PAPA KOMA

PAPA KOMA
Mesin-mesin ini adalah indikator yang membuat kami tau bahwa Papa masih hidup

Tok…tok..tok! Pintu kamar Papa diketuk.

"Yak!" Saya ke luar dari toilet bertepatan dengan seorang perawat yang masuk ke dalam kamar sambil mendorong kereta makanan. 

“Pak Yo, makan malam sudah siap,” kata Si Suster.

“Saya aja yang bawa, Sus!” Saya merebut kereta makanan itu dari suster, menempatkannya di samping ranjang.

“Yuk makan, Pa. Yoyo suapin ya?”

“Papa belum lapar, Yo.”

“Coba aja makan dulu. Kalau nggak habis nggak apa-apa. Yang penting perut Papa diisi biar tambah kuat,” bujuk saya.

Papa cuma mengangguk tanpa minat.

Sambil menyuapi, saya membuka percakapan lagi, “Papa, I have a question.”

“You have a lot of questions tonight,” kata Papa dengan nada datar

“Kalau Papa keberatan, Yoyo nggak jadi tanya,” sahut saya.

“Okay, kamu boleh tanya apa aja.”

“Papa tadi bilang bahwa Papa selalu mendoakan teman-teman Papa sehingga terhubung dan akhirnya mereka datang ke sini. Begitu bukan?”

“Iya, betul.”

“Nah, pertanyaannya; ada nggak seseorang yang selalu Papa doakan tapi yang Yoyo kenal?” Habis bertanya begitu saya menatap wajah Papa. Saya yakin dia akan kelimpungan mencari jawaban untuk pertanyaan ini.

“Ya, ada dong!” Di luar dugaan, Papa menyahut tanpa jeda sehingga membuat saya surprise sekali.

“Oh, ya? Siapa yang Papa doakan? Beneran Yoyo kenal sama orang itu?” tanya saya sambil menyodorkan sendok ke mulutnya.

“Ya, kenallah. Orang itu teman kamu. Bukan teman Papa,” jawabnya sambil mengunyah makanan yang ada di mulut.

“Temen Yoyo? Siapa, Pa?”

“Cindy,” sahut Papa pendek.

“Cindy? Cindy yang di Amerika?” tanya saya hampir tidak percaya pada pendengaran sendiri.

“Iya, Cindy yang itu. Papa sangat berterimakasih padanya karena dia telah menolong kamu. Dia mau menampung di saat kamu sedang dalam kesusahan. Hatinya benar-benar seperti malaikat. Percaya, deh, kata Papa. Jarang sekali di dunia ini, orang mau berbuat kebaikan seperti itu.”

Terharu sekali saya mendengar uraian Papa.

“Papa juga sudah nelpon dia dan suaminya. Papa sudah mengucapkan terima kasih secara langsung pada mereka atas kebaikannya terhadap kamu," kata Papa meneruskan kalimatnya.

Saya menghela napas panjang dengan perasaan masih tak keruan rasa.

“Dan sejak kamu pulang ke rumah, Papa selalu mendoakan keduanya setiap hari.”

Saya terharu bukan main. Saya letakkan sendok dan garpu lalu mencium Papa dengan sepenuh jiwa, “Terima kasih, Papa. Yoyo waktu itu takut sekali kalau Papa marah.”

“Buat apa Papa marah. Hidup itu cuma sebentar. Minimal sekali dalam hidup, kita perlu membuat sebuah keputusan yang penting. Mungkin keputusan kita salah tapi selalu ada hikmah yang bisa kita ambil dari keputusan yang sudah kita buat,” kata Papa lagi.

Sejenak saya terdiam berusaha mencerna omongan Papa lebih jauh. Lalu saya bertanya lagi, “Tapi kenapa semua orang yang Papa doakan datang membesuk sementara Cindy tidak?”

“Hehehehe…. “ Papa tertawa lirih sebelum melanjutkan, “Kalau kita mendoakan orang, kita tentu berharap semoga hal-hal baik terjadi pada orang itu. Iya, kan?”

“Iya, betul.”

“Kalau kita berdoa dengan harapan agar orang itu melakukan sesuatu untuk kita, maka doa itu pamrih. Berdoa dengan pamrih sama saja dengan mendoakan diri sendiri. Bukan mendoakan orang lain,” katanya.

“Iya, Pa.” jawab saya sambil mengangguk setuju.

Sejenak kami terdiam sampai akhirnya Papa memanggil saya lagi, “Yoyo.”

