Pentingnya Komunikasi Anak Tentang Diagnosis Kondisi yang Mengancam Jiwa Orang Tua

Pentingnya Komunikasi Anak Tentang Diagnosis Kondisi yang Mengancam Jiwa Orang Tua

“Banyak orang dewasa yang didiagnosis dengan kondisi kesehatan yang mengancam jiwa adalah orang tua dengan anak yang tinggal di rumah. Mereka menghadapi tantangan ganda yaitu menangani diagnosis penyakit tersebut sembari mencoba mempertahankan peran sebagai orang tua. Dalam kondisi seperti ini, orang tua sering kali tidak yakin tentang bagaimana, kapan, dan apa yang harus diberitahukan kepada anak-anak mereka tentang kondisi tersebut, dan takut membawa pengaruh buruk terhadap keluarga mereka”

Mengapa berkomunikasi dengan anak tentang kondisi yang mengancam jiwa orang tua itu penting?

Penelitian telah mengemukakan bahwa berbagi informasi kepada anak dapat menumbuhkan kepercayaan antara orang tua dan anak. Namun pada kenyataannya, orang tua cenderung menyembunyikan informasi penting dari anak-anak mereka terutama informasi mengenai kondisi kesehatan. Orang tua seringkali merasa tidak yakin tentang bagaimana cara berbicara dengan anak dan berapa banyak informasi yang harus dibagikan kepada mereka, sementara disisi lain orang tua ingin menghindarkan anak mereka dari kecemasan.

Terlebih ketika ada anak yang kerja merantau jauh dari rumah, orang tua pasti selalu memberikan kabar bahwa mereka seolah dalam kondisi yang baik-baik saja supaya anak mereka fokus bekerja dan tidak mencemaskan kondisi orang tua di rumah. Bahkan, orang tua terkadang melewatkan jadwal pengobatan hanya karena takut anak mereka akan mengamati dan kemudian mencurigai ada sesuatu yang salah pada kesehatan mereka. Sikap orang tua yang demikian membuat komunikasi anak dan orang tua tidak terjalin dengan baik. Tak jarang, anak akan merasa syok ketika mendapat kabar bahwa orang tua mereka mengalami sakit kronis padahal orang tua mereka sebelumnya tidak pernah mengeluhkan kondisi kesehatan.

Ketakutan yang sering dialami orang tua dalam mengkomunikasikan kondisi kesehatan kepada anaknya adalah mereka takut pengakuan kondisi kesehatan yang buruk dapat mengakibatkan stres atau emosi tinggi pada anak, selain itu penyakit kronis yang diderita oleh orang tua dianggap sebagai rahasia keluarga yang harus disembunyikan. Ketakutan diperparah dengan munculnya rasa bersalah karena tidak dapat memenuhi peran mereka sebagai orang tua. Rasa khawatir tentang bagaimana mengelola reaksi anak-anak mereka dalam menanggapi informasi yang sudah diberikan juga mendorong orang tua untuk tidak memberitahu kondisi kesehatan mereka kepada anak.

 

Pengaruh Komunikasi Anak dan Orang Tua dalam Sistem Keluarga

Rasa saling menjaga dalam keluarga memang sangat penting, tetapi keberanian untuk berkomunikasi sesuai dengan kebenaran jauh lebih penting. Begitu juga komunikasi antara orang tua dan anak, harus saling terbuka. Jangan sampai tindakan saling menutupi demi menjaga perasaan justru berdampak buruk dikemudian hari karena terjadi salah presepsi. Langkah bijak harus dilakukan oleh kedua pihak, anak dan orang tua harus saling berusaha membangun etika komunikasi yang baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi anak dan orang tua adalah kondisi orang tua, termasuk usia dan jenis kelamin anak, faktor sosiodemografi keluarga, kesehatan orang tua, dan emosional individu dalam keluarga.

Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak harus diprioritaskan dalam keadaan apapun. Sesulit apapun keadaan, harus ada komunikasi yang transparan baik dari orang tua maupun anak. Saling pengertian akan keadaan menjadi sesuatu yang mutlak diutamakan. Orang tua harus mencari waktu yang tepat dalam mengungkapkan kondisi kesehatan mereka, sebaliknya seorang anak juga harus mampu menerima dengan lapang dada serta harus memikirkan langkah bijak demi kebaikan keluarga. Dalam kasus ini, ketika orang tua dalam kondisi kesehatan yang tidak baik, harus segera dikomunikasikan kepada anak. Sebagai contoh ketika orang tua mengidap penyakit kanker stadium akhir, mereka harus memengungkapkan kondisi tersebut kepada anak untuk menghindari kejutan tak terduga jika orang tua meninggal, memastikan keluarga mengetahui penyebab sebenarnya dari penyakit mereka dan melindungi anak-anak dari stigma dan perasaan terluka jika anak mereka mengetahui penyebabnya dari orang lain. Beberapa orang tua berharap bahwa mengungkapkan kondisi kesehatan mereka kepada anak membuat anak mereka lebih waspada akan risiko penyakit tersebut dan menerapkan pola hidup sehat agar tidak tertular penyakit yang sama. Ketika komunikasi antara anak dan orang tua terjalin dengan baik, maka akan tercpita rasa saling memahami satu sama lain. Sesulit apapun keadaan, komunikasi harus diutamakan demi keharmonisan dan kebaikan keluarga.