Padre

Padre

Sarah

Mata sarah bengkak dan merah bekas menangis. Pelipis kirinya juga memar, bekas terkena bogem Ronal yang tangannya gempal dan bertenaga besar.

Jelas saja besar, dia kalau makan persis babi.

Sarah tidak tahan untuk tidak mengumpati Ronal dalam hati. Sebab dia tahu tidak mungkin mengeluarkan kata-kata itu di sini, bahkan ketika orang yang diumpati tidak ada sekalipun.

Sarah berusaha menahan tangis. Sudah bisa dipastikan tangisnya nanti akan pecah begitu Papanya sampai ke sini.

Papa. Sarah mau Papa.

Gadis kecil itu menoleh ke arah gurunya di seberang meja kayu besar dengan banyak tumpukan kertas di atasnya, beliau sedang menelepon. Sarah tahu betul ibu gurunya tidak sedang menelepon Papa, karena Papa tidak pernah menyalakan ponsel saat jam kerja.

Sarah kesal karena harus mengganggu Papanya bekerja.

Tapi Sarah mau Papa. Sarah mau menangis sambil dipeluk Papa. Sekarang.

Adam

Adam tahu Sarah sedang menahan tangis — tangannya terkepal rapat di atas lutut. Gadis itu sedang marah, dan ketika marah, Sarah akan menangis. Dia hanya akan meledak saat amarahnya sudah tidak tertahan lagi, dan itulah yang sayangnya terjadi saat jam istirahat tadi.

Adam menghela napas. Yakin dia akan diminta penjelasan panjang lebar oleh Ayahnya nanti, kalau Ayah datang. Adam tidak tahu Ayahnya akan datang atau tidak, sekarang belum masuk jam makan siang dan Ayah pasti sedang sibuk. Tapi tetap saja, sekarang atau di rumah nanti, Adam harus berurusan dengan sang Ayah.

Mungkin makin cepat makin baik.

Sarah

“…baik, terima kasih Pak Haris, selamat siang.”

Ibu guru menelepon Om Haris, persis dugaan Sarah. Sarah semakin kesal, tidak hanya mengganggu jam kerja Papanya, dia juga sudah mengganggu Om Haris. Kalau saja Ronal tidak demikian menyebalkan hari ini, mungkin sekarang Om Haris dan Papa masih bekerja dengan tenang.

Ronal sialan!

Lagi-lagi Sarah mengumpat. Kalau Papa tahu betapa kasarnya mulut Sarah hari ini, tentu dia akan kena hukum.

“Papa….” Sarah mulai terisak pelan mengingat Papanya.

Sarah tahu dia akan mendapat hukuman. Mungkin tidak ada dongeng sebelum tidur selama seminggu, atau pengurangan jatah kue manis yang biasa didapatkannya setelah makan malam. Tapi biar bagaimanapun, Papa tidak pernah memarahi Sarah. Tidak ada kekerasan fisik, atau suara yang meninggi setiap kali Sarah berbuat salah. Papa akan menegurnya dengan lembut, bertanya kenapa Sarah nakal, dan memberi hukuman. Selalu begitu. Dan karena itulah Sarah sayang sekali dengan Papa.

Sarah mau Papa.

Adam

Begitu mendengar Sarah di sebelahnya merengek, Adam refleks menolehkan kepala.

Sarah terlihat kacau. Rambutnya lepek dan berantakan, sepertinya tadi dijambak oleh Ronal. Seragamnya kusut, kancing paling atasnya lepas. Adam sadar penampilannya juga kacau. Celana olahraganya belum diganti, tapi untung Adam sempat menyambar baju kemejanya sebelum ikut menjadi bulan-bulanan Ronal.

AC di ruangan ini menyala, namun telapak tangan Adam berkeringat, keringat dingin.

