Pandemi dan Revolusi Digital, Kiat Berkomunikasi Efektif Dari Layar Sampai Ke Hati

Perubahan bekerja dari kantor ke rumah merupakan suasana yang benar-benar baru bagi sebagian masyarakat. Jika sebelumnya Kita bisa leluasa berdiskusi secara tatap muka. Kali ini segala bentuk komunikasi dilakukan secara virtual. Masalahnya bagaimana komunikasi yang dilakukan selama bekerja dari rumah bisa efektif, namun juga sampai ke hati. Simak Lima Tipsnya berikut ini...

Pandemi dan Revolusi Digital,  Kiat Berkomunikasi Efektif Dari Layar Sampai Ke Hati
Ilustrasi (Dokumen Pribadi)
Pandemi dan Revolusi Digital,  Kiat Berkomunikasi Efektif Dari Layar Sampai Ke Hati

 

“Ma.. Nen...”

Dua buah kata di atas sering diucapkan oleh Balita yang baru saja bisa berbicara. Dua kata yang kemudian disusul dengan gerakan sigap sang Ibu membuka kancing baju untuk segera menyusui sang buah hati. Proses komunikasi antara Ibu dan bayinya tersebut memang sederhana. Dua buah kata yang bahkan tidak terucap dengan jelas ditambah gestur tubuh sudah membuat Ibu mampu menangkap pesan yang disampaikan bahwa sang anak butuh ASI.

Tumbuh Dewasa, Komunikasi Kian Kompleks

Sejalan dengan bertambahnya usia, Kita tumbuh menjalani beragam peran. Si bayi mungil kemudian menjadi kakak atau adik, dan semakin dewasa hingga menjajaki peran sebagai istri atau suami, sebagai mahasiswa atau dosen universitas, pimpinan atau karyawan di kantor, hingga konsumen atau pedagang pada salah satu marketplace.

Multi peran mengharuskan Kita berhubungan dengan banyak pihak yang berasal dari berbagai kalangan. Hal ini memiliki konsekuensi terhadap kemampuan komunikasi yang harus dikuasai. Tak lagi hanya dengan dua kata “Ma.. Nen...” kemudian persoalan jadi beres. Komunikasi kian kompleks.

“Dipecat dari pekerjaan karena kemampuan komunikasi yang buruk, kehilangan orang yang dicinta karena terus-terusan bertengkar hingga bermasalah dengan dosen pembimbing skripsi akibat salah paham adalah sedikit fenomena yang mungkin Kita temui atau bahkan pernah menimpa diri sendiri. Perlu diketahui akar dari semua permasalahan di atas adalah komunikasi yang buruk.”

Pandemi dan Revolusi Digital : Komunikasi dari Layar

Revolusi industri yang terjadi pada abad ke-18 membuat pekerjaan manusia digantikan oleh mesin. Kemudian perubahan kembali terjadi, pada abad ke-20, adanya revolusi digital menyebabkan manusia bekerja kantoran dengan komputer masing-masing di meja kerjanya. Inilah hidup dimana perubahan adalah keniscayaan. Kemudian kemunculan Covid-19 setahun belakangan kembali merombak tatanan kehidupan.

Arundhati Roy menulis, pandemi yang saat ini Kita hadapi adalah sebuah portal, pintu gerbang antara satu dunia ke dunia yang lain, dunia lama dan dunia baru. Akibat penyebaran virus yang masif, Presiden Jokowi mengimbau masyarakat untuk disiplin belajar dan kerja dari rumah atau yang Kita kenal dengan Work From Home. Sehingga manusia yang awalnya bekerja dari kantor bergeser ke rumah.

Tak hanya di Indonesia, survei dari Eurofound, lembaga Uni Eropa, yang berperan memberikan pengetahuan untuk pengembangan kebijakan sosial, dan ketenagakerjaan. mengungkapkan 40 persen pekerja di Eropa bekerja dari jarak jauh secara full-time akibat pandemi.

Lantas apa hubungannya bekerja dari rumah dengan komunikasi ?

Perubahan bekerja dari kantor ke rumah merupakan suasana yang benar-benar baru bagi sebagian masyarakat. Jika sebelumnya Kita bisa leluasa berdiskusi secara tatap muka dengan rekan kerja dan atasan. Kali ini segala bentuk komunikasi dilakukan secara virtual.

