Pengakuan

Pengakuan

Pengakuan

 

“Aku tak tahu mengapa aku bagaikan tersihir dengan bang Albert, mbak,” kata Linda. Mata Linda  yang besar dan indah berkaca-kaca. Rambutnya yang hitam lebat, lurus,  terurai sampai ke bahu membingkai wajah berbentuk oval. Rita mendengarkan dengan diam dan terus menatap wajah perempuan muda dengan kulit sawo matang berumur 28 tahun itu.

 

 “Untuk menemui mbak, aku harus berbohong. Mama aku minta tidak  bilang kemana aku pergi. Hpku kumatikan,” lanjut Linda . “Mbak tahu kan aku perempuan mandiri, tapi aku selalu menuruti permintaan abang, cara berdandan, jam berapa kita akan telponan. Mengubah agenda kerjaku supaya kami bisa bersama-sama….”

 

Ya Rita mengenal Linda. Karena mereka berteman. Rita menarik nafas panjang, memandang jari-jarinya, yang hari itu dibiarkannya polos. Rita menunduk, bibirnya yang tipis bergetar, dia berupaya keras agar air matanya tidak tumpah. Rita menegakkan kepalanya, rambut pendeknya yang bergelombang sepanjang kuping, bergerak terkena hembusan angin. Sebagai perempuan yang lebih tua  dari Linda, dan lebih dulu bergaul dengan Albert sebagai istrinya, Rita harus bisa menguasai suasana.  “Aku tidak boleh terlihat lemah, tidak boleh terlihat sebagai istri yang terluka,” katanya dalam hati.

 

Rita, perempuan berperawakan tinggi, 165 cm, berkulit terang, sudah mengenal Linda sekitar 1,5  tahun yang lalu. Rita, yang berumur 35 tahun sudah 8 tahun menikah dengan Albert. Rita mengenal Linda, karena saat itu perusahaan tempat Rita bekerja memerlukan konsultan untuk menyusuan program pemberdayaan masyarakat yang merupakan  bagian dari Corporate Social Responsibility perusahaan. Atas rekomendasi teman-temannya, Rita menghubungi Linda. Ternyata Linda memang cakap dalam melakukan pekerjaannya. Perempuan muda berwajah eksotis, berperawakan proporsional dengan tinggi 157 cm ini, bisa mengambil hati masyarakat dengan progam penghijauan bantaran kali tempat mereka bermukim dan sekaligus memberikan reputasi yang baik bagi perusahaan.

 

Sejak saat itu Linda dan Rita berteman. Sifat Linda yang periang, jahil, spontan, seolah melengkapi karakter Rita yang agak pendiam, cenderung serius,  tidak bisa membuat lelucon, (tetapi tertawa paling duluan kalau ada lelucon), serta perfeksionis. Linda pun menjadi teman keluarga: Rita-Albert and Andre anak mereka.

 

Dalam beberapa bulan terakhir, Rita merasa ada yang berubah dalam perkawinannya. Beberapa kali Albert pulang lebih malam dari biasanya, penjelasannya selalu sama: tugas mendadak dari bos. Memang ,Albert,yang 3 tahun lebih tua daripada Rita, baru saja diangkat menjadi Direktur Hubungan Masyarakat di sebuah BUMN. Albert sangat mudah bergaul, pekerja keras, dan memiliki hobi main basket,  serta badminton. Tinggi badan Albert yang 180 cm itu merupakan modal utama  untuk main basket. Albert sering memenangkan timnya Sifatnya yang luwes dan hobi yang beragam menyebabkan  Albert memiliki banyak teman di kantor dan karirnya melesat cukup baik. Dengan pergaulannya yang luas, dan karirnya yang menanjak, Rita maklum bahwa waktu suaminya  banyak terkuras di luar rumah. Namun entah mengapa akhir-akhir ini Rita merasa perhatian Albert ke rumah berkurang.  Anehnya, banyak betul hadiah dari Linda untuk Andre, melalui Albert. Padahal Linda sekarang jarang main ke rumah Rita.  Seminggu yang lalu, ketika Rita sedang merenungkan perkawinannya, tiba-tiba hpnya berbunyi “Mbak Rita, sehat-sehat kan? Iih kangen udah lama gak ngobrol. Kita ketemuan yuk,…,” suara Linda renyah dan ramah.

 

Hari ini Rita dan Linda bertemu di sebuah kafe.  “Itu saja yang ingin kamu sampaikan Linda, bahwa kamu berselingkuh dengan suamiku?” tanya Rita dengan suara datar. “Bukan mbak. Aku mau menyampaiakan bahwa hubungan kami sudah cukup lama, sudah hampir setahun. Aku ingin mengakhiri ini semua mbak. Aku lelah, dan aku tidak bisa melakukannya tanpa berterus terang pada mbak, “ jawab Linda dengan mengusap air matanya.

 

“ Oooh, jadi ini semacam closure buat kamu? Kata Rita dengan nada mulai marah. “Kalau kamu ingin mengakhiri hubungan ini, aku tanya sekarang! Seandainya  malam ini Albert menelponmu, apakah kamu akan menjawabnya!?” tanya Rita.  Linda terdiam, tampak terkejut dengan pertanyaan ini. “ Iya mbak saya akan jawab, karena….” Rita sudah tidak mendengar kalimat berikutnya. Perempuan profesional berkulit kuning langsat ini  dengan elegan beranjak berdiri. Dengan langkah meyakinkan ia meninggalkan Linda. Jawaban Linda yang terakhir bagi Rita adalah clue, bahwa hubungan Linda dan Albert masih akan berlangsung entah sampai kapan.

 

Rita masuk ke dalam mobil, meminta supir mengantakannya ke Bogor. Rita ingin menghabiskan sore itu minum teh di Kebun Raya Bogor. Sendiri.  Dalam perjalanan, air matanya mulai mengalir. Wajah Albert, yang tampan, dengan tulang rahang tinggi,  rambut keriting, serta senyum menawan, mirip Xanana Gusmao, membayanginya. Hati Rita hancur.