang Mawar (Bagian Ketiga)

Kebanyakan kekejaman di dunia ini disebabkan oleh mereka yang bertujuan mulia. T.S. Eliot

Perang Mawar (Bagian Ketiga)

 

Bagian Ketiga


Richard bersama teman kepercayaannya, Warwick, berkuasa selama hampir satu tahun.
Di hari natal 1454, terjadilah mukjijat sebagai jawaban doaku.
Tiba-tiba suamiku sadar, dia sudah bisa memandangku.
Tubuhnya mulai bergerak, walau masih kaku.
“Oh terima kasih Tuhan, akhirnya suamiku sadar kembali!” seruku penuh haru.
“Margaret, aku pergi ke negeri yang jauh. Semuanya tampak berbeda dengan kehidupan kita, Aku tinggal di tempat yang menyedihkan. Sumpek dan bau. Tapi ternyata aku bahagia di sana.” kata Henry mulai meracau.
“Henry sayang, lihatlah bayi kita, Pangeran Edward!” kataku mengalihkan perhatiannya.
Henry mengelus Edward. Air matanya berlinang.
Kuceritakan semua peristiwa yang terjadi selama Henry sakit.

Raja Henry bisa kembali memerintah.
Duke Somerset segera dibebaskan dari penjara.
Richard kehilangan kekuasaannya.
Richard sebenarnya bisa pensiun dini di kastilnya yang megah. Tapi dia memilih untuk memberontak lagi.
Tanggal 22 may 1455, Richard membawa 3000 pasukan ke London.
Duke Somerset yang membantuku melawan Richard, hanya membawa 2000 pasukan.
Tentara Richard menangkap Raja Henry dan menyanderanya di biara.
Richard lalu membunuh Duke Somerset dan semua sahabat Duke Somerset, kecuali aku.
Aku, Kerabat Duke Somerset dan kerabat semua sahabat Duke Somerset marah.
Richard yang mengaku ingin melindungi negara dan menjaga keamanan, malah merusak negara dengan pemberontakannya. Ini adalah awal permusuhan bebuyutan kami.
Perang mawar antara Mawar Merah, lambang keluarga Lancaster, nenek moyang Raja Henry, keluarga kami. Melawan Mawar putih, Lambang keluarga York, Keluarga Richard.


Richard bersumpah setia pada raja, hanya meminta menjadi penasehat raja. Henry setuju.
Tapi Henry jadi boneka Richard.
Richard memenuhi kabinet dg kroni-kroninya.

Karena perang membuat negara miskin.
Suatu hari Richard meminta para pejabat dan bangsawan untuk menyumbang negara. Dan menaikkan pajak.
Tapi ditolak parlemen.
Diluar dugaan Richard mengundurkan diri.

Mulai saat itu Raja Henry kembali memerintah.
Karena suamiku itu lemah. Bisa dibilang aku mengurus semuanya. Dia hanya menyetujui dan mengesahkan saja.
Tapi walaupun Richard sudah pensiun, aku tahu hidupku tidak akan tenang selama dia masih hidup.
“Kita harus membunuh Richard, sebelum macan tidur itu mengusik kita lagi!” kataku.

12 Oktober 1459, aku memerintahkan pasukan untuk menangkap Richard.
Kami membawa raja Henry. Karena dengan membawa Raja, maka pihak Richard otomatis di pihak yang salah.
Kali ini tentara kami dua kali lipat tentara Richard.
Kami meminta Richard menyerah. Tapi Richard pantang menyerah.
Namun karena takut dianggap penghianat negara, diam diam sebagian tentara Richard mundur, kabur.
Hingga kekuatan tentara Richard semakin berkurang. Dan kami memenangkan pertempuran.

November 1459 aku meminta parlemen mengesahkan undang-undang yang melepas gelar bangsawan Richard dan kroni-kroninya. Dan mengambil alih semua harta mereka untuk negara. Richard melarikan diri dari Inggris.
 

Kurang dari setahun sekutu Richard, Warwick menyerang tentara kerajaan di Northampton.
Aku melarikan diri tapi Raja Henry tertangkap.
Semua bangsawan yang bersama raja dibunuh.

 

10 october 1460 , Richard datang ke kabinet menuntut pergantian kekuasaan dari Raja Henry ke Richard.
Alasannya kakek Henry merebut kekuasaan dari raja sebelumnya.
Parlemen takut dengan tentara Richard. tapi juga tidak mau menghianati Raja.
Akhirnya Richard tidak dinobatkan sebagai raja. Tapi jadi pelindung kerajaan.
Raja Henry kembali menjadi boneka lagi. Parlemen memindahkan hak pewaris tahta dari anak kami ke Richard.


