Pentingnya Membangun Komunikasi Positif Untuk Menghilangkan Miss Communication

Dalam kehidupan bersosial, manusia perlu untuk membangun komunikasi positif agar bisa menjaga keharmonisan hubungan

Pentingnya Membangun Komunikasi Positif Untuk Menghilangkan Miss Communication
Credit by pixabay.com

 

Beberapa minggu yang lalu saya melihat sebuah rekaman video yang menampilkan antrian yang mengular di sebuah pengadilan Agama di Kabupaten Bandung. Video ini bahkan sempat viral karena ternyata antrian itu adalah ntrian pengajuan gugatan cerai. Ya, sebuah laman berita  nasional memberitakan bahwa semenjak pandemi covid-19, jumlah kasus perceraian meningkat tajam. Laman berita kompas.com menyebutkan lonjakan kasus mencapai tiga kali lipat setiap harinya. 

 

Saya coba berpikir ulang mengapa hal tersebut bisa terjadi? Padahal adanya pandemi yang memaksa kita untuk lebih banyak berada di dalam rumah harusnya menjadi momen untuk mengeratkan hubungan baik kepada pasangan (suami istri) atau keluarga. Secara logika hal ini karena intensitas pertemuan yang jauh lebih sering dibanding sebelum pandemi. Namun, fakta berkata lain. 

 

Memang sih, faktor ekonomi mendominasi menjadi penyebab tingginya angka cerai. Tidak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut karena tatanan ekonomi yang ambruk akibat pandemi. Badai PHK  telah menjadikan puluhan ribu pekerja dirumahkan. Di sisi lain mereka yang tetap bekerja juga punya tantangan sendiri saat harus memindahkan pekerjaan ke dalam rumah. Hal inilah yang sering menjadi konflik dalam keluarga terutama dengan pasangan. Saat para istri merasa bahwa pekerjaan mereka jauh lebih berat dan menuntut untuk dibantu sang suami namun suami tak selalu siap jadilah keributan. 

 

Hal ini mungkin wajar. Ini pula yang masih sering saya alam. Bahkan emosi yang tidak stabil sering muncul semenjak pandemi. iBeban dan lelah akan pekerjaan baik yang diterima baik suami istri akhirnya menjadikan pikiran tak jernih. Efeknya, tak ada komunikasi yang baik menjadikan miss communication. 

 

Membenahi komunikasi 

Namun seiring berjalannya waktu, saya kemudian belajar dan mencari tahu mengapa intensitas pertemuan yang tinggi tidak berbanding lurus dengan keharmonisan sebuah hubungan. Jawabannya adalah karena buruknya komunikasi satu sama lain. Sebagai contoh, bagi sebagian perempuan di negeri ini, budaya nerimo sudah lumrah dijalani. Tak perlu banyak komunikasi yang penting tahu hak dan kewajiban masing-masing. Impactnya adalah miss communication. Saat ada kondisi yang tidak ideal, dua-duanya saling menuntut atau bahkan saling diam. Ketika sudah puncak jadilah ambyar alias bubar. 

lalu bagaimana harusnya? Kuncinya adalah membangun komunikasi yang positif. Hal ini juga berlaku dalam semua relasi. Manusia sebagai makhluk sosial tak pernah lepas dengan yang namanya komunikasi dan interaksi.Nah, pentingnya komunikasi yang positif bukan hanya sekedar untuk bisa memperoleh informasi yang mungkin belum pernah dibicarakan. Setidaknya ada beberapa manfaat yang diperoleh antara lain mampu 

  1. mengerti keinginan lawan bicara.

Hal ini karena disampaikan dengan ekspresi

  1. Memunculkan empati

Saling mengerti dan memahami akan memunculkan satu sama lain.

  1. Membangun keterbukaan

  2. saat seseorang telah merasa nyaman, maka ketrbukaan dan saling jujur tentu menjadi sesuatu yang alami trerjadi

  3. Saling memahami persamaan dan perbedaan

Komunikasi akan membuat hubungan satu sama lain menjadi harmonis, dengan adanya komunikasi maka perbedaan dimanapun relasi itu dibangun dapat saling dipahami.

  1. Menyalurkan sikap positif

Komunikasi akan membantu kita  untuk menyalurkan sikap positif, baik itu menegur, menyayangi satu dengan yang lainnya. Hingga kebiasaan-kebiasaan positif akan menjadi kebiasaan.

 

Maka saatnya kita untuk terus berupaya membangun komunikasi yang postif baik dengan pasangan, teman kantor, sahabat ataupun keluarga.