Pendidikan Karakter Anak: Tanggung Jawab Siapa?

Pendidikan Karakter Anak: Tanggung Jawab Siapa?
Gambar dari pixabay.com

Sepasang suami istri sedang mengendarai mobil, menikmati pemandangan indah di sebuah daerah dengan kota-kota kecil yang tertata apik. Peristiwa ini terjadi di sebuah wilayah di negara Swiss, Eropa. Mereka bermaksud melakukan semacam perjalanan napak tilas ke tempat-tempat kelahiran nenek moyang sang istri. Mereka hanya berdua saja karena kedua anak mereka yang sudah remaja memilih untuk melewati liburan bersama teman-temannya.

Malam telah menjelang pukul 10.00...

Seusai makan malam di sebuah kafe kecil, mereka meneruskan perjalanan. Ternyata hari yang awalnya cerah mulai berubah menjadi semakin mendung dan akhirnya hujan mengguyur deras. Mereka tentu kecewa dengan cuaca yang tidak ramah ini, tetapi mereka tetap berusaha menikmati perjalanannya. Paling tidak lagu-lagu yang menemani mereka dari radio mobil cukup menghibur. Tiba-tiba mesin mobil mereka mati. Sang suami berusaha menghidupkan mesin mobil berkali-kali. Namun, mobil tetap tidak dapat dijalankan, alias mogok!

Mereka menunggu sampai hujan reda...

Akan tetapi tampaknya belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Akhirnya, dalam keadaan masih hujan, sang suami memutuskan keluar dari mobil dan bermaksud mendorongnya ke bengkel terdekat. Sang istri tetap di dalam mobil dan mengambil alih posisi supir. Perlahan-lahan mobil bergerak maju. Sang suami tentu saja mengorbankan diri dengan berbasah-basah.

Mobil mendekati sebuah persimpangan jalan...

Tak jauh dari persimpangan tersebut terlihat sebuah bengkel mobil, walaupun mungkin sudah tutup karena sudah larut malam. Namun, lampu pengatur lalu lintas masih menunjukkan lampu merah menyala. Sang suami memutuskan untuk menerobos rambu. Ia memberitahu sang istri untuk tidak menginjak rem agar mobil dapat terus bergerak maju. Menurutnya, kalau mobil sudah berhenti, akan lebih sulit baginya untuk mulai mendorongnya lagi. Toh tidak ada mobil lain di daerah sesunyi itu. Waktu juga sudah mendekati jam 12 malam. Mana ada mobil lalu-lalang di malam yang sunyi dan sedang diguyur hujan?

Sampailah mereka di bengkel... 

Walau sudah hampir tengah malam, pemiliki bengkel yang memang tinggal di situ bersedia memeriksa kendaraan mereka. Sang pemilik bengkel sangat ramah. Sementara ia memperbaiki mobil, pasangan tersebut disuguhi teh hangat dan roti coklat. Setelah sekitar satu jam, mobil mereka selesai diperbaiki. Pasangan suami istri itu tentu saja sangat bersyukur. Mereka segera membayar ongkos perbaikan dan mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan dan keramah-tamahan pemilik bengkel.

Dan... apa yang terjadi setelah itu? 

Pemilik bengkel menyampaikan bahwa ia telah melaporkan pelanggaran rambu lalu-lintas suami istri itu kepada polisi setempat. Tentu saja pasangan tersebut sangat terkejut. Mereka menjelaskan situasi yang mereka hadapi. Mobil mereka tiba-tiba mogok, cuaca buruk, dan waktu sudah sangat larut malam. Tentu tidak akan mengganggu keamanan dan kenyamanan pengendara lain karena situasi jalan sepi, dan toh tidak ada polisi lalu-lintas yang bertugas.

Namun... apa jawaban sang pemilik bengkel?

“Tugas memastikan ketertiban, keamanan, dan kenyamanan dalam hidup, bukanlah tugas polisi saja. Ini adalah tugas kita semua di komunitas kecil ini. Mematuhi peraturan bukan untuk kepentingan kita sendiri, melainkan untuk kepentingan masyarakat dan terutama generasi berikutnya. Apakah Anda yakin bahwa tidak ada orang lain yang melihat kejadian pelanggaran itu? Saya saja melihatnya dari sini.

Bayangkan kalau peristiwa tersebut dilihat oleh seorang anak kecil dari salah satu jendela kamar rumah di sekitar sini. Dia menyaksikan sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh orang dewasa dengan sengaja! Bukankah ini sebuah pendidikan karakter yang buruk? Anak itu belajar tentang moral dan etika kehidupan langsung dari satu kejadian di depan matanya!”

Pasangan suami istri itu terhenyak!  Tak dapat berkata apa-apa…!

***

Cerita nyata di atas dialami dan dituturkan oleh seorang teman berkebangsaan Swiss dalam perbincangan ringan tentang pentingnya memberikan pendidikan moral, etika dan karakter baik kepada anak secara langsung. Bukan melalui teori atau pelajaran di sekolah. Pendidikan karakter dipelajari melalui penerapan dalam kehidupan sehari-sehari, melalui contoh dan teladan dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Jadi, siapa yang harus berperan dalam mendidik anak-anak kita? Kita semua! Bukan hanya orang tua langsung, guru, dan sekolah. 

 

“It takes a village to raise a child” 

Ini adalah pepatah Afrika yang artinya dibutuhkan seluruh desa untuk membesarkan dan mendidik seorang anak. Kita sebagai anggota sebuah komunitas, apakah itu RT, RW, kelompok ibu-ibu arisan, persatuan orangtua murid dan guru, harus terlibat berinteraksi dengan anak-anak secara bijak agar anak-anak dapat bertumbuh kembang dalam lingkungan yang aman dan sehat menjadi warga dunia yang bertanggungjawab.

Saya pribadi masih sempat mengalami masa kecil ditegur oma yang tinggal di depan rumah kami karena belum mandi sore, atau dibelikan buku cerita oleh tetangga yang pulang dari toko buku dan membeli buku cerita untuk anaknya. Teman-teman sering dititip di rumah kami saat orang tuanya harus menghadiri acara pesta malam hari. Hal-hal itu menjadi pengalaman dan pembelajaran berharga bagi saya, yang tidak dapat saya peroleh di ruang kelas sekolah.

Kalau kita telisik lebih jauh, semua nilai-nilai karakter baik tidak dapat diajarkan sebagai pelajaran sekolah yang harus dihafalkan, atau diuji dengan sistem pilihan ganda. Nilai-nilai tersebut harus dihidupi oleh kita semua. Dipahami, dijiwai, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak membutuhkan contoh nyata untuk dapat memahaminya. Cerita dan dongeng yang menceritakan tokoh-tokoh berkarakter baik merupakan cara awal yang paling tepat untuk memperkenalkan anak pada nilai-nilai yang akan memandu mereka menjadi orang berkarakter baik.

Sebagai penutup, kita seyogyanya turut mengambil bagian dalam proses pendidikan karakter bangsa bagi anak-anak kita. Pendidikan karakter adalah kegiatan-kegiatan yang mendidik yang diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Bagaimana memulainya? Paling tidak dengan selalu berlaku bijak sesuai dengan norma dan nilai karakter bangsa yang kita inginkan. Seperti dalam cerita tadi, siapa tahu ada seorang anak yang memperhatikan kita dan berterima kasih atas pelajaran karakter baik yang sudah kita contohkan. Semoga kita dapat meninggalkan bangsa ini dalam kondisi yang lebih baik, demi anak cucu kita!