”Iya, Papa.”

“Tuhan itu maha adil. Akan datang saat di mana kamu berkesempatan untuk membalas jasanya Cindy.”

“Iya, Yoyo juga mempercayai itu,” jawab saya.

“Kamu harus peka karena kesempatan itu tidak datang setiap hari. Dan ketika hari itu tiba, apapun permintaan Cindy kamu harus berusaha memenuhinya.”

Luar biasa sekali, ya, Papa saya? Setelah percakapan itu, saya tidak lagi kesal pada Papa. Saya menyadari bahwa Papa ternyata seorang Ayah yang sangat memperhatikan anaknya. Walaupun caranya memberi perhatian tidak lazim seperti orangtua pada umumnya.

Napsu makan Papa sama sekali tidak ada. Dengan gerakan tangan dia memberi syarat untuk menyudahi makan malamnya. Saya pun tidak memaksa.

Pikiran saya masih dipenuhi oleh omongan Papa barusan. Tidak saya sangka sama sekali bahwa Papa selalu mendoakan Cindy. Sejak hari pertama saya pulang ke Jakarta dari Amerika, Papa tidak pernah bertanya kenapa saya hamil. Tidak bertanya apakah Ernest adalah ayah dari anak saya. Tidak pernah bertanya apa rencana saya dan Ernest ke depannya.

Hari ini saya baru tau bahwa Papa tidak pernah bertanya bukan karena tidak peduli. Setiap hari mendoakan Cindy dan Mark adalah bukti bahwa Papa justru sangat peduli.

Papa sayang dan dekat sekali dengan cucunya. Di dalam hati tentu dia ingin kepastian dari saya, siapa ayah dari cucunya. Dan hebatnya, dia sama sekali tidak bertanya. Semakin dipikir saya semakin kagum pada Papa. Sikap Papa membuat saya menyadari bahwa kadang rasa cinta sering terekspresikan dengan ketidakacuhan.

Sehabis makan, Papa tertidur. Dan saya menenggelamkan diri dalam buku The Other Side of Midnight, karya Sydney Sheldon. Sebuah buku yang bercerita tentang seorang perempuan Perancis yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari laki-laki yang dia cintai. Lelaki pujaannya itu adalah seorang pilot Amerika di masa perang dunia kedua.

Jam 3 pagi, Papa terbangun. Napasnya tersengal-sengal.

“Kenapa, Pa? Apa yang sakit?” tanya saya cemas.

“Coba kamu angkat baki ini dari dada Papa.”

“Baki apa, Pa?” tanya saya keheranan karena tidak melihat ada baki di dadanya.

“Ini baki bekas makanan tadi. Lama-lama membuat dada Papa sesak.”

Saya memegang dada Papa lalu berkata, “Lihat tangan Yoyo, Pa. Tangan Yoyo ada di dada Papa dan tidak ada baki di sini.”

Papa melongok ke arah dadanya lalu mengeluh, “Ah, Papa udah mulai ngaco nih.”

Saya tambah khawatir pada keadaan Papa. Dengan hati tak keruan, saya menyelimuti tubuhnya. Setelah yakin dia tertidur lelap, saya beranjak kembali ke sofa untuk “mendengarkan” Sydney Sheldon bercerita.

Baru membaca empat halaman, Papa sudah terbangun lagi.

“Yoyo.”

“Ya, Pa?”

“Kalau Pak Liem datang lagi, bilang padanya bahwa Papa mau berobat ke Amerika. Papa mau sembuh. Papa nggak mau sakit.”

“Iya, Pa. Nanti Yoyo sampaikan.”

Kondisi Papa semakin menghawatirkan. Di suatu malam, dia terlihat gelisah sehingga sulit sekali untuk tidur. Kepalanya bergerak terus ke kanan dan ke kiri. Kadang dia diam dengan pandangan nanar ke arah atap kamarnya.

“Itu apa, Yo?” Sekonyong-konyong dia bertanya sambil menunjuk ke arah AC yang ada di dinding.

“Yang mana, Pa? AC maksud Papa?”

“Oh, itu AC. Kalau itu apa?” tanyanya lagi sambil menunjuk ke arah kulkas.

“Itu lemari es, Pa,” sahut saya keheranan bercampur cemas.

“Kalau itu?” Kali ini dia menunjuk ke arah TV.

“Itu TV, Papa.”

“Hehehehehe….” Mendadak Papa tertawa geli dengan suara lemah.