Adam kasihan dengan Sarah yang tampak ingin menangis. Ketika gurunya bertanya kepada mereka berdua, dan juga Ronal tentunya, Sarah lebih banyak diam. Sementara itu Ronal mengambil peran sebagai antagonis sejati, mencari muka dan menuduh bahwa Sarah menyerangnya duluan. Sebenarnya tidak salah, hanya saja Ronal menghilangkan bagian prolog di mana dia melempar-lempar seragam Adam ketika Adam hendak mengganti pakaian olahraganya. Apa yang terjadi kemudian? Sarah datang membela Adam, menarik lengan Ronal demi merebut kembali seragam Adam. Dari situlah cerita Ronal dimulai.

Ronal menjadi tokoh antagonis semata karena dia masih kecil dan belum mengerti betul bahwa apa yang dilakukannya sungguh tidak patut dan bisa membuat Sarah naik pitam. Perkelahian anak sekolah dasar terjadi di seluruh dunia, penyebabnya bisa bermacam-macam. Termasuk yang satu ini.

Adam mengelus punggung Sarah, berusaha menenangkannya. Sambil menepuk pelan Adam berkata, “Sebentar ya Sarah, Papa pasti dateng sebentar lagi…”

Sarah

Papa pernah bilang kalau Sarah adalah anak pemberani sebab dia seorang kakak.

“Kalau berani masih boleh nangis?” tanya Sarah.

“Boleh,” jawab Papa. “Berani gak ada hubungannya sama boleh nangis atau nggak.”

Papa juga pernah berpesan, mungkin akan ada banyak yang mengganggu Sarah, sesederhana karena Sarah adalah anak Papa.

“Emang Papa jahat sama orang?” tanya Sarah lagi.

Papanya mengangkat bahu. “Menurut Sarah gimana?”

Sarah yang baru hendak masuk sekolah tentu saja tidak mengerti kenapa Papa harus bertanya seperti itu. Jelas Papanya tidak salah, Papa bukan orang jahat. Sarah tidak ingat Papa pernah berurusan dengan polisi atau bertengkar dengan tetangga sekitar tempat tinggalnya. Setiap hari Papa pergi bekerja, kemudian pulang untuk bermain dengan Sarah dan membacakan dongeng sebelum tidur. Kalau libur Papa suka mengajak jalan-jalan. Sarah menganggap keluarganya baik-baik saja dan bahagia.

Kalau Papa orang jahat, bukankah seharusnya Papa dipenjara?

Konsep penjara pun masih samar dalam pikiran Sarah kecil, dia cuma pernah mencuri dengar dari acara-acara di televisi. Tapi yang jelas, penjara adalah tempat untuk orang-orang yang melakukan kejahatan, dan itu bukan tempat untuk papanya.

Papa bukan orang jahat. Papa hebat. Papa baik. Yang jahat Ronal. Yang nakal Ronal. Ronal nggak diajarin yang bener sama orangtuanya.

Adam

Ada perasaan bersalah dalam diri Adam — seharusnya dia bisa melindungi Sarah. Entah kenapa Adam merasa Ayah akan kecewa dengannya.

Adam anak laki-laki, harus bisa melindungi perempuan. Begitu kaya Ayah.

Tapi mau bagaimana lagi, Sarah tadi marah sekali sampai Adam pun sedikit takut. Dia belum pernah melihat Sarah semarah itu. Kelihatannya seperti sebuah sumbat dalam dirinya dilepaskan, dan kekesalannya yang selama ini dipendam keluar seketika. Tapi Adam tahu, Sarah tidak bermaksud jahat. Adam juga yakin, bahwa pukulan yang diberikan Sarah kepada Ronal tidak meninggalkan rasa sakit apapun pada anak itu. Sebaliknya, untuk Sarah, bukan hanya luka fisik yang diterimanya, tapi juga perasaan tertekan dan menyesal. Adam paham sekali.

Bocah laki-laki itu kembali merasa bersalah.

Ayah, maafin Adam.

Sarah

Hidungnya terasa gatal dan tersumbat. Ada sisa-sisa ingus di sana. Sarah mencoba menggosok hidungnya, sakit.

