Pecel dan Revolusi Indonesia

Pecel  dan Revolusi Indonesia

“PECEL LELE, pecinta cewek lemu-lemu,” begitu tulisan di sebuah bokong truk yang pernah kulihat saat berkendaraan di jalan tol.

Tulisan yang berarti “pecinta perempuan gemuk-gemuk” ini semestinya bermakna sederhana, namun entah kenapa aku tiba-tiba berpikiran agak jauh. Seperti nara bahasa, aku mencoba menerka-nerka maksud sesungguhnya dari penulisan kata-kata tersebut.

Kemungkinan pertama, penulisan kata-kata tersebut sebagai bentuk kecintaan sopir truk kepada seseorang, entah istri atau pacarnya yang berbadan gemuk. Bisa juga karena kagum kepada penyanyi dangdut idola yang sering disaksikan dalam konser hajatan. Umumnya penyanyi dangdut yang tampil bertubuh semok dan “gemuk” di bagian dada seperti duet penyanyi dangdut duo srigala.

Kemungkinan kedua, si sopir truk malah tidak berani menuliskan kata “pecinta cewek langsing,” karena takut didamprat istri atau pacarnya, yang memang gemuk … ha ha ha

Kemungkinan ketiga, kata-kata tersebut merupakan ejekan atau bully dari sopir truk kepada perempuan langsing dan berkaki jenjang yang menolak cinta si sopir truk.

“Cinta ditolak, tulisan melayang,” begitu mungkin pikir seorang sopir truk

“Tidak apa-apa gagal mendapatkan perempuan langsing berkaki jenjang, perempuan gemuk juga tidak masalah. Perempuan gemuk malah memiliki tubuh yang jauh lebih montok dan terlihat bahagia memiliki suami berprofesi sebagai sopir truk,” begitu mungkin pikiran seorang truk yang menulis kata-kata tersebut  

Lalu bagaimana dengan pikiran seorang perempuan ketika membaca tulisan “Pecel Lele Pecinta Cewek Lemu-lemu,”? Bila perempuan tersebut berbadan gemuk, bisa jadi ia akan berpikiran bahwa sopir truk tidak beda dengan pria pada umumnya yang suka membully perempuan gemuk. Kegemukan seringkali dipandang sebagai aib bagi seorang perempuan. Karenanya, saat bertemu langsung, jangan sekali-sekali mengatakan bahwa seorang perempuan itu gemuk.

Lebih jauh, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perempuan cantik selalu identik dengan mereka yang bertubuh langsing, berkaki jenjang, berkulit bersih dan berambut lurus panjang. Lihat saja kontes-kontes ratu kecantikan atau pameran busana, mulai dari yang lokal hingga internasional, selalu menampilkan pesertta atau model dengan ciri-ciri tersebut. Jangan bayangkan pemenang kontes kecantikan adalah seorang wanita berbadan gemuk, berkaki besar dan rambut ikal dan kriting.   

“Tapi tidak semua negara memandang wanita cantik dengan kriteria seperti model dengan tubuh langsing, berkaki jenjang dan sebagainya. Dari sebuah tulisan yang pernah saya baca di sebuah situs di internet, beberapa negara justru menetapkan bahwa perempuan cantik adalah mereka yang memiliki tubuh besar dan gemuk. Beberapa negara menilai gemuk sebagai simbol kecantikan, kesejahteraan, dan status sosial yang tinggi,” ujar seorang temanku, mencoba memberi perspektif yang berbeda

“Di Mauritania misalnya, sebuah negara di Afrika, standar kecantikan bagi perempuan di sana adalah mereka yang memiliki tubuh gemuk dengan lemak menggelambir di mana-mana. Budaya tradisional di sana menganggap perempuan yang bertubuh gemuk merupakan simbol dari kecantikan, kesejahteraan, dan status sosial yang tinggi,” ujar temanku lebih lanjut.

“Ada contoh dari negara lainnya,” tanyaku

“Di Afrika Barat, para pria disana menganggap gemuk sebagai tanda kekayaan dan prestasi. Gadis-gadis di sana akan diberi remah roti yang direndam di dalam minyak zaitun dan dicampur dengan susu unta agar mempercepat proses penggemukan,” jawab temanku

“Bahkan di Afghanistan, negeri yang selalu bergejolak karena perang saudara, para perempuan yang bertubuh gemuk akan merasa lebih nyaman karena para pria lebih tertarik dengan perempuan yang punya body semok,” jelas temanku lebih lanjut

“ha ha ha tau aja loe, … terima kasih penjelasananya kawan,” jawabku

Selesai ngobrol tentang tulisan “Pecel Lele”, sekarang justru perutku yang merasa lapar. Entah gara-gara ngomongin pecel, aku pun kepikiran untuk menyantap pecel. Bukan pecel lele, tetapi pecel sayur yang selalu terlihat segar dan penuh warna.