“Kenapa, Pa? Kok, Papa tertawa? Apa yang lucu, Pa?”

“Jauh-jauh datang ke Amerika, ternyata sama saja,” kata Papa lagi.

“Siapa yang ke Amerika, Pa?” Makin sedih saya melihat keadaan Papa.

“Coba lihat kamar rumah sakit ini, Yo. Tidak ada bedanya dengan kamar rumah sakit di Cipto Mangunkusumo. Percuma kita jauh-jauh datang ke Amerika,” kata Papa lagi semakin membingungkan.

"Huhuhuhuhu..." Dengan perlahan saya berdiri lalu memegang tangan Papa sambil menangis terisak-isak,

"Besok kita pulang aja ke Indonesia, Yo. Papa mau mati di Jakarta. Nggak ada gunanya kita berobat di sini, " Papa terus meracau.

“Huhuhuhuhu....Papa, kita masih di Rumah Sakit Cipto. Kita belum pergi ke Amerika. Nanti kalau Papa sudah kuat, Yoyo janji akan mengantarkan Papa ke sana dan menemani Papa sampai sembuh.” Tangis saya semakin keras. Tidak sanggup melihat keadaannya seperti itu.

Papa menatap saya dengan pandangan aneh. Mendadak dia berusaha melepaskan tangannya tapi saya bertahan dan memaksa untuk terus menggenggamnya.

“Eh, Suster. Saya mau disuntik lagi ya?” Papa semakin linglung.

“Papa, ini Yoyo, Pa. Bukan suster,” ucap saya dengan suara nelangsa.

“Suster, anak saya di mana tadi? Namanya Yoyo. Dia tadi di sini. Tolong carikan ya, Suster,” Papa mulai meracau.

“Ini Yoyo, Papa!” kata saya dengan air mata semakin meluap.

“Yoyo!! Kamu di mana? Yoyo..!!! Yoyoooo…!!!!” Papa berteriak memanggil saya yang berada persis di sebelahnya.

Keesokan harinya, Mama, A Koh dan saya menemui dokter untuk menanyakan kondisi Papa yang semakin lama semakin kehilangan kesadarannya.

“Baiklah, Ibu. Sekarang saya akan menjelaskan keadaan keadaan suami Ibu,” kata Dokter.

Mama dan A Koh duduk di hadapan dokter, sedangkan saya berdiri karena di ruangan itu hanya tersedia dua buah kursi.

Dokter tersebut menghela napas panjang beberapa kali sebelum melanjutkan ucapannya. “Terus terang, Pak Yo sudah tidak bisa diselamatkan. Fungsi livernya yang bekerja tinggal 25 persen. Fungsi jantungnya juga tinggal 30%.”

A Koh dan saya langsung menangis tapi Mama tetap tegar. Dengan suara tak berubah beliau bertanya, “Tinggal berapa lama lagi umurnya, Dok?”

“Sulit dikatakan! Tapi Pak Yo akan mengalami 3 fase sebelum meninggalkan dunia ini. Pertama, seperti yang ditemukan Yoyo semalam. Pak Yo sudah tidak bisa membedakan lagi alam nyata dan alam khayalnya. Keduanya sudah tumpang tindih, bercampur satu sama lain dan bergantian mendominasi. Itu sebabnya semalam dia merasa sudah berada di Amerika.”

“Fase itu berapa lama biasanya?”

“Tidak bisa ditentukan.”

“Setelah itu apa yang terjadi, Dok?” tanya Mama lagi.

“Setelah fase pertama dilalui, Pak Yo akan mengalami fase histeris. Di level ini biasanya pasien akan mengamuk dan berteriak-teriak…” Dokter itu melanjutkan teorinya.

Kami sekeluarga terdiam dengan pikiran masing-masing. Tidak terbayang semua ini bisa terjadi pada Papa.

“Fase histeris biasanya tidak lama. Umumnya akan berlangsung paling lama seminggu. Tapi tentu saja kita harus bersiap pada peristiwa anomali yang mungkin saja terjadi."

Keheningan mendominasi lagi.

“Setelah fase histeris, Pak Yo akan mengalami masa koma. Nah, fase inilah yang paling unpredictable. Pak Yo bisa saja koma selama 2 hari tapi bisa juga memakan waktu dua tahun atau lebih. Kita tidak pernah tau.”

Bunyi detak jam dinding dan suara AC di kamar dokter terasa kencang sekali di telinga kami.

“Jadi apa rekomendasi dari Dokter?” tanya Mama lagi.