Aduh, kenapa hidungnya juga sakit?

Sarah jadi ingin menangis lagi.

Dia benci Ronal. Dia benci Ronal karena sudah mengganggu Adam dan dengan kurang ajar melempar-lempar seragam sekolahnya. Tidak sopan.

Tapi Sarah lebih benci lagi karena Ronal lalu meledek orangtuanya, mengatakan hal buruk tentang orangtua Sarah. Kurang ajar.

Dan makin benci karena tatapan Ronal serta ibunya yang tadi datang menjemput terhadap Sarah dan Adam. Terutama Adam. Seolah Adam adalah anak aneh penyakitan yang harus dihindari sejauh mungkin. Sarah tidak suka dengan tatapan itu.

***

Seorang laki-laki dengan jaket kulit hitam memasuki ruangan yang didiami Sarah sejak lebih dari setengah jam yang lalu. Rambutnya tidak pendek, tapi juga tidak begitu gondrong, dan berwarna coklat madu — bukan warna sebenarnya. Hidungnya mancung, bercak kecoklatan yang didapatkan secara alami di sekitar pipi dan bawah matanya terlihat jelas, kontras dengan kulitnya yang agak putih pucat khas orang kaukasia. Hanya dengan melihat sekilas, orang akan tahu laki-laki ini berbagi DNA dengan Sarah — wajah mereka mirip.

“Selamat siang, Pak Kean.”

Sapaan gurunya membuat Sarah seketika menghambur ke arah laki-laki bernama Kean tersebut. Tangisnya pecah. “Papa!”

Laki-laki itu berlutut, menyambut anak perempuannya yang sangat jelas sedang tidak baik-baik saja. Sarah membenamkan wajahnya ke dada sang Papa yang masih menguarkan bau dapur; bau butter dan daging panggang dan tumisan bawang dan olive oil, atau yang Sarah bilang sebagai bau masakan enak. Air matanya tumpah ruah.

Papanya benar-benar bergegas dari dapur Om Haris ke sini, ia bahkan tidak sempat mengganti trousers-nya. Bagus, seharusnya Papa juga pakai saja seragam chefnya, lengkap dengan topi tinggi yang kata Papa, tidak ada gunanya selain untuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang chef. Tapi memang begitu inginnya Sarah, pamer pada satu sekolah bahwa Papanya adalah chef, tukang masak yang hebat. Yang Sarah yakin, masakannya jauh lebih enak dari masakan semua ibu teman-temannya di sekolah ini. Sarah mau semua orang tahu, kalau Papanya hebat, dan wajar bila Sarah marah ketika Papanya diledek seperti tadi.

“Papa, pulang…” Sarah merengek.

Papa mengangguk dan mengelus rambut Sarah, sembari mendengarkan sekali lagi penjelasan dari guru anaknya bagaimana Sarah terlibat perkelahian dengan teman sekelasnya setelah mata pelajaran olahraga. Gurunya menerangkan bahwa awalnya Sarah hanya berusaha melindungi Adam dari gangguan Ronal.

Sarah bukan anak yang mudah tersulut emosi, Papanya tahu itu. Meski bukan baru kali ini dirundung, tapi Sarah selalu bisa menahan amarahnya. Sarah benar-benar berusaha menjadi anak baik dengan mengikuti pesan Papa untuk tidak mendengarkan ejekan orang atau pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu. Tapi kali ini Sarah gagal. Sarah tidak bisa menuruti Papa.

Sarah lagi-lagi merengek minta pulang, Papanya pun mengiyakan. Sebelum keluar, laki-laki bernama Kean yang masih digelayuti putrinya menoleh ke arah Adam.

“Adam ayo ikut Papa,” panggilnya. Tangannya melambai-lambai kepada anak laki-laki kembaran Sarah. Adam bangkit dari kursi tempatnya duduk. Tas sekolahnya diseret dengan gontai. Dalam hati dia takut Ayah sudah menunggu di luar.

