Pandangan Pertama

Cerita fiksi tentang percintaan.

Pandangan Pertama

 PANDANGAN PERTAMA

PANDANGAN PERTAMA

 

Oleh Berliansari

 

 

Siang itu udara cukup panas, terik matahari seakan membakar  semua makhluk di bumi. Candra Setiawan masih asyik dengan keyboard laptopnya. Facebook group alumni sekolah dijejali canda-tawa para netizen-nya. Meskipun berbeda tempat, namun mereka berkomunikasi dan terhubung lewat jejaring media social, salah satunya facebook. Sungguh penemuan Marx Zuckerberg ini luar biasa dan mampu menyatukan jalinan persahabatan yang telah lama terputus. Thread ataupun tulisan yang muncul di media facebook beraneka ragam, dari sekedar basa-basi hingga informasi, diskusi, dan pertemuan atau kopi darat bagi para anggotanya. Agenda rutin yang diadakan adalah acara Syawalan Keluarga Besar Alumni universitas terbesar dan tersohor di negeri itu. Candra masih mengamati thread yang mereka buat, notifikasi yang muncul dan ia membuka-buka lingkup pengumuman.

“Yeah acara Syawalan jatuh pada 9 Juni, dan itu Minggu,” gumam Candra,pria berbadan atletis dan berkumis tipis itu.

“Ada apa, Pak?” Lita, sang sekretaris berwajah oval bertanya ketika mendengar suara Candra Setiawan, pimpinan bagian keuangan perusahaan tambang di Borneo itu.

“Cuti di perusahaan mulai 1 Juni, Lita. Kamu mau langsung mudik ke Jawa atau mau bareng saya?” tanya Candra.

“Tahun ini, saya dan orangtua lebaran di sini, Pak. Terima kasih tawarannya,” jawab Lita sambil memberesi mejanya untuk beristirahat siang.

Beberapa detik kemudian, gawai milik Lita bergetar dengan nada dering lagu kesukaannya. Lita sudah diminta keluar kantor. Seorang teman pria telah menjemputnya untuk makan siang bersama. Lita adalah gadis Banjar berdarah campuran Jawa yang berparas ayu. Gadis berkulit langsat itu lulusan akademi sekretaris ternama di kotanya. Meskipun masih  belia, namun ia terampil, cekatan dan  pandai.

Candra yang telah bertahun-tahun bekerja di perusahaan itu, tidak hanya sekali memiliki sekretaris cantik, muda dan pandai. Namun begitu, lelaki itu kurang suka dengan perempuan muda yang tidak bisa ngemong atau mengimbangi kedewasaannya. Candra sadar betul hal itu.  Ditinggalkan ibunda tercinta berpulang ke sang Khaliq, tak lama disusul ayahnya ketika usianya masih remaja, membuatnya rindu sosok perempuan dewasa pengganti ibu. kesempatan bergaul di dunia maya bersama para teman sealumni, dimanfaatkan Candra sebaik mungkin. Jika waktu memungkinkan, ia menghadiri pertemuan yang dijadwalkan bersama teman-teman lamanya itu. Internet memang mengubah peradaban dengan adanya media sosial.

*

Pagi itu langit terlihat cerah. awan berarak, berputar pelan mengitari langit. Persiapan acara telah cukup matang. diperkirakan ada 300an alumnus menghadiri temu kangen dan syawalan bersama keluarga. Dekorasi tampak sederhana, hanya panggung dan hiasan tanaman seadanya. Di depan pintu masuk gedung, terpampang banner dengan tulisan dan gambar artistik yang digunakan untuk photobooth. Para panitia mengenakan baju batik. Beberapa diantaranya menjadi penerima tamu, dan ada pula yang duduk di meja kesekretariatan dan pendaftaran. Peserta yang hadir, harus menulis daftar hadir yang berisikan nama, nomer telephone, dan tanda tangan. Kemudian mendapatkan nomor undian, untuk diundi diakhir acara, dan yang beruntung akan mendapatkan doorprize.

Candra Setiawan, masih berdiri di pintu masuk gedung pertemuan yang cukup megah dan berkapasitas ribuan orang itu. Sambil melihat ke kanan dan ke kiri, sesekali ia memeriksa handphone di tangannya. Dari daftar hadir yang terbaca dari facebook group alumni, hanya ada beberapa teman seangkatannya. Kebanyakan dari mereka, membawa serta keluarga, anak, istri atau suami. Dia yang masih sendiri dan beberapa teman yang sengaja datang sendiri, berjanji bertemu di depan gedung.

*

Setelah foto bersama teman seangkatan, Candra pelan-pelan masuk ke gedung dan mulai mengisi daftar hadir. Saat itulah, pandangannya tertumbuk pada sosok wajah nan ayu, tinggi semampai dengan berat tubuh yang proporsional. Perempuan itu masih muda meskipun tampak cukup matang. Pada nametag di dada kanannya, tertulis Anggita Candhra, membuat Candra Setiawan terbelalak.

“Namanya sama,” seloroh lelaki itu.

Anggita Candhra bergegas mengulurkan tangan, menyambut jabat tangan dari Candra Setiawan yang masih berdiri memandanginya.

“Sesama marga Candra ternyata.” Teman-temannya mencandai.

Lantas Anggita Candhra mengantarkan Candra Setiawan dan teman-temannya memasuki gedung. Kursi-kursi tertata rapi siap diduduki, untuk mengikuti acara pembukaan serta sambutan oleh pengurus alumni pusat dan sambutan dari rektor selaku tuan rumah. Aneka makanan tertata dalam gubug-gubug dekorasi, di samping deretan kursi. Berbagai kreasi para alumni seperti batik, buku, dipajang untuk dijual, dan hasilnya masuk kantong beasiswa untuk para mahasiswa berprestasi dari keluarga menengah ke bawah. Basa-basi pembicaraanpun terjadi, mulai dari perkenalan hingga cerita nostalgia di masa kuliah. Ternyata jarak usia Candra Setiawan dan Anggita Candhra tidak terlalu jauh. Namun, tidak bertemu semasa kuliah

 “Boleh saya minta nomor Dik Candhra?” pinta Candra Setiawan.

“Boleh saja….”

“Modus!” seru teman-teman Candra Setiawan.

“Siapa tahu kita cocok, Mas,” bisik Anggita Candhra.

“Cocok! Namanya sama,” ledek salah satu teman yang mendengar bisikan Anggita Candhra. Candra Setiawan tersipu, merasa asing dipanggil dengan sebutan berbeda ketika berada di kantor. Ia dan Candhra masih asyik mengobrol, ketika acara hiburan dan salam-salaman diisi oleh para mahasiswa penerima beasiswa dan alumni. Mereka dipertemukan pada acara temu kangen dan syawalan alumni. Masih banyak program acara alumni yang memungkinkan mereka bertemu kembali, meski berbeda pulau dan berbeda pekerjaan. Anggita Candra yang merupakan pegawai kontrak pada sebuah bank, sadar betul akan waktu yang mesti diatur bahkan dikorbankan, begitupun Candra Setiawan. Namun jika Allah berkehendak sesuatu yang tidak mungkinpun bisa terjadi. Sesuatu yang sulit bisa menjadi mudah karenaNya.

*

Yogyakarta Juli 2019