“Kita belum terbiasa berkomunikasi lewat aksara, sehingga bekerja dari rumah perlu usaha ekstra lebih dari biasanya.”

Inilah dunia baru yang sedang Kita hadapi bersama. Dulu Kita bisa bertanya kepada senior atau atasan ketika menemukan kendala dalam menyelesaikan pekerjaan, sekarang harus memutar otak karena keterbatasan ruang tanya jawab virtual. Apalagi jika sampai salah mengirim pesan bisa jadi problema.

Masalahnya tak hanya bagaimana komunikasi yang dilakukan selama bekerja dari rumah bisa efektif, namun juga sampai ke hati. Bekerja dalam tim mensyaratkan keakraban untuk bisa meraih tujuan bersama. Tentu saja hal ini sangat mudah dibangun dengan tatap muka, namun bagaimana jika tanpa temu seperti kondisi yang kini sedang Kita hadapi ?

Kiat Komunikasi Efektif dari Layar Sampai ke Hati

Komunikasi bersifat irreversible dimana kata-kata yang diucapkan tidak bisa Kita tarik kembali. Benar adanya, “mulutmu adalah harimaumu”, salah bicara bisa jadi masalah besar. Begitu pula komunikasi melalui layar, Kita harus berhati-hati agar lawan bicara tak salah paham, apalagi jika berhadapan dengan bos besar di kantor waduh.

Dokumentasi Pribadi

Berbekal pengalaman pribadi dan mengamati kejadian sekitar, berikut lima tips sederhana yang pastinya mudah dilakukan guna membangun komunikasi efektif dari layar sampai ke hati.

Penasaran ? langsung saja meluncur.

Siapkan Diri, Konektivitas dan Ruang Bekerja yang Prima

Tidak mempersiapkan diri biasanya kesalahan awal yang dilakukan mereka saat bekerja dari rumah. Parahnya ada yang bahkan tak beranjak dari tempat tidur, mengetik dan melakukan rapat dari kasur. Padahal meskipun bekerja dari rumah, penting sekali untuk mengkondisikan diri supaya siap menuntaskan tanggung jawab.

“Mandi pagi, bersiap semaksimal mungkin, dan sarapan tetap penting dilakukan selama WFH. Hal ini akan sangat menunjang performa selama bekerja.”

Orang bilang ada dua musuh Work From Home, pertama rasa malas, kedua jaringan lemot. Untuk itu memastikan konektivitas penting dilakukan siapa saja yang bekerja dari rumah. Pastikan diri dibekali teknologi, perangkat, bandwidth dan koneksi yang prima untuk menjalankan tugas secara efektif.

Tipisnya Batasan antara Bekerja dan Kehidupan Pribadi

Harus Kita akui pergeseran kerja dari kantor ke rumah semakin mengikis batasan antara bekerja dan kehidupan pribadi. Hal ini dapat menjadi  gangguan ketika menyelesaikan tugas apalagi bagi mereka yang memiliki balita. Maka dari itu, miliki dan atur ruang kerja di rumah sebagai batasan yang dapat dimengerti oleh anggota keluarga.

“Ruang kerja dapat membuat Kita lebih berkonsentrasi sekaligus mengelola gangguan yang kemungkinan besar terjadi. Kita tak hanya terbantu selama bekerja, namun juga mengakhiri jam kerja sehingga dapat kembali ke kehidupan pribadi.”

Fokus, Cermat dan Periksa Sebelum Kirim

Sejak bekerja dari rumah, hampir seluruh komunikasi dan koordinasi dengan tim dilakukan dalam ranah virtual, baik melalui surel ataupun aplikasi Whatsapp. Hal ini menuntut Kita untuk dapat mengkomunikasikan ide, gagasan, dan pembicaraan lainnya melalui kata-kata.

Maka dari itu, pemilihan kata menjadi sangat krusial, keliru sedikit saja bisa berakibat fatal. Untuk mengatasi hal tersebut ada tiga cara yang dapat dilakukan, pertama fokus, cermat dan periksa pesan sebelum kirim.

Fokus ketika bekerja sangat dibutuhkan agar pikiran Kita tidak terdistraksi oleh hal-hal di luar pekerjaan. Hal ini sangat penting, terlebih bekerja dari rumah mengaburkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Selanjutnya, latih diri cermat dalam menyusun aksara dan periksa satu sampai dua kali sebelum mengirim pesan tersebut. Jangan lupa untuk membedakan pesan kepada atasan atau kawan, pandailah dalam memosisikan diri.  

