Perang Mawar (Bagian Kedua)

Kebanyakan kekejaman di dunia ini disebabkan oleh mereka yang bertujuan mulia. T.S. Eliot

Perang Mawar (Bagian Kedua)


Bagian kedua.
 

Pemberontakan tidak berhenti begitu saja.
Suamiku tidak dapat diharapkan. Sedikit-sedikit panik dan ketakutan.
Aku terpaksa turun tangan untuk menyelamatkan negara.
Sebagai wanita di jaman Medieval, untuk membantu mengurus negara, aku membutuhkan dukungan sekutu pria yang kuat.
Aku mulai mendekati salah seorang sepupu suamiku, Duke Somerset.
Duke Somerset punya pengalaman di parlemen dan militer. Sekutu yang pas untukku.
Lalu kubujuk Raja Henry untuk mengangkat Duke Somerset sebagai Pelindung negara, Penasehat raja sekaligus Panglima Militer.


Berita tentang pemberontakan rupanya sampai ke telinga Richard yang sedang berada di Irlandia.
Richard adalah Duke York, sepupu suamiku juga.
Richard adalah pewaris tahta, karena aku dan Raja Henry tidak memiliki anak.
Tanggal 27 september 1450, Richard pulang ke Inggris, membawa 5000 tentara.
Richard menerjang masuk ke istana Westminster di saat rapat kabinet.
Tubuhnya yang tegap, tinggi besar, semakin gagah mengenakan seragam militer, mengendarai kuda hitam.
Mereka membawa pedang dan perisai berlogo mawar putih. Logo keluarga bangsawan York.
“Pecat para penasehat yang tidak berguna itu! Kau harus mengangkat aku untuk menjadi penasehat raja dan panglima untuk menjaga keamanan negara!” Seru Richard.
“Anda terlambat, dua minggu sebelumnya Raja sudah mengangkat Duke Somerset untuk menjadi Panglima Keamanan Negara!” kata salah seorang menteri.
“Duke Somerset itu bukan solusi! Dia akar penyebab masalah ini terjadi! Dia kabur dari perang dengan Perancis! Pencundang yang kalah perang! Apa kalian tidak tahu? pemberontak itu kebanyakan mantan prajurit Somerset. Penggangguran setelah perang, mereka jadi pemberontak!” teriak Richard dengan mata merah, semerah rambutnya.
“Duke Somerset adalah penghianat negara! Dia penyebab pemberontakan, Dia harus diadili, harus dipenjarakan!” seru Richard berapi-api.
“Duke York, anda datang tidak diundang di sini, silahkan pulang!” usir seorang menteri.

Hari itu pertama kali aku melihat Richard. Dia lebih tua sepuluh tahun dari Raja Henry.
Tapi karena pengalaman militernya, Penampilannya gagah. Bertolak belakang dengan Henry yang lemah.
Aku berdebar. Separuh karena ketampanannya, Separuh karena takut.
Kalau kami bertemu di saat yang berbeda, kalau aku bukan Margaret istri Raja Henry, mungkin aku sudah jatuh hati.
Tapi dalam posisiku saat ini, malah aku jadi benci.
Aku sangat marah mendengar Richard menantang Duke Somerset sekutuku, berarti menantang aku juga.

Richard yang marah kemudian mengumpulkan lebih banyak tentara. Dan menuntut pengadilan atas Duke Somerset dan mengangkat dirinya sebagai panglima.
Raja Henry yang ketakutan terpaksa menuruti keinginan Richard.
“Baiklah kami akan memenuhi permintaanmu. Tapi syaratnya, bubarkan tentaramu, suruh mereka pulang, jangan berkumpul di sini! Setelah itu baru aku angkat engkau jadi panglima.”
Richard membubarkan  tentaranya dan memasuki ruangan untuk menanda-tangani perjanjian.
Tiba-tiba dilihatnya Duke Somerset keluar dari persembunyian, dan menangkapnya.
Richard digiring ke katedral untuk bersumpah setia pada Raja Henry. Dan berjanji tidak akan memberontak lagi. Tepat seperti rencana siasat jebakan kami. Duke Somerset memang pintar menyusun strategi.


3 Tahun kemudian, aku hamil.
Tapi keadaan negara sedang sulit. Akibat perang dengan Perancis.
Raja Henry sudah kehilangan beberapa daerah. Champagne, Normandy, Brittany sudah diambil Perancis. Tinggal Gascony yang tersisa.
Suatu hari di saat Raja Henry sedang berburu, seorang kurir datang.
“Maafkan hamba baginda, Gascony sudah jatuh ke tangan Perancis!”
Henry sangat terpukul hingga jatuh tersungkur.
Henry tidak bangun-bangun lagi. Jatuh ke kondisi Catatonia. Mirip koma. Hanya dalam keadaan sadar, membuka mata. Tapi tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara. Tidak bisa berkomunikasi.

Bayiku Pangeran Edward lahir 2 bulan kemudian.
Raja Henry tidak dapat menikmati masa-masa indah menjadi seorang ayah dan merasakan kebahagian kelahiran putra mahkotanya.
Aku hanya bisa berdoa. Apakah ini hukuman Tuhan karena aku membunuh ribuan orang?


“Baginda ratu, anda bisa memerintah Inggris sebagai wali Pangeran Edward.” kata Duke Somerset.
“Kita bisa meminta kabinet mengesahkan pangeran Edward sebagai pewaris tahta, menggantikan Richard. Dan menetapkan baginda ratu sebagai walinya.” kata Duke Somerset.
Aku tersenyum, Duke Somerset memang pintar.


Pada saat yang ditentukan untuk mengesahkan bayiku pangeran Edward menjadi putra mahkota, Richard yang tidak diundang tiba-tiba datang. Rupanya Richard juga memiliki beberapa sekutu di kabinet.
“Kami memutuskan bahwa Somerset adalah penghianat negara! Oleh karena itu harus ditangkap dan dipenjarakan!” seru Richard, didukung kroni-kroninya.

 

Aku kebingungan. Atas petunjuk Duke Somerset, aku mengajukan petisi perubahan undang undang. Undang-Undang yang dapat membuatku berkuasa seperti raja. Sebagai wakil dari Pangeran Edward yang masih bayi.
Tapi para pejabat Inggris menjadi Marah
“Kami tidak mau dipimpin wanita, Apalagi Wanita asing dari Perancis!”

Pada tanggal 27 march 1454, Akhirnya malah Richard yang diangkat menjadi penguasa sementara.
Karena Raja Henry masih belum sadar.
Kemudian Richard memasukkan Duke Somerset ke penjara.
Aku kembali menjadi wanita tak berdaya.
Kebencianku pada Richard semakin membara.


Bersambung