Seolah bisa membaca pikiran putra bungsunya, Kean berkata, “Ayah belum sampai, sebentar lagi. Adam jangan takut duluan.”

Kean memberikan salam kepada guru anak-anaknya dan berjalan keluar.

“Om Haris mana?” tanya Sarah. Sepertinya gadis kecil itu sudah merasa lebih baik, kepalanya celingak-celinguk mencari seseorang.

Kean panik luar biasa begitu Haris — pemilik resto tempatnya bekerja yang sekaligus sahabatnya sejak dari akademi memberitahu bahwa anak-anaknya terlibat perkelahian di sekolah. Haris langsung membawa Kean menjemput si kembar secepat Honda Civic hitamnya bisa melaju.

“Om Haris udah pergi dong, sayang. Tadi cuma nganter Papa, nanti kita pulang sama Ayah,” jelas Kean sambil mengecup kening Sarah.

Sarah selalu senang bertemu Om Haris, biasanya dia akan dibawakan banyak makanan, terutama kue. Om Haris sangat jago membuat kue. Bukan berarti Sarah tidak suka pulang dengan Ayah. Ayah baik, suka tertawa dan tawanya menular ke orang di sekitarnya. Sarah, Adam, dan Papa kadang tertawa bukan karena ada sesuatu yang lucu, tapi karena menertawakan tertawanya Ayah. Ayah juga suka mengajak Sarah ke studio dan membiarkannya bermain-main dengan midi controller. Kata Ayah kalau sudah lebih besar nanti Sarah akan diajarkan membuat lagu menggunakan alat itu.

Tapi Ayah lebih banyak menghabiskan waktu dengan Adam. Mereka suka berolahraga bersama, entah sepak bola atau basket. Adam bahkan sudah sering ikut menemani Ayah mengurus orang rekaman. Tidak jarang Adam tertidur di studio Ayah karena tinggal di sana terlalu lama, dan pulang disambut dengan omelan Papa.

Tidak lama kemudian sebuah BMW memasuki pelataran parkir dan berhenti tepat di depan mereka. Seorang pria dengan hoodie abu-abu dan topi hitam keluar dari pintu bagian kemudi. Sosok itu berjalan ke arah Adam dan berjongkok, mensejajarkan diri dengan bocah berumur 8 tahun di hadapannya.

“Adam gak kenapa-kenapa?” tanyanya.

Adam menggeleng. Matanya menekuri tanah, takut menatap Ayahnya sendiri. Padahal Ayahnya tidak terdengar marah. Sang Ayah mengangguk, kemudian mengusak kepala putranya. “Yaudah, nanti Adam jelasin ke Ayah, ya.”

Tuh, kan, gumam Adam dalam hati. Kalau ada apa-apa pasti Adam yang kebagian dengan Ayah dan Sarah dengan Papa.

“Galih, jangan marahin Adam,” pinta Kean. Dirinya tidak tega melihat wajah murung Adam. Adik Sarah itu sedari tadi tidak banyak bersuara.

Yang dipanggil Galih bangkit, meneliti wajah anak perempuan dalam gendongan Kean. Memar di pelipis gadis kecil itu mengintip dari poni rambutnya yang berantakan. Galih hendak menyeka rambut Sarah agar bisa melihat memarnya lebih jelas namun buru-buru ditepis Kean. Jangan, Kean seolah berkata.

“Sampai memar kayak gini?” tanya Galih tidak percaya, suaranya meninggi. Kean tahu Galih akan bereaksi demikian begitu melihat Sarah. Tapi tidak, kalau Galih mau marah-marah, lebih baik tidak di sini. Kean sudah pusing, dan dia tidak mau mendapat tambahan sakit kepala dengan ribut-ribut yang tidak perlu.

“Kita omongin di rumah.”

Kean sudah membuat keputusan. Galih menghela napas, mengalah. Diraihnya tangan si bungsu dan menggandengnya memasuki mobil.