PELIT? SIAPA TAKUT

PELIT? SIAPA TAKUT

Klunting!  

Notifikasi masuk

"Diharapkan kehadiran besok sore jam 03.00 meeting akhir bulan dengan para Marketing dan Kepala Cabang di Kantor Cabang ***. Mohon tepat waktu." 

"Yaaahh ... rapat lagi!" eluhku.  
"Iya nih, bete banget, pasti dimarah-marahin, belum juga deadline segala macam dan target bulan ini yang masih minus, duh!" Temanku,  si Tari tak kalah ngeluh. 

"Tenang gaes,  besok gajian. Klunting pagi-pagi,  fresh kalian.  Haha," terang Doni, temanku yang lain.  

Kami memang satu tim.  Setim lima orang.  Masing-masing sudah punya target dan tugas sendiri-sendiri sehingga kalau digabungkan jadilah target cabang kami.

Kemana bos kami? Dia ada, tapi kerjanya cuma duduk manis, ongkang-ongkang kaki. Namun, ketika di telepon bos besar,  gupuhnya setengah mati.


Selain aku, Tari, dan Doni, ada lagi yang lain. Namanya Ida dan Sofyan. Bu Ida yang paling senior, tapi semangatnya membahana. Kalah deh yang muda-muda. Cuma 1 kekurangannya. Meski gaji lebih besar, tapi beliau suka hutang. 

Sejauh ini yang jadi sasaran adalah Tari yang paling lugu. Bukan karena gak ngerti dengan sifat bu Ida, tetapi Tari memang anaknya gak bisa bilang gak. 

Kalau Sofyan dan Doni,  jangan tanya. Namanya laki-laki,  alasan gaji sudah ditransfer istri, beres sudah. Tinggal aku yang belum kena sasaran.  

Pagi itu,  seperti biasa sebelum brifing pagi dimulai. Bu Ida tiba-tiba memulai percakapan. 

"Eh Dik,  ada diskon besar-besaran di Mall.  Ayok habis gajian maen ke sana?" ajak bu Ida.  

Si Tari yang gak bisa nolak pun menanggapi, "iyakah Mi? Liat Mi, liat!"
Bu Ida memang biasa di panggil mami sama teman-teman. Tak terkecuali aku.

Aku yang gak begitu suka shopping, cuma dengerin dan melirik saja. Bagiku gaji sudah ada pos-posnya. Tak hanya kebutuhan pokok rumah tangga saja, tetapi juga investasi untuk masa depan. Kalau tidak begitu mana bisa punya abakadabra yang halal? Sadar karena gaji pegawai sudah ditakar dan biaya pendidikan semakin merangkak.

Tiba-tiba tanpa diduga, setelah selesai brifing pagi, saat menuju ke kamar mandi,  bu Ida menyusul dan membahas masalah uang dengan ku, dia mengajak bicara.

"Dik,  besok habis gajian. Aku pinjam duit ya!" 

Aku yang langsung kaget,  menatap bu Ida sekian detik.  

"Ada masalah apa Mi?  Emang mau pinjam berapa?"

"Perkiraan aja si Dik,  mungkin sekitar Rp 1.500.000, tapi mudah-mudahan gak jadi,  cuma jaga-jaga aja.  Dik Amanda kan istrinya manajer,  gajinya gak begitu butuh, nanti habis bonus triwulanan aku kembalikan lagi."

Aku yang mendengar pernyataannya cuma bisa ketip-ketip, dalam hati bilang, "gajiku Rp 3.000.000 dipinjam separo, orang ini pinjam apa malak ya? Astagfirullah, nih orang sudah meminjam, sedikit maksa,  dan sok tau tentang keuanganku, ngatur-ngatur lagi. Trus kenapa tadi ngajak-ngajak orang-orang ke Mall segala!? Alamak!

Aku kembali mengerjap. "Ini orang untungnya uda tua,  kalau masih muda,  gue giles juga." batinku sebal.  

Akhirnya aku cuma bisa bilang,  "Mi aku uda gak tahan nih. Bahas besok aja ya."
Pikirku,  penolakan halusku barusan,  cukuplah menjadi kode untuk bu Ida kalau aku sebenarnya sudah menolak.  

Sampailah hari besoknya.  

"Alhamdulillah ... gajian oey!" seru Doni. "Rejeki anak istriku tersayang." Doni happy, kembali ngoceh-ngoceh sambil menggesek atm untuk kirim uang ke istrinya di luar kota.

Begitu juga dengan Sofyan melakukan hal yang sama.  

Si Tari yang lugu juga tak kalah. "Mi, ayo Mi,  katanya ke mall ada diskon. Ayok, mumpung lagi fresh ini hihi, sebelum nanti sore digiles pas meeting,  kita hura-hura dulu." Tari memang paling muda dan masih single,  jadi tak berpikir banyak masalah gaji. Maklum baru kerja,  fresh graduate. 

Aku yang duduknya paling pojok cuma bisa diem, aku sudah berhitung seperti biasa. Sekian aku sisihkan untuk tabungan pendidikan anak, sekian untuk susu,  sekian untuk asisten, barusan juga ditransfer suami sekian rupiah. Alhamdulillah. Semoga aku, suami dan anak-anakku selalu dalam keberkahan. 
Hingga akhirnya, klunting! 

Notifikasi pesan dari bu Ida.  
"Dik, aku jadi pinjam duitnya, Rp 1.000.000 saja.  Nanti habis bonus triwulanan aku bayar."

Aku yang sedang damai dan tiba-tiba merasa ada negara api menyerang, langsung balas, "Mami ... Mami kan lebih senior,  gajinya lebih besar, gak salah pinjam ke junior yang gajinya lebih kecil, kan harusnya kebalik Mi!"

Kulirik wajahnya berubah masam saat membaca balasan pesan dariku.  

"Dik,  kalau gak mau bantu ya bilang aja gak bisa,  gak usah bilang gitu, sampeyan gak ngerti kebutuhanku dan tanggunganku apa aja."

Dalam hati,  aku mengikik geli, "lah emang si ibu juga tau kebutuhanku apa saja?  sama lah. Aku menahan diri untuk belanja gak penting karena emang ada mimpi yang diraih. La ibunya banyak tanggungan tapi suka shoping-shoping. Lucu deh, " batinku.  

Lalu,  aku cuma bisa balas, "maaf ya Mami... ". Dengan emotikon kiss.  

~Timit~