Misalnya, pimpinan meminta Kita mengerjakan laporan mingguan kantor. Sayangnya, Kita sedang mengerjakan tugas lain yang lebih mendesak. Berikut terdapat tiga pilihan jawaban, manakah yang pantas Kita sampaikan kepada atasan melalui pesan Whatsapp ?

[A] Aduh... Saya masih ada kerjaan lainnya Pak.  

[B] Bentar. Setelah pekerjaan saya selesai akan saya siapkan.

[C] Siap Bapak. Namun, mohon ijin untuk menuntaskan tanggung jawab lainnya terlebih dahulu yang harus selesai hari ini. Tugas dari Bapak akan saya kerjakan setelahnya.

Dari ketiga opsi di atas, jelas jawaban [C] adalah satu-satunya jawaban yang pantas dan tidak akan bikin geram atasan. Inilah pentingnya menguasai kemampuan komunikasi melalui untaian aksara selama bekerja dari rumah.

Pembicara sekaligus Pendengar yang Baik

Komunikasi tak hanya sebatas menjadi pembicara yang baik, karena komunikasi bersifat dua arah maka Kita juga harus memiliki kemampuan mendengarkan orang lain. Misalnya, saat rapat virtual alangkah baiknya Kita memberikan ruang bicara bagi rekan kerja. Hindari menyela omongan orang lain sebagai bentuk menghargai. Setelah selesai barulah berikan tanggapan dengan sopan.

Pandai Beradaptasi dan Mau Menerima Masukan

Dalam dunia kerja, Kita akan bekerja sama dengan banyak orang yang berasal dari beragam suku, agama, dan daerah. Untuk itu, Kita perlu beradaptasi agar nyaman menghadapi segala situasi yang mungkin terjadi. Selain itu, sebagai manusia yang memiliki kekurangan Kita perlu menerima kritik sebagai hal yang positif. Jika harus mendapat kritikan yang kurang baik sekalipun, sikapi dengan lapang dada. Tidak mudah memang, tapi harus dicoba.

Sediakan Ruang Sapa dan Memberi Perhatian

Ketika bekerja di kantor, Kita akan memiliki ruang untuk membangun keakraban dengan rekan sejawat. Misalnya ngopi bareng di jam istirahat atau sekadar bercanda tawa pada jam-jam kosong. Namun keadaan menjadi berbeda kala bekerja dari rumah. Padahal hubungan kerja tak hanya bersifat formal, Kita juga perlu membangun komunikasi lebih dekat untuk mencipatakan situasi kerja yang kondusif namun hangat dan bikin betah.

Untuk itu, penting menyediakan ruang sapa dan saling memberi perhatian sebisa mungkin. Misalnya menyapa rekan kerja setiap pagi, entah secara langsung atau di group kantor. Setelah itu, dilanjutkan dengan obrolan kecil menanyakan kabar kesehatannya dan keluarga. Mudah bukan ?

Komunikasi di Ranah Virtual, Keharusan di Masa Depan 

Tentu Kita semua berharap bahwa pandemi akan segera berakhir kemudian situasi kembali normal seperti sedia kala. Namun, Review42 dalam “28 Need-To-Know Remote Work Statistics Of 2020” menuturkan jika saat ini, sebanyak 55 persen bisnis secara global menawarkan pekerjaan yang sifatnya jarak jauh atau remote working. Berdasarkan data tersebut kemungkinan besar remote working atau bekerja jarak jauh akan menjadi banyak pilihan orang maupun perusahaan ke depan.

Hal ini tentunya menjadi peluang sekaligus tantangan, bahwa ke depan Kita akan memiliki kesempatan besar untuk bekerja di ranah virtual. Siapa yang akan menjadi pemenang di masa depan ? adalah mereka yang memiliki kemampuan dengan baik mengutarakan ide dan gagasan melalui konten digital seperti teks, infografis, hingga video.

Tak perlu takut, Kita tidak pernah terlambat untuk belajar. Siapkan diri sekarang dengan kuasai komunikasi dari layar. Kita pasti bisa !

Artikel ini diikutsertakan pada lomba menulis The Writers bersama Smart Bisnis dengan tema "Semua masalah dapat diselesaikan dengan komunikasi". 

Referensi :

https://review42.com/remote-work-statistics/

https://www.eurofound.europa.eu/publications/report/2020/living-working-and-covid-19