Terbayang dalam pikiranku bagaimana sepiring atau sepincuk (piring dari daun pisang) pecel tersaji di atas meja. Pecel tersebut berisi potongan berbagai sayuran hijau segar seperti bayam, kangkung, kemikir, kemangi, kacang panjang, berpadu dengan taoge putih yang disiram saus kacang berwarna cokelat pekat. Buliran kacang pada sausnya tampak belum terlalu halus, masih agak bergerindil, menambah kaya teksturnya di tiap suapan.

Pecel yang berasal dari bahasa Jawa, yang artinya diperas setelah direbus, merupakan kuliner sederhana yang selalu memikat. Rasanya yang nikmat dan bahan yang mudah didapat seorang kondisi setempat, menjadikan pecel sebagai menu makanan sehari-hari orang Indonesia.

Konon pecel sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan tercatat dalam Serat Centhini, yang ditulis pada tahun 1800 M. Pada naskah kuno tersebut, sajian pecel kerap dijadikan sebagai menu jamuan bagi para rombongan kerajaan. Dari waktu ke waktu, ia pun tetap jadi hidangan istimewa; disajikan sebagai makanan pesta untuk selamatan dan pertunjukan wayang di daerah Jawa.

Hal lain yang juga tidak kalah menarik adalah variasi pecel yang sajiannya sangat kaya. Meski pecel dikenal berssal dari Jawa, namun ternyata hampir tiap daerah di Indonesia juga sajian pecel dengan komposisi elemen pecel yang berbeda. Di Sumatra, misalnya. Pecel dari wilayah tersebut menggunakan berbagai sayuran yang berasal dari daerah yang dilewati oleh rel kereta api.

Sementara, di daerah Jawa Timur, ciri khasnya adalah penggunaan kecipir. Lain lagi di Yogya, yang menambahkan kembang turi putih sebagai campuran pecel. Di Kroya, sajian pecel bahkan dipadukan dengan kecombrang, membuat aromanya makin memikat.

Di atas baru bicara soal varian pecel belum bicars soal bumbu atau saus kacangnya yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Bumbu pecel di Kediri cenderung punya tekstur yang lebih lembut, dengan cita rasa asin, pedas, dan memakai banyak rempah. Biasanya, ditambahkan pula sambal tumpang untuk sensasi yang unik dan lebih nikmat.

Sementara, pecel di Kota Malang disajikan dengan bumbu kacang yang lebih kasar, plus irisan daun jeruk di atasnya. Kalau di Blitar, bumbunya sedikit lebih halus, lebih berminyak, dan bercita rasa manis gurih.

Sedangkan, sajian pecel khas Madiun biasanya diberi tambahan daun jeruk purut.

Betapa beragamnya sajian pecel di berbagai daerah ini lantas membuatnya dijuluki sebagai makanan pengembaraan, yang mencerminkan keberagaman bangsa Indonesia.

“Elo tau gak kalau Presiden pertama Indonesia, Bung Karno, ternyata suka banget pecel,” tanya seorang teman, membuyarkan lamunanku

“Belum pernah denger sich,” jawabku

“Gua baca dari buku tulisan Guntur Soekarno, putra sulung Bung Karno, yang berjudul “Bung Karno & Kesayangnya” bahwa Sukarno atau Bung Karno ternyata sangat menyukai pecel,” kata temanku tersebut

“Wah menarik nich, bagaimana ceritanya?,’ tanyaku

“Dalam bukunya, Guntur menulis bahwa kalau Bapaknya sedang menikmati (pecel), walaupun yang namanya Revolusi Indonesia berhenti pasti Bapak tidak akan ambil pusing!,” ujar temanku yang menginformasikan soal pecel kesukaan Bung Karno

“Masih tulis Guntur, Bung Karno bahkan punya penjual pecel langganan yang kerap disambanginya saat mudik ke Blitar yaitu nasi pecelnya mbok Rah,” ujar temanku lebih lanjut

“Wah dahsyat, gara-gara pecel maka revolusi Indonesia bisa berhenti,” sela seorang temanku yang lain

“Kalau begitu, apabila suatu saat ada yang berkeinginan melakukan revolusi di Indonesia untuk mengganti ideologi Pancasila dan NKRI, cukup sajikan pecel yang banyak. Dijamin revolusi tersebut berhenti,” usul temanku yang lainnya lagi

“Ha Ha Ha Ha,” tawa kami ramai-ramai

"stop ... stop jangan bahas soal revolusi Indonesia, bisa kepanjangan obrolan kita dan dia akan lebih panjang lagi menuliskannya," ujar temanku sambil menunjukkan jarinya ke arahku

"ach siaaappp ...."