Aku menulis surat pada teman temanku di inggris untuk minta bantuan.
Richard mencari aku dan anakku di tempat persembunyian.

21 december 1460
Ternyata aku memiliki cukup banyak pendukung yang mau melindungi aku. Kami berhasil mengumpulkan tentara yang jumlahnya dua kali lebih banyak dari Tentara Richard.
Richard terperangkap dan menghabiskan Natal di daerah sandal. Richard harus menunggu bantuan tentara tambahan.

Tanggal 30 december, Richard kembali maju menghadang pasukan kami.
Tapi tentara kami berhasil menangkap Richard kurang dari 1 jam.
Para tentara memperolok richard dg mahkota dari kertas.
Mereka memancung kepala Richard. Meletakkannya di atas menara di pusat kota.
Kepala Richard masih mengenakan mahkota kertasnya.
Kuharap kemenangan kami mampu menghentikan perang dan menghasilkan perdamaian.
Kupejamkan mataku, aku sangat lelah.


Ketika kubuka mataku, Aku sudah kembali berada di gubukku.
Segera kucari buku ajaib itu, aku ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Dapatkan Kerajaan Inggris menjadi damai setelah pertempuran terakhir kami?
“Mawar merah dan Mawar putih tetap saling bertikai berpuluh-puluh tahun kemudian. Beberapa generasi kemudian, mereka masih berperang. Lebih dari 50 ribu orang meninggal akibat Perang Mawar.” 
Kututup buku itu kembali.
Siapakah yang salah?
Apakah ini salahku?
Aku hanyalah Margaret, wanita yang berusaha membantu suamiku mempertahankan negara. Dan melindungi keluargaku.
Apakah salah Richard, Duke of York?
Aku tahu Richard awalnya juga memiliki tujuan mulia untuk menyelamatkan inggris.
Kami berdua hanya berusaha melindungi negara kami.
Tapi malah menghancurkan negara kami.
Apakah ini salah Raja Henry ke 6 yang lemah?
Kelemahan Raja membuat kami terpaksa mengambil alih tugas melindungi negara.
Tapi kami malah saling bertikai. Jadi musuh bebuyutan. Menyebabkan Perang mawar yang berkepanjangan hingga beberapa generasi.

Kucium bau busuk menyengat yang sangat kukenal.
beberapa gadis remaja masuk ke gubukku, mengelilingi aku.
“Kak Mawar sudah sadar!” teriak seorang gadis.
Mereka bergantian memeluk dan menciumi pipiku.
“Kalian siapa?” tanyaku.
“Aku Dahlia kak, adikmu!” kata seorang gadis.
“Kita semua adikmu!” kata mereka.
“Kok sudah pada besar sekarang?” tanyaku.
“Kakak sudah lama koma, sampai bertahun-tahun. Tapi kita nggak punya uang untuk membawa kakak berobat ke rumah sakit.” kata Dahlia adikku.
“Di mana abah?” tanyaku.
“Abah sudah nggak ada kak, meninggal.” kata Dahlia.
Aku terkejut. Air mataku menetes.
“Maafkan kakak ya, kakak nggak bisa bantu kalian selama ini” kataku sesegukan.
“Nggak apa apa kak, selama kakak koma, ada yang bantu kita kok!” kata Dahlia.
“Namanya kang Henry. Dia agak aneh, orangnya culun. Masak pake baju kaya raja jaman dulu.Mungkin dia bekas pemain theatre kali.” kata Dahlia.
“Dia kayaknya lupa ingatan, tidak tahu siapa keluarganya. Tapi dia ngaku-ngaku raja. Katanya dia punya istri bernama Margaret.” kata adikku yang lain.
“Dia yang bantu kita jadi pemulung di sini. Tapi tak sampai setahun, tiba-tiba dia menghilang!” kata Dahlia.
“Henry?, seperti apa orangnya?” tanyaku.
“Rada gendut, rambutnya coklat keriting. kayak bule.” kata adikku.
Aku terkejut. Apakah mungkin Raja Henry mampir ke sini, saat dia tidak sadarkan diri?
“Mulai sekarang kakak bisa bantuin kalian lagi!” kataku.
Aku benci beratnya hidup menjadi pemulung. Tapi aku lebih benci menjadi ratu.
Aku terpaksa menjadi jahat, sekedar untuk mempertahankan hidup, harus melakukan pembunuhan.
Siapa sangka ternyata hidup pemulung tak seberat hidup bangsawan. 
Bau busuk sampah sangat memabukkan.  
Namun tak seberapa dibandingkan bau mayat-mayat korban perebutan kekuasaan, di Perang Mawar yang kutebarkan.
Maafkan aku Tuhan!

 

Tamat.