“Saya tidak mempunyai rekomendasi apa-apa. Saran saya rawatlah Pak Yo dengan baik dan semua anggota keluarga harus mempersiapkan diri,” jawab Dokter lalu mengakhiri kalimatnya, “Saya minta maaf. Kami Team Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolongnya.”

Setelah dokter mengatakan vonis tersebut, setiap hari kamar Papa selalu ramai. Semua keluarga berkumpul di rumah sakit; Oma, Om, Tante dan sepupu-sepupu semuanya datang untuk mendoakan Papa.

Karena tidak kebagian bangku, saya berdiri di samping tempat tidur sambil memeluk Papa. Saya letakkan kepala saya di atas dadanya sambil berucap berulang-ulang, “I love you, Papa. Ya Tuhan, sembuhkanlah Papa. I love you, Papa. Ya Tuhan, sembuhkanlah Papa…”

“WAAAAA…!!!!” Tiba-tiba Papa berteriak sambil mendorong tubuh saya dengan keras sehingga saya jatuh terjengkang ke lantai.

Semua orang terkejut bukan main. Para sepupu segera menolong saya bangkit dari lantai. Untunglah saya tidak mengalami luka sama sekali.

“WAAAAA……!!!!” Papa bangkit dari tidurnya. Dari posisi duduk di ranjang dia berusaha untuk bangkit turun dari tempat tidur. Namun karena kekuatan tubuhnya sudah tidak menunjang, dia jatuh ke lantai dengan kepala terlebih dulu.

Semua orang panik, suasana di kamar menjadi begitu menegangkan.

Dengan tangkas Mama langsung memencet bel untuk memanggil suster. Sementara Papa terus berusaha berdiri, badannya bergerak kelojotan di lantai sedangkan tangannya memukul ke kanan dan ke kiri seakan sedang berkelahi dengan seseorang tak terlihat.

Pihak rumah sakit rupanya sudah siap mengantisipasi akan adanya peristiwa ini. Dari luar datang 4 perawat laki-laki yang semuanya bertubuh tegap. Salah seorang di antaranya bahkan membawa tali.

Dengan sigap mereka meringkus Papa dan mengembalikannya ke tempat tidur. Papa terus berontak. Dan entah mendapat tenaga dari mana, dia menendang salah seorang perawat sampai terpental jauh.

Tiga perawat yang lain menelikung tangan Papa sambil berteriak,

“Pegang kakinya. Langsung ikat ke tempat tidur.”

“Ikat yang kuat” kata perawat satunya, “Okay. Sekarang saya ikat tangannya.”

“Papaaaa! Papaaaa..!!!!” Saya menangis melolong melihat keadaan Papa. Fase histeris yang diramalkan dokter, sekarang menjadi kenyataan. Sedih saya melihatnya diperlakukan seperti binatang yang mau disembelih. Tapi apa daya? Saya juga tidak mempunyai ide yang lebih baik untuk meredakan amuknya.

Selama 3 hari fase histeris ini berlangsung. Selama tiga hari itu Papa tidak pernah tertidur. Dia bergerak terus, meronta-ronta sementara mulutnya berteriak dengan suara keras bukan main.

“WAAAAAAAA….!!!!” Suara lolongan Papa terus menerus menggema membelah kepekatan malam.

Hari ke empat Papa masuk ke fase koma. Semua ikatannya sudah dilepas. Dia terbaring dengan mata setengah terbuka. Kulitnya semakin berwarna kuning. Sementara kulit di bagian punggung terkelupas di sana-sini karena terlalu lama berbaring telentang di tempat tidur.

Setiap hari saya membacakan cerita pada Papa. Walaupun sedang koma, saya yakin Papa bisa mendengar suara saya. Sambil membaca, sesekali mata saya melirik ke arah wajahnya berharap sebuah keajaiban akan terjadi. Siapa tau Tuhan berbaik hati membuat Papa tiba-tiba terbangun, tersenyum atau berbicara.

Apa yang terjadi pada keluarga kami membuat saya merenung. Penderitaan Papa yang begitu hebat membuat saya tersadar betapa berharganya kesehatan itu. Kita manusia sering lupa pada rahmat Tuhan tersebut. Kita sering lupa bersyukur bahwa kita telah diberi kesehatan.

Banyak orang yang lebih mendambakan kekayaan daripada kesehatan. Tapi apa gunanya harta tanpa kesehatan? Health is not everything but without health everything is nothing.

Bersambung...