Pagi-pagi Di Depan Rumah Agi

Kisah singkat memikirkan pagi dengan sedikit kopi di depan rumah Agi

Pagi-pagi Di Depan Rumah Agi
Rumah tepi danau lereng gunung

Suatu pagi Agi duduk di depan teras rumahnya yang baru saja disiram air langit malam hari sebelumnya. Agi duduk bersandar di kursi kayu miliknya yang berbunyi kala ia duduki perlahan. Ia dudukkan pantatnya itu dengan hati-hati.

Bukan apa-apa, ia hanya khawatir pantatnya bisa merusak kursi peninggalan orang tuanya itu.

Sambil bersila, Agi memegang sepuntung rokok yang belum membara. Ia hanya memutar-mutarnya, bermain-main, kesana-kemari. Tidak ada tanda-tanda akan disulut.

Di depannya, ada meja bulat berkaki kayu jati pucat. Dengan kaca bening di atasnya. Tidak ada tanda-tanda korek api. Entah kemana korek gas hitam yang biasa menemaninya kemana pun ia pergi.

Muka Agi terlihat termenung. Entah apa yang ia pikirkan pagi itu. Tidak biasanya ia hanya duduk bermain-main dengan waktu.

Di kala mudanya, Agi terkenal sebagai sosok yang begitu produktif berkarya. Baginya, tidak ada waktu selain untuk bekerja. Setiap hari dirinya berkutat dengan naskah-naskah berisi kata-kata. Mungkin jika seluruh kata itu dijumlahkan, telah ada jutaan kata yang ia garap setiap minggunya.

Meski begitu, tidak pernah terbersit sedikitpun keinginan untuk namanya tersemat dalam dokumen manapun. Setidaknya bukan nama pemberian ayah dan ibunya sekitar 40 tahun yang lalu.

Agi hanyalah nama sapaan yang akrab disampaikan teman-temannya di masa sekolah di sebuah kota kecil di ujung timur negeri.

Seorang pace pernah berkata padanya, "Agi di sini adalah tempat yang indah. Alam terjaga dengan baik, namun tidak dengan manusianya. Kami sedih melihat anak-anak muda yang kehilangan jati dirinya kemudian menghabiskan nasibnya dengan meminum arak yang entah dapat dari mana. Pace tidak ingin kamu sebagai putra asli tanah ini bernasib yang sama. Bacalah buku, buka wawasanmu seluas mungkin dan lakukan perjalanan keliling dunia."

Pesan yang ternyata disampaikan oleh seorang pace sederhana yang menjual kopi dan gorengan tidak jauh dari depan sekolahnya kala itu.

Agi beberapa kali pernah bercerita tentang pace itu pada rekan kerjanya. Namun sejak terjadi konflik etnis terjadi dirinya jarang sekali terbuka pada orang lain. Ia hanya berkenan untuk berbicara dan terbuka pada lembar-lembar kertas dan layar terang yang memancarkan sinar biru padanya setiap hari.

Tangannya tidak pernah berhenti menari-nari saat ia sudah duduk dan meletakkan minuman seduhan telang hangat berwarna biru di gelas putih favoritnya.

Itu adalah pemandangan sehari-hari di meja kerjanya di sebuah kantor di Surabaya Barat.

Masa itu telah berlalu. Agi kini tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung tempat bernaung para dewa. Desa yang setiap harinya berlalu lalang petani-petani sayur dan buah-buahan.

Agi memang terbilang asing di antara mereka. Namun ia diterima karena wawasannya tentang cocok tanam ternyata tidak kalah dengan petani-petani lokal. Petani-petani tua yang ditinggal anak-anaknya merantau di kota, menggarap ladang hanya karena tidak rela tanahnya dibeli oleh para pengusaha penginapan yang lambat laun menjadi vila esek-esek.

Sudah tiga tahun Agi tinggal di sana. Sempat dicurigai, namun berkat bantuan sahabatnya ia bisa tinggal dan dilindungi oleh pejabat desa.

Hari ini tepat hari yang ke 1.000 dirinya tinggal dipengasingan. Mengasing dari pengawasan, keluar dari jaringan.

Rokok di tangan Agi masih terus berputar-putar. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah. Seakan disambar ide yang harus segera dilakukan.

Ia kemudian berdiri segera dan beranjak menuju garasi tempat bebek kesayangannya dikandangkan.

Membuka lemari kecil yang terletak di sudut ruang. Agi mengambil sebuah kamera. Memeriksa baterainya sejenak, masih penuh. Ia kemudian bergegas menyalakan motornya. Mengambil helm, memakai jaket kulit. Ia tunggangi motor kesayangannya itu. Dan seketika Agi melesat pergi.

Hanya satu yang ada dibenaknya kala itu, "Ini saatnya aku keluar dari sini."